Noda Dalam Cinta

Noda Dalam Cinta
Pergi


__ADS_3

Feby menata pakaiannya ke dalam koper. Wanita itu sudah tidak bisa lagi untuk tinggal di sana dan bergumul dengan keterpurukan. Dia kini sudah kehilangan segalanya. Mulai dari mimpinya menikah dengan Garry, sahabatnya, hingga pekerjaannya. Sekarang, apa lagi yang bisa Feby harapkan? Benar, tidak ada.


“Aku tidak bisa jika harus hidup di sekitar orang-orang yang membenciku,” gumam Feby sambil menyeka air matanya.


Mendapatkan cibiran dan sindiran dari berbagai pihak di dunia nyata mau pun sosial media membuat nyali Feby ciut. Sebelum dia kehilangan akal sehatnya, Feby memutuskan untuk pergi dari sana.


Wanita itu berniat untuk pergi jauh dari Jakarta. Barusan dia telah memesan tiket untuk penerbangan malam ini juga. Buru-buru dia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper.


Aktivitasnya terhenti ketika dia melihat foto yang berisi dirinya, Stella, dan Garry. Mata Feby menatap nanar foto itu. Persahabatan mereka dulu sangatlah dekat. Tapi, kini semuanya telah hancur dan tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.


“Kalian telah menghancurkan hidupku!” seru Feby.


Meski tahu semua juga terjadi karena kesalahannya, tetapi Feby tetap menyalahkan Garry dan Stella atas apa yang menimpanya.


Feby mengambil foto itu, lalu merobeknya hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Air mata lagi-lagi mengalir di pipinya.   Dia sadar jika dia salah, tapi dia juga berpikir kalau dia adalah korban dalam cerita mereka. Jika saja Garry tidak memilih Stella, mungkin saat ini dia sedang bahagia. Sayang sekali perasaan Feby bertepuk sebelah tangan dan kini dia harus menangis pilu karena tak hanya kehilangan sahabat, dia juga kehilangan sosok yang dicintainya.


“Kenapa kau tidak pernah memilihku, Gar? Kenapa kau lebih memilih Stella?” tanya Feby. “Apa yang spesial dari Stella sehingga kau mencampakkan aku?”


Feby memegang dadanya yang terasa sesak. Dia terus menangis sambil membereskan barang-barangnya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam lalu menyeka air matanya.


“Tidak ada gunanya aku menangisi mereka. Sekarang, aku akan pergi dan memulai kehidupanku yang baru. Aku benci kalian,” gumam Feby pada akhirnya.

__ADS_1


Usai memesan taksi, seperti biasa, Feby memakai kacamata dan masker, lalu keluar dari kamar kosnya.


Hidup penuh cacian dan hujatan dari orang-orang di sekitarnya membuat Feby tak sanggup untuk tetap tinggal di sana. Sambil menarik kopernya, wanita itu pergi meninggalkan kota di mana mimpi-mimpinya selama ini dia bangun.


*****


[Stella, maafkan aku karena sudah menyakitimu. Sekarang, aku akan pergi dari kehidupanmu. Semoga kau bahagia karena kau telah membuatku merasa kecil di hadapanmu.]


Stella menghentikan langkahnya. Matanya menatap nanar pada tulisan di layar ponselnya, sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Feby.


Jantung Stella seolah berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak. Oksigen seakan raib dari sekitarnya. Wanita itu tak tahu bagaimana caranya bernapas atau pun bergerak setelah membaca pesan singkat dari Feby. Yang dia tahu, saat itu tubuhnya terpaku pada satu titik sambil terus menatap lurus pada layar ponselnya.


Pesan singkat Feby memang berupa permintaan maaf. Tapi, di dalam pesan singkat itu juga tersirat kalimat yang menyalahkan Stella atas kejadian itu.


Stella berjalan mundur, lalu menyandarkan tubuhnya pada tembok terdekat. Ia berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya. Karena panik, dia seolah tak bisa berbuat secara rasional.


“Stella, apakah kau baik-baik saja?” tanya Davin yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Pria itu merasa khawatir saat melihat Stella tampak menyandarkan tubuhnya di tembok.


Stella tersentak. “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing,” ucapnya, berdusta.


“Ayo, aku bantu masuk ke ruangan,” ucap Davin. Davin selalu dapat bersikap tenang, bersikap seakan-akan dia tidak tahu apa yang terjadi, semua itu dia lakukan agar Stella tetap merasa nyaman bersamanya.

__ADS_1


Davin memegang pundak Stella, membantu wanita itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah mendudukkan Stella di sofa, Davin mengambil minyak aroma terapi dan memberikannya pada Stella.


“Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu, tunggu di sini sebentar,” ucap Davin lalu buru-buru keluar dari ruang kerjanya tanpa sempat menunggu tanggapan Stella.


Sepeninggal Davin, Stella kembali membaca pesan singkat Feby. Dia sangat menyesali perbuatannya, merasa jika dia telah melakukan kesalahan besar dengan mempermalukan Garry dan Feby hari itu.


‘Maaf, Feb. Aku tidak bermaksud membuatmu dibenci orang-orang,’ gumam Stella dalam hati.


***


Sementara itu, di tempat lain Garry juga tengah menyeret kopernya menyusuri area bandara. Pria itu menatap tiket yang ada di tangannya, lalu tersenyum masam.


‘Sekarang, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, Stella. Maafkan aku,’ gumam Garry dalam hati.


Meski sebelumnya Garry mengiyakan ajakan dari keluarganya, tapi semua itu tidak seperti yang keluarganya harapkan. Pria itu memutuskan untuk pergi tanpa seorang pun tahu ke mana tempat yang dia tuju. Yang jelas, dia ingin menghilang dari hidup Stella dan merenungi semua kesalahannya.


Garry menarik napas dalam-dalam saat mendengar pengumuman penerbangan pesawat yang akan dia tumpangi. Sebelum melangkah pergi, dia tak lupa mengirimkan pesan singkat sebagai salam perpisahan untuk Stella, wanita yang dia cintai, tapi telah dia sakiti.


[Stella, jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi sementara waktu untuk merenungi semua kesalahanku dan memperbaiki diri. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi, karena aku sama sekali tidak menyalahkan mu atas semua yang terjadi. Aku pasti akan kembali saat aku merasa sudah layak untuk mencintaimu lagi. Maaf atas semua kesalahanku. Selamat tinggal, sayang. Aku akan selalu mencintaimu.]


Begitu pesan yang Garry kirimkan untuk Stella sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari kehidupan Stella.

__ADS_1


__ADS_2