
“Kau dari mana saja, Vin?”
Pertanyaan tersebut menyambut kedatangan Davin. Davin menoleh, mendapati orang tuanya tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.
“Aku tadi jalan-jalan di sekitar sini. Aku sudah lama tidak pulang, ternyata ada banyak hal yang berubah,” jawab Davin santai.
“Apakah kau lapar?” tanya ibu Davin.
Davin menggeleng. “Tadi aku sempat mampir ke warung makan langgananku saat aku sekolah. Aku mau istirahat saja,” balas Davin lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar, Davin bergegas mengambil laptopnya. Sambil duduk bersila di atas tempat tidur, ia mengutak-atik laptopnya. Pria itu berselancar di setiap laman sosial media untuk mencari informasi mengenai wanita yang tadi malam bertemu dengannya, Stella.
Pria itu masih tak menyangka dia bisa bertemu dengan wanita yang dua tahun lalu sempat ia akui sebagai tunangan di Paris. Menurut Davin, Stella adalah wanita yang menarik. Pakaian modis dan make up yang elegan semakin menunjang penampilan wanita tersebut. Ditambah lagi, parasnya yang ayu membuat Davin tak bisa mengalihkan pandangannya dari Stella tadi malam.
“Hm, jadi dia tinggal di Jakarta selama ini untuk kuliah?” gumam Davin saat ia membaca profil sosial media Stella yang baru saja dia temukan. “Dia juga baru lulus.”
Davin tersenyum ketika melihat foto-foto yang di-posting oleh Stella di sosial medianya. Hingga matanya berhenti pada sebuah foto yang di-posting satu bulan yang lalu oleh Stella. Di dalam foto tersebut, tampak Stella tersenyum ke arah kamera dengan seorang pria di sampingnya.
‘Siapa pria ini? Apakah dia kekasih Stella?’ tanya Davin dalam hati.
Dari informasi yang dia dapatkan, kekasih Stella bernama Garry.
Entah kenapa Davin tidak merasa keberatan sama sekali saat mengetahui jika Stella sudah memiliki kekasih. Sebaliknya, dia justru penasaran dengan Stella. Apalagi saat melihat penampilan Stella di sosial media dan saat bertemu dengannya sangatlah berbeda.
“Menarik,” gumam Davin sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Davin tak peduli dengan status Stella yang merupakan kekasih pria lain. Ia sudah terlanjur tertarik dengan Stella dan berniat untuk mengenal wanita itu lebih jauh lagi.
*****
Suara musik yang berasal dari piano yang dimainkan oleh salah satu pegawai restoran terdengar. Garry mengedarkan pandangannya, hingga ia menemukan keberadaan teman-temannya.
“Gar!” panggil salah satu teman Garry sambil melambaikan tangan.
Garry pun tersenyum lalu menghampiri meja yang ditempati teman-temannya.
Berbeda dengan waktu itu, kali ini Garry tidak mengajak teman-temannya bertemu di kelab malam. Menurutnya, alkohol yang ia konsumsi waktu itu malah semakin mengacaukan pikirannya. Oh, Garry bahkan tak ingat apa yang dia bicarakan dengan Stella di telepon saat dia sedang mabuk malam itu.
“Tumben sekali kau mengajak kami bertemu di sini. Ada apa, Gar?” tanya teman Garry.
Garry mengambil tempat duduk di samping temannya yang berkepala plontos, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Jadi, kau sudah putus dengan Feby?”
Garry menggeleng. “Aku sudah mengajaknya putus. Tapi, gagal,” jawabnya disusul dengan helaan napas panjang.
“Kenapa bisa gagal?” sahut teman Garry yang lain.
“Dia mengancam akan membongkar perselingkuhan kami di depan Stella kalau aku meminta putus. Aku berniat untuk menikahi Stella, tidak mungkin aku membiarkan Feby untuk mengacaukan itu semua,” jelas Garry.
“Tapi, bukankah sama saja, Gar? Kalau kau tetap berselingkuh dengan Feby, lama-kelamaan pasti Stella akan mencium busuknya kalian,” cerca teman Garry.
__ADS_1
Garry mengedikkan bahunya. Beberapa hari belakangan, Garry terus menghubungi Stella. Namun, sayangnya tidak ada jawaban dari Stella. Kalau boleh jujur, Garry sangat merindukan kehangatan dan perhatian Stella.
Meskipun Feby juga memberikan Garry segala bentuk perhatian. Bagi Garry, semua itu tidak terasa sama jika bukan Stella yang melakukannya. Di sinilah dia mulai sadar jika dia jauh membutuhkan Stella dibandingkan Feby yang memang hanya bisa memuaskannya di ranjang.
“Sudahlah, jangan bicarakan tentang Feby. Aku jadi semakin pusing,” gerutu Garry, mengundang tawa teman-temannya.
“Lalu, apa rencanamu sekarang?”
Garry mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu. Sekarang saja Stella masih susah dihubungi,” jawab Garry.
“Tidak salah lagi, Gar. Dia pasti sudah mencium kebusukanmu!” seloroh teman Garry lalu tertawa terbahak-bahak.
Garry melirik tajam temannya, tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.
“Ck, aku mengajak kalian ke sini untuk memberiku saran. Bukan malah mengejekku seperti ini,” omel Garry.
Teman Garry menghentikan tawanya.
“Baiklah, baiklah. Kau ingin Stella kembali percaya padamu, ‘kan?” tanyanya.
Garry mengangguk.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak lamar dia saja? Dengan begitu Stella pasti bisa melihat keseriusanmu dan akan kembali ke pelukanmu.”
“Apakah dia akan menerimaku?” balas Garry, ragu.
__ADS_1
“Kau tidak akan tahu jawabannya kalau kau belum mencobanya, bukan?”