Nyebellin

Nyebellin
#38. Rumah Sakit


__ADS_3

Bruk!!


Aldi dan Lala jatuh dalam keadaan kedua lengan Aldi memeluk Lala kuat. Seketika semua menjadi putih.


Aqil yang sedang fokus ke handphone nya segera berlari saat beberapa mahasiswa berkerumun dan mendapati dua sejoli itu terkapar di tumpukan tas dengan banyak luka dan darah yang menetes.


Ambulance segera bergerak menuju tempat kejadian. Beruntung mereka jatuh bukan di atas atap gazebo, tapi di atas sebuah tumpukan tas orang orang yang sedang senam. Walau bagaimana pun. Keduanya tetap terluka parah.


***


Air mata Lala jatuh. Tangan nya mulai bergerak sedikit demi sedikit. Bayangan Aldi yang melindunginya dengan memposisikan badan nya memeluk Lala dan membalik Lala ke atas. Lala hanya membayangkan ketakutan demi ketakutan, semuanya kembali bermain di ingatan Lala.


Ega yang melihat air mata Lala tak henti hentinya menangis, sedangkan Aldi sudah selesai di operasi. Lala tidak di operasi karena hanya bagian lengan nya saja yang lebam dan kepalanya sedikit berdarah. Setelah di jahit semua kembali normal. Namun, Lala belum juga siuman.


Ega menoleh hendak bangkit menuju ruangan Aldi.


"Huaaa!!"


Ega menoleh, Lala berteriak parau. Lala bangkit dari tidurnya. Ega seketika terheran, kenapa anak nya berubah menjadi macan gadungan. Apakah mungkin saraf nya ada yang terputus.


"Kamu kenapa, nak?" panik Ega seketika melihat Lala yang memasang wajah sedih.


"Aldi mana ma?" tanya Lala.


"Di ruangan nya. Kamu nanti jenguk kalau dia udah siuman," jawab Ega.


"Dia gak patah tulang kan mah?" tanya Lala khawatir.


"Kamu liat sendiri nanti, tulang rusuknya kata dokter agak retak sama tulang kakinya. Untung satu tulang rusuknya sehat wal afiat," terang Ega


Lala yang di candai malah bertanya dengan muka serius, "Jadi semua tulang nya patah? Kok bisa mah? Btw tulang rusuk yang wal afiat itu apa?"


Lala menodong mamanya dengan banyak pertanyaan. Ega di buat bengong, sepertinya putrinya tidak ada sama sekali efek sakit bagi pita suara, buktinya dia masih semangat bercerocos.


"Ahh kamu lihat aja nanti. Tulang rusuk nya kan kamu, nanti nikah sama Aldi kan," goda Ega sambil beranjak menuju pintu dan meninggalkan Lala.


Lala menatap sekeliling, Lala membayangkan saat terjun bebas tanpa parasut dan berakhir di rumah sakit, kenapa dia bisa ceroboh dan melibatkan Aldi, kenapa juga Aldi tidak membiarkan nya jatuh sendiri malah ikut ikutan?


Banyak yang ingin di tanyakan Lala. Bukan hanya kesehatan Aldi tapi juga alasan nya mempertaruhkan nyawanya sendiri. Air mata Lala jatuh lagi. Dia benar benar ceroboh.


Pintu kamar Lala di dorong dari luar, wajah ayahnya muncul membuat Lala menatap diam.


"Eh Lala, kamu udah siuman nak?" tanya Riand, di letakkan nya paper bag di samping Lala.


"Iya pah, beberapa menit yang lalu," jawab Lala sambil merebahkan kembali badan nya.


"Papa, pengen somay," rengek Lala.

__ADS_1


"Nanti papa beliin, cepat sembuh ya," ucap Riand, tangan nya mengusap lembut kepala putrinya.


"Pah, Aldi gimana?"


"Ya gak gimana mana, masih Aldi kok." ucapan Riand membuat Lala kesal. Baru siuman beberapa menit sudah di buat dongkol oleh mama dan papanya.


"Heheh jangan di tekuk mukanya, nak. Aldi udah di operasi kok, tadi sempat kehilangan banyak darah jadi lama, udah baik-baik aja sekarang."


Lala mengangguk. Papanya lebih baik memberikan informasi daripada mamanya.


"Yaudah kamu istirahat dulu, papa mau keluar temani mama kamu belanja ya," pamit Riand.


Lala mengangguk dan menarik selimutnya, dia butuh istirahat yang normal, pingsan bukan termasuk kategori.


***


Setiap sore Lala selalu menyempatkan ke ruangan Aldi dan mengayuh sendiri kursi rodanya. Lala membersihkan tangan dan wajah Aldi dengan handuk basah, ataupun menjenguknya dan mengajak nya bicara, Lala tahu itu hal sia-sia tapi dia tidak mengerti, dia begitu takut kehilangan manusia satu ini.


Lala menatap Aldi yang masih terbaring koma. Kalau lambat sedikit saja, nyawa Aldi tidak akan tertolong. Lala memperhatikan alat-alat yang di pasang di tubuh Aldi.


Janjinya mereka akan ke pasar malam kemarin dulu. Tapi ternyata mereka hanya berakhir di rumah sakit. Tangan Lala menyentuh pipi Aldi.


"Hiks, kasian lu, Di. Kaki lu harus di gantung-gantung. Maafin gue ya, lu jadi kek gini gegara gue." Lala terus bermonolog.


Hanya bunyi pendeteksi jantung yang masih memcah keheningan. Lala menyentuh tangan Aldi yang di perban. Kalau saja Lala bisa memutar waktu, dia akan memilih untuk tidak melihat sunset.


"Keknya udah nyampe amerika ini dream nya," ucap Lala.


Nia datang dan membawa bunga. Nia menaruhnya di pot mengganti mawar yang kemarin.


"Tante," sapa Lala.


"Udah lama ya, nak?" tanya Nia sambil mengusap rambut Lala.


"Ngak kok, abis minum obat Lala kesini," jawab Lala.


Lala menggeser kursi rodanya, memberikan ruang bagi Nia melihat putranya.


Rasa bersalah membuat Lala murung. Mungkinkah Aldi akan membencinya? Tapi Aldi sendiri yang melakukan nya.


Perasaan Lala campur aduk, antara merasa bersalah dan takut di benci.


"Tante, Lala balik ke kamar Lala dulu ya," ucap Lala di angguki tante Nia.


"Mau tante antar?"


Lala menolak halus dan mengayuh kursi rodanya menjauh. Dia ingin ke taman rumah sakit. Mungkin saja sore-sore begini dia bisa menghilangkan pikiran negatif dengan melihat banyak orang.

__ADS_1


Lala melihat sekeliling. Taman rumah sakit memang sangat luas. Rumah sakit ini memang sangat bagus, hampir seperti rumah sakit di Korea. Lala hanya menonton nya beberapa kali bersama Heiji.


"Lala…"


Lala menoleh, panjang umur emang tuh anak.


Heiji datang dengan sebuah paper bag. Beberapa cemilan dan sebuket bunga.


"Lo udah mendingan? Kok main di luar," tanya Heiji.


"Bosan di ruangan mulu, pengen cari angin segar," jawab Lala.


"Ya elah, kan di dalam gak ada angin ngak segar," cerocos Heiji.


"Hahaha, semerdeka lo, deh," sahut Lala.


Heiji menaruh paper bag di pangkuan Lala dan mendorong kursi roda sahabatnya. Mereka akan melihat lihat taman sebentar.


"Oh iya Ji, lo masih pacaran sama kak Hanz?" tanya Lala.


"Yoi, masa putus aja. Lo tuh, Aldi ngak ngasi kode apa gitu?" tanya Heiji.


Lala menggeleng dan menatap Heiji datar. Sahabatnya ini memang hobby membalik keadaan.


"Oh iya, gue masih utang penjelasan gimana bisa lu terjun tanpa parasut gitu," ucap Heiji.


Walaupun Lala sudah mengatakan dia hanya kepeleset karena berfoto di pinggir, sebenarnya beberapa orang di atas gedung ingin menyelamatkan Lala tapi tidak sempat, Aldi malah ikut berlari ke arahnya dan memeluk Lala.


"Woy, kok bengong?"


Lala menggeleng. Lalu menatap Heiji dan berkata, "Kan gue udah bilang, gue kepeleset dan Aldi nolong gue, perasaan gue jawab dari waktu lo jenguk gue dari kemarin."


Lala kesal di buat nya. Heiji memang tidak merasa puas tanpa penjelasan seperti warta berita atau koran.


"Ya udah, jangan kesel napa," kekeh Heiji.


Lala mengambil cemilan dari paper bag dan melahap kue nya. Menumpahkan kekesalan parah pada sahabatnya yang Nyebellin.


...Bersambung…....


...Terimakasih, silahkan tulis pendapat kalian, mau happy atau sad ending :v...


...Hehehe, dukung dengan Vote dan komen ya....


...Salam cinta dari tokoh Nyebellin....


...Aldi_Lala...

__ADS_1


__ADS_2