Nyebellin

Nyebellin
#40. Aldi siuman


__ADS_3

...Selama masih bisa menggenggam tangan mu, aku pasti terus berusaha...


...Aldi~...


Jarum jam seakan malas bergeser dari angka 12. Mata Lala sulit terpejam. Bagaimana bisa, pikiran nya terus melayang ke peristiwa terjun bebas tempo hari. Lala mendengus dan mengambil bantal kepalanya sebagai guling. Lala memang sudah meminta agar mamanya tidak usah menjenguknya, apalagi sampai bermalam menjaga Lala. toh, Lala sekarang bukan pasien yang sakit keras.


Lala bangkit dari ranjang nya. Dia berjalan pelan menuju kamar Aldi. Suasana rumah sakit sudah agak sepi. Hanya beberapa perawat yang shif malam. Itupun hanya satu, dua, yang lewat di depan kamar Lala.


Lala membuka pintu kamar Aldi. Aldi masih terbaring dengan tenang nya. Lala mendekat dan duduk di samping Aldi.


Diraihnya tangan Aldi dan di genggam. Tangan Aldi bergerak, mata Lala seketika melebar memperhatikan tangan Aldi bergerak tapi berhenti dan tenang kembali.


"Lo udah bangun kan." Lala mengguncang tangan Aldi. Entah ide gila dari mana, dia merasa harus membuat Aldi bangun.


"Jangan gini donk. Lo udah bangun kan, Di…"


Lala terus berusaha dan tidak kehabisan akal. Lala mendekat ke wajah Aldi dan menoel-noelnya, bahkan membuka mata Aldi dengan melebarkan nya. Seperti dokter mata yang di lihatnya lewat tv.


Lala menyerah dan merebahkan kepalanya di samping Aldi dan menangkupkan di kedua tangan nya.


Punggung Lala bergetar, air matanya luruh. Harusnya dia tidak usah bertingkah di atas atap kala itu. Harusnya di diam saja. Dia memang pelaku yang membuat Aldi menjadi seperti ini.


Kepala Lala di usap halus. Lala bangkit dengan kaget. Matanya berkedip melihat Aldi yang menatapnya lemah. tanpa ba-bi-bu lagi, Lala langsung bangkit.

__ADS_1


"Huwaaa gue kangen." spontan Lala memeluk Aldi dengan girang. Lala mengguncang Aldi saking bahagianya Aldi sudah melewati nasa kritisnya. Lala tersenyum senang, menunggu benar benar membuatnya merasa berguna.


"La, ntar gue mati, hati-hati donk." Aldi merasa tulang nya remuk. Badan nya serasa ingin putus dari badan nya.


"Heheh, maaf Di, gue kegirangan aja. Lo istirahat dulu ya," ucap Lala kalem.


***


Hari ini Lala duduk mengupas apel. Lala baru saja pulang dari kampus. Hari ke-tiga Aldi siuman. Lala dengan senang hati berlama-lama di rumah sakit.


"Gue heran, kok lo gak hilang ingatan ya?" tanya Lala polos.


"Astagfirullah, nih anak, jahat banget lo," protes Aldi.


Sudah patah tulang, di minta amnesia lagi. Benar-benar mahluk jahat.


"Gak marah kok, cuma tolong jangan banyak nonton drama," ucap Aldi mengelus kepala Lala dengan sayang.


Sayang?


Ah, sepertinya Aldi benar-benar sudah gila. Tapi Lala tidak boleh tahu alasan Aldi membuat dirinya hampir mati demi Lala.


"Habisin ya apel nya." Lala menyodorkan sepiring apel ke arah Aldi.

__ADS_1


"Suapin napa, ngak kasian lo, lihat badan gue penuh perban," pinta Aldi sok-sokan.


"Mana ada penuh perban. Sebagian donk," cebik Lala kesal. Lama-lama Aldi memanfaatkan situasinya.


"Yang ikhlas donk."


Lala hanya mengangguk dan menyodorkan Aldi apel. Lala juga ikut memakan nya. Nangung kan, padahal tidak sedang puasa.


"Lo masih ke daftar di Amerika gak? Soalnya udah hampir sebulan lo ngak pergi," kata Lala, Aldi menatap Lala kemudian tersenyum.


"Maybe yes, maybe no. Hahaha, gak tau lah," jawab Aldi ragu.


"Aish, gue nanya apa juga... Lo kan baru bangun." Lala menyesal, pasti Aldi akan memikirkan tentang beasiswa nya.


"Ngak usah dipikirin. Makan lagi atuh," ucap Lala berusaha mengalihkan topik dan membahas pertama masuk kuliah saat sembuh. Banyak yang mendatanginya.


"Serasa artis gue," ucap Lala senang


"Baru juga gitu." Aldi membuat Lala jengkel lagi.


Tapi Lala berusaha tidak mengambil hati dan menyuapi Aldi. Hitung-hitung rasa senang nya karena Aldi masih hidup.


...Bersambung…...

__ADS_1


...Anyyeong haseio. Lama gak up ya^^...


...Ikuti terus dan berikan like ya^^...


__ADS_2