
Setelah kembali ke kamar, Lala duduk kembali di ranjang nya. Heiji membantu Lala kemudian berpamitan pulang karena hari sudah mulai sore.
Ega datang bersama Riand. Ega menyodorkan kotak berisi somay.
"Nih, buat yang tiba-tiba ngidam," kekeh Ega.
Lala memberengut kesal, di bukanya kotak berisi somay dan melahapnya satu-satu.
"Hati-hati, makan yang pelan-pelan. Baru juga beberapa hari sakit kamu dah maruk banget," komentar Ega.
"Mamah biarin aja, Lala kan Jarang-jarang minta somay," ucap Riand.
Lala melanjutkan makan nya dan tidak lagi menghiraukan kedua orang tuanya.
***
Lala masih menopang dagu melihat Aldi yang berbaring dengan wajah tenang nya.
'Makin lama makin tampan saja' batin Lala.
Pintu Aldi di dorong dari luar memperlihatkan wajah ayah Aldi yang menenteng tas kantor. Sepertinya dia baru pulang dari kantor.
"Eh om baru balik dari kantor ya?" sapa Lala.
"Iya, nak. Ini barusan aja kelar meeting lalu kesini, kamu dari tadi, ya, di sini?" tanya nya.
Lala mengangguk, Hendra bergantian dengan Nia menjaga Aldi, walaupun keduanya sibuk. Tapi mereka masih menyempatkan mengurus keperluan Aldi, karena tidak mungkin menyuruh Lala yang notabene juga sakit.
__ADS_1
Lala hanya di kursi roda karena badan nya belum sehat total. Bukan karena sakit pada persendian. Lusa, Lala sudah bisa kembali ke rumah. Tapi, Lala meminta kepada Ega dan Riand agar dia di rumah sakit sampai Aldi siuman. Absen nya di urus oleh dokter, pemikiran Lala emang sedikit jahat.
"Om, Lala pamit dulu, mau balik ke kamar," ucap Lala.
Hendra mengangguk sambil berkata, "Mau om anterin?"
"Ah gak usah om, nanti Lala kesini lagi kok," jawab Lala sambil memutar kursi rodanya menuju pintu.
Hendra meraih kursi dan duduk di kursi. Anak nya belum juga siuman setelah tiga hari dari operasinya. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Mendengar penjelasan Lala membuat Hendra tahu bahwa anak nya pasti menyukai tetangga nya itu. Sangat jelas.
Hendra mengusap wajah anak lelakinya. Wajah Aldi memang sedikit mirip dengan nya. Tangan Aldi bergerak sedikit membuat Hendra membolakan matanya senang.
Tapi, tidak ada pergerakan lagi. Hendra mendesah lelah. Sepertinya putranya akan lama koma, kekhawatiran dari seorang ayah memang kerap menghantui Hendra. Dia sangat menyayangi Aldi.
***
Lala berjalan ringan menuju taman belakang rumah sakit. Satu tangan nya masuk ke dalam saku bajunya dan satunya menenteng handphone.
"Lalaā¦"
Lala menoleh ke sumber suara, itu suara Hanz dan Heiji. Keduanya datang menjenguk sore ini. Padahal Lala tahu, ada jadwal matematika. Heiji pasti menyelamatkan diri dan beralibi menjenguknya.
Lala tersenyum menyambut kedua sejoli itu. Keduanya mendekat, Hanz menyodorkan paper bag. Lala mengintip sedikit, rupanya buah.
"Tumben barengan," ucap Lala berbasa-basi
"Iyalah, kan, akhm." Heiji sengaja membuat Lala makin ngenes dengan kejombloan nya.
__ADS_1
Lala memang pernah bilang dia ratu jomblo tercantik dan Heiji kini menggodanya untuk meninggalkan predikat yang diberikan oleh Lala sendiri kepada dirinya.
"Mau kemana emang, La?" tanya Heiji heran melihat kawan nya seperti kuntilanak yang berkeliaran.
"Cari angin, biasa." Heiji tertawa melihat Lala, dan Lala memasang muka heran.
"Angin kan banyak di kamar, kipas," jawab Heiji disambut tawa Hanz. Lala mengerucutkan bibir.
Heiji memang menyebalkan.
"Mau jalan-jalan."
Lala berjalan kembali menuju kamarnya. Tidak mungkin dia berkeliaran dengan paper bag, seperti apa saja.
Heiji dan Hanz ikut mengekori Lala ke kamarnya.
"Alasan apa lagi lu ngak masuk kuliah?" tanya Heiji.
"Nunggu Aldi," jawab Lala.
Heiji menyikut rusuk Lala sambil ber-akhm tidak jelas. Lala tahu kalau Heiji pasti gencar meledeknya, manusia tanpa perkembangan.
...Bersambung.......
...see you nex part...
...lope lope...
__ADS_1
...KazukyAlichiašš„°...