Nyebellin

Nyebellin
#62. Forever My Best (Love) Friend (Ending)


__ADS_3

...Katakan kepada semesta bagaimana waktu bekerja mempertemukan cinta dan mengubah dunia. Bagaimana pun akhirnya kita tidak pernah terlambat, kita hanya sedang berproses untuk saling menemukan....


...Aldi~...


Manhattan, Musim dingin 2024.


Lampu kota New York dari sini terlihat begitu indah. Seorang gadis dengan cup bergambar beruang sedang duduk menghadap jendela. Rupanya dingin-dingin begini sangat cocok menyeduh kopi sambil menatap langit malam. Walaupun diluar dipenuhi tumpukan salju yang merata. Beberapa suara mobil pembersih salju masih saja terdengar nyaring.


"Eh, besok sudah balik ke indonesia. Jangan lupa kalau senin depan kita mau poto pre-wedding."


Aldi meletakkan beberapa bungkusan cemilan kentang di atas meja. Dia baru saja lewat di connecting door dan menerobos merusak suasana.


"Huum, ngapain jam segini masih berkeliaran di sini?"


"Mau lihat onyet gue," jawab Aldi sambil memeluk leher Lala dari belakang, mungkin karna terlalu erat gadis itu merasa ini seperti percobaan pembunuhan.


"Woy, leher gue." Lala memukul keras lengan Aldi.


"Di peluk aja marah-marah," Aldi memasang tampang seperti _aku memang seorang yang jahat_ tapi Lala malah memasang muka kesel.


"Oh, iya. Ayok makan mie," usul Lala seakan lupa dia sedang marah tadi.


"Okedeh. Gue panasin air dulu." Aldi berjalan kembali ke kamarnya di sebelah.


Lala meletakkan kembali minuman nya dan ikut ke sebelah kamar Aldi. Rasanya dia harus lebih baik dengan nya. Karena sebulan lagi mereka akan menikah.


Lala tersenyum sendiri membayangkan menikah dengan sahabat sendiri, konon selalu ada momen lucu jika jodoh adalah orang yang sangat akrab dengan kita, walaupun begitu perasaan degdegan selalu saja hadir. Tapi Lala juga pikir ini mungkin berbeda karena Aldi adalah pacar sekaligus sahabatnya.


"Woy, kok bengong?"


Aldi menarik Lala untuk duduk di sofa mini di kamarnya, Aldi mengeluarkan mie instan cup dari dalam koper nya.


"La, gue gak nyangka beberapa minggu lagi kita bakalan dapat status baru, udah kayak pertumbuhan ulat, kepompong, kupu-kupu. Dari teman, sahabat, pacaran, nikah."


"Lo kek senang banget, sahabat maupun pacaran ngak ada bedanya, kecuali waktu dua tahun kita gak pernah ketemu."


Aldi mengangguk, hobby Aldi pun masih sama, menganggu Lala, memastikan kalau gadis itu akan meledak karena kesal. Itu adalah hiburan yang menyenangkan.


"Tapi bagi gue beda, kan seiring waktu kita jadi dekat kek permen karet," jawab Aldi.


"Apanya kek permen karet, kek permen kopi, ada pahit-pahitnya."


"Keknya lo salah iklan," ucap Aldi sambil memegang dagunya.


"Nanti kita bakal tinggal dimana?" tanya Lala.


Pasalnya mereka tetangga, benar-benar mentok hanya di kompleks yang sama dengan mertua baik Aldi maupun Lala. Lala tertawa sendiri membayangkan momen tersebut.

__ADS_1


"Kenapa lo ketawa sendiri."


"Pernah denger gak? Sekota aja ribet, apalagi satu kampung," ucap Lala.


Aldi menaikkan alis tidak mengerti apapun yang di bicarakan Lala barusan.


"Maksudnya biasa kalau jodoh dekat rumah itu ribet. Kalo gue pukul lo, eh lo nya langsung lapor, balik rumah lo."


"Kalaupun jauh kalau gue mau lapor kdrt-yang sedang lo rencanakan di masa depan-gue masih bisa lewat telfon. Lagian cuma cewek yang kek gitu." jawab Aldi sambil mengibas tangan.


"Higeh. Gue juga ngak minat berdrama queen." Lala berdiri mengambil air panas di termos elektrik.


Aldi membuka bungkus mie cup tersebut dan menuangkan air.


Aldi bersandar di lemari sambil bersedekap. Pemanas ruangan tidak cukup hangat. Aldi menatap Lala yang sedang melamun.


"Woy," seru Aldi sambil mencolek kaki Lala.


"Dasar! Gabut banget yak?" ketus Lala.


"Gak juga. Gue mau jawab pertanyaan lo yang tadi. Kalau kita menikah, papa udah siapin rumah. Dekat sama kantor gue. Lo mau pindah tempat mengajar atau gimana?" tanya Aldi.


Lala berpikir sejenak. Dia menggeleng cepat.


"Gak perlu, gue mau di sekolah lama, gue baru berhenti kalau gue jadi menteri pendidikan," ucap Lala sambil tertawa senang.


"Kenapa? Kan gue cantik. Oh... Pasti gegara menteri tercakep sepanjang sejarah." Lala menaikkan dosis narsis nya.


"Karena suami dari menteri itu cowok cakep kek di drama korea."


Lala menatap Aldi sambil menertawakan kenarsisan pacarnya bahkan lupa kalau dia lebih narsis.


"Itu gak bakal terjadi karena gue baru daftar kalau lo udah beruban," ucap Lala.


"Emang lo bakalan cantik kalau dah berumur 80?"


"Gue oplas," canda Lala.


"Ada-ada, aja."


"Udah drama nya, mie gue udah berkembang."


Lala segera menyambar mie nya. Aldi juga ikut makan.


"La, apapun yang lo suka, gue gak akan larang."


Aldi tersenyum hangat kepada Lala. Baginya gadis itu akan selalu menjadi kesayangan nya.

__ADS_1


"Terimakasih, Di." sahut Lala.


***


Lala memandang pohon-pohon di samping apartemen depan hotel mereka. Aldi membawanya ke sini untuk main salju. Disini mungkin bekas taman bermain. Beberapa ayunan dan luncurkan di samping. Sore ini mereka akan kembali ke jakarta jadi harus menghabiskan waktunya dengan senang-senang.


"La, ayok buat orang-orangan salju." Aldi melambai kepada gadis yang mengenakan jaket kebesaran berwarna orange dengan topi rajut berwarna putih.


Aldi memeluk Lala sambil tertawa keras. Lala yang kaget malah terjerembab ke dalam salju.


"Aldi jahat!" keluh Lala.


"Hehehe maaf, La. Sengaja."


Aldi membantu Lala berdiri dari tumpukan salju yang membuat Lala kesulitan. Aldi menatap Lala sambil tersenyum kecil.


"Senyuman lo angker banget, kek kuburan," ucap Lala sambil menoel pipi Aldi.


"Kek lo aja ngak kek gitu," sahut Aldi.


"Iya, iya. Lo yang terindah," Jawab Lala.


Aldi hanya tertawa lagi dan lagi. Momen ini akan selalu ada dalam ingatan nya. Bahkan selalu ada dalam memory nya sampai tua nanti


Aldi menarik tangan lala dan memeluknya hangat.


"Hangat, kan?" ucap Aldi.


Lala menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Aldi berharap waktu berhenti dan berjalan lambat.


"La, gue selalu sayang sama kamu. Jangan pernah berniat kabur atau pun ninggalin aku, ngak ada perizinan."


Aldi mengusap rambut Lala dengan sayang. Lala mendongak dan mengangguk.


"Ciee. Aku-kamu, nih. Kok geli, ya."


Lala menggoda Aldi yang tiba-tiba menggantikan lo-gue nya. Lala tau kalau Lala pernah kesal karena Aldi memanggil adiknya lebih dekat daripada dia.


"Hehhe, aku juga sayang Aldi. Always love you my 'boy' friend."


Lala menekankan kata boy nya, karena Aldi adalah cinta sekaligus sahabatnya. Dari sifat nyebelin itu hanya satu dari seribu satu cara Aldi mendekati Lala dan memenjarakan nya dalam hatinya untuk selama nya. Aldi menatap Lala dengan sayang dan mengecup bibirnya lembut.


“Heheh always love you too, Lala. Yok pulang. Kasian kalau calon pengantin gue kena flu," seru Aldi menarik tangan Lala kembali.


...Tamat~...


Cafe tokoh dan Alchia mengucapkan terimakasih buat readers. Salam sejuta lope.

__ADS_1


Vote, komen, like dan love nya, yak.


__ADS_2