Nyebellin

Nyebellin
#45. Me Time?


__ADS_3

...Peduli pada orang lain itu penting. Tapi, peduli terhadap diri sendiri itu wajib!...


...Heiji~...


Genap seminggu selesai dari KKN, Lala merebahkan badan sepanjang hari. Bahkan dia menonaktifkan ponselnya.


Lala meletakkan semua buku komik di atas nakas. Lala tidak terlalu doyan membaca novel tebal, dia hanya membaca yang tipis saja. Lala menyukai komik. Kalau kalian ingin melihat kutu buku, teman Lala yang bernama Curil, dia selalu mempunyai buku tebal. Konon, Curil tak pernah pacaran. Dia hanya berpacaran dengan buku.


Lala memejamkan matanya dan membayangkan seandainya dia liburan ke luar negri, Lala ingin mengutuk author yang tidak memberinya kesempatan. Bahkan rumah Aldi sudah tiga bulan tidak ada orang. Orang tua Aldi jarang datang, karena Lala baru pulang KKN kemarin, dia tidak pernah tahu kondisi rumah Aldi di sebelah.


Sebelum bertempur dengan skripsi, Lala memilih untuk 'me time' dua hari ini dia menerapkan zona pribadi. Ega dan Riand hanya menggelengkan kepala melihat label kamar Lala.


Label besar bertuliskan 'Dilarang melintasi kamar Ratu, Lagi ME TIME' tulisan besar yang di tulis di karton dengan spidol warna-warni. Tulisan itu di gantung di sebuah paku sedikit berukuran kecil, entah Lala curi dari mana.


"La, jangan lupa makan, ya," ucap Ega sambil melewati putrinya. Dia harus segera bergegas ke kantor. Lumayan pagi juga.


"Oke, mah," jawab Lala semringah.


Pagi ini dia benar-benar dalam mood yang bagus. Lala melangkah ke dapur dan mengambil roti tawar kemudian di olesi selai kacang. Dia memutuskan untuk keluar jalan-jalan sendiri. Sudah dua hari Lala mematikan ponselnya.


Lala mengigit roti lapis tersebut sambil bermain ponsel. Rasanya sangat menyenangkan. Beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. Lala langsung menekan pesan WhatsApp dari Aldi.


[Nyet, lo kok gak aktif]


[lagi mau me time]


send..


Beberpaa pesan spam dari teman teman nya. Lala hanya tertawa kecil sambil berseru riang, "Gue jadi artis, yuhuy… Heheheh."


Bel berbunyi nyaring. Lala segera berlari menuju pintu. Rupanya Heiji datang terlalu pagi. Jam 08 itu masih terlalu pagi buat Lala.


"Tumben bat datang sendirian. Mana doi lo," seru Lala, Heiji hanya ikut masuk tanpa bersuara sambil menutup kembali pintu.


"Gue lagi pengin jalan-jalan ke rumah lo, gak boleh?"


"Boleh aja, sih," lalu Heiji kembali bersuara.


"HP lo, pake di non aktifin segala. atau lo gak punya paketan?"


"Gak, lagi malaes main HP."


Lala mengikuti Heiji ke ruang tengah. Kok, kesan nya kayak Heiji saja yang tuan rumah. Lala berlalu menuju dapur dan mengajak Heiji sekalian ikut sarapan bersamanya.


"Lo, mau jalan-jalan ke mall, gak?" tanya Heiji.

__ADS_1


Lala menimbang sedikit dan mengangguk.


"Boleh, kok. Gue mau me time ceritanya, tapi bareng lo, kek nya bagus juga." Lala langsung setuju dengan ajakan Heiji.


"Me time mulu. Kelamaan jomblo tuh." Lala cemberut dengan tanggapan Heiji. Enak saja!


"Bukan karena jomblo, karena gue mau zona privat."


"Cih, pripat. Bilang aja, kemageran, lo."


Lala memakan rotinya, kesal. Teman nya memang sedikit jahat, gak pengertian.


"Eh, La. Beneran lo dekat ama Meilda?" tanya Heiji. Dia tahu kalau Meilda dekat dengan sepupu nya, Bima.


"Yoi, sering VC. Dulu, dia sering gue jadiin tempat bertanya keadaan Aldi. Katanya nomor gue juga di kasi ke Aldi." Heiji mengangguk-angguk mendengar penjelasan Lala.


"Yaudah, gue siap-siap dulu." Heiji mengibas tangan nya, menyuruh Lala pergi.


***


Disinilah mereka. Seharian berkeliling mencari apa saja yg sekiranya nyangkut di matanya. Kebiasaan cewek yang menyukai berbelanja sampai lupa daratan.


"Gue lapar, Ji." Heiji juga merasa lapar, dia mengajak Lala ke restoran di lantai empat, mall tersebut.


"Lo mau makan apa, La?" tanya Heiji sambil melihat menu di buku menu.


Heiji mengangguk dan memesan ayam penyet dan lemon tea. Heiji memanggil pelayan dan memesan menu.


"Lo ada perkembangan dengan Aldi?"


"Iya, lo liat gue tambah gede. Udah tumbuh dan berkembang," jawab Lala bergurau.


"Serius, ih. Dasar!" keluh Heiji sama sekali tidak senang.


"Ya, lo liat sendiri. Gimana gue sekarang. Dia mau lanjutin di sana," jawab Lala mulai bermain game di HP nya.


Heiji hanya menatap sahabat nya itu lama.


"Aldi itu setia banget, ya. Dia bahkan berkorban nyawa buat lo."


"Dia kan gak mati. Lagian.." jawab Lala polos.


"Hampir," potong Heiji, sahabat nya itu kurang sadar atau perlu di rukyah.


Lala mengangguk. Yaps. Kejadian terjun bebas itu emang hampir membunuh Aldi. Selain patah tulang di tidak mengalami taruma. Aldi kuat sekali.

__ADS_1


"Bengong mulu, lagi mikirin apa?" tanya Heiji membuyarkan lamunan Lala.


"Gak, cuma mikirin apa gue mau di traktir ama lo." candaan Lala mendapat pelototan.


"Jangan bing lo lagi kere, jadi me time menjadi alasan lo ngk bertemu orang." Heiji menyipitkan matanya.


"Mana ada, gue gak pernah miskin banget ya," protes Lala.


Heiji tertawa dan memasang wajah menyebalkan menurut Lala. Pesanan mereka datang. Perbincangan mereka langsung terhenti. Lagi pula cacing nya sudah konser dangdut.


"Habis ini mau langsung pulang, gak?" tanya Lala.


"Mau ngacak bak diskon dulu deh." Ide Heiji di sambut anggukan Lala. Mumpung mall lagi promo.


***


Lala memarkir motornya. Dia sudah mengantar Heiji pulang. Dua paper bag dia simpan di kamar dan berjalan ke dapur memasak makan malam. Dia sudah bisa masak makan berat dan ngak kalah enak dengan masakan Aldi. Percayalah Lala hanya malas masak selama ini.


Sekalian Lala memasak untuk orang tua nya. Lagian hari ini pasti keduanya pulang jam 8 malam.


Lala berkutat dengan peralatan dapur dan akhirnya selesai juga membuat sayur dan beberapa lauk. Lala juga sudah selsai memasak nasi di rice cooker.


Lala berjalan ke kamarnya sambil merebahkan badan. Dia melihat ke atas nakas. Masih ada dua paper bag warna jingga dan merah belum dia buka sama sekali.


Dia hanya membeli dua komik dan sweter, Serta skin care. Lala mendengar suara pintu di ketuk. Panjang umur, belum lama dia selesai masak, kedua orang tuanya sudah datang.


"Mama, papa, cepat juga pulang nya." ucap Lala sambil keluar dari pintu menuju dapur.


"Iya, kerjaan cepat selesai, masa mau tinggal mulu." ucapan Ega di sambut cengiran Lala.


"Yudah ayok sarapan," ucap Lala.


"Kalau gini, udah pintar masak. Mau nikah kapan, nak? Mama ada kenalan kalau kamu mau di jodohin." Ega hanya bermaksud bercanda. Tapi Lala udah kesal duluan.


"Aku gak mau."


"Mau nunggu Aldi, ya?" goda Riand.


"Ish, papa apaan, sih." Lala tentu tidak akan mengakui.


"Yaudah, habisin makanan kamu."


Perbincangan berlanjut dan topiknya bukan lagi mengenai jodoh-jodohan.


"Mah, aku mau ke kamar dulu. Mau bobok cepat," ucap Lala.

__ADS_1


Ega mengangguk, kali ini pasti Riand yang cuci piring. Keluarga harmonis memang seperti itu. Tukaran job. Hahah.


Bersambung….


__ADS_2