
...Simpan rasa senang mu dan nikmati secangkir teh. Bersiap menjalani hidup....
...Hanz~...
Lala mengambil undangan dari tangan Hanz yang sedang menyodorkan nya sambil tersenyum simpul, Hanz datang bertamu pagi sekali hanya untuk membawa sebuah undangan bersampul biru. sangat cantik hiasan nya dan benar-benar seperti warna favorit Heiji.
"Lo beneran mau menikah? Ahh, gue ketinggalan banyak," Keluh Lala sambil menghidangkan secangkir teh, Hanz datang sendirian.
"Siapa suruh pergi liburan jarang nongol di medsos, ketinggalan informasi kan?" sahut Hanz santai.
"Lagian bukan informasi dunia hiburan. kalau itu bakalan gak terlewat," sahut Lala.
"Aldi mana?" tanya Hanz.
"Yaelah, gue bukan istrinya. Lagian lo nanya nya pas dia ngak nginap." Lala terkekeh pelan.
"Sempat aja, kan?" gurau Hanz sambil menikmati teh nya.
"Yaudah, gue ambil kue dulu. Baru ngobrol."
Hanz mengangguk saja. Lagian dia sudah lama tidak melihat Lala, sekitar dua mingguan lah. sepertinya gadis itu lumayan bahagia pergi liburan.
"Oh iya, oleh-oleh gue sama Heiji, mana?" tanya Hanz.
"Dih, masih jaman nagih kek gituan," canda Lala.
"Hehhe. Yaudah gue mau pulang dulu. Masih banyak agenda," seru Hanz.
"Tunggu." Lala menahan Hanz sebentar.
Lala berlari ke kamarnya dan kembali dengan sebuah paper bag kecil.
"Ngak terlalu cantik tapi ini oleh-oleh gue," ucap Lala sambil memberikan kepada Hanz.
"Wah, terimakasih ya," sahut Hanz sambil berpamitan. Hanz tidak membukanya biarkan di rumah saja. Lagi pula oleh-oleh itu di rekatkan.
"Gue bakalan datang kok. Bulan depan keknya gue masih belum kerja." Lala mengantar teman nya itu sampai di depan pintu.
"Dih, pengangguran nih," canda Hanz.
"Emang lo dah kerja?" tanya Lala serius.
"Udah, gue kerja di kantor paman gue. Lumayan sih masih magang," sahut Hanz merendah.
"Owalah, okedeh. Hati-hati di jalan."
Hanz mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
***
Aldi menunjukkan layar ponselnya di hadapan Lala, Aldi baru saja memboking dua tiket bioskop. Keduanya baru saja pulang berbelanja di betamidi.
"Yakin mau keluar malam ini?" tanya Lala.
"Iyalah, masa main-main," jawab Aldi.
"Okedeh, ntar panggil gue aja, yak."
Lala berjalan lebih dulu di hadapan Aldi sambil mengambil ponselnya. Aldi diam saja memperhatikan gadis itu sibuk menelfon dengan mama nya.
"Gimana kalau kita pergi jalan kaki aja?" usul Aldi.
__ADS_1
Lala langsung melotot. Apa serunya jalan pake kaki sejauh 2 kilo. Menurut perkiraan Lala saja, mungkin jauh sekali.
"Heheh, canda kok." Aldi buru-buru ngeles.
"Gue cuma jalan jauh pas di Brooklyn. Jangan suruh gue jalan lagi, kaki gue pegal." Lala membuka pintu rumah nya, Aldi lebih duluan masuk, sudah hal biasa tamu lebih dulu daripada taun rumah.
***
Aldi menatap Lala lama, setelah menonton filem membuatnya ingin bertanya suatu hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan memang tidak penting sama sekali.
"La, gue rasa kita pacaran nya kek ngak kayak yang lain, kayak gak normal," seru Aldi yang mengambil tempat duduk di samping Lala.
Mereka duduk di sebuah kafe tempat Aldi dan Lala sering nongkrong waktu masih mahasiswa di universitas yang sama. Lala menatap Aldi sejenak.
"Jadi maksudnya kita kek orang cacat?"
"Bukan kek gitu. Ngaco bat lo," keluh Aldi, "pernah lihat di televisi atau buku, keknya kita kurang so sweet," tambah Aldi.
"Elleh, keracunan sama filem ya, kan?" tuduh Lala.
Padahal tadi mereka menonton filem horror bukan nya romantis tapi bagi Lala yang saraf nya dominan suka filem seperti horror itu sudah hal biasa, malahan Aldi yang terlihat pucat, ya mungkin saja karena dia phobia gelap atau jiwa cowoknya lagi melayang di flafon bioskop.
"Yaudah kalau mau so sweet jangan kek filem india, gue gak bisa," jawab Lala.
"Ya wajar sih, lo gak ada anggun-anggun nya."
Lala mencubit tangan Aldi keras sampai dia merintih. Lala tersenyum puas, bagi Lala pembalasan itu menyenangkan.
"Ish, ini bentuk kriminal," keluh Aldi memperlihatkan tangan nya.
"Alay bat, lo." Lala kembali meminum milk shake nya dan memainkan ponsel.
Lala menautkan alisnya, bingung banget melihat kelakuan Aldi.
"Mau bilang cinta tapi takut salah…" Lala malah menirukan nyanyian lama dan membuat Aldi kesal sendiri.
"Serius, La."
"Suka jadi teman. Gak mungkin gue benci, kan?"
"Hmm."
"Emang kenapa, sih? Lagian dia lebih klop sama kak Nadin. Tul, kan?"
Aldi mengangguk setuju.
***
Nadin duduk menghadap jendela, semenjak Adik sepupu pulang dengan Lala, Nadin merasa benar-benar kesepian.
Dia hanya di temani setumpuk berkas untuk keberangkatan nya menuju Roma. Itu masih sekitar enam bulan tapi Nadin harus mempersiapkan nya dengan baik.
Bunyi bel apartemen nya berdenting nyaring. Segera Nadin membangunkan diri dari lamunan nya. Benar-benar unfaedah melamun sendiri untung saja tidak kerasukan.
"Eh, Sam." Nadin kaget melihat ada tetangganya yang tiba-tiba saja menyapa.
"Kenapa?"
"Ngak persilakan saya masuk dulu?"
Sam tersenyum kecil melihat Nadin yang salah tingkah. Nadin menyilakan Sam masuk dan mengobrol.
__ADS_1
"Oh iya, kenapa?" tanya Nadin tidak sabar.
"Saya cuma bilang, mau pindah di sebelah. Soalnya adik sepupu saya suka suasana di lantai empat. Jadi saya akan pindah di sebelah."
"Ohh, sapa tetangga ceritanya?"
Sam terkekeh pelan. Sebenarnya dia sedang mencoba dekat saja. Untung nya motif nya tidak kentara.
"Saya juga cuma sebentar di sini. Dua bulan lagi saya pindah ke Italia," ucap Sam.
"Kenapa pindah segala kalau cuma sebentar."
Nadin heran saja. Benar-benar hanya membuang uang dan tenaga. Tapi Nadin tidak terlalu peduli. Toh, bukan urusan nya.
"Yaudah, kalau ada apa-apa jangan sungkan, saya ada di sebelah."
Nadin mendengus. Selama dua tahun di sini dia belum pernah benar-benar minta tolong dengan tetangga nya, secara tetangganya adalah adik sepupunya.
"Okedeh, nanti saja," jawab Nadin ramah.
Sam berpamitan kembali ke sebelah apartemen.
Ternyata proses pindahan begitu cepat.
Nadin kembali ke kursi di dekat jendela, lagipula dia harus menyelesaikan beberapa dokumen. Nadin mengambil ponselnya dan menelfon Lala. Sepertinya dia ingin menghibur diri dengan bergosip. Ingin melihat perkembangan adek sepupunya. Apakah masih seburuk dulu atau memang selalu buruk.
"Halo kak Nadin." Lala langsung menyapa di seberang sana.
"Heheh, apa kabar kalian?" tanya Nadin.
"Eh, kalian siapa? Aku lagi sendirian loh," jawab Lala.
"Lah, sama si curut. Pacar lo, dek," jawab Nadin.
"Baik kok kak, kami lagi belanja, nyari kado pernikahan."
"Lo mau nikah, dek?"
"Teman, mana ada mau nikah mendadak."
"Ya kali aja."
"Haha kaka bisa aja, mana ada kek gituan."
"Kan, udah dibilang kali aja. ngak menutup kemungkinan. Ya, kan?"
Nadin dan Lala masih saja mengobrol sampai satu jam. Lala berpamitan menutup telpon karena dia harus membayar belanjaan nya. Nadin meletakkan ponselnya dan kembali mengetik di laptop. Sepertinya enak jika meminum es teh. Apalagi sekarang sudah menghampiri musim panas.
Nadin bersiap ke dapur secepat mungkin. Sebelum sarapnya di mabuk kan oleh dokumen seperti ini. Nadin menutup laptopnya dan membereskan meja dari dokumen. Saat nya nyantai agar otak nya tidak meledak. Nadin berjalan menuju dapur sambil bersiul.
***
...Bersambung…...
Cafe tokoh*
Alichia: heheh maaf baru up ya guys, lagi ada masalah sedikit.
Lala: minum baygon cap tikus.
Alichia: agar cerita ini tidak tamat (tersenyum bahagia)
__ADS_1