Nyebellin

Nyebellin
#41 Never say Good bye


__ADS_3

...Penyesalan tak akan membuat mu melangkah jika tekat mu masih saja terkungkung...


...*Naila Agustin*...


Aldi menatap benda pipih di tangan nya. Sudah beberapa jam Lala belum muncul. Padahal Lala sudah berjanji akan menemani Aldi persiapan pulang.


Chat Aldi belum di balas juga. Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aldi mencoba tidur lagi saja.


Pintu rumah sakit di dorong dari luar dengan hati-hati. Aldi ingin bangkit, tepat sekali saat sahabatnya sudah mengambil kursi dan duduk di samping nya, Lala dengan cengiran khas nya.


Aldi sebenarnya sudah tahu, tapi karena kessal, jadi... Aldi berpura-pura memilih tidur boongan.


Lala datang di samping Aldi, Aldi menghadap tembok dan otomatis membelakangi Lala.


Lala tertawa kecil.


"Hoy, Nyet! Bangun woy!" teriak Lala.


"Hmmm, berisik."


Lala terkekeh pelan. Memang Aldi terlihat seperti gadis yang sedang merajuk saja. Lala mengguncang bahu Aldi pelan.


"Ya, maap, tadi gue lagi di tahan sama Hanz, Heiji juga. Jadi ya, gue gak datang cepat," papar Lala.


Aldi membalik posisinya menghadap Lala. Matanya di buat se-datar mungkin. Kesal? Banget.


Aldi menaikkan alisnya sambil memasang muka jutek


"Ngapain lo sama Hanz?"


"Ngak ngapa-ngapain kok," jawab Lala sambil tetap nyengir.


"Lo PHP banget. Katanya mau jagain gue. Lah malah kelayapan." Aldi merubah posisinya menjadi duduk. Tapi sebisa mungkin menahan sakit di area rusuknya.


"Kek anak TK aja, lo kan dah gede. Kok manja bat sama gue," kekeh Lala.


"Cuma kesel aja, lo juga kenapa nyengir mulu. Bikin merinding," seru Aldi.


Lala menaruh paper bag yang sedari tadi di genggaman nya. Karena si onyet lagi ngamuk jadi Lala harus menjelaskan panjang lebar.


"Di, kata om Hendra, lo bakalan ke amerika untuk pemulihan."


Aldi menatap Lala sebentar dan mengangguk.


"Gue udah tau," jawab Aldi, wajahnya murung.


"Kenapa sama muka lo, kecut bat," tanya Lala iseng. Hatinya juga sedikit tercubit.


Lala mengambil remote AC, sepertinya kerongkongan nya agak sakit. Aldi sedikit heran. Pasalnya dia agak kedinginan.

__ADS_1


"Lo mau buat gue mati cepat, La?" tanya Aldi dengan merapatkan selimutnya.


"Gak juga, mau liat lo mati pelan-pelan," bisik Lala sok seram.


Aldi menatap Lala dengan pandangan membunuh. Lala hanya tertawa kecil. Bagaimanapun juga, mengerjai sahabat adalah hal yang seru. Kalau tidak percaya silahkan di coba.


"Nanti kalau gue mati, yang nikah ama lo, siapa?" tanya Aldi menantang.


"Cih, dasar sok kepedean, lo, yang suka gue kan banyak" jawab Lala.


Aldi mengacak rambut Lala dan sebisa mungkin tidak menampakkan perasaan nya.


"La, semisal... Gue suka sama lo, lo marah, gak?" tanya Aldi ragu-ragu.


"Gak marah, lo suka gue ya?" goda Lala.


Aldi hanya terdiam. Matanya di biarkan menatap Lala lama.


"Lo udah makan?" tanya Aldi.


Lala mengerutkan alis. Kenapa sahabat nya ini malah merubah topik? Lala bedehem dan mengangguk.


Aldi menatap keluar jendela. Sepertinya dia tidak di takdir kan bersama Lala. Menyatakan perasaan nya akan membuat nya kehilangan sahabat. Dia harus menahan nya untuk kebaikan bersama. Bukan hanya di partai aja, keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Aldi menggeleng.


"Lo kenapa, Di?" tanya Lala bingung.


"Gue Gak apapa kok," jawab Aldi.


"Lupain aja pertanyaan konyol gue," kata Aldi.


"Gue pulang dulu, ya, keknya lo belum sembuh buat pulang hari ini," pamit Lala.


Aldi mengangguk bersamaan saat Lala bangkit. Pintu di dorong dari luar. Muncul sosok perempuan dengan rambut hitam dan pirang di bagian bawahnya. Sangat cantik.


Gadis itu segera berlari menuju Aldi dan memeluknya hangat. Lala bahkan seperti patung. Adegan ini seperti di film saja, sangat menyebalkan.


Lala segera keluar, tadi dia sudah izin pamit. Aldi ingin berbicara tapi tidak jadi, karena gadis itu terlalu memonopoli.


***


Sudah dua hari Lala tidak menjenguk Aldi. Entah mengapa dia merasa sangat kesal. Lala bersiap-siap ke kampus. Dia harus lebih semngat lagi untuk mengerjakan banyak hal untuk satu bulan nya yang amburadul karena masuk rumah sakit.


Lala baru selesai mengikat tali sepatunya, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Rencana ngampus nya harus di batalkan.


Lala kembali masuk ke dalam rumah sambil menenteng tas nya, malas. Dengan rasa lesu karena semangat nya mendadak hilang.


"Apes banget, sia-sia aja gue semangat. Kalau ikut mama sama papa ke kantor pasti enak." Lala terus merutuki dirinya.


Setelah membuang tas nya sembarangan arah, Lala segera berjalan ke kamarnya dan merebahkan badan.

__ADS_1


"Aldi kok gak pernah nelfon gue, ya? Bagaimana mungkin dia bisa lupain gue."


Ingatan Lala kembali ke gadis cantik yang masuk ke kamar inap Aldi. Pasti karena itu Aldi lupa daratan.


Lala berjalan menuju jendela. Jarang sekali Lala ingin menengok jendela. Rumah Aldi seperti tidak berpenghuni selama Aldi masuk rumah sakit. Pohon pinus di samping rumahnya juga seperti kesepian.


Lala mengambil ponselnya. Sepertinya Aldi tidak pernah lagi menggunakan ponselnya. Ahh, tentu saja, ponsel Aldi juga ikut terbanting. Beruntung ponsel lala tidak ikut terjun dan malah terlepas di atas loteng waktu itu.


Lala meremas rambutnya kasar. Dia benar-benar merasa kesepian, sepertinya dia butuh memakan cemilan untuk menetralkan otaknya yang mumet.


Dengan langkah gontai, Lala berjalan menuju dapur, di cari nya makanan ringan di lemari makanan. Karena beberapa tidak di masukkan di kulkas.


Lala menarik kursi dan duduk dengan tenang sambil memakan cemilan nya. Rasanya dia akan menjadi mayat, tanpa teman.


Dulu, Lala terbiasa dengan hidupnya yang sendirian. Dia mungkin terlalu banyak bergantung selama beberapa tahun dnegan Aldi. Jelas aja bakalan hampa dengan sehari saja tidak bertemu.


Lala meneguk air dan meletakkan kepalanya di atas meja. Dia merindukan Aldi.


"Dasar onyet, tega banget," umpat Lala sangat kesal.


Hujan kembali turun dengan rintik-rintik. Lala merasa dia harus bertemu Aldi. Bukankah sangat kejam jika hanya mendahulukan urusan hatinya saja. Aldi butuh sahabat nya.


Lala mengambil kunci motor. Toh, hujan nya akan segera berhenti. Lala menengadah ke langit. Memang tidak terlalu berpengaruh lah untuk perjalanan ke rumah sakit. Tinggal beberapa menit saja.


Lala melajukan matic nya membelah rintik sore menuju rumah sakit. Dengan kecepatan rata-rata mengingat dia tidak boleh ngebut, nyawanya masih berharga.


Tidak memakan waktu lama, Lala segera memarkir motornya di area rumah sakit dan berlari tergesah-gesah menuju ruang inap sahabat nya.


Lala menekankan langkahnya dengan memikirkan alasan apa yang bisa ia jadikan tameng kalau Aldi menginterogasi nya.


Lala membuka pintu kamar pasien.


"Hah? Kemana dia," gumam Lala.


Lala secepat mungkin berlari menuju resepsionis. Menanyakan nama Aldi, jantung Lala berdetak.


"Pasien di kamar VIP 1 Orcid sudah keluar. rujukan nya ke rumah sakit luar negri, Mba," ucap si perawat dengan ramah.


"Oh, makasih mba," jawab Lala dengan senyum kecut. Lala terlambat.


Kalau bukan karena egois. Dia masih bisa berpamitan dengan Aldi. Dia harus menunggu beberapa bulan lagi atau mungkin tahun untuk bertemu sahabat nya.


Padahal Lala ingin mengakui perasaan nya saat Aldi sudah membaik. Mungkin Lala di takdir kan tidak akan bersama dengan Aldi. Aldi juga terlihat bahagia saat itu dengan perempuan cantik yang entah siapa namanya.


Lala mengambil handphone nya. Menghubungi tante Nia. Tidak tersambung. Lala mengambil kunci motornya. Dia merasa harus berjalan-jalan sendiri untuk menenangkan pikiran nya.


***


...Bersambung…....

__ADS_1


...Huy guys, baru nyapa lagi… In syaa allah 'Nyebellin' akan tamat dalam bebeberapa episode lagi. Nah mohon dukungan untuk selalu like dan bintang ya. Terimakasih^^...


__ADS_2