Nyebellin

Nyebellin
#55. Rutinitas Semula


__ADS_3

...Yang kamu butuhkan bukan hanya suprise~...


...Heiji ~...


Lala dan Aldi sampai di jakarta tadi pagi, Lala benar-benar lelah, dia tidak banyak bicara saat Riand menjemput mereka di bandara.


Lala langsung masuk kamarnya begitu sampai di rumah, Riand meletakkan koper putrinya, dia memaklumi saja anak nya mungkin sangat lelah di perjalanan.


Aldi juga langsung masuk ke rumah nya bahkan sempat tidur di perjalanan dari bandara, sepertinya perjalanan jauh membuat keduanya lebih merindukan tidur.


***


Lala duduk di kursi depan sambil bermain ponsel. Beberapa postingan instagram teman-teman kampusnya, beberapa yang sudah bekerja di sekolah, kantor dan pengangguran kayak Lala.


"Lala, mama berangkat dulu, ya."


Lala mengangguk dan melambaikan tangan nya ke Ega. Benar-benar sepi.


"Sssyaang." Aldi memanggilnya dari jendela samping rumah.


"Hideh, ngomong belepotan." Lala terkekeh pelan. Apakah pacarnya berubah jadi Ijat di filem upin-ipin.


"Hehhe sengaja. Ayok kesini," panggil Aldi.


Lala mematikan ponselnya dan berjalan menuju rumah Aldi.


"Pernah dengar, gak. Ada lagu yang nyiggung banget."


Aldi berfikir sejenak dan membuka pintu. Lagu apa pula itu.


"Pacar lima langkah," jawab Lala spontan.


"Eh, jalan dari rumah lo sekitar sepuluh langkah. Atau lo ngitung?" tanya Aldi polos.


Lala hanya terkekeh pelan dan mendahului Aldi masuk.


"Di, gue kangen masakan lo, lo gak pernah masak waktu di Amerika." Lala melipat tangan nya di dada.


"Oke, tuan putri." Aldi menarik tangan Lala menuju dapur.


"Oh, kalau gue putri, lo babu nya?"


"Gue raja nya." Aldi tidak terima.


"Raja dan ratu, pangeran dan putri. Oke, gue paham sekarang, lo jadi bapak gue, kalo begitu."


Lala manggut-manggut sambil mengambil tempat duduk. Aldi tidak berkomentar lagi dan mengambil bahan-bahan dari kulkas.


Setelah sekian lama Lala merindukan momen seperti ini. Akhirnya menyaksikan lagi pemandangan Aldi yang serius memasak menu di hadapan nya.


Aldi menoleh ke kulkas dan melihat bayangan Lala yang sibuk menatapnya.


"Ciee liatin gue, ya." Aldi kembali sok sibuk.


"Kenapa emangnya? Gak boleh?" tanya Lala.


"Boleh banget," jawab Aldi.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Aldi menghidangkan masakan nya. Cuma soup dan ayam kecap sih. Tapi Lala yang kebetulan belum makan lagi menjadi lebih berselera.


"Makan yang banyak biar cepat gede." Aldi mengusap rambut Lala dan ikut makan.


"Heiji tuh ngak balas-balas chat gue. Dia ngilang total," ucap Lala sok heboh.


"Mana ada ngilang. Dia mungkin lagi sibuk, dia ngajar kan?"


Lala mengangguk. Mungkin saja Heiji sudah melupakan Lala, apa serunya mengajar sampe lupa teman. Lala menggeleng, gak boleh zuuzon.


"Di, ayok jalan-jalan ke toko buku yang dulu itu loh. Mau gak?"


"Mau beli apa?"


"Buku lah, masa beli daster."


Aldi hanya memasang raut muka tanpa dosa. Ya mungkin saja Lala hanya ingin melihat-lihat, atau mungkin dia ingin membeli es krim di toko sebelah.


"Abis makan kita pergi." Aldi kembali ke mode serius. Lala mengangguk senang. Aldi memang tidak pernah mengecewakan nya.


***


Lala sudah siap dengan baju santai dan di balut cardigan serta jins sebetis. Aldi memperhatikan gaya Lala. Bajunya kayaknya sama persis dengan yang Aldi gunakan, walaupun berbeda warna.


"Yok berangkat. Ngapain liat-liat?" tanya Lala iseng.


"Mau naik mobil atau motor?"


"Motor aja deh. Udah lama motor gue gak di pake." Lala pergi ke garasi dan mengeluarkan matic nya.


"Motor lo kegedean. Pake punya gue aja," seru Lala. Aldi hanya bisa mengikuti.


keduanya segera pergi ke toko buku. sebenarnya jalan nya lumayan dekat, hanya beberapa menit saja, bahkan ada jalan pintas sendiri.


"Jangan balap-balap, sayang kan nyawa gue." Lala berteriak melihat aksi Aldi yang begitu suka membalap walaupun bukan dengan motor yang cocok.


"Ini baru namanya sehidup semati, La." Aldi bercanda sedari tadi tapi Lala lebih duluan kesal. Siapa juga yang mau mati di sengaja.


"Yeh, udah nyampe, kok. Jangan kesal gitu dong," bujuk Aldi melihat pacarnya memasang muka masam.


"Au, ah. gue mau masuk."


Lala meninggalkan Aldi yang masih sibuk memperbaiki parkiran motornya. Toko buku lumayan rame, apa mungkin manusia tiba-tiba kebelet membaca.


Aldi menyusul Lala sambil melirik kanan-kiri. kenapa gadisnya itu cepat sekali menghilang, tidak mungkin dia menjadi murid ninja Hatori.


Lala sibuk mencari komik dan novel seru. Walaupun kata orang 'dont jugde by cover' tapi Lala kalau membeli buku dia akan lebih konsen ke cover nya saja baru melihat blurb nya.


"Udah nemu?" tanya Aldi yang datang dengan wajah seperti orng tersesat.


"Masih cari yang bagus," jawab Lala.


Aldi juga ikut menyusuri rak-rak novel horror. Baginya sama saja kalau menonton di youtube. tapi Lala selalu menyangkal kalau berhubungan dengan tulisan dan visual.


"Gue tunggu di luar, ya," ucap Aldi, dia sedang tidak tertarik dengan buku sekarang.


Aldi berjalan menuju kursi duduk tempat yng sudah di sediakan untuk pengunjung. Aldi membeli minuman dingin dan duduk manis menunggu si Lala belanja.

__ADS_1


beberapa menit Lala datang dengan buku bersampul hijau. itu sebuah novel terjemahan dengan cover perempuan dan laki-laki sedang berdiri di bawah pohon sakura.


"Cuma itu aja?" tanya Aldi.


Lala mengangguk dan membayarnya di kasir.


"Di, yok pergi beli makanan."


"Lah, waktu kesini kan juga makan," komentar Aldi.


"Makanan kan bukan cuma nasi dan kawan-kawan nya. Gue mau makan eskrim" Lala lebih dulu mendahului Aldi.


"Ohh.. ngomong dong," ucap Aldi sambil pergi mengeluarkan motornya dari tempat parkir.


Siang hari memang paling cocok menyantap es krim. Lala membeli es krim stroberi dan greentea. Mengingatkan waktu kencan mereka di Corona Park, New York. Aldi menatap Lala sekilas dan melihat eskrim nya lagi.


"Mau coba? tenang aja gue gak bervirus," tawar Lala. Aldi mengangguk dan menggit es krim Lala.


"Kalau lo bervirus kan tinggal di unduhin Smadav, ye." Aldi memang tidak kehabisan stok bergurau nya. Lala hanya menoyornya dengan telunjuk.


"Lo ngak mau melamar kerja?" tanya Lala melihat Aldi yang begitu santai dengan kehidupan nya.


"hari senin gue mau melamar, melamar lo juga boleh, kan?"


"Oy, gue serius nyet."


"Heheh, iya senin gue mau ke kantor tempat papa lo kerja," jawab Aldi.


"Lah, kenapa bukan di ditempat om Hendra?" tanya Lala.


"Gak mau aja, masa sekeluarga semuanya harus di sana. kalau gue cuma keterima jadi OB gimana?"


"Mana ada kek gitu. Lain di lamar lain di tempati," komentar Lala.


"Hehhe, gue lagi mau cari perusahan buat yang lebih oke aja gaji IT nya," aku Aldi, jujur.


"Ohh, gue juga mau mengajar di SD mana, gue ngak tau. nanti anak nya pada serangan jantung kalau gue ngamuk."


Aldi hanya tertawa mendengar Lala yang mengeluh. bagaimana mungkin dia akan begitu. Lala hanya malas berinteraksi dengan anak-anak. Tapi mendengar cerita KKN Lala, Aldi tahu kalau Lala cepat akrab dengan anak-anak.


"Eh, pulang yuk. keasyikan jalan-jalan mulu. gimana kalau lusa kita ke danau dekat kampus? mau gak?"


Lala mengangguk antusias.


"Ekhmm, rekaman lo masih ada di hp gue. mau liat gak?" goda Aldi. Lala merutuki dirinya pernah merekam pernyataan alay nya.


"Heheh, muka lo lucu kalau blushing."


"Aldi..."


Aldi tertawa keras berhasil menggoda Lala memang menyenangkan.


...Bersambung.......


Cafe tokoh*


Hanz: Ada yang kangen gue?

__ADS_1


Aldi : Jangan mimpi, bangun.


Hanz: Ih ngeri, kok bisa gue berdua aja sama lo disini. (kabur)


__ADS_2