
...Biarkan cinta menjaga kita dan merawat dari rasa sakit....
...Lala ~...
Lala masih tidur Sampai jam delapan. Semalam dia terlalu lama kembali ke rumah, dia menghabiskan waktu sendiri. Apa bedanya saat sekarang dan waktu dia belum kenal Aldi. Walaupun begitu Lala tetap percaya kalau Aldi gak mungkin lupain dia.
"Nak, kamu bangun dong. Mama sama papa tunggu di meja makan."
Ega terus mengetuk pintu kamar Lala, anak nya itu dari dulu seperti koala saja. Lala bangkit dan membuka pintu. Rambutnya acak-acakan seperti mak lampir.
"Kamu cuci muka, udah kayak kuntilanak aja," seru Ega dengan ekspresi negri di buat-buat.
Lala hanya memasang muka malas dan menarik diri masuk ke kamar mandi. Ega kembali berjalan menuju dapur dan meninggalkan kamar Lala.
"Hari ini kita cuti kan?" tanya Ega. Riand mengangguk karena mulutnya penuh.
"Lala kok bisa kayak mayat hidup, mending kita jalan-jalan aja bareng. Udah lama ngak pergi sekeluarga piknik," ucap Ega.
"Kita jalan-jalan aja, ngak usah piknik," sahut Riand.
Lala muncul sambil menguap kecil. Ega hanya menggelengkan kepala.
"Kita mau jalan-jalan, kamu siap-siap sebentar, ya," ucap Ega.
"Kemana mah?"
"Nanti aja, mama masih mau searching tempat bagus." Emang tampang emak sosialita Ega kumat.
"Jangan taman, mending pantai aja," usul Lala.
"Oke-oke, kamu habisin dulu makanan kamu."
Lala mengangguk saat Riand menyuruh dia menghabiskan makanan. Toh, biar orang tuanya aja yang pusing.
***
Aldi menatap langit-langit kamar rumah sakit, hal yang paling dia benci adalah bau rumah sakit, salah satu alasan dia tidak ingin menjadi dokter.
Tetes infus, bau antiseptik dan sebagainya membuat Aldi mual. Semua terputar lagi, entah dia harus membenci gadis itu atau tidak, lagi pula hanya Hati Aldi yang cocok, padahal Aldi sudah berusaha melupakan nya.
Gadis yang berusia 18 tahun itu terbaring di kamar dekat tempat Aldi, dia sudah melalui masa kritis setelah 12 jam operasinya, awalnya Hendra berusaha memasukkan nama putri nya itu kedalam daftar donor nasional, siapa sangka putranya bisa menjadi donor hidup untuk transplantasi liver. gadis delapan belas tahun yang sudah setahun di diagnosa menderita kanker hati.
Daisy sebenarnya beda ibu dengan Aldi, Herman pernah terlibat dengan seorang wanita di sebuah perjalanan dinas dengan tidak sengaja. kasus itu juga alasan Nia dan Herman bercerai karena kasus itu terus-terusan menghantui keluarganya dan sepuluh tahun yang lalu ibu dari Daisy meninggal karena kanker hati juga.
Aldi menutup matanya sekilas. Bagaimana kabar Lala sekarang, dia sangat merindukan nya tapi tidak ingin mengatakan masalah keluarga nya. Aldi sangat pusing. Mungkin nanti saja. Aldi sangat lelah karena sebelum operasi dia harus mengalami banyak tes sampai tes kesiapan pisikologi juga harus di jalani selain tes darah, urin, dan sebagainya.
"Sudah bangun? Syukurlah operasinya sukses," ucap Nia, dia memang sudah berdamai dan memaafkan suaminya, karena itu bukan sesuatu yg perlu di ributkan lagi. Dia juga sudah menganggap Daisy anaknya.
"Iya, mah. Daisy udah bangun?" tanya Aldi.
"Adik kamu baik-baik saja," jawab Nia.
__ADS_1
Aldi tersenyum kecil. Sebenarnya cara mendonorkan liver itu mudah jika hanya di ceritakan seperti pengambilan pada bagian tertentu dan di donor kan kepada orang yang livernya bermasalah, liver pendonor akan tumbuh lagi. Walaupun begitu kecocokan itu sangat minim, lagi pula hanya anggota keluarga yang sama biasanya. Bagaimana dengan anak tunggal, dia harus menunggu di rekomendasi di tempat donor nasional. sesuai dengan tingkat kebutuhan nya. kalau di tunda bisa berbahaya dengan di ikuti kerusakan organ lain seperti ginjal.
***
Lala duduk sambil meminum air, melihat pantai dari jauh, kedua orang tuanya sibuk dan sok mesra sekali. Lala hanya menguap melihat mereka.
Lala meraih handphone nya dan melihat pesan masuk. Dari Aldi.
Lala berniat menggoreng nya kalau bertemu, bagaimana mungkin pergi tanpa kabar kata orang kayak bang toyib saja.
"La, ayok pulang." Riand memanggil Lala, Lala segera ke mobil. Kenapa pula putrinya sibuk melamun. Nanti kerasukan Dedemit.
"Oke pah," seru Lala sambil berlari ke arah Riand.
Lala masuk kedalam mobil dan mengecek pesan dari Aldi.
[La, gue sekarang di Singapura, kemarin ada kegiatan sedikit jadi agak sibuk]
Lala mendengus kesal dan meluruskan punggung nya, orang tuanya sibuk bercerita dari Sabang sampai Merauke.
[Jujur aja sama gue, gue udah tau kalau ada gadis nama nya Daisy]
Sebenarnya Lala masih belum tahu apakah waktu di rumah sakit pekan lalu adalah perkara yang sama dan benar-benar berhubungan dengan Aldi-nya. Mungkin tebakan berhadiah nya akan mengalahkan family seratus.
Tidak ada balasan lagi. Lala benar-benar kesal setengah mati. Beberapa menit sebelum mobil mereka sampai di restoran seafood Lala mendapat notif dari Aldi.
[Malam ini gue cerita, kita vc yuk. Gue kangen.]
[Ok]
Lala keluar dari mobil dan mengikuti kedua orang tuanya masuk kedalam restoran mewah itu. Banyak sekali pengunjung di hari weekend ini.
***
Lala menatap ponselnya sambil bersiul-siul. Panggilan nya masih berdering padahal Aldi lebih sejam lebih dulu zona waktu nya. Di daerah nya sekarang sudah jam sembilan malam. Berarti di sana sudah jam sepuluh.
Panggilan di angkat. Lala melongo dan tidak percaya Aldi sedang di rawat, apakah Daisy adalah Aldi? Kok Lala jadi merinding sendiri.
"Oy, kenapa lo," tegur Aldi.
Lala ikut bersandar di tempat tidur. Dia tersenyum dan mengibaskan tangan seolah tidak apa-apa.
"Kok, lo bisa dirawat gitu?" tanya Lala khawatir.
"Heheh, ceritanya panjang," jawab Aldi.
"Hei, ayolah. Gimana bisa lo masih baik-baik aja beberapa waktu yang lalu. Atau… Lo kecelakaan? Jatuh lagi? Abis di rampok? Maling CD? Atau gegara…"
"Eh, gue bukan kek gitu. Sederhana nya gue habis tolongin adik gue," jawab Aldi memotong tuduhan Lala.
"Nolong gimana? Lagian kok gue gak tau kalau lo punya adik."
__ADS_1
Lala semakin penasaran. Aldi terkekeh pelan dan menatap Lala ragu-ragu.
"Anak nya papa, saudara se ayah." Aldi berdehem. Lala sibuk memutar otak. Astaga rahasia negara seperti ini dia bahkan tidak tahu. Jiwa lambe nya benar-benar sudah vakum semenjak jarang berceloteh dengan Nadin maupun Heiji.
"Cerita aja, Di. Yang lengkap yak." Lala tersenyum menandakan kalau dia tidak akan komplain.
Aldi menceritakan sedikit dari yang dia ketahui tentang wanita yang menjadi ibu Daisy. Itu pun tidak dinikahi oleh ayahnya, sekarang Daisy akan tinggal dengan mereka, setidaknya pasien yang mendapat donor hati harus di rawat selama enam sampai satu tahun agar kondisinya bisa di pastikan stabil, beberapa kali Daisy bereaksi dengan organ baru itu. Penolakan memang selalu terjadi karena imun biasa nya melawan benda asing.
"Jadi sekarang Daisy baik-baik aja?" tanya Lala.
"Iya, gue juga baik-baik aja. Cuma sering sakit kangen aja."
"Dih, gombal. Lo harus cepat sembuh. Tapi… Gue dengar kalau pasien yang di donor itu gak lama hidupnya. Gue bukan tuhan sih, cuma biasa gue liat di beberapa tulisan orang."
Aldi mengangguk, setidaknya Daisy bisa sampai sarjana. Dokter hanya mengatakan rentang kehidupan bagi pasien cuma lima tahun saja.
"Kok gue sedih banget mikirin dia," ucap Lala. Bagaimana gadis se muda itu bisa bergantung pada obat dan kondisinya memprihatinkan.
"Tenang aja. Semua manusia juga bakalan mati," jawab Aldi menghibur Lala.
"Kalau pendonor bakalan mati juga?"
"Haha mati kalau udah waktunya."
"Di, kualat lo. Gue serius tau!" Lala memutar bola mata. Aldi hanya terkekeh pelan.
"Gak kok. Bukan berarti karena operasi lantas mati. Hati gue bakalan pulih lagi. Lo mau nambahin hati lo, gak?"
"Aldi, berhenti godain gue. Gue belum gantung lo di atas atap. Pergi gak bilang-bilang." Lala ingin sekali menggigit kepala pacarnya itu siapa tahu bisa normal lagi kalo ngomong.
"Tenang aja. Gue bakalan sembuh dan bakalan main bareng ama lo, bakalan nikah, eh… Lo mau bulan madu di paris kan?"
"Ngak, gue mau di Turki_ turunan kilo," jawab Lala asal.
"Cepat sembuh. Kalau lo udah sehat cepat datang. Anniversary kita nanti gue ajak jalan-jalan." sambung Lala.
Aldi mengangguk mengiyakan. Lala ingin sekali memeluk nya tapi sepertinya mustahil.
"Oke tunggu aja. Gue istirahat dulu yak. Pai pai."
***
...Bersambung…...
Cafe tokoh:
Alichia: zzzzz (bobok cantik)
Heiji: kenapa Alichia tiduran di cafe? (Berbisik)
Lala : Dia begadang mikirin kita.
__ADS_1
Heiji: Ahh baper.