Nyebellin

Nyebellin
#61. one more happy ending


__ADS_3

...Kata-kata dari sang pemilik sajak, bukan untuk menyinggung sang pemilik cinta. Dia adalah peri kecil yang berusaha menemukan labuhan dari bait demi bait cinta yang sedang mencoba berlabuh dalam genggaman sosok pecinta....


...Alichia~...


Seperti kesepakatan Bahwa weekend kali ini untuk merayakan hari pertama mengajar si Lala, tapi Aldi bilang ini adalah kencan.


Lala dan Aldi berbelanja di sebuah mall elit di kawasan Jakarta, Lala hanya membeli beberapa sepatu, baju couple dan apapun yang menarik di matanya.


Aldi hanya ikut seperti ajudan saja. Lala menghampiri beberapa toko dan hanya melihat-lihat, sampai di sebuah toko souvenir, dia membeli beberapa aksesoris cantik, banyak yang bertuliskan 'I love city' dari berbagai ibu kota negara di dunia.


Lala membeli sepasang gantungan kunci dan memberikan nya pada Aldi. Gantungan kunci berbentuk dream catcher.


"Mau gantung dimana?" tanya Lala.


"Kunci kendaraan aja, gimana?" usul Aldi. Lagian hanya itu yang sering dia bawa.


Lala mengangguk mengiyakan dan langsung menyimpan nya di tas. Lagian dia datang dengan Aldi naik mobil, tidak mungkin kunci motornya dia bawa ke manapun pergi.


Tangan Lala ditarik menuju lift, lantai tiga merupakan restoran dengan makanan khas berbagai kota. Perut Lala langsung keroncongan membayangkan makanan.


"Udah lapar, yak?" tanya Aldi, Lala langsung mengangguk mengiyakan.


"Ayok kasi makan cacing dulu," ucap Aldi.


***


"La, nanti malam, gue jemput, siap-siap aja. Dandan yang cantik, ya." Aldi berucap sembari menutup pintu mobil. Lala mengangguk dan ikut menutup pintu sambil berjalan ke rumahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Lala menoleh kembali.


"Ada deh, kejutan," jawab Aldi tersenyum manis.


"Yaudeh," sahut Lala sambil mengibas tangan dan melangkah masuk ke halaman rumahnya.


Aldi berjalan riang masuk ke rumahnya. Dia menelfon sahbt nya sebentar. Rasanya sudah lama sekali tidak menelfon sahabatnya itu.


"Halo Al," sapa Aqil.


"Oy, Qil. Lo dimana?" tanya Aldi basa basi.


"Mau minta tolong apaan?" tanya Aqil to The poin.


"Heheh tau aja, bro. Tapi gue chat lewat WA aja yak. Bye." Aldi mematikan ponsel.


Lala merebahkan diri di kasur. Matanya mengerjap cantik, kemana Aldi akan membawanya? Itulah yang dia pikirkan sekarang.


***


Aldi menarik tangan Lala menuju sebuah rumah berukuran minimalis. Rumah yang tampak tidak berpenghuni, Lala jadi merinding sekarang. Apakah Aldi terlibat penjualan manusia? Aldi tersenyum melihat Lala yang diam dia mendekat mengikis jarak sambil merangkul bahu Lala secara posesif.


"Ini rumah siapa?" tanya Lala bingung, Aldi tertawa kecil.


"Bukan mau kesini. Tapi di belakang nya."

__ADS_1


Lala di tuntun menuju taman belakang. Ada sebuah kolam renang dengan banyak lampu-lampu kerlap kerlip. Ada sebuah meja bundar dengan setangkai mawar dalam vas. Beberapa makanan di atas meja juga tersedia.


"Wahh cantiknya, cantik banget." Lala terus terusa memuji tempat itu. Diatas air dipenuhi bola berukuran sedang yang menyala.


"Suka, gak?" tanya Aldi.


"Banget, terimakasih," ucap Lala sembari memeluk Aldi.


Aldi menarik tangan Lala menuju kursi dan dengan pencahayaan romantis Lala melihat menu yang terbuat dari makanan jepang.


"Buat sekarang, kita makan makanan jepang dulu, nanti aja baru ke jepang," ucap Aldi sambil menggusap rambut Lala.


"Dari kapan lo siapin ini?" tanya Lala.


"Ada deh, kan kejutan. Ayok makan dulu." Lala mengangguk dan menyantap makanan nya.


Aldi menuangkan jus buah ke dalam gelas Lala. Lala tersenyum manis sambil mengangkat gelas nya, bersulang dengan Aldi.


Beberapa letupan kembang api menghias malam dengan cahaya warna-warni. Lala terlalu bahagia sekarang.


"Suka. Kan?" tanya Aldi. Lala spontan mengangguk.


"La, ayok kita menikah," ucap Aldi dengan raut wajah semringah.


Lala mengangguk mengiyakan. Ternyata Aldi masih ingat bahwa Lala menginginkan pelamaran romantis.


Aldi bangkit dan memeluk Lala dengan sayang sambil menyodorkan cincin, Lala yang masih mematung di kaget kan dengan tingkah Aldi yang sudah memasang cincin di jarinya.


"Heheh kok bengong. Ntar cincin nya jatoh."


"Jangan di bisikin. Bikin merinding aja lo," keluh Lala. Aldi tertawa kecil dan mencubit pipi Lala.


"Ish sakit tau. Gue gak tembem."


Aldi mencium pipi Lala sekilas, kanan dan kiri.


"Bilang kalau masih sakit," ucap Aldi.


"Udah gak."


Lala cepat-cepat minum jus nya, dia hampir kesulitan bernafas karena detak jantung nya yang menggila.


"Makasih Aldi."


Lala menghambur ke pelukan Aldi dan menenggelamkan wajahnya. Aldi balas memeluknya sambil tersenyum senang.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, keduanya baru pulang dari acara nge-date terakhir hari ini. Lala selalu menggenggam tangan Aldi berharap tidak akan lepas untuk selamanya.


"Udah nyampe. Kalau gandengan terus gak bakalan keluar dari mobil. Hahah."


Lala melepaskan genggaman nya. Ponsel Aldi berdering. Aldi menatap Lala sekilas dan mengangkat telfon nya.

__ADS_1


"Halo, iya. Kamu dimana emang?"


Lala memperhatikan Aldi yang serius bertanya. Suara perempuan tapi tidak terlalu jelas.


"Oke. Nanti aku jemput."


Aldi memutuskan sambungan telfon dan menoleh melihat Lala yang memasang wajah seram. Asam sekali kondisi muka nya.


"Heheh gue mau ke bandara dulu ya, sayang."


Aldi mengusap rambut Lala dengan sayang. Lala belum juga turun dari mobil.


"Gue ikut," sahut Lala


"Lo gak mau istirahat? Udah malem tau."


Lala menggeleng kuat. Aldi masih heran dengan tingkah Lala. Tapi kemudian ternyum setelahnya. Aldi memutar kemudi dan melesat menuju bandara.


Lala menyandarkan dirinya di kursi nya sambil melihat keluar jendela, seperti nya dia terlalu kelelahan. Aldi mengamati sekilas saat lampu merah. Lala terlihat serius memandang keluar jendela.


"Di, mau jemput siapa?" tanya Lala sambil menoleh.


"Mau jemput keluarga," jawab Aldi sambil melajukan kembali saat lampu merah berubah ke hijau.


Lala mengangguk-angguk, penasaran sekali gadis mana yang akrab dengan Aldi selain dia.


"Lo bentar lagi ketemu sama calon adek ipar lo."


Aldi tertawa kecil. Mata Lala membola. What? Adek ipar. Jadi suara perempuan di telfon Aldi tadi adalah Daisy. Lala bersemangat kembali.


"Yo, udah nyampe."


Aldi bergegas turun saat tiba di depan bandara. Lala tetap di dalam mobil, tidak lama tante Nia dan om Herman muncul dnegan gadis berusia 19 tahunan. Gadis yang lebih pendek dari Lala. Cantik sekali.


Gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk paling belakang.


"Eh, ada cewek nya kak Aldi nih," serunya.


Nia dan Herman menoleh ke arah depan. Lala sedikit kaku menoleh sekilas dan tersenyum di manis-manis kan.


Aldi masuk ke dalam mobil sambil tersenyum gak jelas.


"Calon kakak ipar kamu Daiys," ucap Aldi.


Daisy kegirangan. Lala hanya berharap semoga tidak jadi trending topik di perjalanan pulang. Nyatanya dia tidak bisa mengelak saat tante Nia menggoda nya habis-habisan. Aldi juga tidak membantu sama sekali, malah asik membuat tante Nia semakin membuat Lala salah tingkah.


...Bersambung…...


Cafe tokoh*


Aldi: Terimakasih readers udah baca sampai di sini.


Lala: Jangan lupa Vote dan komen, biar ada ekstra part nya. Hehehe.

__ADS_1


Aldi: benar banget!


__ADS_2