Nyebellin

Nyebellin
#49 The Frist in New York


__ADS_3

...Jarak terjauh bukan bentangan waktu, tapi bentangan rasa....


...Lala~...


Setelah penerbangan belasan jam, Lala sama sekali kurang tidur, dia banyak memotret, ataupun menonton di ponsel pintarnya. Aldi terus-terusan tidur. Mereka tiba pagi hari di bandara Jhon F. Kennedy. Dan mengambil taxi ke Brooklyn dari Manhattan. apartemen Aldi berada di Brooklyn 28 menit naik mobil dan 47 menit kurang lebih jika mengambil rute kereta bawah tanah.


Mereka tiba di apartemen sebelum siang hari. Mereka sempat makan di cafe sebelum lanjut ke apartemen Aldi.


Aldi menekan bel apartemen nomor 20 di lantai tiga. Kamar kakak sepupunya. Apartemen tempat Aldi berada di sudut kota New York. melewati rumah sakit yang di tempati Aldi rawat inap. Apartemen yang terdiri dari satu bangunan tegak dengan 7 lantai. Satu lantai memuat empat ruang apartemen yang saling berhadapan. Dengan balkon sekeliling yang saling terhubung.


Lala sebenarnya merasa pusing karena lelah di perjalanan. Dia benar-benar kurang bisa istirahat jika naik pesawat, ini pertama kalinya Lala merasakan perjalanan jauh. Pintu terbuka memperlihatkan sosok gadis yang tidak asing di mata Lala. Lala tersenyum kepada perempuan yang dia ingat pernah dia temui di rumah sakit kala itu.


Benar saja, dia adalah gadis yang memeluk Aldi ketika beberapa hari di rawat saat tragedi terjun bebas di kampusnya dulu. Gadis itu pernah membuat Lala galau setengah mati karena Aldi tidak menjelaskan hubungan mereka, salah Lala juga yang tidak bisa menahan perasaan nya, ngambek dan berpisah tanpa kata dengan Aldi.


"Hai, kak." Lala menyapa Nadin dengan senyum manis.


"Wah, ini cewek nya Aldi, ya." Nadin berseru riang.


"Yaudah, gue balik kamar gue," ucap Aldi sambil menarik kopornya ke apartemen bernomor 21.


"Aldi tidak membantah, lo," ucap Nadin heboh.


"Aku sahabatan kok," jawab Lala.


"Gak ada cowok sama cewek sahabatan. Kalau ngak ada salah satu yang jatuh cinte." Nadin terus saja bercerita panjang lebar. Dia menutup pintu dan terus berbicara mengenai kekesalan nya terhadap Aldi selama di sini.


Lala tertawa kecil sambil duduk di sofa kecil, apartemen Nadin mengingatkan Lala tentang sebuah novel dengan gadis yang tinggal di Manhattan 16% hampir sama. Lala tersenyum saat kota itu terlintas di otaknya, kota tempat shooting banyak filem Hiro dan dia sudah melewatinya. sayang sekali Lala sangat lelah jadi tidak melihat dengan saksama.


Apartemen Nadin penuh dengan buku di jejer rapi. Mahasiswa pasca sarjana memang lumrah mengoleksi banyak buku. Kebanyakan tentang buku bisnis dan teori, ada beberapa novel terjemahan dan sastra.


"Kakak banyak buku, suka membaca, ya?" tanya Lala.


"Gue suka koleksi doank, jarang-jarang baca buku, dek." Nadin memang 11:12 dengan Lala.


Lala tertawa kecil dan meminta izin ingin melihat-lihat. Tentu saja Nadin tidak keberatan. Lala melihat kebanyakan isi apartemen Nadin kehijau-hijauan dengan bunga-bunga rambat di jendela. Aldi pernah mengomentari kalau Nadin punya kamar di desa dipastikan udah jadi sarang ular.


Lala sempat curiga kalau Nadin mungkin anak agraria atau jurusan sebelum nya itu pemuliaan tanaman. melihat hutan mini di sini, Lala tak henti-hentinya memuji keindahan tatanan kamar apartemen Nadin.


"Kak, tumbuhan nya pada imut-imut gini, beli dimana?" Lala sudah seperti juri di acara masakan jepang saja atau mungkin terlihat seperti orang kampungan. Yak, mungkin kedua-duanya.


"Itu gue beli di Manhattan. Gue mau keluar dulu. Mau beli bahan makanan, lo kalu mau istirahat, istirahat aja di kamar."


Lala mengiyakan dan benar-benar menarik kopernya ke kamar Nadin. Kamar di apartemen ini dilengkapi kasur tarik, mungkin saja memudahkan beberapa mahasiswa yang mau tinggal berdua untuk mempermudah bayar apartemen.


Lala membaringkan tubuhnya rasanya sangat tidak nyaman. Lala memutuskan untuk mandi dulu. Mungkin saja kalau selesai mandi, dia bisa merasa lebih baik.


***


Lala membuka matanya dan melihat sekeliling, Aldi duduk di tepi tempat tidur dengan muka cemas.


"Eh, lo udah bangun. Ngapain kok bisa pingsan segala?" tanya Aldi.


"Udah, mungkin karena kelelahan. Lo juga ngak perhatian selama dia kesini bareng lo," seru Nadin sambil berlalu menuju dapur nya. Dia sudah membuat bubur.


"Gantiin kompres nya." Nadin datang sambil meletakkan semangkuk bubur di atas meja.

__ADS_1


Aldi meletakkan kembali kompres di atas dahi Lala. Sesekali mencek panasnya dengan termometer.


"Lo dikira tidur tadi, pas gue pulang dari supermarket di lantai satu. Pas gue bangunin buat makan, lo ngak nyahut, ngak gerak malah. Tau gak, Gue panik setengah hidup." Nadin bercerita kenapa bisa Lala sampai seperti ini.


Lala menganggukkan kepala, Aldi tidak berkomentar, dia meminta Lala duduk agar bisa memakan bubur nya. Aldi menyuapi Lala dan Nadin malah sibuk dengan handphonenya.


"Kak, kebanyakan yang tinggal disini mahasiswa, ya?" tanya Lala.


"Ada juga yang staf rumah sakit, pegawai, sama mahasiswa," jawab Nadin.


"Malam ini lo tidur di kasur atas, gue aja yang pakai satunya," ucap Nadin.


"Ahh, gak perlu, kak. Gue bisa menggelinding ke bawah kok," tolak Lala halus.


"Elleh, sakit gitu masih mau latihan silat," protes Aldi.


Lala mencebik kesal. Aldi merusak suasana saja. Lala sudah memakai sapaan gue-lo, mengingat Nadin ternyata tidak seperti bayangan nya yang kaku.


"Atau lo mau tidur bareng gue, aja?" tanya Aldi.


"Emang pernah tidur bareng?" Nadin sengaja heboh dan pura-pura tidak tahu.


"Iya, kan tidur doank," jawab Aldi dan Lala polos.


Nadin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya menjahili dua mahluk astral ini tidak tepat.


"Lo makan dulu, abis tuh pergi ke apartemen lo," ucap Nadin keluar dari kamarnya.


"Gue keluar dulu, La. Good will soon," ucap Aldi sambil tersenyum hangat.


Lala sudah tidak mood tidur. Sakit kepalanya perlahan mereda setelah meminum obat. Bahkan sebelum pergi, mama nya selalu menyiapkan kotak p3k kecil untuk kebutuhan mendesak nantinya, beberapa obat seperti obat maag, sakit kepala, diare, wajib ada.


Jam menunjukkan pukul 15: 20, Lala melihat ponselnya berdering. Vidio call dari Heiji.


"Hello, miss Heiji," sapa Lala sok inggris.


"Elleh, baru dua hari berangkat udah sok inggris, lo," protes Heiji.


"Hahaha, di sana udah tengah malam, kok belum tidur?" tanya Lala.


"Woy. Udah jam empat subuh, gue bangun cepat, soalnya ada acara di rumah gue," ucap Heiji.


"Owlah, kirain ngapain," jawab Lala.


"Gimana perjalanan lo?"


"Gak gimana-mana, gue lagi mau istirahat. Bye."


"Eh, belum juga cerita. Yaudah, kalau gitu lo istirahat dulu. Gue mau bersihin rumah dulu."


Telfon berakhir, Lala bahkan belum menanyakan acara apa yang membuat seorang Heiji menjadi buru-buru begitu.


"Eh. Mau lihat kota malam? Kita ke atap gedung nanti jam tujuh," ucap Nadin. Masih agak siang untuk melihat lampu gedung, melihat liberty dari jauh.


Lala mengangguk, liburan nya kali ini harus lebih seru dari waktu pergi KKN. Kapan lagi Lala yang anak rumahan bisa jalan-jalan kesana kemari. Mumpung masih musim semi jadi angin malam masih dingin.

__ADS_1


***


Lala dan Nadin berdiri di atas gedung. Gedung di lengkapi pagar pengaman. Sangat tidak cocok untuk bunuh diri. Kecuali memanjat pagar nya. Lupakan.


Lala meneguk minuman cola nya. Suasana New York malam hari memang sangat indah. Walaupun sama halnya dengan berdiri di ketinggian di Seou:l ataupun di London, yang membedakannya adalah patung liberty malam hari, dari sini lumayan kecil di lihat, Lala tetap senang bahkan sakit kepala Lala menguap.


"Kak, biasa disini hujan, gak?" tanya Lala.


"Jarang, sih, hujan di musim semi sering di jadikan cerita," kekeh Nadin.


"Gue janji bakalan ajak lo jalan-jalan hari jumat, biasanya hari jumat liberty buka kunjungan jam delapan pagi."


Lala tersenyum semringah dengan ajakan Nadin. Lala langsung merasa, punya seorang kakak perempuan itu benar-benar menyenangkan, apalagi jika sosoknya seperti Nadin.


"Kita ke salon. Biar rambut kita sama," ucap Nadin.


"Udah jam delapan, ayok turun. Besok mau pagi-pagi pergi bareng Aldi kan?"


Lala mengangguk, dia ingat besok akan pergi ke Manhattan. Lala tidak sabar akan pergi.


"Kak, lo ikut gak, besok?" tanya Lala lagi.


"Gue mau siapin pesta, jangan bilang-bilang, ya."


Lala mengangguk cepat, keduanya berjalan menuju tangga dan pergi ke lift di pinggir gedung lantai tujuh.


Lala sempat heran apartemen ini di pakai sebagai kamar di lantai dua sampai lantai enam, dan nomornya mulai dari enambelas. Lantai satu hanya lobi, supermarket dan parkiran bawah tanah. Pasti memakan biaya banyak disini.


Seorang pria juga masuk ke dalam lift, wajahnya seperti orang Asia. Tapi Lala tidak menyapa, jangan-jangan orang Filipina atau Thailand. Kan bisa berabe kalau di sapa bahasa indonesia dan dia malah melongo.


Cowok itu berhenti di lantai empat dan keluar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ganteng, kan?" tanya Nadin.


"Kaka kenal?" tanya Lala.


"Oh, gue sering lihat, gak pernah gue ajak ngomong," jawab Nadin jujur.


Sepertinya pria itu sudah di sini sebulan yang lalu. Benar-benar cogan. Lala ingin mencari tahu, tapi wajah Aldi terlintas di kepalanya, Lala menggeleng dan melangkah keluar lift dengan Nadin.


***


Bersambung….


****


Cafe tokoh*


Heiji: (memesan minuman) eh, Alichia, kapan cerita ini tamat?


KazukyAlichia: kurang lima belas episode.


Heiji: gue jadi nikah?


Lala: lo mau nikah?

__ADS_1


KazukyAlichia: bubar-bubar (menolak spoiler)


__ADS_2