Nyebellin

Nyebellin
#54. Malam Terakhir di New York


__ADS_3

...Pejam kan matamu, biarkan aku mengisi celah kosong di hatimu, bahkan jika melebihi kapasitas anggap saja itu bonus....


...Lala~...


Lala menutup pintu apartemen, dia bilang akan berjalan sebentar. Nadin mengiyakan saja, karena besok Lala akan berangkat sore.


Lala mengayunkan langkahnya dengan riang. Dia memberanikan diri berjalan sendiri. Sekarang dia tidak tahu harus kemana, walaupun hampir dua minggu di Brooklyn, Lala masih asing dengan tempat ini.


Ternyata ada penjual masakan Indonesia tidak jauh dari apartemen nya, Lala sengaja melihat lewat google restoran atau kedai yang masih buka jam sembilan. Pilihan nya tentu banyak sekali. Beberapa bar juga masih beroperasi.


Lala melangkah menuju kedai makanan Indonesia, Lala ingin mencoba membeli nasi goreng. Penjualnya ramah sekali, bahkan dia bisa berbahasa Indonesia, kondisi kedainya lumayan ramai bahkan banyak wajah bule di sini.


Lala selesai makan dan kembali menelusuri jalan, dia ingin mengunjungi sebuah jembatan yang indah di Brooklyn. Kebetulan sekali bukan?


Dengan langkah pelan Lala berjalan naik ke jembatan Brooklyn bridge, dengan bermodalkan filter instagram biar kelihatan estetik gitu.


Lala tersenyum melihat hasil bidikan nya, beberapa foto yang absurd sampai yang sok manis pun tidak luput dari bidikan nya.


Lala menengadah, sepertinya semua bintang malam ini sengaja menyambut Lala, perut Lala berbunyi, sepertinya dia sangat kelaparan karena tidak sabaran pergi jalan-jalan sendiri. baru saja dua jam yang lalu dia makan nasi goreng dan sekarang sudah kelaparan. mungkin benar Lala harus makan cemilan atau makanan pengganjal perut.


Setelah mengamati sekeliling, Lala berjalan menuju resto italian di dekat salon. Tangan nya mendorong pintu bertuliskan 'Wellcome', resto italia ini tidak cukup besar tapi sepetinya punya empat lantai yang mungkin saja hanya dua lantai di gunakan untuk tamu.


Lala duduk di bangku menghadap jalan raya, masih terlihat dari jauh jembatan favorite destinasi di Brooklyn, New York city.


Melihat menu yang beragam Lala hanya memesan pasta dan milk shake. Walaupun sepertinya bukan kombinasi yang cocok.


"Sepertinya gue harus cepat pulang, gue kangen nasi di rumah. Hiks," keluh Lala.


Pasta yang hanya cukup mengganjal perut nya sebentar, bahkan cuma tiga sendok kecil saja itu sudah habis. Lala berinisiatif pergi ke toko roti. Memakan roti sambil berkeliling pasti sangat seru. Yak, seperti kata orang, bahagia itu sederhanah. membayangkan nya membuat gadis itu kembali lapar. benar-benar tukang makan.


Mata sipit Lala memandang langit New York yang begitu indah. Tapi bintang itu baru saja tidak nampak, hanya menyisakan lampu glamor dari gedung pencakar langit, lampu jalan juga bersinar terang menapakkan kegagahan kota.


"Lama-lama bosan juga jalan sendirian."


Lala meninggalkan sejumlah uang dan meninggalkan resto italia itu. Dengan langkah ringan menuju kedai roti. Seperti nya kali ini dia sangat beruntung memakan roti ukuran jumbo yang selalu ia lihat di beberapa filem hollywod. Di indonsia jarang menjual roti ukuran jumbo, mungkin karena orang indonsia imut-imut jadi roti pun ikut imut-imut. Begitulah pemikiran Lala.


Gadis itu memilih duduk di meja di luar toko sambil memakan rotinya dan duduk dengan meletakkan minuman nya di atas meja.


Menjadi pengamat kota bukan hal yang buruk, kan.


"Eh, Naila?"


Lala menoleh dan mendapati Sam berdiri dengan kantongan belanja. Mungkin saja dia sedang membeli kebutuhan bulanan nya.


"Eh. Hai..." Sapa Lala sambil tersenyum.


"Sendirian?" tanya Sam sambil melihat sekeliling. Mungkin dia mencari sosok Aldi.


"Hehhe. Ceritanya mau jalan-jalan sendirian." Lala lagi-lagi tersenyum kikuk.


"Ahh, kalau gitu gak keberatan saya duduk di sini?"

__ADS_1


"Gak, ini kan bukan meja gue," jawab Lala.


Sam tertawa kecil. Padahal maksudnya lain, tapi malah di bercandai.


Keasyikan mengobrol membuat Lala dan Sam lupa kalau hujan mulai turun.


"Perasaan tadi gak ada tanda-tanda hujan," keluh Lala karena harus terjebak di bawah hujan dengan Sam.


"Hahaha, seperti kutipan, mendung belum tentu hujan, tidak mendung bukan berarti tidak akan hujan juga, kan?" seru Sam. Lala mengangguk setuju.


***


Lala mendorong pintu apartemen, terlihat dua orang sedang melirik ke arahnya dari sofa. Yups, Nadin duduk sambil ngemil dan Aldi mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Kok telat banget pulang nya?" tanya Nadin.


Lala masuk sambil duduk di samping Aldi. Lala memberikan roti di paper bag, Nadin menerima dengan senang hati. Toh, dia baru berfikir akan ke love bakery untuk membeli roti prancis.


"Eh, tadi kejebak hujan jadi kami lama," ucap Lala saat tersadar tadi Nadin menanyakan nya.


"Kami?" tanya Aldi heran, apa Lala ada kawan lain?


"Tadi kebetukan ketemu sama Sam," ucap Lala jujur.


Aldi menjatuhkan kepalanya di bahu Lala sambil menatap kakak sepupunya.


"Rupanya ada yang ngajakin perang," keluh Aldi.


"Kebetulan doang, kok." Lala menenangkan pacarnya itu.


"Salah sendiri ngak di awasin." Nadin malah membela Lala.


"Untung aja besok udah balik ke jakarta." Aldi tersenyum dan menegakkan badan nya kembali.


"Rencana nya kalau di jakarta nanti, mau langsung kerja di perusahan om Hendra atau mau nikmati masa nganggur?" tanya Nadin.


Pasalnya Aldi seperti orang malas di mata Nadin. Aldi memutar bola matanya, dia tahu persis pikiran sepupunya itu.


"Gak tau, mau nikah dulu keknya. Boleh kan, La?" tanya Aldi menggoda pacarnya.


Lala jadi salah tingkah. Alhasil dia hanya diam.


"Nah, diam berarti setuju. Gue nikah dulu baru kerja," jawab Aldi santai.


Nadin dan Lala hanya melongo melihat Aldi yang seolah memasang muka 'gue adalah pemenang' kedua cewek itu heran saja dengan otak Aldi biasanya laki-laki akan mencari kerja sebelum menikah.


"Asal gue gak di kasi makan batu," sahut Lala.


"Emang gue pernah kasi lo batu buat di makan?" tanya Aldi.


"Eh gak juga, sih."

__ADS_1


Aldi menaik turunkan alisnya seolah mengatakan 'gue bener, kan', Aldi kembali bersandar di sofa. Tadinya dia hanya bermaksud menggoda Lala, tapi sekarang dia kepikiran untuk membuktikan saja kalau dia lebih baik menikah dulu.


"Oh iya, kalau kalian menikah, jangan tahun depan. Gue bakalan ke italia." Nadin meletakkan cemilan nya dan duduk tegak.


"Kayaknya Sam juga bakalan ke sana," ucap Lala.


"Oh iya, dia juga pernah bilang," jawab Aldi. Saat pergi jalan-jalan dulu Aldi tahu kalau Sam sudah mengajukan lamaran di firma hukum di Roma.


"Kayaknya bakal ketemu," ucap Lala.


"Elleh, italia kan luas," jawab Nadin santai. Lagian dia juga di perusahaan melamar kerja bukan pengadilan.


"Tenang, kak, dunia itu sempit. Gue boleh jamin itu bukan hanya ada di drama," komentar Lala.


Adli juga mengangguk mengiyakan. Lagian apa salahnya bertemu teman lama.


Nadin mengibas tangan nya dan meninggalkan sejoli itu di ruang tamu. Dia juga tidak mengatakan tidak ingin bertemu Sam.


"Lo gak serius kan sama yang tadi," ucap Lala.


"Yang mana?" tanya Aldi heran. Dia sudah banyak bicara.


"Mau nikah dulu," kata Lala mengulang kalimat Aldi.


"Oh, kalau lo mau," jawab Aldi enteng.


Lala sudah menduga pelamaran pun tidak ada keromantisan. Rasanya dia ingin melempar pacarnya di Brooklyn bridge.


"Hehe jangan dipikirin, gue cuma main-main doang, sayang." Aldi memeluk Lala. Lagipula dia tahu gadisnya itu belum siap.


Aldi mencium Lala sejenak dan bersandar di sofa kembali. Lala mematung dan wajahnya memerah.


"Yaelah, ngak usah blushing. Ini bukan frist kiss lo, kan?" Aldi memang suka sekali mengerjai nya.


"Frist kiss, saat gue pacaran ma lo," jawab Lala.


"Mau lagi?" goda Aldi yang langsung mandapat pukulan bantal dari Lala.


"Cari kesempatan."


"Akhm-akhm, salting tuh," ucap Nadin yang memperhatikan kemesraan dua sejoli itu dari pintu kamar.


***


...Bersambung…...


Cafe tokoh*


Aldi: Wahh mencium bau-bau tamat.


Lala: Setuju

__ADS_1


__ADS_2