
...Akan selalu ada kesalahan yang kita temukan sebagai jalan untuk melatih perasaan....
...Aldi~...
Lala berjalan mendekati kamar Heiji. Selain ingin melihat sobat nya itu berdandan dia juga ingin memberikan godaan sedikit.
Lala mengetuk pintu kamar Heiji, setelah di respon samar Lala melangkah masuk dan menyapa beberapa tukang make up.
"Wihh ratu kita cantik banget," puji Lala dan ikut duduk menyaksikan teman nya di rias bak princess.
Acaranya berlangsung lama. Lala memilih duduk di pojokan sambil menikmati makanan, toh dia tidak perlu menyapa orang lain.
"Tukang makan, kuy pulang udah jam 10 malam."
Pernikahan nya di langsungkan malam di sebuah hotel. Lala juga heran kenapa bukan siang saja. Tapi daripada pusing mending makan saja. setelah berpamitan kepada mempelai keduanya keluar dari aula utama menuju gerbang.
Lala mengekori Aldi pulang. Ega datang juga tapi dia pulang dengan Riand. Sedangkan orang tua Aldi tidak.
"Di, kita jalan-jalan bentar yuk." Lala menarik tangan Aldi dan menautkan jarinya bersama.
"Mau kemana emang?" tanya Aldi.
"Kemana aja. Di sana ada taman bermain." tunjuk Lala saat mereka keluar dari gerbang hotel.
"Itu mah udah tertutup," sahut Aldi.
"Kek gak bisa manjat aja. Gak bakalan ada yg merhatiin kalau lewat di belakang."
Lala antusias dan menarik Aldi menuju taman bermain, mereka memang datang dengan go car nanti kalau puas baru menelpon taksi online.
Aldi membantu Lala memanjat tembok setinggi satu setengah meter. itu tidak tinggi malahan kepala Aldi masih bisa melihat kedalam. tapi cukup merepotkan.
Lala masuk setelah mengikat gaun nya ke pinggang dan tinggal celana pendek selutut. Benar-benar mirip preman pasar.
setelah masuk dan pantatnya terduduk di tanah Lala sedikit mengeluh sakit dan Aldi mendarat mulus di samping nya, resiko orang pendek. Aldi membantu Lala berdiri dan menariknya menuju ayunan.
"Lo gak apapa kan?"
Lala menggeleng dan tersenyum sambil mengayunkan ayunan nya pelan. Aldi ikut duduk di sebelahnya. Aldi menatap langit sambil diam. Lala tidak juga berbicara.
"Oh iya, besok lo udah masuk kerja. Enak bat," seru Lala.
"Biasa aja kali. Ngak da yang woow banget." Aldi ikut mengayunkan ayunan nya.
__ADS_1
Lala menyengir sambil menatap Aldi.
"La, merinding gue liat lo," keluh Aldi.
Lala memanyunkan bibirnya. Aldi bikin mood nya anjlok saja.
Lala berdiri dan melakukan olahraga ringan. Aldi hanya menatap nya heran sampai dering ponselnya membuatnya bergeming.
Aldi menjauh sedikit, Lala hanya menatap Aldi yang berjalan sambil menempelkan ponselnya di telinga. Aldi duduk di seluncuran sambil berbicara dengan mimik wajah campur aduk. Lala kurang bisa mendengar, tidak ada inisiatif untuk ikut campur, mungkin saja urusan cowok.
setelah beberapa menit. Aldi kembali berlari-lari kecil. dan muncul raut cemas.
"La, kita pulang sekarang. Gue masih ada urusan mendadak."
Aldi menarik tangan Lala menuju tempat mereka masuk tadi. Aldi membantu Lala kembali, Lala sedikit takut kalau pantatnya neplok di tanah lagi. soalnya di luar banyak kerikil berbeda di dalam yang ditumbuhi rumput kecil yang terawat.
Aldi menekan ponselnya memesan taksi online. Lala belum bicara sekalipun dia hanya heran melihat Aldi yang biasanya jail tiba-tiba menjadi sangat panik.
”La, gue nanti turun di rumah sakit. Lo terus aja yak."
Aldi menatap Lala sambil memegang pundaknya. Lala mengangguk dan tidak membantah.
"Siapa yang sakit?" tanya Lala.
Lala tidak berkomentar lagi. Tepat sekali mobil warnah merah berhenti di samping mereka. keduanya segera naik dan hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan, Aldi terlihat bengong.
"Pak, saya turun di rumah sakit Ahn medika di sana."
Sopir itu mengangguk dan menepi. Lala masih diam saat mobil kembali melaju menuju perumahan tempat tinggalnya.
Rasanya Aldi sedang menyembunyikan sesuatu tapi Lala terlalu malas untuk mencari tahu. Mungkin Aldi akan memberitahu nya besok.
***
Lala berbaring di kasur nya sambil mendengarkan lagu. Aldi sudah tidak pulang dua hari, kondisi rumahnya juga sepi, tapi semalam dia melihat ayah Aldi datang dan mungkin sudah pergi lagi melihat rumah itu sepi kayak kuburan pagi ini. walaupun memang selalu sepi. orang tua Aldi memang sering jarang terlihat. kata Aldi orang tuanya memang sering tinggal di apartemen dekat kantor. Semenjak ayahnya naik jabatan Aldi selalu menghabiskan waktu dengan nongkrong di rumah Lala. Nebeng mandi, tidur, be-ol.
Lala mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Aldi. Lala sedikit bingung pacarnya berubah jadi gak jelas.
[Kapan lo pulang?]
Ini sudah pesan ke duabelas yang tidak di balas. Lala melihat last sent Aldi masih dua menit yang lalu. Sekarang sudah ceklis satu. berarti ponsel Aldi mati.
Lala kesal sekali dan membuang ponsel itu ke kasur, walaupun dia setres dia masih menjadikan ponselnya sebagai nyawa kedua, berbahaya jika berakhir di lantai.
__ADS_1
Lala memilih tidak memikirkan nya dan keluar untuk makan pagi. orang tua nya juga sedang dinas, enak sekali kalau kerja barengan di devisi yang sama, jadi Lala sering terlupakan. Mau menggangu Heiji pun dia sudah menikah. Lala hanya melanjutkan langkah sambil mengasihani dirinya.
***
Lala berjalan menuju resepsionis sambil membawa bunga. Dia membawa bunga Lily, walaupun dia tidak tahu apakah yang sakit laki-laki atau perempuan yang suka bunga. sambil melihat kanan kiri, Lala lupa kalau dia tidak tahu siapa yg di temui Aldi di rumah sakit.
Lala mendekati resepsionis sambil menyakan satu-satu nama yg berhubungan dengan Aldi, lebih mirip mengabsen.
"Tidak ada, mungkin Mba salah rumah sakit" jawab seorang petugas.
Lala mengembang kempiskan hidungnya. Jelas sekali Aldi turun disini beberapa hari yang lalu.
Lala sebenarnya belum menyebut nama papa Aldi tapi jelas sekali om Hendra sehat-sehat aja karena dia ada kemarin pagi, tidak mungkin seorang punya duplikat walaupun katanya_ cuma katanya doang, kita punya tujuh kembaran di dunia ini. Jelas sekali kalau om Hendra memiliki kembaran tidak mungkin Lala tidak tahu.
"Kalau om Herman?"
Lala menepuk jidat, itu nama dengan banyak orang dia menyebutkan nama lengkapnya membuat si resepsionis diam sejenak.
"Dia sepertinya keluarga wali pasien bernama Daisy, saya cek dulu ya," ucap resepsionis.
"Ahh memang benar." lanjut si perawat.
Lala melongo sejak kapan om Hendra jadi wali dengan nama kembang kuning itu?_bunga Daisy memang ada kuning kuning nya kok. Mungkin saja anak diam-diam, atau anak tante Nia baru lahir, itu mustahil juga.
Lala segera menggeleng mengenyahkan segala pikiran ngak baik nya.
"Kamar berapa?" tanya Lala.
"Mereka sudah cek out pagi tadi. Pasien itu di rujuk ke Singapura, kondisinya lumayan parah karena liver," ucap sang perawat.
Lala menghembuskan nafas, udah dapat petunjuk segede upil masih aja kena PHP. Lala berpamitan dan pulang memeluk bunga lily nya. Mungkin bunga nya bisa di pajang di kamar, kasihan kalau di buang.
Lala masih menebak siapa Daisy itu, apakah tunangan Aldi, tapi Lala tidak pernah dengar, mungkin saja bukan.
...Bersambung......
***
Cafe tokoh:
sedang ada perbaikan, Chapter selanjutnya baru buka.
ttd: Alichia
__ADS_1
Author sok Gaje.