Nyebellin

Nyebellin
#43 Liberty dan Rindu


__ADS_3

...Daun-daun yang jatuh pun sudah di takdir kan, seperti rindu yang selalu saja menyuruhku untuk kembali....


...Aldi~...


New York, Musim semi.


Jam menunjukan pukul 12:00 siang, cuaca panas kalah oleh angin musim semi yang menerbangkan beberapa serbuk bunga. Sudah sekitar tiga bulan Aldi di Amerika, suasana para pejalan kaki di sekitar rumah sakit dari sol sepatu pasien, keluarga pasien maupun tenaga kesehatan terdengar sedikit bising.


Aldi duduk bersandar di atas kursi roda sambil menatap pohon ash, daun nya di kalah saing oleh bunga yang penuh. Pohon itu tampak gagah dengan bunga-bunga putih yang berguguran seperti sakura.


"Lo ngapain di sini?" tanya Nadin.


"Lagi mau sendirian aja, gak boleh?" tanya Aldi tanpa menoleh dari aktifitasnya menengadah ke atas pohon.


"Di jatuhin eek burung merpati ntar, lo," ledek Nadin.


"Cih, mak lampir," ketus Aldi Memperbaiki posisinya.


Nadin mendekat dan duduk di salah satu bangku berbentuk potongan pohon sambil menatap Aldi.


"Kangen si Lala, ya?" tanya Nadin, matanya menatap adik sepupunya ini dan bermaksud menggodanya.


"Ribut bae, lo. Kenapa juga gue jadi adek sepupu lo." keluhan Aldi tak di acuhkan oleh Nadin.


Nadin bangkit dan mendorong kursi roda Aldi kembali ke dalam kamar inap nya. Nadin yang bersekolah di universitas dekat rumah sakit ini, mengambil jurusan Business magister. Yups, beberapa bulan lagi Nadin akan meraih gelar magister nya. Tapi percayalah, wajahnya masih seperti belasan. Baby face istilahnya.


Di kamar Aldi, Nia duduk sambil berbincang dengan Hendra. Tanpa sadar putranya sibuk menatap mereka berdua yang seperti sibuk menghitung arisan. Kedua orang tuanya duduk di atas tempat tidur pasien jadi Aldi menahan Nadin untuk masuk.


"Mah, lagi bagi arisan ya, sama papa?" tanya Aldi sambil melipat tangan di dada. Kesal.


"Eh, anak mami, sini." Nadin mendorong kursi Aldi mendekati tempat tidur pasien.


"Seru banget ngobrolnya," kekeh Aldi, Aldi di bantu naik ke tempat tidur oleh Hendra.


Nia hanya terkekeh pelan menanggapi candaan


Aldi. Aldi memandang keluar dari ketinggian gedung rumah sakit, Aldi menyukai kamar nya yang jendelanya memperlihatkan kegagahan bangunan New York yang indah. Bahkan malam hari, lampu glamor seperti saling bersaing menerangi kota.


"Kenapa, lihat patung liberty siang malam?" tanya Nadin.


"Patung nya kejauhan juga, ngak terlalu jelas dari sini," elak Aldi.


"Mana ada, jelas-jelas gede gitu," ketus Nadin mengoreksi penglihatan Aldi.

__ADS_1


Dia bukan melihat patung itu. Dia hanya sedang melamun. Bahkan, ingatan tentang sahabat nya yang dia cintai menjadi ingatan terhebat yang dia miliki.


"Kangen seseorang ya?" tanya Nadin.


Aldi mengangguk dan mengambil air minum. Selama menatap pohon ash di belakang taman rumah sakit, membuat Aldi agak haus. Mendongak juga butuh tenaga.


"Kenapa orang selalu bilang gue kangen orang, keliatan banget, ya?"


Nadin tertawa melihat Aldi yang kesal, orang melamun itu sudah pasti lagi ada masalah. Aldi memang sudah kelihatan, masih saja mengelak.


"Kak, lo, ada gebetan, gak?"


Nadin terlihat berpikir, kemudian tertawa jahat. Dia menatap Aldi sekilas dan mengibaskan tangan nya di depan wajah Aldi.


"Hel-low, lo gak pernah tau, pesona seorang Nadin? Bahkan gue gak pernah kekurangan pacar. Kek lo aja, gak pernah laku," cerocos Nadin.


"Cih, Nyebellin."


Aldi menarik selimutnya menutup seluruh tubuhnya. Mendengar Nadin yang membanggakan dirinya membuat Aldi mau muntah saja.


"Serius, loh." masih saja Nadin bercerita panjang lebar, bahkan Aldi pura-pura mendengkur untuk membuat sepupunya berhenti bercerita hal yang tidak penting.


***


Meilda berjalan cepat menuju resepsionis sambil menenteng paper bag, wajahnya sedikit terlihat khawatir dan berpikir mungkin keadaan Aldi sangat buruk. Pernah beberapa waktu dia terus-terus memikirkan laki-laki tampan itu.


Meilda juga sudah berteman dengan Lala. Dia tahu bahwa Aldi dan Lala memang memiliki perasaan khusus, tidak akan ada yang menyangkal nya.


Setelah di beritahu nomor kamar Aldi, Meilda cepat-cepat menaiki lift ke lantai 12, Meilda sangat khawatir, terakhir dia bertemu Aldi di toko buku beberapa bulan yang lalu. Mungkin kurang lebih 5 bulan.


Meilda mendorong pintu kamar Aldi dengan hati-hati. Terlihat Aldi duduk dengan tangan di lilit perban dan separuh badan nya di tutup selimut, seorang gadis dengan rambut yang pirang setengah membelakangi pintu dan terlihat bercakap ringan dengan Aldi.


"Eh, lo," sahut Aldi begitu melihat Meilda.


Dia tidak lupa, itu gadis yang membuatnya mendadak jadi aktor korea gadungan, bukan kan karena tampan- walaupun Aldi memang tampan, tapi karena harus ber drama korea, dan mengatur skenario menikah dengan Lala.


"Aku kesini buat jenguk kamu," ucap Meilda agak canggung. Dia melangkah dengan pelan mendekati ranjangnya Aldi. Meilda meletakkan paper bag di atas meja.


"Tau dari mana, gue disini?" tanya Aldi curiga. Dia kurang suka dengan Meilda dari awal.


"Aku dengar dari teman ku, beberapa waktu yang lalu aku juga VC sama Lala."


Nadin bangkit dan berpamitan membeli es krim, sepertinya sepupunya butuh ruang, bagaimana pun calon adik ipar sepupunya cuma Lala. Nadin percaya gadis yang datang punya banyak hadiah untuk Aldi.

__ADS_1


Mendengar nama Lala, Aldi terdiam, sorot matanya sedikit menampakkan kekhawatiran.


"Lala udah sedang dalam masa KKN, beberapa hari lagi dia balik ke Jakarta. Jangan khawatir," ucap Meilda seperti membaca pikiran Aldi.


"Boleh gue minta nomor nya?" tanya Aldi dengan suara pelan.


Meilda menaikkan alis nya, kok bisa, Aldi sahabat sesayang Lala, bahkan tidak memiliki nomor nya.


"Hp gue sempat rusak, udah gak bisa di selamatin." Aldi bisa membaca raut keheranan dari Meilda.


Meilda mengambil ponsel di dalam tas selempang nya sambil sibuk menjelajahi ponselnya. Meilda menyodorkan kepada Aldi, dengan cepat Aldi mengambil ponselnya.


"Sekalian simpan nomor gue," pinta Meilda.


"Setelah Lala."


Meilda mengangguk, bahkan dalam urusan save nomor pun Lala tetap yang utama, padahal Aldi tinggal memasukkan no nya sendiri. Toh, Meilda tidak masalah. Dia hanya ingin berteman, tidak ingin lebih.


Beberapa menit kemudian, Aldi mengangguk dan memberikan kembali ponsel Meilda.


"Gue dah save no gue di hp lo."


Meilda mengangguk dan bertanya beberapa hal dengan Aldi. Meilda yakin, Aldi bisa berteman dengan nya.


***


Aldi menatap ponselnya lama. Jam menunjukkan pukul 23:00 tapi dia masih belum bisa tidur, dia ingin menghubungi Lala. Di indonesia pasti sudah jam 11:00 siang. Aldi mengambil handphone nya.


Beberapa saat kemudian telpon di angkat.


"Halo, dengan siapa dimana? Ada yang bisa saya bantu?"


Aldi menahan tawanya, apakah sahabat nya itu sedang magang di sekolah atau menjadi costumer cervis.


"Saya lagi cari sahabat saya,"


Hening, Aldi mengira sambungan nya telah terputus. Aldi mencoba mengecek, ternyata masih terhubung.


"Halo, La," panggil Aldi menahan gemuruh di dadanya.


Tutut…


Sambungan telfon mati, Aldi mengeryit, segitu marahnya kah, Lala padanya. Aldi merebahkan badan melihat lampu yang membanjiri gedung pencakar langit, air mata Aldi menetes satu demi satu. Dia berada di titik dia membenci keadaan nya sekarang. Padahal rindunya sudah berada di ubun-ubun.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2