
...“Ada kala nya kamu akan mengalami fase ingin melakukan banyak hal, tapi semua bahkan tidak bisa kamu kendalikan, semua cobaan itu hanya untuk mengetahui kalau kamu kuat!”...
...Nadin~...
1 tahun kemudian. New York city
Waktu berlalu dengan cepat, setelah sembuh dan bisa berjalan dengan baik lagi, Aldi melanjutkan kuliah nya di New York. Dia bahkan berteman akrab dengan banyak orang baru.
Aldi mendapat kabar bahwa Lala sudah menyelesaikan skripsi nya. Besok Lala akan yudisium.
Aldi tidak sering lagi berkomunikasi dengan Lala, dengan alasan Lala harus fokus dengan studinya. Aldi pun demikian. Hanya di akhir pekan Aldi rajin mengajak Lala ber vidio call, mengajak nya keliling New York secara virtual.
Aldi sibuk membuat revisi untuk skripsi nya, sebuah cup cappuchino tersodor di hadapan Aldi.
"Eh, Max, baru datang?" tanya Aldi.
"Tentu, belum lihat wajah ku yang fresh ini."
Bahasa inggris max terdengar lancar, tapi dia juga datang dari jauh. Dia tinggal di jerman dan mengambil kuliah di universitas yang sama dengan Aldi. Prodi Teknik Informatika.
"Pulang nanti, mampir di apartemen aku ya," ucap max. Aldi mengangguk setuju.
"Oke, nanti saja." Aldi menepuk bahu Max, Aldi hendak masuk ke ruang dosen.
***
Tahun ke dua Aldi di New York. Besok Lala yudisium, Aldi berniat memberikan Lala sebuah paket. Dia ingin meminta Aqil memberikan nya sebuah bunga dari Aldi. Aldi berfikir keras. Kalau sudah selesai sidang skripsi, apakah waktunya setepat perkiraan Aldi?
Aldi masih sibuk mondar mandir di apartemen nya.
Ting nong~
Bunyi bell membuat Aldi tersadar. Pasti itu ulah kakak sepupunya, Nadin.
Aldi membuka dengan raut dibuat se malas mungkin. Aldi masuk dan membiarkan Nadin menutup pintu.
"Ngapain?" tanya Aldi sambil duduk di meja tamu.
"Gue kesini lagi jalan-jalan, lagian gue baru selesai wisudah enam hari yang lalu, dan lo masih belagu. Gue udah selesai magister tau."
"BUKAN NYA LO YANG BELAGU." ketus aldi menekan semua kata katanya. Memang sepupu yang kurang sadar diri. Dia baru saja memamerkan kalau dia sudah selesai S2.
"Oh iya. Kan lo udah TUA, kapan lo mau nikah?" tanya Aldi menekan kata tua nya.
"Anjay, kurang asem banget, lo." Nadin menendang tulang kering Aldi dan berjalan ke dapur tidak mengacuhakan adik sepupunya yang merintih memegang kakinya. Bahkan dia baru sembuh setahun dan sudah mendapat kesusahan.
"Rasain, tuh." kekeh Nadin.
Nadin mengambil air minum dingin dan tak sengaja melihat ponsel Aldi di atas meja dekat jendela.
'Bunga?'
Pikiran Nadin kemana-mana, apakah Aldi mau memelihara bunga. Tapi, inikan bunga buket. Nadin mengambil handphone, tapi tangan Aldi mengambil lebih dulu handphone nya sendiri.
"Ngapain liat-liat!" ketus Aldi.
"Dasar! Pelit, lo," cela Nadin.
Aldi mengantongi ponselnya setelah menekan tombol power di samping.
"Idih, bunga buat apa?" tanya Nadin.
"Buat teman," jawab Aldi sekenanya.
__ADS_1
"Oh iya, gue mau pulang dulu. Gue mau lihat keadaan lo doank. Tante Nia yang minta."
Nadin melambaikan tangan nya Keluar dari apartemen Aldi. Bisa-bisa dia di tendang kalau membuat Aldi semakin marah.
Brrrtttt….
Ponsel Aldi bergetar, memang hanya dalam mode diam. Jadi, ponselnya tidak akan mengeluarkan ringtone.
"Halo, kenapa, La?" tanya Aldi bersemangat. Bahkan sudah lupa dengan kakinya.
"Apa kabar, Di." Aldi begitu senang, tumben Lala menelpon nya sore sekali, berarti sudah pagi di sana.
Sekitar jam enam pagi? Bukan kah ini terlalu langka.
"Oy, Nyet! Denger gak?" tanya Lala.
"Eh, kabar gue baik, kok." jawab Aldi.
"Gue yudisium hari ini," ucap Lala, "tiga jam lagi," sambung nya.
Aldi menepuk pelan jidat nya, dia beda tiga belas jam dengan indonesia. Kenapa dia begitu pelupa. Aldi teringat sesuatu.
"La, lo suka bunga atau coklat?" tanya Aldi.
"Hmm, gue suka, lo," canda Lala. (Serius sebenarnya)
"Itu mah, gue juga tahu." Lala membulat kan mata. Aldi sejak kapan tahu.
"Canda." Aldi meralat dengan cepat. Padahal Aldi tahu kalau Lala kurang peka, Aldi juga tahu Lala menyukainya.
"Gue suka bunga, tapi, yang warna kalem aja sih."
Aldi sibuk memikirkan bunga apa yang berwarna calm, bukan nya itu bunga bangkai yang akan berwarna merah tua, atau hitam. Itulah yang dipikirkan Aldi.
Lala tertawa kecil. Mana ada toko bunga yang menjual bunga di pilox.
"Gue suka bunga apapun." Lala menyuaran agar mereka berhenti membahas bunga-bunga.
"Okedeh. Tiga jam lagi ya..." ucapan Aldi menggantung.
"Iyaps, padahal gue berharap bisa ketemu lo, Di."
Aldi sedikit sedih tidak bisa mengabulkan itu. Dia bukan cowok yang penuh kejutan seperti di dalam novel-novel ataupun filem. Dia akan bimbingan besok. Lagi pula penerbangan nya bisa sampai 17-19 jam. Mana mungkin bisa sampai. Kecuali dia memakai ilmu telepati, atau setidaknya dia memiliki alat pencipta keajaiban. Aldi seketika ingin belajar menjadi murid doraemon.
"Ya udah, Gue doain lancar aja," ucap Aldi memberi semangat, dia yakin sahabat nya akan mampu melewati dengan baik.
"Makasih ya, udah support." walaupun Lala tersenyum, Aldi juga tidak akan melihat.
"Yaudah, gue gabung ma teman gue dulu, ya. Udah mau siap-siap."
"Oke."
Aldi segera mematikan telfon dan mengirim chat kepada Aqil. Dia tahu bahwa teman nya itu akan yudisium lusa. Tidak menerima alasan mengabaikan nya.
[Kasi lala bunga warna putih ya, jangan yang warna kuning atau merah. Terserah bunga apa. Mau tulip kek, mau mawar, asal kan putih!]
Aqil mendengus sebal. Toko bunga dengan kampus nya lumayan jauh, dengan segera dia meninggalkan pacarnya dan pergi ke toko bunga.
***
Setelah selesai pemberian gelar S.pd Lala keluar dari ruangan dengan perasaan yang masih deg-deg-an. Bagaimana tidak, di baru saja selesai bertempur dengan otak nya.
"La, selamat, ya."
__ADS_1
Teman-teman nya datang satu-persatu memberikan buket dan berfoto bareng. Ada yang memberikan hadiah bunga, bingkai foto, dst.
"Heiji, giliran lo."
Heiji masuk kedalam ruangan. Hanya tiga sampai lima orang dari kelasnya hari ini, Lala yang ke empat.
Jam sudah menunjukan pukul 10:29. Lala segera berjalan ke kantin. Semua kadonya di simpan dalam kantongan besar dan di gantung di stir motornya.
Lala berjalan ke kantin.
"Lala…!" panggilan itu membuat Lala seketika menoleh ke sumber suara.
Lala memincingkan mata, sepertinya itu teman Aldi. Lala tersenyum dan menunggu Aqil mendekat sambil membawa buket bunga mawar.
"Akhmm. Ciee," itu suara Adel. Dia juga baru selesai membeli minuman. Dia yang pertama yudisium hari ini. Adel terus mencolek Lala tanpa tahu apa yang terjadi.
"Eh, La, ini buat lo, ada kartunya. Gue mau ke fakultas gue dulu." Aqil melambaikan tangan nya.
"Tunggu." Lala menghentikan Aqil. Lala heran melihat kartu nama nya dengan tulisan yang tintanya tidak normal.
"Eh, kok tulisan nya kek gini?" Lala melihat lagi tulisan nya seperti tulisan Aldi.
"Oh, itu tulisan nya gue print," jawab Aqil polos.
Lala dan Adel tertawa. Itu ide yang langka. Padahal Aqil bisa saja menulis sendiri.
"Ya udah, gue mau balik dulu, pacar gue udah selesai yudisium kayaknya." ucap nya sambil melambaikan tangan.
[La, walaupun gue gak datang. Semangat, ya, gue sayang lo]
Pesan singkat yang membuat Lala berdebar. Aldi menyiapkan kejutan yang membuat Lala tambah menyukainya, lagi dan lagi.
Lala tersenyum melihat bunga mawar putih itu, Adel merangkul Lala sambil berbisik.
"Pacar, lo?" tanya Adel.
"Sahabat gue," jawab Lala.
"Kok mawar putih? Biasanya ini buat lamaran keknya." Adel berargumen karena melihat di televisi.
"Ahh, siapapun bisa di kasi mawar, kok. Tenang aja gue gak menikah dadakan. Hihi." Lala berpamitan hendak pulang lebih dulu.
Adel juga pergi menuju parkiran. Dia akan pulang cepat. Setelah pendaftaran wisudah dia akan jalan-jalan keliling dan datang di acara makan-makan PGSD sebelum wisudah.
Lala sengaja meninggalkan Heiji. Hanz pasti menunggu pacarnya. Dia sudah memberitahu kalau dia tidak enak badan dan harus pulang cepat.
Lala menghentikan motornya di danau tempat mereka pergi dulu sambil memeluk bunga dari Aldi Lala mengambil ponselnya.
Lala hanya ingin merekam video saja.
"Hai, Di," ucap Lala sambil tersenyum ke kamera.
"Gue udah terima bunga dari lo, gue suka… Bagus," Lala berbicara terus dan tak henti-hentinya tersenyum.
“Gue juga sayang sama lo.” ucapnya mengakhiri videonya.
Lala cepat-cepat mengirim ke WhatsApp Aldi.mungkin di sana Aldi sudah tidur. Dia hanya on satu jam yang lalu.
Lala tersenyum dan segera pulang. Walaupun Aldi tidak bersama Lala sekitar dua tahunan. Lala tetap menyukainya, selalu.
***
Bersambung….
__ADS_1