Nyebellin

Nyebellin
#51. Menunggu


__ADS_3

...Bahagia itu sederhana, begitu pula rasa sakit. Tergantung bagaimana kamu menerimanya...


...Heiji~...


Lala berdiam di kursi taman belakang fakultas humaniora. Taman yang begitu cantik pikirnya. Lala memakai headset. Dia tahu bahwa dia kan berada di zona asing, jadi selain ponselnya siapa lagi yang ingin menemani nya, Nadin juga bilang tidak ingin ikut.


Sebuah tepukan di bahu Lala membuatnya menoleh canggung. Apakah itu setan? Lala tahu ini belum jam 11, wisuda nya Aldi pasti belum kelar.


"Hei, permisi," sapa seorang pria.


Lala menoleh dan memperhatikan cowok itu duduk di sampingnya.


"Why? Boleh duduk disini, kan?" tanya nya.


Lala mengangguk dan mempersilahkan, Lala ingin pingsan saja, bahasa inggrisnya begitu berantakan.


"Where do you from?" tanya nya hangat.


"I'm, indonesian. And you?" tanya Lala. Kalau dia tidak bisa menjawab pakai bahasa inggris dia bisa memakai bahasa Tarzan ala kepepet saja.


"Heheh, orang indonesia, kok. Kenalin, saya Sam." Cowok itu menyodorkan tangan nya.


"Gue. Naila Augustine," jawab Lala canggung. Ingin sekali dia menelan cowok sok inggris ini.


Lala merasa tidak asing dengan wajahnya. Bukan kah ini cowok yang dia temui kemarin dengan Nadin di lift.


"Tinggal di Brooklyn, kan?" tanya Lala to the poin.


"Eh, kok, tau?" tanya Sam kaget.


"Gak usah kaget gitu, kita di tempat yang sama, gue liat lo kemarin." Lala menjelaskan panjang lebar, Sam mengeryit.


"Eh, saya kok gak ingat," jawab nya.


Lala memerhatikan wajah tampan yang duduk tak jauh di samping nya, apa Lala yang pikun?


"Elo kok, ahh lupain aja," ucap Lala.


Sam mengangguk dan menatap ke depan.


"Oh, iya, lagi ngapain disini?" tanya Lala. Kemudian menutup mulutnya. Kesan nya dia sedang menginterogasi orang.


"Hehe, adik sepupu saya lagi mendaftar, jadi dia lihat-lihat kampus," jawabnya, "Kalau kamu?"


FYI_ musim masuk kampus di amerika memang dua musim, gelombang musim gugur awal agustus dan musim semi awal April.


"Gue tunggu pacar gue wisuda," jawab Lala polos.


"Kok, ngak masuk?" tanya nya.


"Ahh, gue ngak pede, biar ortunya aja, hehe." Lala ingin merutuki dirinya kenapa dia kecoplosan mulu.


"Kalau gitu, mau jalan-jalan di luar? Jangan takut, ngak bakalan saya culik, kok."


Lala menimbang-nimbang dan mengangguk.


***


Sam berjalan beriringan dengan Lala, setelah mencoba kue pancake di restoran yang sepertinya baru buka di seberang kampus. Sam menceritakan banyak hal tentang New York. Sam sudah lama di New York, tapi orang tuanya di Indonesia. Sam sama seperti Nadin yang baru selesai Magister di sini, anak hukum.

__ADS_1


Lala juga heran kenapa dia mengasingkan diri dan memilih sekolah lama-lama di new York, sudah sekitar 8 tahun tinggal di sini. Biaya hidup di new York lebih mahal dari kota-kota kecil yang lain.


"Tunggu, saya ambilin minuman di drink machine," ucap Sam. Lala hanya mengikut saja, seperti bebek. Eh, tidak juga.


"Mau Pepsi atau cola?" tanya Sam. Sam tahu gadis ini pasti tidak akan minum yang mengandung alkohol karena katanya dia baru saja pergi jauh-jauh.


"Cola aja," jawab Lala.


Lala duduk di bangku kecil dekat drink machine. Sambil memerhatikan hiruk pikuk kota Manhattan. Beberapa pejalan kaki, bar-bar, rumah makan, banyak juga gedung-gedung pencakar langit di kawasan ini.


"Nih." Sam menyodorkan minuman kepada teman barunya itu.


"Kalau tidak keberatan, saya bisa ajak kamu jalan-jalan setelah dari sini," Seru Sam.


"Ahh, gak perlu kok, gue mau jalan-jalan sama kak Nadin. Dia bilang mau ajak keliling kota hari jumat."


Lala tentu harus menolak. Bisa-bisa dia di terjunin oleh Aldi kalau ketahuan ingin jalan-jalan dengan cowok lain. Walaupun itu hanya bayangan Lala.


"Oh, iya, kalau mau sekalian aja. Boleh rame-rame, kan?" tawar Sam.


"Sepupu lo, cowok atau cewek?" tanya Lala penasaran.


"Dia cewek, namanya Diana."


Lala manggut-manggut. Menambah teman baru tentu bukan masalah besar.


Ponsel Lala berdering, sepertinya panggilan dari tante Nia.


"Oke tante, bentar lagi Lala balik kampus, ini lagi keluar jalan-jalan."


"Okedeh, tante tunggu, ya."


Lala menyimpan kembali benda pipih itu.


"Udah di cariin, ya?" tanya Sam basa-basi. Lala mengangguk.


"Yaudah, ayok balik," ujar Sam.


***


Aldi duduk menunggu pacarnya yang belum lewat dari 24 jam. Membayangkan itu membuat Aldi terkekeh sendiri.


Nia langsung menatap putranya heran. Mungkin saja anaknya lagi membayangkan hal lucu. Tidak mungkin kesambet kan.


"Oh, iya, kata Nadin dia minta papa sama Mama ke apartemen nya nanti. Mama mau pulang ke hotel dulu. Mau istirahat," ucap Nia kepada Aldi.


Aldi yang duduk di samping Herman hanya mengangguk, lagian dia bisa pulang dengan Lala.


"Aku balik langsung ke apartemen sama Lala. Nanti mama ke apartemen aku aja," ucap Aldi.


Nia dan Hendra baru tiba subuh tadi, jadi dia memesan hotelnya di Manhattan bahkan hanya beberapa menit dari kampus berjalan kaki pun tidak capek.


"Okedeh, pah. Ayok pulang," seru Nia.


Hendra mengangguk dan berseru riang, "Papa juga lagi butuh istirahat. Ayok sayang."


Aldi melongo melihat kedua orang tuanya bersikap mesra, apa kah mereka benar-benar semesra itu, lagi pula keduanya pernah bercerai.


Aldi menggelengkan kepala, melihat punggung kedua orang tuanya pergi.

__ADS_1


"Hei. Bro. Lagi tunggu pacar atau mau tambahan?" canda Max, melihat Aldi menekuk mukanya.


Lala datang dengan Sam sambil tertawa kecil. Sam selalu membuatnya ngakak sendiri. Benar-benar tidak anggun. Melihat itu membuat Aldi kesal setengah mati, belum genap 12 jam pacaran sudah ada saingan cinta


"Sayang," panggil Aldi.


Lala mengeryit, apa kah Aldi se-dramastis itu? Lala ikut melambai dan membicarakan beberapa kata kepada Sam dan menghampiri Aldi.


"Baru pisah beberapa jam udah ada saingan," keluh Aldi. Lala tertawa kecil


"Dia itu Sam, tinggal di apartemen yang sama kayak lo," ucap Lala.


"Mau pulang, gak?" tanya Aldi menarik tangan Lala dan merangkul pundaknya.


"Aakhmm." Max berdehem, dia tidak terima di jadikan mahluk astral oleh dua sejoli ini.


Max duduk di bangku kosong membiarkan keduanya saling bercerita dalam bahasa yang Max tidak paham. Max tahu kalau mereka orang indonesia, cewek Aldi pun sangat cantik.


"Max, kami mau pulang dulu. see you nex time. Bro," seru Aldi.


"Oke," jawab Max siap-siap kembali ke flat nya.


Aldi menggandeng tangan Lala. Lala heran mengapa Aldi mendadak bucin. Dari fakultas sampai ke dalam taxi Aldi tidak melepaskan tautan tangan mereka.


"Eh, happy graduation, sayang." ucap Lala menirukan gaya Aldi walaupun tidak sama persis.


Sopir taxi ikut memutar lagu romantis. padahal Lala tidak mengucapkan sayang dalam bahasa inggris. mungkin karena kedekatannya ya.


"La, di ajak kemana aja tadi," tanya Aldi.


"Di traktir pancake, di beliin minuman," jawab Lala.


"Oh," jawab Aldi kesal. Dia yang pacaran, orang lain yang memberikan bumbu romance.


"Ey, jangan cemburu gitu," kekeh Lala.


"Idih, sebelum pulang kita harus kencan." Aldi tidak ingin kalah saing dalam memberikan momen. nanti Lala hanya mengingat Sam, kan tidak lucu.


"Anything for you, hon," ucap Lala.


"Nama gue Aldi, bukan Jhon."


"Hon itu honey," ucap Lala meralat pendapat Aldi.


Aldi tersenyum kecil. Lala memang bisa membuatnya melupakan kekesalan nya walaupun sering membuat kesal, tapi itu tidak akan bertahan lama.


***


Bersambung..


***


Cafe tokoh*


Aldi: kenapa up nya cuma satu bab?


Alichia: semua file gue se-malam kereset, huhuhu


Lala: gue gak tau caranya menghibur lu, nih gue kasi tissue, gratis kok.

__ADS_1


__ADS_2