
...Kalau waktu bisa berhenti, aku ingin dia berhenti di saat kamu tersenyum....
...Lala~...
Mereka sampai di rumah Lala setelah lama berkendara. Sudah jam 21:05
Heiji keluar dan menenteng kantong kresek. Aldi benar benar sudah tidak menampakkan tanda-tanda ngantuk nya. Benar nata Hanz, Aldi ti e akan mengantuk jika sudah sampai di rumah, dan itu terbukti sekarang.
Lala membuka pintu, rupanya orang tua nya belum datang. Lala menunjuk loteng sebagai tempat mereka main game. Jarang-jarang mereka melakukan ini. Lala segera mengambil karpet hajatan dan menggelarnya di tengah. Lala takut berada di pinggir-pinggir.
"Woy, siapin lilin. Kita ngepet. Lala jadi monyet nya," seru Heiji.
"Gue buang lo ke bawah," ketus Lala kesal.
"Bukan nya babi, kalau monyet berarti topeng monyet," ralat Hanz.
"Berhenti gak." Lala menimpuk kepala dua sejoli itu dengan bantal sofa yang dia bawa.
"Bercanda." ucap Heiji sambil mengeluarkan botol soda dan menuang ke empat gelas.
"Wah andai saja ini soju," seru Heiji.
"Gue gak minum lah," jawab Lala santai.
Heiji hanya menyengir dan memastikan kalau botol itu benar-benar kosong. Heiji bahkan mengoya kosong itu, memastikan tidak tersisa sedikit pun.
Heiji membaca peraturan yang dia tulis di ponselnya selama perjalanan. Heiji benar-benar serius ingin main game ini.
Peraturan permainan nya:
1. Botol di putar, bagi yang kena kepala botol dia akan memberikan pertanyaan ToD dan yang kena pantat botol akan menjadi sasaran.
2. Tidak boleh merubah menjadi truth ataupun dare saat sudah menerima pertanyaan.
3. Jangan curang.
4. Bagi yang kena pertanyaan akan di tompel pake bedak!
"Yeay. Itu aja." Semua mengangguk.
Aldi muncul dengan botol air minum, dia butuh minum air putih. Aldi juga sepertinya selesai mencuci muka. Dilihat dari wajahnya yang fresh.
Heiji menyodorkan ponselnya ke Aldi. Aldi tidak boleh meralat nantinya kalau dia beralasan tidak tahu rules.
"Siapa yang mau putar duluan?" tanya Lala bersedekap.
Heiji masih sibuk mencampur bedak dengan air.
"Gue aja deh," ucap Lala.
Semua mengangguk, Lala memutar cepat.
"Pengalaman di kasino keknya nih anak," seru Aldi karena botol itu masih berputar.
Setelah me-melan, pantat botol mengarah ke Aldi yang duduk di samping Lala dan Hanz di samping Heiji. Kepalanya mengarah ke Heiji.
Heiji tertawa jahat. Aldi hanya pasrah.
"Truth or dare?" tanya Heiji heboh.
"Dare," jawab Aldi malas.
"Cium pipi Lala," perintah Heiji.
Cup
Lala melotot ke arah Heiji, dasar mak lampir.
Aldi mencium Lala sekilas. Heiji jadi heboh sendiri. Lala menompel wajah Aldi dengan bedak yang sengaja dia tebal-tebalin.
__ADS_1
"Udah," jawab Aldi sok cool, "kok banyak gini sih," protes Aldi.
"Ey, jangan di hapus." Heiji memperingatkan. Hanz hanya tertawa melihat kekocakan ini.
Putaran ke dua mengenai Hanz, pantat botol mengenai Aldi yups arahnya bukan silang tapi lurus.
"Wahh asik nih, truth or dare?" tanya Hanz.
"Lah. Kok gue mulu, sih." Aldi tak henti-hentinya memprotes dan mengumpat kepada botol jelek itu.
"Truth," jawab Aldi.
"Kapan lo suka sama Lala."
Aldi ingin memakan sejoli yang selalu saja menyuruhnya membuka kartu. Aldi menghela nafas.
"Sejak gue pindah ke lingkungan sini, dan sering barengan ma Lala. Gak tau persis, sih." Aldi berusaha mengingat-ingat.
Permainan berlanjut, Aldi meminta untuk bertukar tempat duduk dengan Lala. Lala mengiyakan. Toh, Aldi sepertinya mulai mengkeramati tempatnya.
Benar saja, pantat botol langsung mengenai Hanz, Lala berseru riang kini dia mendapat giliran. Tentu Saja dia tidak akan membocorkan soal Hanz yang pernah menyukainya. Lala takut Heiji mengira Hanz hanya menjadikan nya pelampiasan. Walaupun Lala tahu Heiji sangat bijak dalam masalah lope.
"Truth or dare?" tanya Lala heboh.
"Truth," jawab Hanz.
"Kapan terkahir lo ngompol di celana," seru Lala.
Semua orang tertawa, tak terkecuali Hanz. Hanz berpikir sejenak.
"Kayaknya kelas dua SD," jawab Hanz ragu-ragu.
Semua orang tertawa. Setelah di tompel dengan bedak. Setelah beberapa kali menggilir botol hanya Heiji yang tidak kena sama sekali, kedua orang tampan di tengah tengah mereka menjadi ambassador masker bedak dadakan.
Permainan selesai. Mereka sibuk menghabiskan cemilan, beberapa cemilan di makan Lala saat bermain, ahli makan itu emang tidak bisa mengendalikan diri saat sibuk di hadapakan oleh makanan.
***
"Oy, nyet, bangun, ah." Lala menyingkirkan kaki Heiji yang tepat di atas lambung nya.
Lala bangkit dan cepat-cepat ke kamar mandi, dia ingin membersihkan wajahnya. Setelah selesai bersih-bersih. Lala keluar dan melihat Heiji duduk dengan keadaan kacau. Benar-benar seperti singa hutan amazon
"Gue tunggu di meja makan." Heiji mengangguk dan berlalu ke kamar mandi.
Lala keluar dan berjalan ke dapur. Aldi bermalam di rumahnya sendiri. Sekarang Lala melihat jam sudah menunjukkan pukul 08:45
"Eh kalian baru bangun?" tanya Riand melihat putrinya duduk dengan raut malas.
"Iya, pah, mama mana?" tanya Lala.
"Dia lagi mandi." jawab Riand.
Lala bangkit dan menyajikan makanan, orang tuanya akan segera berangkat. Kebetulan besok wekend. Tapi Lala belum tahu kalau diizinkan apa belum leh Riand.
"Kamu mau berangkat sama Aldi nanti malam?" tanya Riand.
"Eh, papa bolehin Lala ikut?" tanya Lala berharap.
"Boleh, asal jangan ke bar, jangan nakal-nakal, Ya," ucap Riand.
"Kesyip, papa ku sayang." Lala memeluk Riand dengan senang.
"Wah ada acara apa nih?" tanya Ega yang tiba-tiba datang.
"Papa bolehin Lala." Lala berseru riang. Ega hanya terkekeh pelan melihat putrinya.
"Teman kamu mana?" tanya Ega.
"Masih bersemedi di kamar mandi," jawab Lala.
__ADS_1
Heiji datang dengan muka fresh nya.
"Oh iya, Lala mau ke Amerika nanti malam ya?" tanya Heiji, dia hanya mendengar sekilas tadi.
"Ho'oh, gue mau liburan guys," jawab Lala.
"Jangan lupa oleh-oleh, ya," seru Heiji.
"Nanti kita antar ke bandara," ucap Heiji menambahkan.
"Iya. Papa sama mama ngak usah antar Lala. Cuma pergi beberapa minggu doang, kok."
Riand dan Ega saling pandang dan mengangguk.
"Okedeh. Kalau ada apa-apa langsung telfon papa. Oke?"
"Siap," seru Lala.
Mereka melanjutkan makan nya sambil bercakap santai.
***
Mereka tiba di bandara Soekarno Hatta tiga puluh menit sebelum berangkat. Lala hanya duduk sambil menunggu keberangkatan. beruntung Lala masih ada paspor dan surat-surat nya karena batal liburan ke luar negeri satu tahun yang lalu.
Kedua teman nya itu sudah kembali sejak tadi. Aldi masih sibuk bermain ponsel sedangkan Lala sibuk makan wafer.
"Oy, Di. Nanti gue tinggal sama siapa?" tanya Lala menyandarkan kepalanya di bahu Aldi.
"Mau sama gue kah?" canda Aldi.
Lala memukul Aldi dengan tas kecilnya. Soalnya kopernya sudah tidak ada di samping nya.
"Canda, nyet," keluh Aldi sambil mengusap kepalanya.
"Lebay banget, lo," ketus Lala.
"Sepupu gue, namanya Nadin. Sebenarnya dia mau balik ke indo, tapi dia mau kerja di New York," ucap Aldi.
Lala manggut-manggut, dan bertanya lagi, "Dia cantik kan?"
Aldi membayangkan wajah kakak sepupunya sambil mengeryit.
"Tenang aja, cantikan lo, kok." Aldi memang tidak pernah mau mengakui kakak sepupunya. Walaupun memang Lala sangat cantik di matanya.
"Yang benar, napa." lagi-lagi Lala mencubit bahu Aldi dengan kuat.
"Lama-lama gue pingsan sebelum ke Amerika. Jangan cubit gue," keluh Aldi.
Lala hanya tertawa jahat. Setelah berpisah beberapa tahun Aldi tidak berubah sama sekali.
"Lo kok gak kek bule, ya?"
Aldi memberikan tatapan malas. Mana ada orang keluar negri langsung jadi bule.
"Gue anak Indonesia asli," jawab Aldi.
"Liat rambut gue juga coklat. Gue warnai, hehehe." Lala melihat sekilas. Dia tidak sadar rambut Aldi lebih coklat dari yang dulu.
Percakapan mereka terhenti saat mendengar panggilan keberangkatan dari pengeras suara.
...***...
...Bersambung…....
...Jangan lupa vote dan like ya.....
...Salam sejuta lope-lope...
...KazukyAlichia ^^...
__ADS_1