
...Bunga adalah makna, bukan karena nampak indah, tapi juga sarana menyalurkan rasa...
...Nadin~...
Musim wisuda sudah tiba, beberapa orang berlalu lalang, dengan seragam wisudah dan pendamping dengan baju batik ataupun jas. Banyak juga yang memakai kebaya. Apapun yang menjadi baju terbaik. Asalkan bukan daster emak saat menjual gorengan.
Heiji dan Lala baru tiba dengan kedua orang tua mereka. Lala jarang melihat orang tua Heiji. Walaupun mereka dekat, tapi orang tua Heiji memang sangat sibuk.
Lala berdiri di samping Riand dan Ega sambil berkecak pinggang. Setelah selesai wisudah, Lala seperti berada dalam lautan manusia menunggu keluar dari gedung. Padahal sudah ada tiga pintu keluar, tapi wisudawan tahun ini mencapai 1400 orang, belum lagi pendamping nya.
Setelah berdesak desakan dengan terpaksa Lala harus cepat keluar. Make up nya serasa sudah di dagu karena keringat.
Semua orang berselfie ria sambil saling bertukar selamat, setelah selesai foto wisudah, Lala dan Heiji belum mau pulang.
Heiji duduk dengan pacarnya, keduanya memakai seragam wisudah. Mereka duduk di bangku depan auditorium kampus V, tempat mereka wisudah. Gedung besar khusus tepat mereka wisudah, karena kampus mereka memang tidak menyewa gedung di luar kampus.
"Oya, gue mau beli minuman dulu," ucap Heiji meninggalkan pacarnya dan Lala.
"Okey," jawab Lala.
"Oh, iya, lo teman ma Aldi kan?" tanya Lala memecah suasana. Walaupun bising.
"Iya, pernah dekat waktu masih maba. Dia sering datang ke fakultas, itu juga waktu lo tembak dia."
Lala mengangguk, waitt... Hanz juga tahu sejarah memalukan waktu masih maba dulu?
"Itu di ceritain ma Heiji," ucap Hanz cepat.
"Lo ngapain dulu suruh gue ke atap, trus sok akrab gitu?" Lala tiba-tiba menjadi hakim.
"Dulu gue suka sama lo, tapi... Aldi pernah mukul gue waktu gue bilang kek gitu ma dia. Setelah itu gue udah gak dekat ma dia. Dia dekat sama teman nya yang dari kelas yang sama. Gue teman cuma setahun lebih, eh lama-lama gue pacaran sama Heiji." Hanz menerangkan panjang lebar.
Lala mengerjap beberapa kali, kok dia gak tahu Aldi pernah berkelahi.
"Gue baru tahu kalau Aldi pernah berkelahi selama ini."
"Gimana hubungan lo ma Aldi?" gantian Hanz yang kepo.
"Gak gimana-mana. Dia gak pernah on lagi, terakhir dia cuma read pesan gue waktu gue selesai yudisium," ucap Lala sendu.
Hanz menghibur teman nya itu. Dan memberikan permen min dari sakunya.
"Gak suka minz gue tuh." Lala dengan cepat menolak.
Sebuah tangan dingin menutup mata Lala. Lala yakin Heiji pastinya. Heiji kan pamitan membeli minuman dingin.
"Ji, maskara gue nanti belepotan. Ntar gue jadi kuntilanak," ketus Lala tidak juga menyingkirkan tangan itu.
"Happy graduation, Sayang."
Lala cepat cepat menggenggam tangan itu.
"Aldi," gumam Lala.
Lala melihat Hanz dan Heiji yang asik meminum pocari, Lala memutar kepalanya ke belakang. Aldi tersenyum dan memberikan buket bunga tulip putih.
"Kaget gue," seru Lala menerima bunga dari Aldi dan cepat-cepat Aldi mengitari kursi dan duduk di samping Lala. Lala memeluk aldi sekilas dan berterimakasih.
Aldi sedikit canggung tapi kemudian tersenyum.
"Nih, minuman lo, La." Heiji menyodorkan minuman freshtea ke arah Lala.
"Ciee akhirnya bertemu." Heiji sengaja memanas manasi suasana.
"Sama siapa lo kesini?" tanya Lala. Dia melepas toga di atas kepalanya dan memasang di kepala Aldi.
"Gue kepanasan." Lala sengaja karena nanti dia bisa kelupaan.
"Ortu lo kemana?" tanya Aldi.
"Papa balik kantor, Mama gue keknya lagi makan diluar sama Mama Heiji. Gak tau kapan mereka akrab gitu."
Lala menyerahkan bunga ke Aldi dan minuman nya. Lala mengibas kan tangan nya. Dan mengambil tissue dari dalam tas. Dia gemmes sekali ingin menghapus make up nya. Walaupun kata teman nya tidak seperti di pikiran Lala yang katanya sudah sampai di dagu.
"Oy, ayok double date besok," ucap Heiji.
"Lah, besok malam gue harus balik Amerika," sela Aldi.
"Kok cepat banget," protes Heiji dan Hanz.
"Gue baru sampe tadi pagi, trus gue singgah beli bunga dan langsung kesini. Gue cuma tidur di pesawat," ucap Aldi.
__ADS_1
"Kasian. Oh iya, lo belum wisudah ya?" tanya Heiji.
"Belom, lima hari lagi."
Hanz dan Heiji mengangguk. Sementara itu
Lala terlalu sibuk melap wajahnya dan lupa kalau ada tiga mahluk di sekelilingnya.
"Fotoin gue sama Aldi dulu, deh." Lala menyodorkan ponsel ke Heiji. Aldi juga memberikan ponselnya ke Hanz.
"Gue pegang bunga, lo pake aja toganya." Aldi mengangguk saja mendengar perintah Lala.
"Hana.. Dull.."
"Woy, ji, jangan hitung pake bahasa korea, gue lindas lo ntar." Lala menatap kesal. Heiji tertawa kecil.
"Oke, oke, satu... Dua... Tiga."
Cekrek.
Setelah berpose lama-lama, Lala mengambil handphone nya kembali. Tidak buruk juga. Bagus juga cara Heiji memotret.
"Abis ini, kita kemana?" tanya Heiji.
"Gue mau pulang. Mau ganti kostum," seru Lala.
***
Lala duduk sambil menyantap makan siang nya dengan Aldi. Ega juga ada bersama mereka.
"Tante Nia tau gak, lo ada di Indonesia?" tanya Lala.
"Iya, gue kirim pesan sebelum gue kesini." jawab Aldi.
Lala manggut-manggut.
"Lo tidur aja dulu di kamar gue, jangan di ancurin ya kamar gue. Gue mau jalan-jalan ma Heiji sampe sore." Lala terus menyantap makanan nya.
"Kasian nak Aldi bela-belain ke sini demi kamu. Kok di tinggalin," protes Ega.
"Aelah, mah, dia udah gede juga, kok."
"Ntr malam aja jalan-jalan nya. Gue ikut," saran Aldi. Dia kesini demi Lala kok malah di tinggalin.
"Enak aja. Di sebelah selalu di bersihin sama pembantu paruh waktu itu, tau!"
"Oh iya, jadi mau ke sebelah dulu, nak?" tanya Ega.
"Enggak, aku mau di kamar tamu aja tante," jawab Aldi.
"Tante, aku boleh ajak Lala ke Amerika gak? Buat temani aku wisudah," kata Aldi, sedikit takut kalau Ega pasti menolak.
"Lala tinggal sama kakak Sepupu ku, kok. Kebetulan apartemen nya bersebelahan. Aku pasti jagain Lala kok." tambah Aldi cepat.
Ega berfikir sejenak.
"Nanti tante tanya dulu sama papa nya," jawab Ega sambil melirik Lala yang menyembunyikan raut senang nya. Padahal Lala sudah ingin loncat kegirangan.
"Lala yang minta?" tanya Ega.
"Bukan, tante, Aldi yang mau sendiri." Aldi bahkan baru kepikiran ingin mengajak Lala ke Amerika.
"Okedeh, kapan kamu mau balik ke sana?"
"Rencana nya besok malam tante. Soalnya aku mau persiapan wisudah hari rabu." jawab Aldi.
"Yaudah, tante sudah selesai. Mau balik ke kantor dulu."
"Inikan udah jam satu, mah," protes Lala.
"Iyaps, kenapa emang?" Ega sedikit heran.
"Nanti mama lembur. Kamu pergi aja jalan-jalan sama teman mu nanti malam, jangan kelamaan ya pulang nya." seru Ega memperingati.
"Okedeh."
Lala cepat-cepat membereskan piring nya. Dia akan membersihkan kamarnya karena dia akan segera berlibur. Giliran Lala yang cuci piring.
***
Aldi belum bangun, padahal sudah jam empat. Lala terus membersihkan lantai. Bahkan lala sudah selesai menjemur pakaian.
__ADS_1
"Oy, bangun lo," teriak Lala di pintu kamar tamu.
"Dasar koala," ketus Lala karena Aldi tidak merespon.
Lala sudah selesai berpakaian untuk pergi ke pasar malam, pasar malam terbilang jauh dari tempat Lala. Heiji dan Hanz yang akan menjemput mereka.
"Oy, kalo lo belum bangun sebelum jam enam, gue tinggalin aja, ya."
Lala tidak mau ambil pusing. Aldi memang menyebalkan!
Setelah selesai memasukkan tissue, cermin dan handphone ke dalam tas kecil nya. Lala segera keluar dari kamar dan menutupnya. Bahkan tulisan di karton itu masih ada. Lala tertawa geli melihat mahakaryanya.
"Udah mau berangkat?"
Lala menoleh, Aldi sudah siap tapi matanya masih mengantuk, rambutnya pun masih agak basah. Benar-benar ganteng.
"Ngapain lo liatin gue?" tanya Aldi heran, apakah ada yang salah dengan rupa nya?
Lala berdecak dan menarik Aldi masuk ke kamarnya. Dulu, Aldi selalu mengeringkan rambut Lala di beberapa kesempatan. Lala sudah menghilangkan sifat manjanya itu, Aldi memang membuat Lala berubah setelah berpisah.
Lala mengambil hairdryer dan membantu Aldi mengeringkan rambutnya. Lala mengacak rambut Aldi agar tampak fresh.
"Nah cakep kan," puji Lala.
"Gue emang selalu cakep, kok." Lala memutar bola matanya. Aldi memang selalu pede.
Setelah selesai, Lala dan Aldi keluar ke halaman depan. Pas juga, sejoli itu sudah tiba. Heiji hanya memakai kaos biru dan Hanz. Kayaknya mereka sengaja couple, Hanz juga memakai jin hitam dan rok pendek Heiji juga hitam. Lala mungkin lebih biasa karena hanya memakai kaos dan sweeter serta celana jins hitam pendek. sedangkan Aldi seperti gayanya yang biasa memakai kemeja dan jin.
"Udah mau berangkat?" tanya Hanz.
"Tahun depan aja," jawab Heiji.
Semua naik ke mobil dan Hanz melajukan mobilnya cepat.
***
Mereka naik ke bianglala, destinasi terakhirnya.
"Oh iya, abis ini kita kerumah gue aja, kita main game berempat," seru Lala heboh.
"Wah boleh tuh," ucap Heiji.
"Udah pada izin kan?" tanya Lala.
"Gue mah gak pernah di marahin pulang larut," jawab Hanz.
Aldi? Lala tenang saja soalnya Aldi kan tetangganya. Tinggal di lempar lewat jendela juga sudah sampai, Lala dan kedua sejoli menatap Aldi yang bersandar di pundak Lala sambil tertidur.
"Lanjut rapat. Kita abaikan saja manusia satu ini," ucap Lala.
"Eh, nanti kita main truth or dare aja gimana? Kita singgah beli snack, soda, dan bedak baby." usulan Heiji di angguki Lala dan Hanz.
"Woy, Di, kita udah mau pulang." Lala membangunkan Aldi dan Aldi cepat-cepat duduk dengan baik. Aldi menggenggam tangan Lala dan mereka segera keluar dari pasar malam.
"Kapan-kapan gue ajak ke taman bermain di Amerika, gue masih ngantuk."
Lala hanya mengangguk. Perjalanan mereka memang kurang seru, tapi Lala sangat menikmatinya. Hanya Aldi yang selalu tertidur.
Hanz mengemudi keluar dari pasar malam, mereka tiba di samping beta midi. Heiji dan Hanz yang berbelanja. Sedangkan Aldi tidur dan merapatkan kepalanya di jendela.
"Di, lo tidur di sini aja," ucap Lala sambil meletakkan tas di atas pangkuan nya.
Aldi tidak menolak dan cepat merubah posisi tidurnya.
Lala sibuk bermain HP dan meng-upload semua foto-foto nya untuk hari ini. Dari wisudah sampai jalan-jalan ke pasar malam.
"Udah kelar," seru Heiji riang. Dia meletakkan kantongan putih besar berlabel 'B' beta midi.
"Gue juga beli ramuan anti ngantuk." ucap Heiji melihat Aldi.
"Sampe nanti dia pasti udah ngak ngantuk lagi." ucap Hanz.
"Ramuan. Apa?" tanya Lala penasaran.
Aldi masih menjadi sasaran sindiran ketiga teman nya. Aldi bahkan tidak merasa sama sekali.
Hanz sibuk menyetir, tapi Heiji hanya tersenyum dan berkata, "Kopi, donk."
Lala menampakkan raut malas. Lala juga memejamkan matanya. Agak tertular ngantuk.
***
__ADS_1
Bersambung….