Nyebellin

Nyebellin
#52. Jalan-Jalan


__ADS_3

...Aku hanya ingin mengingat waktu kita bertemu dan menjadi dekat, membuat kita menjadi semakin merasa butuh satu sama lain dan bahkan merasa risih dengan jarak....


...Aldi~...


Brooklyn : 20: 45 Malam hari_


Seperti rencana kemarin. Semua berkumpul di apartemen Nadin yang sudah di hias dengan berbagai pernak-pernik, terlihat cantik dan tentunya tidak kekanakan. Kalau Lala yang buat pasti sudah seperti acara ulang tahun anak SD.


"Wahh kak Nadin emang paling top, deh," puji Lala sambil mengagumi cara Nadin menghias. Beberapa lampu kerlap kerlip dan balon bertuliskan happy graduation dan kain hitam yang menutupi tembok warna putih.


Saat pulang dari kampus Lala bahkan hanya bermain game online di kamar Aldi. Nadin bilang dia tidak bisa di ganggu dulu. Aldi hampir saja mengutuk kakak sepupunya yang menurutnya jahat sekali.


Aldi duduk di meja sofa, Nia dan Herman juga baru sampai. Mungkin tadi mereka berkencan, siapa yang tahu, mereka selalu mesra. Padahal dia pulang jam 12 siang istirahat di hotel.


"Eh, malam ini bintang kita adalah Aldi Bastian Wirson." Nadin berseru riang meniru cara host iklan televisi.


Aldi bangkit dan pura-pura mengikuti drama kacang polong Nadin. Aldi mengucapkan terimakasih dan duduk kembali. Nia dan Hendra tidak mengucapkan apa-apa, mereka hanya tertawa melihat kekonyolan anak dan keponakan nya.


"Oh iya, saya mau bilang kalau pacar saya adalah… Lala," ucap Aldi sok formal.


Nadin heboh sendiri. Sedangkan Hendra dan Nia melirik Lala yang sudah memerah. Walaupun sudah akrab dengan keluarga Aldi rasanya malam ini dia benar-benar seperti ingin kabur.


"Wah, pantasan saja Aldi agak lain hari ini, kapan jadian, nak?" tanya Nia, dia adalah orang yang duluan mengklaim Lala sebagai menantunya.


"Tadi pagi, tante," cicit Lala.


"Wahh, selamat-selamat," seru Nadin.


Acaranya berlangsung sampai jam 11 malam, setelah itu Aldi dan Hendra kembali ke apartemen Aldi. Sedangkan Nia yang kepo akut dengan hubungan Aldi dan Lala yang baru saja mekar kayak bunga kantil ingin melanjutkan bergosip dengan Nadin dan Lala.


***


Pagi yang benar-benar sibuk. Nadin dan Lala membersihkan dekorasi kemarin dan bersih-bersih apartemen. Sudah seperti habis kondangan di rumah bu rt.


Lala kembali saat selesai membuang sampah dan melihat Sam berdiri di dekat kamar Nadin. Kenapa pula mahluk itu tiba-tiba muncul.


"Eh, Sam, ada apa?" tanya Lala.


"Jadi kan pergi jalan-jalan nya?" tanya nya.


"Wah, tau dimana kalau gue tinggal di apartemen nomor 20?" tanya Lala. Lala sudah pede dengan Sam yang suka terang-terangan sok akrab.


"Kebetulan lewat, ini baru tahu juga," jawab Sam sambil tersenyum.


Lala tertawa di paksa. Kenapa dia ceplas-ceplos banget, malu sendiri, kan.


"Okedeh, nanti gue tanya sama kak Nadin, oke." Lala berjalan menjauh kembali ke dalam apartemen nya. Lala mengeluarkan kepalanya kembali membuat Sam tertawa kecil.

__ADS_1


"Oke, see you," ucap Sam kemudian pergi ke lift di ujung apartemen.


"Akhmm."


Lala menoleh dan mendapati Aldi memasang mimik suram, semacam penebaran aura negatif. Wajah Aldi berubah cemberut, dia benar-benar waspada dengan pria yang Lala kata sangat tampan.


"Kenapa dia begitu tertarik dengan pacar orang," keluh Aldi.


"Ciee, cemburu, ya." Lala terus meledek Aldi.


"Kata siapa, juga."


Benar-benar imut saat cemburu. Lala memperhatiakn Aldi yang tengah mengibas tangan nya tanda mengalah dan masuk ke apartemen nya sendiri. Lala masih tertawa dan sadar saat Nadin meneriaki namanya.


***


Setelah merengek dengan Aldi, mereka benar-benar pergi ke Liberty island. Mereka harus menaiki kapal menuju pulau wisata itu, tapi tak lama, kata Lala mereka hanya numpang bernafas, walaupun setengah jam mereka habiskan di pulau liberty. Walaupun tidak puas dengan wisatanya yang terlalu singkat, tapi Lala selalu antusias saat mendatangi tempat yang menakjubkan.


Mereka lanjut ke time square. Dan berakhir di kedai kecil di jalan poros Manhattan, kedai ini menjual makanan Asia. Lala merasa rugi jika tidak makan di sana. kapan lagi merasakan aura lokal di daerah orang.


Mereka berlima duduk di meja bundar sambil menikmati, seperti reuni mahasiswa indonesia saja.


Diana sangat kalem, dia hanya diam dan menyaksikan keributan Nadin yang di buat kesal oleh Aldi. Sam yang paling tahu banyak, layaknya pemandu wisata, baginya yang sudah delapan tahun di New york bukan hal baru berkeliling, bahkan sampai beberapa sejarah dia sangat tahu persis.


Setelah selesai makan, mereka menuju destinasi terakhir, yaitu belanja di Woodburg premium outlet. Wajah nadin dan Lala begitu senang saat-saat melihat departemen store dari kejauhan.


"Sam, Aldi tuh baik banget, ya," ucap Diana menatap langit cerah sesekali menatap bunga-bunga di jalanan tumbuh dengan mekarnya. Sekaramg masih musim semi.


"Dia pacarnya Naila," jawab Sam. Dia tidak mau sepupunya ini membuat kekacauan.


"Tau, kok. Cuma gue kagum aja," jawab Diana.


"Hmm," Sam bergumam tak jelas.


"Coba aja gue lebih cepat datang, pasti bisa kenalan lebih jauh, kan?" seru Diana.


Diana, gadis itu hanya memperhatikan Aldi sepanjang hari. Baginya, sosok Aldi orang yang mampu menjaga kekasihnya dengan baik. Lala benar-benar beruntung.


"Jadi sekarang kamu mau jadi pho?" seru Sam.


"Enak aja, gue juga bukan orang kek gitu, kok, kak." Diana hanya bermaksud menyuarakan isi pikiran nya.


"Haha, kek nya kakak lebih mudah dapatin perhatian kak Nadin, apa kabar yang tiap berangkat kakak milih ke lantai tiga baru masuk lift lagi. Emang ada orang kuker cem kakak?" cerocos Diana.


"Eh, tau dari mana?" Sam tidak pernah membocorkan itu pada siapa pun.


"Huyy." Aldi datang dan duduk di samping Sam. Kedua orang itu mendadak diam.

__ADS_1


"Kok, gue berasa di musuhin, ya," canda Aldi.


"Ah, tadi cuma ngobrol biasa," kilah Sam.


"Mau ke toilet, bye." Diana segera pergi.


"Tadi denger kan, percakapan kami?" tanya Sam.


Aldi menggaruk kepalanya, bahkan dari awal pun dia sudah dengar, tapi Aldi memberikan ruang saja.


"Saya tidak seperti yang kamu bayangkan, saya tidak bermaksud dengan Nadin," ucap Sam.


"Eh, gue gak pikirin, terserah Nadin, kan pacar gue Lala." Aldi meluruskan cepat, masalah sepupunya benar-benar bukan urusan Aldi. Lagi pula Nadin sudah besar dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri, Nadin tidak akan menerima hidupnya di dekte atau di atur sedemikian rupa, Nadin akan mengamuk atau minimal akan protes seharian.


Sam mengangguk. Kemudian hening, tidak ada yang ingin bersuara. Lagipula mereka lelaki dan tidak seakrab itu.


"Saya sudah mendaftar di firma hukum di italia, setelah setahun disini, saya akan berangkat ke sana, tidak mungkin saya sama Nadin," seru Sam.


"Heheh, kalau suka mah terserah aja, toh, kalian juga yang punya masa depan."


Sam benar-benar tidak akan terlibat dengan Nadin, toh mereka pasti akan berpisah suatu saat. Sam hanya diam dan tidak lagi membahas masalh perasaan.


"Aldi," Panggil Lala sambil membawa paper bag, bertuliskan logo branded Michael kors dan coach.


"Kalian ngabisin waktu tiga jam buat ngacak di dalam, cuma bawa dua paper bag?" tanya Aldi.


Bukan karena Aldi kebanjiran uang dan menyuruh sepupu dan kekasihnya memborong satu butik tapi Aldi gemmes menunggu dua cewek yang hanya menghabiskan memilih barang sampai dua jam lebih.


"Bawel, ayok balik. Kita makan malam di kamar gue, yok!"


Nadin tidak pernah kelelahan, dia selalu bersemangat, Diana juga sudah kembali dan bergabung dengan mereka.


Nadin melangkah lebuh dahulu menghentikan taksi untuk mereka.


***


Bersambung…


****


Cafe tokoh*


Heiji: kita terlupakan, udah gak muncul dua babak (menyeruput cappocino)


Hanz: tunggu aja kita ngasi suprise.


*Keduanya tertawa jahat.

__ADS_1


__ADS_2