
...Kesadaran diri mungkin penting, bagaimana kalau kamu mengabaikan nya kali ini saja!...
...Nadin~...
Hari Senin, Sebulan di posko KKN ~
Lala baru pulang dari SD dan teman-teman nya, mengajar anak SD butuh kesabaran, banyak yang iseng dan bukan hanya anak kota jaman sekarang yang suka usil, di desa pun. Mungkin mereka belajar dari melihat di internet.
Lala menenteng tas nya, makan siang pasti membuat mereka melupakan penat yang menggerogoti, bahkan Lala masih kesal dengan anak SD di kelas empat yang mengatakan Lala mirip dengan istri muda kakek nya. Enak saja!
Lala pulang sendiri, dia berencana makan di rumah neneknya. Setelah izin dengan kordesnya, si Bagas. Dia juga harus men charger ponselnya.
Ponsel Lala berdering, terpampang no tidak di kenali. Kode negaranya saja bukan indonesia.
Lala tahu, itu mungkin bule nyasar. Tapi, nomor itu bisa di rekayasa sih.
"Halo, dengan siapa dimana? Ada yang bisa sya bantu?"
Lala dengan lancar meniru CS, dia mengutuk si bule nyasar. Bodo amat! Lala memang tidak pintar berbahasa inggris.
"Saya lagi cari sahabat saya," ucap suara di seberang yang membuat Lala kaku.
Lala tidak tahu mengeluarkan suaranya yang seakan tercekat, seperti orang baru kerasukan. Tapi tidak sampai kejang-kejang kok. Hantu nya kalem.
Suara halo yang diulang-ulang masih berputar di kepala Lala.
"Halo, La."
Lala hendak membalas tapi ponselnya lebih dulu bergetar.
"Aish, sial bat gue," keluh Lala melihat hp nya yang mati total karena lowbat. Dia sudah mendapat nomor Aldi. Dia harus cepat-cepat pulang mencharger ponselnya.
Lala lupa rencana awal ke rumah kakeknya, Lala terus berlari dengan smangat. Seperti nya nyawanya sudah kembali ke level 1000 watt.
"Eh, La. Ngapain buru-buru kek gitu." Afif mencoba menahan Lala. Afif mengira kalau teman nya itu habis di kejar setan. Tapi Lala hanya tersenyum seperti kunti dan mencoba melewati Afif yang kaget.
Lala segera masuk ke kamar dan mengambil charger. Ponselnya harus selamat.
Heiji yang baru sampai heran melihat Lala yang tak henti-hentinya tersenyum. Bikin merinding.
"Kesambet apa, lo?" tanya Heiji.
Lala menggeleng dan merebahkan badan nya, capek berlari. Lala memejamkan matanya, rasa senang mendengar suara Aldi yang bahkan sudah dua atau tiga bulan kurang lebih menghilang dari pandangan Lala.
"Ey, siap-siap makan," ucap Sefry yang menengok dari pintu kamar.
Heiji dan Lala bangkit sambil melangkah ringan menuju dapur.
***
Lala duduk di tangga rumah yang terbuat dari semen, HP nya dibiarkan di ketuk di kepalanya. Sudah setengah sepuluh malam tapi Lala masih belum bisa tidur.
Kalau menelfon Aldi, masih jam tujuh di sana. Lala bahkan memasang jam dunia di layar utama handphone nya.
Sudah kebiasaan Lala untuk menatap jam dan memikirkan sahabatnya. Lagi pula kalau dia ingin berpacaran dan kalau begini keadaan nya bisa saja hubungan mereka sudah berakhir.
Lala menekan layar hp nya. Bahkan Lala sudah akan menekan tombol call, tapi dia urung niat nya.
__ADS_1
Brrttt…
Ponsel Lala bergetar.
Lala tersenyum.
"Panjang umur juga," ucap Lala sambil mengangkat cepat.
"La, lo masih marah?"
Lala berdehem.
"Di, gue kangen."
"La gue kangen."
Keduanya terdiam. Bagaimana bisa dipikiran mereka bisa sama-sama.
"Cie, makanya buruan sembuh dan kesini." jawab Lala memecah keheningan. Pasti Aldi sedang salah tingkah. Sayang sekali, Lala melewatkan menyaksikan wajah Aldi.
"Tunggu aja, cerewet nya gak ilang," kekeh Aldi.
"Kemarin itu.. Hp gue lowbet, sory ya, Di."
Mereka bertukar cerita lama sekali, sampai Lala sadar kalau sudah lewat satu jam. Ternyata ceritanya kalau versi cetak sudah jadi buku.
"Oh, ya. Di, udah malam. Gue boboo, ya," ucap Lala sambil menahan kantuknya.
"Oke, good night." ucap Aldi menahan tawa.
***
Aldi menatap ponselnya. Nadin datang membawa bungkusan bubur. Yups, Nadin menjadi pelayan Aldi saat ini, walaupun mereka sering bertengkar bahkan hanya untuk hal-hal sepele.
"Di, lo, makan dulu gih." Nadin menyodorkan bekal makanan kepada Aldi.
Wajah Aldi terlihat berseri-seri. Mungkin saja dia menang game online.
"Saran lo emang bagus, Din," ucap Aldi terlihat semringah.
"Saran yang mana?"
"Jangan nyerah gitu, lagian juga Lala kan suka sama lo," ucap Nadin saat menyadari kalau dia benar benar ahli dalam dunia mak-comlang.
Aldi hanya nyengir dan melanjutkan menyantap sarapan buatan kaka sepupunya.
"Dulu, waktu kecil, lo gak sejelek ini deh. Perasaan waktu lo umur lima tahun, pas gue SD kelas 4, lo masih agak unyu dikit."
Aldi menutup kotak makanan, masih menjadi misteri, kalau memiliki sodara sepupu yang dekat, dia selalu menafi' kan ke gantengan kita. Aldi mendengus sebal.
"Belum pernah makan sandal, ya, kak." Aldi meletakkan tempat makanan di atas meja.
Nadin cekikkan sendiri. Menjaili adek sepupunya memang seru.
"Oh iya, om Hendra sama tante Nia, balik ke Jakarta tadi, jam 6." Nadin berusaha berbaikan lagi dengan Aldi.
"Oh, emang kenapa?"
__ADS_1
Nadin mengacak rambut adik sepupunya, baginya Aldi adalah adiknya yang berharga. Keluarga Aldi memang banyak yg mengoleksi anak tunggal. Di keluarga Lala, hanya Lala dan anak dari adik mama nya yang hanya punya satu anak.
"Eh, gue mau ke kampus dulu, babay."
"Yaudah, sono pergi. Ganggu aja." ketus Aldi.
"Klau gue gak datang, lo juga bakalan mati kelaperan. Emang bisa lo merangkak ke kantin?"
Aldi mengibas tangan, malas berdebat lagi. Jika Nadin masih tinggal saja, dapat di pastikan bahwa cewek itu bakalan membuka sesi tanya jawab dadakan.
Nadin melangkah pergi dan menuju kampus nya tercinta.
***
Aldi sudah menjalani pengobatan selama beberapa bulan. Waktu berlalu dengan cepat. Aldi juga sudah memutuskan akan kembali ngampus lagi. Ternyata Aldi memilih mengikuti saran Nia agar tetap di New York dengan kakak sepupunya dan menyelesaikan S1 nya di kampus yang sama dengan Nadin.
Walaupun banyak yang terjadi belakangan ini, Aldi tetap menyimpan Lala sebagai orang yang tidak tergantikan.
Aldi mengambil handphone nya dan mendial nomor Lala. Hari ini Aldi sudah kembali ke apartemen nya, bersebelahan dengan milik kakak sepupunya.
Ponsel Lala tidak aktif, mungkin saja poskonya sedang ada kegiatan. Aldi menatap sepupunya yang datang dengan mobil. Aldi segera ikut sambil mencoba istirahat.
***
Lala duduk manis sambil menatap hasil karya mereka. Hari terakhir di posko, ramah tamah untuk acara perpisahan anak KKN.
Panggung sederhana dan beberapa kerajinan mahasiswa. Enam belas orang anak mahasiswa di bantu oleh warga desa. Kemarin om Juna juga membantu berbelanja sekalian dengan yang lain.
Heiji menghampiri Lala. Sepertinya dia barusan selesai menelfon pacar ya. Heiji meminta Hanz yang akan menjemput mereka besok sore.
Acara penutupan jadwal KKN berjalan lancar sekali. Lala masih duduk di dekat panggung di lapangan desa dengan beberapa anak KKN lain nya. Jam sudah menunjukan pukul 23:10 wib.
"Hoy, ayok balik. Kata om Juna, besok warga saja yang mencopot panggunya. Barang-barang jangan lupa di kemas, ya."
Bagas mengarahkan sekuat tenaga teman-teman nya yang hanya asyik berselfie, walaupun banyak juga yang memungut sampah dan mengatur perlengkapan. Tapi, Selfie adalah salah satu hak wajib cewek.
Lala kebagian job memungut sampah. Langkah kaki di sebelahnya membuat Lala menoleh. Rupanya Adel. Dia berbeda posko dengan Lala.
"Mau bantuin?" tanya Lala.
"Yoi, eh, besok setelah agenda pulang boleh liburan kan? Gue mau cuti." keluhan Adel di sambut cekkikan Lala.
"Yoi, gue juga."
Hari sudah sangat larut, mereka bersegera kembali ke posko. Yang membawa perlengkapan naik mobil dengan bagas. Mawar, anak posko dua juga pintar mengendarai mobil, dia mengurus masalh pick up perlengkapan.
"Seandainya gue naik mobil aja tadi," keluh Ldya.
"Padahal masih muat tadi," ucap Afif menimpali.
Mereka pulang rame rame seperti zombie. Kerja seharian membuat mereka ngantuk berat.
Saatnya melepas beban dengan pulang dan segera tidur. Besok masih butuh kerja ekstra untuk berkemas.
***
Bersambung….
__ADS_1