Nyebellin

Nyebellin
#42 You Never Alone


__ADS_3

...Menjalani hari dengan sendiri memang sepi, terlebih jika terbiasa melakukan banyak hal berdua. Tapi, jangan sampai keadaan membuat mu lemah....


...Lala~...


Setengah bulan setelah kepergian Aldi ke Amerika. Lala masih sibuk mengurus banyak hal untuk KKN nya. Mengingat dia akan pergi KKN ke desa Mbah nya, membuat Lala kegirangan. Walaupun Aldi tidak lagi datang merutukinya dengan panggilan gembel, onyet, ataupun sebagainya, Lala masih menjalani hari-harinya walaupun sempat mengurung diri beberapa hari di kamar dengan alasan sakit badan nya kumat.


Hari ini setelah selesai membereskan keperluan nya. Lala memasukkan semua barang nya kedalam koper dan pastinya Heiji akan berbaik hati meminjamkan pacarnya untuk di jadikan babu, minimal sampai terminal.


Lala memandang handphone nya. Apa kabar sahabat nya itu, bahkan Aldi tidak pernah mengirimkan nya pesan.


"Huh, dasar sombong!" keluh Lala.


Lala menyimpan kembali handphone nya.


"Kapan mau berangkat, Sayang?" tanya Ega.


"Belum tahu ma, sekitar beberapa jam lagi keknya." jawab Lala.


"Jangan lupa bawa hadiah dari mama ke mbah mu ya, kardus nya jangan di lupa. Ingat, nanti papa mu marah," pesan Ega.


Lala mengangguk. Ega masuk ke kamar Lala, sepertinya dia harus melihat dan memeriksa sendiri bawaan anak nya yang manja.


"Udah sedia semua, kah?" tanya Ega.


"Iya mah, udah kok."


"Kamu KKN nya mengajar di SD dekat rumah Mbah kan?" tanya Ega.


"SD di sana kan cuma satu mah, lagian di kelas ku di bagi dua. Jadi 16 orang bakalan ke desa Mbah. Aku tinggal di rumah Om Juna,"


Ega mengingat-ingat, sepupu dari suami nya pasti. Bahkan Ega hanya mengingat saudara kandung suami nya saja. Sepupu dari suami nya banyak yang tidak dekat dengan nya.


"Eh, mama kok bengong sih?" ucap Lala.


"Gak, mama cuma ingat kampung papa mu saja," jawab Ega. Tidak sepenuhnya bohong.


"Oke lah, mah, aku mau tanya Heiji dulu."


Lala segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat kepada sahabatnya.


[Ji, kapan datang di rumah gue? Kita kumpul disini aja. Ntr barengan ke terminal]


Sengaja mereka naik bis ke desa, padahal bisa saja temn nya membawa mobil, tapi Lala yang mengusulkan. Nanti om Juna akan menjemput mereka di perbatasan.


Mengingat KKN ke desa membuat Lala mengkhayal kan seperti di film horror bioskop yang sempat booming. Lala bergidik sendiri.


***


Lala duduk di samping Heiji. Perjalanan mereka akan memakan waktu tiga sampai empat jam. Benar-benar membosankan.


Beberapa anak-ank kelas PGSD sibuk dengan dunianya sendiri. Lala hanya menyumbat telinganya dengan earphone dan mendengarnya dengan Heiji.


"Eh, Ji, lo ngak lupa bawa barang lo kan? Dah lengkap kah?" tanya Lala.


Kebiasaan Heiji jika ketinggalan barang nya, dia akan berisik seharian. Lala harus antisipasi.


"Udah kok, lagian Hanz gak bisa gue bawa juga." Lala memutar bola mata malas. Teman nya bucin nya lagi kumat.


"Gue mau tidur dulu. Jangan berisik ya."


Lala memperbaiki posisinya. Jalanan ke desa lumayan sudah bagus. Beberapa pohon rindang menaungi setiap sisi jalan. Benar-benar asri dan tenang.


Heiji mengambil cemilan nya. Lagu random dari handphone Lala menemani perjalanan membosankan mereka.


"La, ayok ganti lagunya. Di hp gue banyak lagu kpop." Heiji mencolek Lala. Tapi, sahabatnya itu enak banget tidurnya. Seperti alam mimpi milik sendiri.


Heiji mencabut earphone dari handphone Lala dan memindahkan ke handphone nya.


Pilihan Heiji tertuju pada lagu 'some' lagu yang emang sangat Heiji suka.


Sepertinya Lala tidak keberatan karena dia tidak bereaksi sedikitpun. Heiji menatap sahabatnya yang sepertinya lebih kurus dari beberapa bulan lalu. Peristiwa jatuh dari atap membuatnya lebih kurus dari saat sebelum itu.


***


Lala memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut. Rasanya badan nya sangat sakit karena tidur sambil duduk.

__ADS_1


Lala mengambil tas nya dan beralih ke mobil yang menjemput mereka. Ada tiga mobil. Lala masuk di mobil om Juna. Bawaan mereka di taruh di mobil pick up yang biasa dipakai om Juna untuk mengantar jualan ke kota.


Om Juna yang menjadi kepala desa adalah pebisnis sembako. Mobilnya saja ada tiga. Jadi yang tinggal akan di jemput belakangan. Karena Lala sudah kecapekan jadi dia memilih duluan.


Lala kembali melanjutkan tidurnya. Heiji hanya menatap heran sahabat nya. Memang aneh bin ajaib. Lala bersandar di bahu Heiji sambil menguap pelan.


"La, lo tukang tidur bat," gerutu Heiji.


"Gue bosan Ji," jawab Lala sambil berbisik.


Mereka tiba di rumah om Juna. Heiji, Ana, Sefry, dan Bagas, segera mengambil barang mereka.


"Bagas karena sendirian cowok, jadi dia di gudang aja." usulan Sefry di sambut tawa yang lain sedangkan Bagas hanya menerima nasib nya.


Tasya, Ldya dan Afif baru turun dari mobil belakang dan ketiga nya segera mengambil barang dan ikut masuk. Rumah om Juna sangat luas.


Sisanya sedang di jemput. Karena tidak semua tinggal di pos satu. Ada dua posko KKN. Enam belas di bagi dua jadi semua delapan per posko.


Karena anak om Juna sedang kuliah di Yogya jadi kamar nya di tempati Ana, Sefry, Heiji, dan Lala.


Kamar tamu di tempati bagas sekarang dan kamar kosong satunya di tempati oleh Afif, tasya dan Ldya.


Lala yang tiba langsung merebahkan diri dan tidur cantik.


"Woy La, kita ngak boleh langsung tidur. Kita mau kumpul dulu bahas jadwal. Gimana sih."


Heiji sangat pusing mengurus barang dan juga sahabatnya yang berubah menjadi koala. Beruntung Lala tidak ikut tidur di punggung Heiji. Kalau beneran, bakalan berabe.


"Eh, kita antrian mandi dulu. Kalian rapiin barang dulu. Sore nanti kita jalan-jalan."


Sefry mengarahkan teman nya sebagai yang paling dewasa. Sementara kordes mereka. Si Bagas, mungkin sudah sibuk sendiri dengan dunia nya.


***


Hari kedua berada di kampung, Lala mengajak Heiji dan Bagas mengunjungi mbahnya. Setelah pamit dengan yang lain mereka berjalan kaki menuju rumah kakeknya yang emang tak terlalu jauh dari rumah om Juna.


Bagas yang membawa kardus isi titipan mamanya dan Heiji hanya membawa tas selempang kecil.


"Gue jadi babu kalian ya," keluh Bagas.


"Bukan, kan lo cowok jadi.. Lo harus bantu kita. Biar langsing juga," jawab Heiji.


"Tuh rumah hijau, rumah mbah gue."


Kedua teman Lala langsung semringah. Ternyata Mbah nya sedang duduk di kursi rotan sambil membaca buku.


"Kakek, eh Mbah, Lala kangen!" seru Lala.


Plok.


Kepala Lala di tepok dengan buku.


"Datang itu salaman, yang sopan." Lala hanya menyengir dan memamerkan giginya.


"Nenek mana sih?" tanya Lala.


Memang hanya Lala yang memanggil kakek nenek. Semua orang memaklumi saja. Karena Lala lebih sering mengikuti teman nya memanggil kakek dan neneknya.


"Oh, Nenek mu lagi ke pasar. Riand sudah telfon Mbah kemarin."


"Oh iya, ini teman aku, Bagas dan Heiji."


Keduanya langsung menyalin tangan Mbah dengan sopan. Lala mengambil kardus dari bagas dan menyerahkan ke kakeknya dan menyuruh keduanya ikut masuk.


"Lo bar-bar banget jadi cucu," protes Bagas.


"Lala emang punya cara hidup sendiri. Jangan di protes, kalau gak mau idup lo kelar," jawab Heiji sekaligus memperingati Bagas.


Bagas merasa pilihan mengikuti dua preman ini adalah kesalahan. Pasti kalau tinggal di psoko dan makan siang dengan masakan bu Erna-istri om Juna, pasti lebih enak.


"Jangan bengong, yok masuk."


Heiji kembali menarik Bagas yang seperti kehilangan roh.


Ruhiya-Nenek Lala kembali, Lala segera menyambut nenek nya. Sudah beberapa tahun tidak bertemu membuat Lala sangat kangen.

__ADS_1


Setelah di buatkan minuman. Sesi yang membuat bagas seolah hidup lagi. Lala sudah menghilang sejak tadi.


"Nek, Lala kemana ya?" tanya Bagas.


"Oh, biasanya dia ke belakang lihat bunga mawar, koleksi tantenya banyak di belakang."


Bagas mengangguk. Heiji bangkit dan meminta izin mengikuti Lala. Neneknya mengangguk, Heiji lewat dapur ke belakang melihat sahabat nya.


Lala duduk dan memotret berbagai macam bunga.


"Lo pernah main kesini gak barengan ma Aldi."


Lala tidak menoleh.


"Belum, kalau Aldi balik dari Amerika gue bakalan ajak ke sini."


Lala menarik nafas pelan. Dia benar-benar kangen dengan Aldi. Sudah lama tanpa kabar.


"Kangen dia ya? Gue aja lagi kangen ma doi gue."


Lala membenarkan Heiji, apakah semua orang yang pacaran akan sebucin Heiji atau emang sahabatnya ini yang kelewat bucin.


"Bunga nya cantik banget ya," seru Heiji dan ikut seperti Lala. Bisa dipastikan insta story bakalan penuh kembang.


"Lala, ajak teman mu makan dulu."


"Siap nenek ku sayang," jawab Lala.


"Oy ayok makan siang. Bentar kita mau kenalan sekolah kan."


Heiji mengekori Lala, walaupun dia belum puas dengan hasil bidikan kameranya.


"Jangan khawatir, kapan kapan kita main kesini lagi." Lala menarik Heiji.


Setelah melewati makan siang yang enak semua pamit pulang ke bali ke posko untuk pengenalan sekolah. SDN 47


(hanya dalam novel)


"Eh La, lo beruntung bat punya kakek dan nenek penyayang, lah gue."


"Lo kenapa emang?" sambar Bagas.


"Nenek gue tukang marah-marah. Gue jamin, lo bakalan masuk THT kalo tinggal bareng."


"Kualat Lo, Ji," semprot Lala.


Heiji hanya menyengir.


"Pulang nanti lo harus minta maaf," saran Bagas.


"Udah wafat," cicit Heiji.


"Hiks, ntar malam jangan tidur ma gue. Ntar nenek lo gentayangan." ucap Lala.


Heiji hanya mengumpat. Lala dan bagas tertawa, giliran Heiji yng di bully.


Lala menyadari bahwa dia harus terbiasa tanpa Aldi. Walaupun dia benar-benar merindukan Aldi. Mau menghubunginya pun ngak bakalan sampai. Aldi jelas jelas sudah menggunakan no lain.


Mungkin Aldi yang tidak berusaha menghubungi Lala lagi. Padahal Aldi tau semua tentang akun Lala.


"La, lo jangan murung gitu, lo gak pernah sendirian," ucap Bagas, "karena di samping lo, ada setan," sambung nya.


"Apa sih, Lo," lala menipuk Bagas dengan tasnya.


Heiji berjalan ke arah bagas dan menjewernya.


"Lo, hantu nya."


Yah, tentu saja, Lala tidak pernah sendirian. Ada banyak sahabat nya disini. Lala harus fokus sekarang dengan masa depan nya.


**


...Bersambung…...


...Jangan lupa vote dan komen ya, untuk mendukung tulisan saya....

__ADS_1


...Love sejuta.....


...Alichia^^...


__ADS_2