
...Kalau di masa depan ada yang menghalangi ku memandangmu. Jangan pernah salahkan perasaan ku yang tak rela hanya untuk penolakan....
...Lala~...
Manhattan Sabtu malam..
Setelah selesai berjalan-jalan dengan Nadin, Dania, Sam, dan Aldi, mereka kembali agak sore. Tapi Aldi menculik nya lagi di hari berikutnya.
Yups! mereka sepakat akan berkencan, karena Lala dan Aldi akan kembali hari Senin ke Indonesia. Besok Aldi akan mengurus beberapa keperluan termasuk berakhirnya sewa apartemen. Mungkin mengambil ijazah bisa di musim gugur nanti. Aldi akan kembali ke New York.
Lala berjalan-jalan dengan Aldi mencoba mencari destinasi terbaik untuk kencan mereka. Sesuai janji Aldi saat di malam wisudah Lala, dia akan membawanya ke pasar malam. Lala meminta naik ke bianglala, Aldi ingin mencoba bermain naik perahu dorong dan sebagainya.
pasar malam ini di berlakukan di hari sabtu jam enam sampai malam di musim semi, tiket masuk nya geratis, jadi menghemat.
Lala tidak ingin bermain perahu dorong, mengingat betapa horor nya filem thailand yang dia nonton, walaupun hanya dia nonton lewat yutub, itupun dia tidak tahu judunya. setidak nya membekas di kepala Lala.
"Mau main apa dulu?" tanya Aldi. Pasar malam ini bukan hanya pasar malam biasa, lebih seperti di acara musim panas di filem-filem, hiruk pikuk manusia serta bau makanan dari makanan olahan berbagai belahan dunia.
"G-gue takut yang perahu dorong, nanti gue jatuh, belum sempat nulis surat warisan."
"Ngak usah nulis surat warisan. Tabungan lo ngak banyak amat buat di warisin," kekeh Aldi. Lala tidak terima dan menjitak kepalanya.
"Eh maksud gue, wasiat," cicit Lala meralat ocehan sebelum nya.
Aldi tertawa melihat pacarnya yang parnoan. Aldi berniat mengerjai nya tapi tidak tega, mungkin lain kali saja.
"Hei, ayok naik bianglala dulu, gue beli tiket nya di sana."
Aldi tidak lagi membahas wasiat-wasiat Lala, lagipula Aldi tidak ingin kehilangan kekasihnya itu. Mungkin sedikit egois, bahkan dengan takdir pun dia berat hati.
Sementara menunggu Aldi membeli tiket, Lala berjalan ke penjual es krim, pilihan nya jatuh di es krim greentea dan coklat.
Lala hanya tahu kalau biasanya cowok lebih memilih coklat dari pada es krim warna pink. Padahal memakan nya tidak perlu pilih warna.
Aldi menghampiri Lala sambil dan menunjukkan tiket. Lala menyodorkan es krim coklat ke hadapaan Aldi.
"Gue mau yang greentea," ucap Aldi.
"Lah, ini punya gue, tau."
Lala mengambil es coklat dari Aldi dan menukar dengan miliknya. Aldi terkekeh pelan dan memakan es krim nya menuju bianglala.
"Yok." Aldi menggenggam tangan Lala menuju bianglala.
__ADS_1
Dari kejauhan lampu kelap-kelip menghiasi malam di kota New york, pasar malam bergaya taiwan ini memang selalu ramai, pasar malam yang hanya berada di Queens, Corona park. Tahun pertama di buka di tahun 2015 dulu.
Beberapa jajanan makanan dari eropa dan timur. Lala juga menikmati kebab turky, rasanya sangat menyenangkan makan makanan berbagai negara.
Beberapa wajah Asia, Eropa, bahkan wajah seperti Arab, kerap di jumpai di sini. Aldi dan Lala berangkat dengan kereta bawah tanah, pengunjung pasar dapat naik kereta api 7 dan turun di halte 111 th Street.
Dari stasiun, berjalan ke selatan untuk empat blok di 111-th Street, lewat di bawah jembatan penyeberangan, kemudian akhirnya akan melihat gedung New York Hall of Science di tepi Flushing Meadows Corona Park, di sudut 111 th Street dan 45 th Avenue. Pasar Malam terletak di tempat di belakang gedung.
Aroma yang menggugah selera menyeruak di penciuman Lala. Setelah naik ke bianglala, keduanya berjalan bergandengan menuju stand makanan jepang. Mereka duduk di kursi di samping penjual.
"Disini murah-murah, loh. Biasanya setiap makanan berharga 5 USD," kata Aldi menyumpit sushi nya.
Lala hanya mengangguk, lagian yang mentraktir kan Aldi. Lala menatap pacarnya itu sambil tersenyum kecil.
"Kenapa senyam-senyum?" tanya Aldi heran.
"Hari senin udah balik ke jakarta. Kan?" tanya Lala mengubah topik pembicaraan.
"Iya, besok gue masih mau ngurus beberapa," jawab Aldi.
"Gue mau jalan-jalan sendiri di sekitar Brooklyn." Lala menatap Aldi yang seperti berpikir.
"Gak mau gue temani?" tanya Aldi.
"Jangan bilang mau keliling sambil bawa tulisan 'lagi me time' kayak di rumah lo." Aldi terkekeh pelan. Dia juga melihat tulisan di depan pintu kamar Lala.
"Ish, dasar, lo." Lala memalingkan wajahnya.
Aldi tahu banget cara membuat Lala dongkol setengah mati.
"Ayok, jalan-jalan. Kita beli manisan." Aldi menggandeng tangan Lala berkeliling. Membelikan nya boneka, walaupun tidak terlalu besar.
***
Lala masih berkemul di tempat tidur, bahkan Nadin sudah membangunkan nya tujuh kali. Semalam Lala baru pulang jam sebelas malam. Sampai di apartemen pun dia masih heboh bercerita dengan Heiji lewat vidio call.
"La, lo bangun. Sarapan dulu." Nadin masih setia membangunkan calon adek ipar sepupu nya. Ahh mungkin itu masih terlalu dini.
"Eh, kak Nadin. Gue masih ngantuk. Huhuhu." Lala terus saja mencari posisi nyaman nya. Padahal matahari sudah masuk dan sebentar lagi akan memanggangnya.
Beberapa menit, Nadin masuk kembali dan membangunkan Lala.
"La, gue mau keluar dulu, makanan ada di meja. Ambil aja kalau lapar. Ya," seru Nadin.
__ADS_1
Lala bangkit dan mencuci muka, kepalanya jadi sakit karena over tidur. Lala harus mandi dulu.
Tidak butuh berjam-jam mandi, Lala kembali ke dapur dan melihat nasi goreng di atas meja. Lala mengirim chat kepada Aldi, mungkin saja cowok itu juga belum bangun.
[Ke apartemen sebelah, uy]
Lala kembali meletakkan ponselnya dan melahap nasi goreng nya. Suara bel pintu membuat Lala beranjak. Aldi muncul dengan raut riang. Mungkin hanya Lala yang asik tidur-tiduran.
"Bangun jam berapa, lo?" tanya Lala.
"Jam enam," jawab Aldi. Matanya melirik jam dinding bulat di pintu dapur. Sudah jam setengah sepuluh.
"Jangan bilang lo baru bangun?" selidik Aldi.
"Nah, lo yang udah bilang." Lala tertawa kecil dan menyodorkan piring kosong. Toh, Aldi bisa mengambil sendiri di tempat nasi.
"Eh, barengan aja, sepiring." Aldi hanya megambil sendok dan makan dari piring Lala. Lala melotot, Aldi semakin manja saja.
"Ih, gue lagi pelit." Lala berbohong, dia hanya tidak mau membuat jantung nya senam pagi.
"Nanti di tambahin, gitu aja repot," Aldi tetap memasang mimik santai.
Mau tak mau Lala mengikut. Keduanya khuysuk makan dan tidak lagi bercakap. Setelah selesai makan Lala meninggalkan Aldi dan mencuci piring.
"La, beneran lo mau jalan-jalan sendirian?" Aldi masih mengungkit soal kemarin.
"Iyalah, masa boongan. Lagian sebelum gue pulang, gue mau ajak Heiji VC keliling Brooklyn doang, kok." Lala masih membelakangi Aldi.
"Okedeh, gue balik kamar dulu."
Lala mengangguk dan membiarkan Aldi keluar dari apartemen. Lala juga sudah selesai mencuci piring. Kali ini dia akan menghabiskan siang nya untuk nonton filem di kamar.
Lala mengambil ponselnya berjalan ke kamar, tidak sabar rasanya berjalan-jalan sendiri.
...Bersambung…...
**
Cafe tokoh*
Nadin: Ekhmm, akhirnya gue muncul di sini. Btw ceritanya gue kok jomblo mulu. Kapan gue punya gandengan coba.
Alichia: tanya kan pada rumput yang bergoyang. (kembali serius nulis part lanjutan)
__ADS_1