Nyebellin

Nyebellin
#50. Be My (Girl) Friend


__ADS_3

...Apakah kau tahu? Banyak hal di dunia ini lebih berpengaruh di tempat yang justru bukan asalnya....


...Nadin~...


New York 12 April.


05: 50 pagi


Aldi dan Lala masuk ke mobil taxi menuju Manhattan sambil menyeruput minuman yang dia beli dari drink machine di lobi apartemen nya. Dari kejauhan langit Manhattan belum benar-benar bebas dari kerlipan lampu, gedung pencakar langit dan suara klakson dari jalan raya memang sangat memadati suasana kota yang sebentar lagi akan menjadi pagi. Kota New York memang sering di juluki kota tanpa istirahat.


Aldi pagi sekali pergi ke Universitas New York (NYU), sahabat nya itu yang berinisiatif berjalan-jalan pagi, walaupun tidak benar-benar dalam artian jalan pagi, mereka memang harus naik taxi atau kereta. Bahkan Nadin pun belum bangun saat mereka berdua pergi.


Lala pasti akan sibuk nantinya berfoto di depan air mancur buatan, selebihnya banyak pepohonan yang menghubungkan ke aula utama kampus teknologi. Jadi Aldi tidak takut meninggalkan sahabatnya itu, dia tidak akan di curi, secara dia tukang nyusahin orang. Makan nya banyak.


Lala benar-benar terpukau dengan pemandangan New York, wajahnya begitu kentara mengagumi kota, bahkan Aldi ingin melemparnya dengan botol Coca-Cola kosong di tangan nya. Sepertinya, hari kedua di New York membuat Lala lupa kalau dia sempat sakit saat pertama datang.


Sebenarnya Aldi tidak ingin pagi sekali ke kampus utama, dia harus menempuh perjalanan subuh dari Brooklyn ke Manhattan, walaupun cuma 28 menit kurang lebih. Kampus utama NYU (New York University) berada di Manhattan. Lebih tepatnya di Greenwich Village, Manhattan. Jadwal tidur Aldi berkurang lagi.


Mereka tiba sekitar jam enam lewat. Lala harus bersabar menunggu beberapa jam nanti, karena Aldi akan wisuda di Auditorium kampus utama NYU. Tentunya Lala tidak ikut masuk, dia hanya menunggu Aldi di luar saja nantinya.


"Oy. Sistem kuliah disini gimana, ya?" tanya Lala penasaran. Walaupun Lala sudah kelar s1 tapi dia masih suka penasaran dengan cerita kuliah diluar negri.


"Buka google aja," jawab Aldi sok sibuk dengan HP nya.


"Jelasin dikit kek," desak Lala sambil duduk di bangku taman dan bersandar di bahu Aldi. Mereka seperti anak nyasar dengan wajah asia nya.


"Intinya awal masuk itu, kita harus tinggal di asrama, itu akomodasi yang di sediain kampus, tapi sebenarnya itu kalau masih Maba kek di Indonesia, kalau udah berlanjut ke semester tiga ya, cari tempat tinggal sendiri. Trus jadwal masuk itu ada gelombang dua musim," ucap Aldi.


"Musim kemaru sama musim hujan?" gurau Lala.


"Yeay, itu mah musim lokal," protes Aldi.


"Berarti disini musim impor," jawab Lala.


Aldi mencubit pipi Lala gemmes. Aneh-aneh emang teman nya ini. Bahkan impor dan lokal tidak benar-benar menjadi antonim. Mungikin karena orang sering mengatakan hal serupa


"Oh iya, kalau s1 namanya Bachelor atau undergraduate?" tanya Lala bingung.


"Sama aja, nyet." Aldi heran melihat Lala yang benar-benar tertarik dengan kuliah disini. Kalau Aldi tahu, dia sudah menyuruh Lala saja yang ambil beasiswa jurusan dan kuliah di sini.


"Kek senang banget, ya. Lo kok ngak ada capek-capek nya ngomong," keluh Aldi.


"Gue kan cewek, banyak ngomong mah bebas." Lala membela diri.


"Semerdeka, lo." Aldi bangkit dari duduknya


"Eh kita jalan-jalan bentar, yuk. Wisuda lo masih lama juga," usul Lala.

__ADS_1


Aldi mengangguk dan menggandeng tangan Lala keluar dari gerbang utama.


Mereka berjalan menuju kafe dekat jalan raya cafe dengan nuansa dekorasi remaja. Aldi memesan americano dan cappuccino. Aldi lebih suka kopi original sebenarnya dari yang dibuat dengan campuran susu atau cream.


"Eh, disini yang mana sih, tempat shooting filem batman? Kapan-kapan kita ke New Jersey, yak, lo pernah nonton filem Hollywood biasanya lewat sana kan, atau kita ke Washington DC tempat nya residen evil." Lala terus bercerocos panjang lebar.


Aldi hanya mengamati Lala dan memasang wajah mengantuk, lagipula Aldi benar-benar mengantuk.


"Iya, nanti kita sekalian ke kediaman Barack Obama, atau gue titip aja lo di gedung Trump tadi, buat sumbangin lo jadi pengurus panti khusus kemanusiaan, anggap sebagai perwakilan dari Indonesia. Eaa terharu, kan?" ucap Aldi ngaur.


"Enak aja. Lagipula gue ngak pintar banget bahasa inggris, jadi sekarang gue angkat lo sebagai penerjemah pribadi gue, terharu, kan?"


"Nyusahin," jawab Aldi tak acuh.


Aldi kesal sekali, Lala meniru gaya bicaranya yang sebenarnya dia kutip di filem kartoon lokal. Dia sempat melihat di iklan.


"Kalau gue nyusahin, kenapa lo bawa gue ke sini, nyet?" tanya Lala ketus.


"Gue kangen jailin lo tiap hari." Aldi mengakui bahwa dia benar-benar senang dengan kehadiran Lala.


"Eaa, jadi sekarang gue masuk lima besar gadis berpengaruh di hati lo," canda Lala.


"Tiga besar juga lo ada, kok," gumam Aldi, Lala kurang dengar jelas dan hanya terkekeh.


"Tulip yang lo kasi masih ada di dapur rumah, semoga aja ngak layu, gue taro di vas, sih." Lala mengingat bagaimana Aldi memanggilnya sayang membuat nya merona.


"Kena matahari pagi," jawab Lala.


Aldi hanya manggut-manggut dan menyeruput kopinya. Sebenarnya dia tidak memberikan arti khusus ke bunga-bunga yang ia beli secara sfesifik dia hanya membeli bunga tulip berdasarkan saran Nadin, dan dia hanya melihat secara poin besar bukan filosofi khusus nya. Sama seperti saat Aqil membelikan untuknya bunga mawar agar di berikan kepada Lala. Kalau Nadin tidak lambat mengatakan arti mawar adalah bunga cinta sejati atau murni, biasanya dipakai untuk pelamaran, Aldi pasti sudah menyuruh Aqil membeli pilox sekalian. Bukan apanya, masa pelamaran nya pake perwakilan, kan kurang sreg aja.


"Gue searching di google, nih, arti bunga-bunga menurut ahli bunga. Katanya nih… Bunga tulip putih itu buat bela sungkawa…" Lala menatap Aldi dengan kesal. Akan tetapi dia masih saja meneruskan membaca.


"... Bunga tulip putih juga di jadikan sebagai permintaan maaf." Aldi hanya menopang dagu membiarkan Lala bercerocos lebih lama.


"Tidak hanya itu, kamu juga dapat menaruh karangan bunga dengan berbentuk buket saat melangsungkan pernikahan. Sebab, bunga ini memiliki simbol ketulusan cinta yang mendalam serta kesucian."


Lala menutup sesi browsing nya dan segera menyeruput kopinya. Bagian terakhir membuat nya agak gimana. Aldi tersenyum dan kemudian tertawa kecil melihat Lala salah tingkah.


"Yang gue tahu, bunga tulip itu pertama kali ada di musim semi dan negara yang mengakui bunga itu dari belanda dan turki, tapi sebenarnya bunga nya tuh aslinya dari tuki, se-family dengan bunga lily, bunga tulip bisa di lambangkan sebagai persahabatan, cinta, kasih sayang, kesuksesan, perasaan dan kemakmuran," ucap Aldi.


"Wahh tau banyak juga, lo, jadi lo kasi gue karena apa?" tanya Lala penasaran.


"Karena semuanya, paket lengkap," ucap Aldi membuat Lala salah tingkah.


"Alah, ternyata lo bisa juga romantis, ye."


"Ngak tau aja sih, lo."

__ADS_1


Lala tersenyum, Aldi benar-benar membuatnya senang. Dia mungkin harus memberitahu perasaan nya walaupun Aldi memang seperti nya sudah tahu.


"Di. Gue suka, lo," ucap Lala.


"Ya iyalah, kalau lo ngak suka bareng gue, ngak mungkin ikut kesini."


"Ish, merusak suasana." Lala yang canggung tiba-tiba gondog di buat nya.


Aldi tertawa pelan sambil menatap Lala lama. Lala mengalihkan penglihatan nya ke jendela. Tatapan Aldi membuat wajahnya memerah.


"Yaudah kalau lo suka gue, kita pacaran aja deh, oke gak?" tanya Aldi.


Lala melongo, sepertinya dia salah satu cewek yang caranya jadian sangat jelek, tidak ada kata-kata romantis, hanya di temani secangkir cappuccino dan beruntungnya dia ada di salah satu kota dalam list favorit nya.


"Kok bengong?" tanya Aldi. Aldi mengibas tangan nya membuat Lala berdehem kalem.


"Yaudah, ayo. Kok serasa lagi main taruhan."


"Haha, taruhan sampai tua, gimana?" tanya Aldi lagi.


Lala mengangguk, Lala masih berharap kalau di lamar nanti semoga lebih romantis. Aldi mengambil handphone nya dan seketika sibuk. Lala jadi kesal sendiri.


"La, ayok balik ke kampus, udah mau jam delapan, kita ke asyikan ngobrol," ucap Aldi.


Lala mengangguk, setelah membayar tagihan Aldi menggandeng Lala kembali ke kampus.


"La, lihat kesini deh." Aldi menarik Lala mendekat dan berselfie.


"Ahh, ini bakalan jadi profil WhatsApp gue," ucap Aldi memuji hasil bidikan nya.


Lala mengambil ponselnya dan melihat profil Aldi. Padahal dia rasa mukanya agak buram karena terpapar matahari.


"Gue pergi dulu, tungguin gue, jangan nakal. Bentar lagi ortu gue juga datang. See you." Aldi mengacak rambut Lala sambil menjauh pergi ke gedung fakultasnya.


***


Bersambung…


****


Cafe Tokoh*


Lala: Di, keknya author jarang up hari jumat. (Meneguk minuman)


Aldi: katanya dia lagi fulltime kuliah. Jangan gosipin, nanti dia ngamuk. (Berbisik)


Author: gosipin gue lagi? Huh! (melempar catatan)

__ADS_1


Aldi ke Lala: tuh kan, dia beneran ngamuk..


__ADS_2