Our Voice

Our Voice
10. Kenyataan Yang Tidak Terelakkan


__ADS_3

...Bab 10...


...—Kenyataan Yang Tidak Terelakkan—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Detik pada jam digital yang menempel di atas pintu kaca lift kerap berubah seiring waktu.


Sekarang kami berada di dalamnya—hanya berdua—hingga lift ini membawa kami naik menuju atap gedung. Di samping itu, desain interior yang melengkapi tembok lift juga terkesan alami—seperti melihat hutan—dan bersahabat dengan mata.


Aku tidak tahu bagaimana caranya kami diizinkan masuk, mengingat bangunan megah ini adalah sebuah gedung perkantoran. Kami pun masuk melalui lobi utama yang dijaga oleh dua petugas keamanan, tetapi mereka justru terkesan baik kepada kami, seolah-olah memberi penghormatan.


“Rasanya tidak nyaman.” Secara tidak sengaja perkataan itu terucap dari lisanku.


“Tunggu-tunggu, kau tidak takut ketinggian, kan?” Gadis itu perlahan mendekatiku, selangkah demi selangkah.


“Aku hanya tidak senang dipantau.” Bola mataku menyorot kamera pengawas dengan infrared yang berkilauan di bawah lensanya. Benda mungil itu terletak di sudut atas lift, dan dalam sekejap aku kembali mengalihkan pandanganku pada gadis tersebut.


Gadis itu menyadari kecemasanku. “Hanya itu saja? Ada-ada saja kau ini.” Setelah berkata demikian, ia kembali berpindah pada tempatnya. Posisi kami pun berjauhan lagi, seperti saling mendorong tembok yang berlawanan.




Lantai lift terbuat dari pelat baja. Indikator angka lantai pada monitor berukuran kecil menunjukkan perubahan nomor 67, 68, 69, 70 ....


Gerak naik kami ke atas seakan-akan tidak ada ujungnya.


Aku mengantuk, pikirku.


Hari ini, rasa kantuk sudah menyerang badanku sebanyak tiga kali. Mungkin saja nantinya aku akan terlelap di atap gedung, tidak peduli dengan keadaan matahari yang tengah membakar kota.


Tiba-tiba getaran mulai terasa di permukaan lantai. Gerakan lift yang naik secara vertikal perlahan melambat, diikuti monitor yang menunjukkan lantai 84 dengan tambahan teks Rooftop di bawahnya. Saat itu juga, pintu lift mulai terbuka, seperti mempersilakan kami keluar untuk menatap panggung besar di atas langit-langit dunia.


“Ya, kita sampai!” Gadis itu berlari meninggalkanku. Ia kemudian mendekati dinding balkon abu-abu setinggi tiga setengah kaki, dan wajahnya meluap-luap dengan kegembiraan. “Ayo ke sini. Lift itu sebentar lagi akan turun,” katanya dengan riang.


Ketika lisannya yang lembut bergema di indraku, hal tersebut lantas mengingatkanku pada pertemuan kami di halte sebelumnya.


Tidak, lupakan itu.


Sekarang aku bergegas keluar dari pintu lift.


“Tunggu sebentar ....” Aku perlahan mendekatinya, seraya menarik ritsleting tasku dan meraih sesuatu yang berada dalamnya. “... ini untukmu.” Kusodorkan box es krim itu kepadanya, sambil mengingat tindakan pemerasan yang terjadi di belakang layar.


“Maaf, tapi aku tidak suka es krim.” Dia mendorong box itu lekat-lekat kembali padaku.


Ini sedikit mengecewakan, tetapi seharusnya aku bertanya dulu tentang apa yang dia suka sebelum membelikannya, pikirku.

__ADS_1


“Hmm ... tapi sepertinya, sekali atau dua kali tidak masalah.” Kedua tangannya lantas menyambar box es krim itu lagi dariku, kemudian mengambilnya dengan senyum yang membangkitkan rasa banggaku. “Aku menghargainya. Terima kasih banyak karena sudah membelikan ini, senang sekali rasanya.” Suara gadis itu bergema, seperti senandung yang menghadirkan keceriaan di setiap lini kehidupan ini.


“Ah, itu ....”


“Tidak perlu berlama-lama lagi, aku sudah tidak sabar menantikannya.” Gadis itu mulai terpejam sambil membuka tudungnya, lalu ia menundukkan wajahnya dengan perlahan.


"Dia?" Aku tidak tahu lebih lanjut.


Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?


Beberapa saat kemudian, sensasi udara yang aneh di sekitar atap gedung—dingin dan berwarna biru—kembali terasa.


Ini persis seperti di jalan tempat kami pertama kali bertemu waktu itu.


Untuk sesaat, aku tetap mengamati gerak-geriknya. Rambut gadis itu pun terayun-ayun setelah deru angin berembus dengan halus. Kilauan warna matanya yang kebiruan sangatlah indah, dan tubuhnya yang ramping membuat semua itu terlihat seperti saling melengkapi.


“Tolong datanglah ...,” gumamnya sambil mendongak ke atas langit.


Begitu gadis itu kembali membuka matanya, hawa dingin di sekitar kami seketika lenyap, seperti ditarik ke atas.


"I–ini bercanda, kan?" Sorot mataku melebar, tepat setelah memalingkan pandanganku ke arah apa yang gadis itu lihat.


Batinku kerap kali berbicara mengenai ketidakpercayaan, rasa keingintahuan dan keraguan pun turut bersatu dan membentuk sesuatu yang tidak pernah aku sangka-sangka.


Di atas sana, jauh dan mustahil digapai dengan ujung tangan, aku melihat sesuatu.


Itu cukup sulit untuk dijelaskan.


"Tolong katakan kalau ini hanya rekayasa atau semacamnya."


Hal-hal seperti ini tentu tidak ada, tetapi benar-benar terlihat di depan mata. Apalagi setelah gadis itu menunjukkannya dengan jelas.


Sekarang pikiranku semakin dibuat sulit untuk berpikir logis.


Ini bukanlah CGI pada sebuah film; bukan pula dunia fantasi pada novel ringan, atau bahkan khalayan yang biasa dibayangkan oleh anak-anak. Namun, semua yang terlihat di sini adalah kenyataan yang sulit untuk diterima akal sehat bagi siapa pun yang melihatnya.


Di atas sana aku melihat sesuatu yang hidup—bergerak turun dari langit biru yang kekal. Itu adalah sekumpulan angin yang bergerak dengan tenang, biru, dan warnanya pun sama dengan mata gadis itu.


Angin yang membentuk gumpalan-gumpalan organ itu terlihat sangat banyak, dan aku tidak mengerti alasanku bisa menghitungnya. Masih di atas sana, angin-angin itu kemudian perlahan berkumpul, menyatu dalam harmoni, lalu membentuk sebuah kepala, diikuti dengan anggota tubuh lainnya seperti badan bersisik, sepasang sayap yang dibentangkan, ekor panjang bergerigi, serta kaki dengan cakar mengilap. Wujudnya juga terlihat sangat besar, dan makhluk itu terlihat seperti naga angin.


Ilustrasi CGI ini benar-benar membuatku bergidik.


“Wahh, dia datang, senangnyaa ....” Senyum gadis itu kian melebar, seperti puas dengan sesuatu yang baru saja dia panggil.


Apa ini nyata? Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang dalam salah satu bagian kecil di otakku yang digunakan untuk berpikir.


Di lain sisi, aku bahkan tidak bisa membayangkan apakah diriku saat ini harus merasa kagum atau tercengang; fenomena ini nyaris membuat akalku terbelah karena bingung.


Naga angin itu kemudian perlahan bergerak turun. Ia mulai melintasi ruang-ruang kosong di antara gedung-gedung tinggi kota, dan—

__ADS_1


“Ikut aku sekarang!” Gadis itu menggenggam tanganku dengan kuat.


Ketika ia menarikku kembali ke dalam lift, aku bisa merasakan jika udara yang amat dingin itu kembali menguat, dan itu semua terasa di dalam jari-jemarinya yang halus.


Di dalam lift yang beranjak turun, ia tersenyum puas. "Sudah percaya? Aku sudah menunjukkannya, lho; aku bisa membuatnya," katanya.


"Aku percaya," sahutku tanpa ragu.


“Ini pertama kalinya aku melakukan itu. Padahal tadi aku tadi sudah pesimis.” Gadis itu menggelengkan kepalanya.


Huh? Aku harus apa? Mengadakan acara syukuran untuknya? "Sepertinya itu hebat ...." Aku tidak mengetahui bagaimana sulitnya membuat mahkluk itu seperti apa, tetapi setelah melihat kebahagiaan yang terlukis pada wajah gadis tersebut, ini pasti sebuah pencapaian yang besar baginya.


“Jadi, seperti apa?” tanyanya lagi.


“Maksudmu?”


“Yang kau lihat di atas sana; kau pasti mengetahuinya, kan.”


Aku mengatur napas dan berusaha untuk tenang. “Ya, kau tahu, seekor naga ... dan ya, kurasa itu terbentuk dari sekumpulan angin yang menyatu—kau yang membuatnya juga.”


“Waah, kau benar-benar melihatnya ternyata, ya?" Ia terus menggoyangkan kedua bahuku, dan lama kelamaan itu semakin keras.


“Eh?” Aku sedikit terkejut saat dia kembali bertanya seperti itu. Apa mungkin ekspresiku menunjukkan keraguan baginya?


Akan tetapi, ketika aku melihatnya kembali, semangat gadis itu seolah sedang bergejolak hebat. "Karena tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya, jadi aku rasa hanya kaulah satu-satunya orang yang bisa melihat keajaiban itu sejauh ini."


Tidak seorang pun? Sungguh? tanyaku dalam hati. "Ke–kenapa?"


"Jangan tanya aku, tapi mungkin ...." Gadis itu menjabat tanganku. "... lupakan itu dulu. Kita belum berkenalan, bukan? Jadi, namamu, namamu ...."


Jantungku naik turun, genggaman tangannya yang hangat dan dingin secara bersamaan seolah menyumbat lubang tempatku berpikir. “Hi–hiro.”


“Aku Yuna, dan kau adalah teman pertamaku sampai saat ini.”


“Eh—serius?”


Sungguh, Gadis bernama Yuna itu jelas sangat cantik. Namun, dari apa yang baru saja dia katakan itu seperti menepis pesonanya.


“Ini kenyataannya, karena aku memang tidak boleh berteman dengan sembarang orang,” ujarnya sambil terkikik.


“Kenapa?”


Gadis itu kemudian melepas tanganku, lalu ia kembali mengenakan tudung jaketnya.


Setelah semua yang berlalu, pandangan Yuna kembali padaku.


“Itu rahasia,” katanya.


...———...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2