
Episode 40
Apa Yang Terjadi Dengan Pikiranku?—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
Raku dan Miro—kedua anak kecil yang sebelumnya bertikai itu akhirnya kembali damai. Mereka sekarang berlari menuju mesin gim lainnya dan meninggalkan kami dengan ucapan, Terima kasih, Kak! secara kompak.
“Bagaimana pendapatmu, Yuna?” tanyaku.
“Ya, senangnya melihat mereka kembali berbaikan.” Yuna menatapku dari sudut matanya, sambil tersenyum kecil. “Meski kita tidak tahu apa yang akan selanjutnya terjadi pada mereka, tapi sekarang mereka seharusnya tahu itu.”
“Tahu itu?”
“Ya.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, hmm ....” Yuna meletakkan tangannya di atas jok mobil tiruan mesin gim balap tersebut. “Intinya jangan sampai ribut lagi hanya karena hal yang sepele, bukan?” Mata gadis itu pun berkelap-kelip karena disambar layar gim yang bercahaya.
Yuna sangat jarang berkeringat. Sejak saat pertama kali kami bertemu, aku baru melihatnya sekali, tepat waktu gadis itu berada di tempat Kak Aina—markas organisasinya yang begitu bagus dan memilukan. Kenapa, ya? Entah bagaimana, tetapi aku ingin melihatnya kembali berkeringat. Tunggu—jangan memikirkan yang aneh-aneh, Hiro! tegasku dalam hati.
⠀
“Sepertinya memainkan yang satu ini akan jadi menarik,” gumamku sambil melirik papan meja yang lebar di hadapan kami. Di permukaan meja tersebut terdapat garis-garis dan lingkaran dengan pola yang rumit, tetapi pola-pola itu sebenarnya terbagi rata atas sisi kiri dan sisi kanan yang saling berlawanan.
Selain itu, di atas meja yang tampak licin dan mengilap tersebut juga terdapat balok papan padat yang menggantung. Di sana tertulis judul, Air Hockey yang terukir di bagian depan dan belakangnya dengan jelas. Oh, berarti ini permainan meja hoki yang sedang menarik perhatianku, tidak salah lagi.
Aku tahu gim yang satu ini— salah, maksudku, sepertinya aku tahu sedikit bagaimana cara memainkannya.
“Kamu mau main ini?” Yuna gemar sekali membaca pikiran yang sedang tebersit di kepalaku.
“Ya.”
“Kalau begitu, ayo main!” sahutnya.
“Ah, baiklah.”
Kami berlari dengan lincah menuju masing-masing bagian ujung meja, kemudian langsung memegang mallets pemukul bercat merah yang berdiri di tengah-tengahnya.
“Sepertinya kamu tahu cara mainnya.” Yuna berteriak padaku.
__ADS_1
“Tidak terlalu, tapi ....” Diam-diam kulirik lubang hoki yang berada persis di bawah mataku, dan lubang itu juga tampak tidak terlalu lebar. “... kita hanya perlu memasukkan pin hoki itu ke dalam lubang lawan agar bisa menang, kan?”
“Benar!”
“Eh?” Sebuah keberuntungan? Aku hanya menyimpulkannya secara blak-blakan, jika harus berterus terang.
Aku lantas mengalihkan pandanganku pada monitor yang berkedip biru di bagian tepi meja diriku. Layar kecil itu menunjukkan dua baris kata simpel yang bertuliskan Player 1 dan 0. Aku rasa baris kedua itu pasti indikator yang menunjukkan skornya, dan itu kemungkinan terbesarnya.
“Baiklah, siap?” Aku bisa merasakan semangat Yuna yang sedang menekanku, padahal dia belum melakukan apa-apa sejauh ini.
“Siap!” jawabku, mencoba menyamai semangatnya juga.
Demi tiket dan boneka yang gadis itu inginkan, maka darinya, kali ini perolehan tiket atas pemenang permainan ini harus jatuh ke tanganku!
⠀
“Kau hebat juga, Yuna ....” Bahuku naik turun, jantungku meloncat-loncat ( seperti ingin keluar ), dan tempo bermainku sepertinya perlu diatur ulang kembali karena terlalu banyak bergaya saat memukul pin hoki tersebut. Akan tetapi—
“Wah, aku kalah.” Yuna terkikik sambil memejamkan matanya. “Apa kamu suka olahraga sebelumnya?”
“Lumayan, sih.”
“Tapi kamu jago banget, lho ... sebenarnya selama ini baru kamu yang mengalahkan aku dalam salah satu permainan di sini.”
“Eh?”
“Bukannya kau juga baru datang ke kota ini?”
“Kamu pikir tempat seperti ini cuma ada satu di dunia?” Yuna refleks menepuk keningnya.
Setelah menyadari itu, aku terbahak-bahak sambil menutup mulutku. “Aku hampir lupa itu.” Namun, di tengah-tengah gelak tawa itu aku kembali berpikir jika, Hei! Apa tadi dia baru bilang kalau baru aku yang mengalahkannya? Itu artinya ..., pikirku dalam-dalam sambil menatap gadis itu dengan mulut melongo. ... gila, berarti aku benar-benar jago, dong? Wah! Memikirkan itu saja sudah membuat setengah dari kesadaranku hanyut terbawa udara.
Dia lagi memujiku, kan, ya? Ya, kan? Duh, senangnya, tambahku dalam hati.
⠀
Karena Yuna berpikir jika diriku lebih baik bermain dengan hal-hal yang berbau olahraga, sekarang dia memutuskan untuk membawaku ke game arcade yang berjudul Street Basketball. Dilihat dari namanya dan setengah lusin bola basket yang menumpuk di dalam pagar besi otomatis saja sudah cukup menjelaskan maksud dan tujuan gim ini dibuat.
“Kamu pasti mau main ini juga, kan?” Yuna memasukkan koin ke dalam lubang mesin gim tersebut, kemudian suara intro seperti seseorang yang sedang memantulkan bola basket pun mulai berdetak.
“Tentu saja!” seruku dengan percaya diri.
Kami bermain bersama dengan mode ganda, melempar bola-bola basket yang menggelinding secara terurut dari pagar besi yang lambat laun terbuka menuju ring yang menempel di tembok mesin tersebut. Angka yang tertulis pada papan penunjuk skor itu pun selalu berubah setiap setengah detik ( saking cepatnya ).
__ADS_1
“Hei, Hiro.”
“Apa?”
“Kira-kira, Pak Fujima sudah pulang?”
“Belum.”
“Eh ...!” —Yuna menahan basket yang sebelumnya ingin dia lempar—“Kenapa begitu?”
“Dia sedang berkunjung ke rumah anaknya,” jawabku, sedang tatapanku semakin menguat pada ring basket tersebut.
“Berarti mereka tidak tinggal bersama?” Yuna kembali bersemangat. Bahkan dia sekarang jadi lebih cepat dariku; seolah-olah mengejar semua ketertinggalannya.
“Kurasa begitu.”
“Tidak pernah bertanya alasannya?”
“Aku, hmm ....” Saat itu juga, hal demikian kembali mengingatkanku pada senyum Pak Fujima yang memudar ketika aku menanyakan pertanyaan yang identik dengannya. “... tidak tahu juga, sih.” Sampai sekarang pertanyaan itu juga masih menjadi misteri yang belum bisa kupecahkan.
“Mungkin akan berat, ya, bahasannya?”
“Kayaknya begitu.”
“Oke, deh.” Ketika Yuna melakukan lemparan terakhirnya, pagar besi otomatis itu pun kembali bergegas turun dan mengurung setengah lusin bola basket tersebut.
“Olahraga itu memang menyenangkan, ya?” Yuna mendengus untuk melepas penat, begitupula denganku. Mungkin, lebih tepatnya kami melakukannya secara bersamaan.
Aku tidak tahu arti dari skor yang menunjukkan 150 tersebut, tetapi tiket yang keluar dari mesin gim basket ini seolah-olah tidak pernah berhenti.
“Wah, kita dapat banyak, nih, aku jadi semakin pengin itu!” Yuna berjongkok sambil meratapi rentetan tiket yang keluar dari lubang yang berada di bawah tempat seseorang hendak memasukkan koin.
“Pengin itu?” tanyaku kembali.
“Ya ....” Setelah Yuna berkata demikian, pada akhirnya tiket-tiket itu berhenti menyembul keluar. “... aku mau boneka yang waktu itu, ingat, kan?”
“Ingat, dong.” Aku segera memeriksa berapa tiket yang sudah terkumpul dari ketiga mesin gim yang sudah kami mainkan bersama di dalam tas belanjaan yang kupegang. “Eh, berapa, ya?” Tiba-tiba aku linglung sendiri.
“Mana, coba aku lihat.” Yuna mengangkat sedikit badannya dan berusaha mengintip isi tas belanjaan tersebut. “Pantas saja kamu pusing, Hiro.” Gadis itu menghela napasnya, seperti tidak habis pikir.
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :)...
__ADS_1