Our Voice

Our Voice
27. Dugaan Dan Pemeriksaan


__ADS_3

...Diperankan Oleh...


...Hiro Sato...


...* * *...



“Maaf? Untuk apa kau melakukan itu?” Ia mengangkat tasnya setinggi dada. “Hal itu bahkan tidak apa-apanya dibandingkan ini.”


“Apa anda serius?”


Wanita tua itu kembali tersenyum. Ia mendekatiku seraya merogoh sesuatu dari dalam tasnya. “Kau tahu ini?” tanyanya, sambil menunjukkan boneka hello kity berukuran sedang.


Penyesalanku kembali pada tempatnya, setelah melihat noda-noda sampah yang menempel pada mainan menggemaskan itu.


“Hei, jangan terus bersedih seperti itu.”—Nenek itu kembali memasukkan bonekanya ke dalam tas. “Terkadang, hal-hal yang tidak terduga pasti akan terjadi, bukankah begitu, anak muda?”


“Ya, aku rasa begitu.”


“Boneka itu sebenarnya akan aku berikan kepada cucuku. Dia memintaku untuk mendapatkan itu hanya dari game mesin capit boneka,” tuturnya, sambil tergelak senyum. “Ya ampun, ini sebenarnya sangat menyebalkan.”


Rupanya, Nenek mendapatkan itu dengan cara yang tidak mudah. Maka sekarang, aku berniat untuk menggantinya dengan yang baru. Mungkin saja di dompetku masih tersisa sedikit uang untuk membelinya, jadi ini pasti akan baik-baik saja.


“Aku akan—”


“Tapi, karena inilah aku senang berusaha untuknya.” Nenek itu lalu mendekap tasnya di dada.


“Kenapa?”


“Tidak peduli jika pemberianku itu rusak atau semacamnya.” Wanita tua itu mendongak ke langit, cuaca di atas sana saat ini sangatlah bersih.


“Tapi jika itu sudah ada di hadapannya, dia akan selalu tersenyum dan memelukku, tidak lupa juga dengan ucapan terima kasih manis yang selalu dia ucapkan.”


“Oh ....” Mungkin sudah lama tidak mendengarnya, tetapi hatiku tersentuh saat Nenek itu mengatakannya. Apa yang ia katakan sangat tulus, dan itu sangat mirip dengan Pak Fujima.


“Maka dari itu”—Wanita tua itu kembali melirikku —“Di sanalah aku bisa merasakan kehangatan saat hari-hariku dulu sama seperti dengannya.”


...* * *...



Ini semua belum berakhir.


Di dalam kantor polisi yang terletak dekat dengan mall pertigaan yang kami lewati sebelumnya, aku dan Kak Ryuji masih harus menjalani pemeriksaan. Walau hanya sebagai saksi mata, tetapi ini sangat mendebarkan. Selain itu, ruangan interogasi kami terpisah, dan dia persis berada di sebelah ruanganku.


“Berdasarkan laporan saksi mata, pria tersebut diduga mabuk dan langsung terjatuh karena pingsan.” Polisi tersebut mengganti lembarannya. “Tetapi setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata pria tersebut sebelumnya tidak meminum alkohol atau semacamnya.”


Aku menjatuhkan mataku ke meja, tidak tahu harus berkata apa. “Se–sepertinya begitu,” tuturku, dengan ragu.

__ADS_1


“Tahu sesuatu tentang itu?”


“Tidak.”


Tiba-tiba, sorot matanya kembali berpindah padaku, sangat tajam. “Apa anda ketakutan?” tanyanya lagi, tetapi kali ini terdengar lebih tegas.


Aku berusaha melakukan pembelaan. “Tidak, karena— ya, aku ... memang tidak ... berbuat salah ....” Akan tetapi, kata-kataku berantakan. Mungkin ini memang karena tatapannya yang mengerikan.


Tiba-tiba, dia kembali tersenyum. “Di mana kartu identitasmu? Anda bukan warga kota ini, kan?”


“Tunggu sebentar.” Tanganku merogoh identitas palsu yang berada di dalam dompetku, lalu mengulurkannya dengan santai kepada polisi tersebut.


Setelah beberapa waktu ia memeriksanya, kartu itu akhirnya kembali diberikan kepadaku.


“Tenang saja, anda bukan tersangka,” katanya, sambil berdiri. “Baiklah, silakan keluar; pemeriksaan anda telah selesai.” Mulutku sedikit terbuka setelah mengetahuinya.


Hanya saja, sekarang aku bisa menghembuskan napasku karena lega.



Beberapa saat kemudian, gemuruh suara lalu lintas kembali terdengar. Itu akan selalu padat di siang hari, dan tidak akan pernah berhenti.


Saat pandanganku kembali menoleh ke belakang, terdapat beberapa unit mobil patroli yang masuk melewati palang pintu otomatis. Namun, bukan itu yang terpenting. Hal yang patut disyukuri adalah akhirnya kami bisa menghirup udara segar di depan kantor polisi tersebut.


“Huh, yang tadi hampir saja,” gumam Kak Ryuji, seolah mengekspresikan keluh kesahnya.


“Eh”


“Kenapa?”


“Menurutmu bagaimana, huh?” Saat dia menunjuk wajahnya, aku bisa melihat tatapan kosongnya yang bermakna. Ya, jelas saja. Pria besar itu juga merasakan hal yang sama denganku.


“Aku kira Kakak sudah terbiasa,” kataku, sambil tergelak.


Kak Ryuji menghela napasnya. “Selain itu, dia lebih banyak mengomentari apa yang aku pakai dibandingkan kejadian tadi. Apa dia punya masalah dengan itu?”


Untuk sesaat, sepertinya memang benar jika fokus pertanyaan polisi itu lebih ke sisi personal Kak Ryuji.


Bagaimana tidak? Saat ini seragam polisi gadungan dari organisasi yang dia kenakan sangatlah ketat, dan hampir saja pusarnya mengintip dari bawah. Aku harap yang menginterogasi Kak Ryuji sebelumnya bukanlah seorang wanita, guyonku dalam hati.


“Tapi, bagaimana dengan Yuna?” Pertanyaan itu terkesan sangat tajam, seolah-olah mengikis senyumku.


Sebenarnya, setelah peristiwa di gang buntu itu, Kak Ryuji datang dan langsung memintaku untuk membawa Yuna ke restoran Pak Fujima, sedangkan dia akan membawa pencuri itu ke kantor polisi.


“Ah, itu ....”


Sedih untuk mengingatnya. Akan tetapi, saat ini Yuna sedang berada di dalam kamarku; terbaring dalam kondisi yang tak sadarkan diri.


“Masih sama seperti sebelumnya.”

__ADS_1


“Belum ada perkembangan, ya.”


“Ya.”


Tiba-tiba Kak Ryuji menepuk bahuku. “Aina mengkhawatirkannya, jadi beritahu kami kalau dia sudah baik-baik saja, mengerti?” ujarnya, sambil melewatiku. “Aku mengandalkanmu, Kawan.”


Pria besar itu kemudian pergi meninggalkanku.


“Hei, kak, aku lupa mengucapkannya.” Aku bergumam, berharap Kak Ryuji kembali menatapku.


Akan tetapi, ternyata itu tidak terjadi. Maka darinya, kali ini aku hanya bisa berkata, “Terima kasih atas bantuannya, Kak Ryuji,” tambahku, sambil tersenyum tipis.


Angin sepoi-sepoi tiba-tiba berhembus dari arah depanku, melambai-lambai dengan halus.


“Yuna?” Entah bagaimana, tetapi aku bisa merasakannya.


Mereka, seolah-olah memintaku untuk segera kembali kepada gadis itu—saat ini juga.


...* * *...



Aku memindahkan bangku yang bersandar di meja belajar yang terletak di sudut kamar, menuju kasur tempat Yuna berbaring. Gadis itu sampai saat ini masih belum sadarkan diri, dan aku yang duduk di sebelahnya sekarang semakin cemas.


Apa kau tidak mau bangun, Yuna? Kau itu belum makan sejak tadi, gumamku dalam hati, mengingat waktu sudah menunjukkan senja. Sudah waktunya matahari untuk kembali terlelap, dan bulan yang bersahaja telah siap untuk bangkit menyinari Kota Satsumi.


Tidak lama, aku mendengar suara pintu yang terbuka. Itu berasal dari belakang, dan aku mencium aroma masakan yang sangat khas.


“Apa dia sudah sadar, Hiro?” tanya Pak Fujima, dia datang sambil membawa nampan di kedua tangannya.


“Aku rasa belum,” jawabku dengan lemas.


Pemilik restoran itu kemudian menyunggingkan senyumnya. “Lalu, bisa tolong pindahkan barang-barang itu?” Sorot matanya menuding meja yang berisikan patung kuda mini dan lampu tidur yang telah bersinar sebelum waktunya.


Aku mengangguk, kemudian secara refleks menuruti permintaannya.


“Terima kasih, haha ....” Dengan perlahan, Pak Fujima meletakkan nampannya di meja.


Di sana terdapat bubur zosui dengan tambahan telur, beberapa potong wortel, sedikit daun bawang, dan tambahan kecap sebagai penambah cita rasa. Aku rasa Pak Fujima baru membuatnya, mengingat makanan tersebut masih mengeluarkan asap yang membumbung tinggi.


Akan tetapi, tidak lama setelah itu, aku melihat kelopak mata Yuna bergerak.


“... Yuna?” gumamku pelan.


“Hi ... ro?” Perlahan-lahan, gadis itu membuka matanya. Dari sekian pemandangan yang bisa dia pilih, tatapannya langsung tertuju kepadaku. “Di mana aku?”



...... Bersambung ......

__ADS_1


...Our Voice © 1 St Original Works...


...⠀...


__ADS_2