
...Bab 6...
...—Bergema Di Hatiku—...
...( Hiro Sato )...
...———...
Ramen ini belum habis. Namun, berkat rasa penasaran setelah kembali melihat gadis bertudung tersebut, tanganku refleks meletakkan 900 Yen ini di sebuah nampan kecil yang terbuat dari logam.
“Terima kasih banyak atas makanannya,” kataku kepada pemilik restoran itu.
“Tapi makananmu, tidak mau dibungkus?” Ia bergegas menghampiriku.
Hal ini lantas sedikit membuatku merasa tidak enak. Terlebih saat melihat senyumnya yang memudar ketika melihat sisa dari mangkuk ramen itu. Oleh karenanya aku berubah pikiran, dan berharap gadis itu belum pergi jauh dari restoran saat orang ini membungkusnya.
“Kalau boleh, aku mau makanan ini ....”
“Baiklah, tunggu sebentar!” Seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan kukatakan, pria tersebut dengan semangat mengangkat ramenku, lalu meletakkannya di atas nampan. Sekarang ia bergegas kembali menuju dapur.
Aku menghela napasku. “Ah, gadis itu ....” Sambil menunggunya, aku menarik kursi dan kembali duduk. “... apa waktu itu hanya perasaanku saja?”
Pandanganku kembali memantau teras restoran.
Di luar sana, lapisan jalan sangat hampa. Sejauh yang aku tahu, atau sejak pergi ke tempat ini, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Padahal lampu lalu lintas selalu berkelap-kelip sesuai ritmenya, seperti menjalankan tugas abadi. Kaca restoran yang mengapit pintu masuk restoran juga terlihat seperti layar teater ganda.
Selain itu, mengenai organisasi yang tadi sudah menyelamatkanku, sebelumnya aku lupa berpamitan kepada Kak Aina dan si besar itu. Ketika aku keluar dari kantor Ketua Morikawa, mereka tampak masih terlelap di atas meja dengan ekspresi wajah yang sedikit menjijikan. Jadi, tidak mungkin untuk membangunkan keduanya.
Ketua Morikawa juga sepertinya lupa memberitahuku; mengenai tugas apa yang sebenarnya mereka jalankan, berdiri untuk hal apa, atau visi misi apa yang organisasi mereka pegang. Kendati demikian, semua rasa penasaran yang aku buang jauh-jauh beberapa waktu yang lalu itu, seolah bergerak dan kembali datang. Bentuk penyesalan memang selalu seperti ini.
“Ini dia, punyamu ....” Pemilik restoran itu kembali dari tempatnya. Namun, ia mengulurkan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Sebentar, maaf. Saya tidak memesan lagi—“
“Terima saja, tidak perlu malu.” Lagi-lagi pria itu tersenyum. “Kau tidak bisa memakan makanan yang cita rasanya sudah berkurang, jadi anggap saja ini bonus.”
Hal yang membuatku tidak habis pikir adalah ia memberiku sebungkus ramen utuh.
Ini di luar dugaan.
Untuk itu aku menelan ludah, seakan-akan tidak memercayainya. Padahal aku baru saja berniat membuang sisa ramenku, tetapi dengan kebaikan pria ini, rasanya aku seperti baru berbuat salah.
“Terima kasih lagi atas makanannya. Aku, tidak akan melupakan kebaikan Anda.” Aku membungkukkan badan di hadapannya.
“Lain kali jangan sisakan makananmu. Kau tidak akan tahu jika berapa orang di luar sana yang membutuhkannya,” ucap pria itu.
Nasihat pemilik restoran itu seolah bergema dan mengetuk hatiku, diiringi senyumnya yang hangat.
⠀
⠀
Aku merogoh ponsel yang berada di saku celanaku; melihat displai jam di bagian kanan atas yang telah menunjukkan pukul tiga pagi. Tidak lupa juga, dua batang baterai tersisa di ponselku, dan rasa kantuk berusaha mengusung dalam kegelapan. Namun, aku tetap berjalan melintasi jalan penyeberangan yang hening.
"Ternyata aku kehilangan dia lagi," gumamku lelah. “Eh, tapi ini, bukannya ....”
Di sinilah kemarin titik terakhirku berlari saat polisi wanita gadungan itu—Kak Aina—mengejarku. Waktu itu, pada akhirnya di ujung trotoar yang akan berbelok, aku menabrak si besar itu.
__ADS_1
Sangat tragis.
Apa perubahan udara itu hanya kebetulan saja? Aku jadi ragu, pikirku, setelah melihat kursi jalan sepanjang 150 CM di sebelahku. Sebelumnya gadis bertudung itu duduk di sana.
“A–apa?”
Aku terkejut kencang, saat sebuah mobil membunyikan klaksonnya dengan keras di belakangku.
Ketika mobil itu melewatiku, aku bergumam, "Apa kau keberatan melihat pengguna jalan yang berjalan di trotoar?" sambil terus memandanginya dengan perasaan mengutuk.
Akan tetapi, kutenangkan diriku kembali. Mungkin dia juga memiliki masalah yang tidak terduga, siapa tahu.
⠀
⠀
Selanjutnya aku kembali berjalan dan berbelok dari tanaman hias di ujung trotoar itu.
“Badanku mulai menggigil ....” Aku kembali berhenti. Angin pagi yang berhembus di sekitarnya sekarang memang sangat dingin, dan itu membuatku berpikir untuk mengeluarkan sesuatu yang hangat dari tas.
“Sebentar, sebentar ... dan ....” Akhirnya kutemukan, tanganku meraih jaket bulu yang terbuat dari kulit domba.
Itu adalah pemberian paling berkesan dari kedua orang tuaku, di waktu ulang tahunku yang ke sebelas.
Setelah mengenakannya, aku kembali teringat dengan ritsleting yang sedikit terbuka itu. Oleh karenanya, aku berjongkok sambil meletakkan tas itu di trotoar, lalu memeriksa semua perlengkapanku yang tersisa.
“... yang benar saja?” Tidak salah lagi, prasangkaku ternyata benar.
Seseorang telah mencuri kotak waferku.
Bhak!
Seorang pria berkacamata hitam dengan rambut mohawk; tato tengkorak merah melekat di kedua tangannya—seperti kebanggaan, dan gelang rantai perak melingkar dengan rapat di lehernya baru saja melambungkan pukulannya lurus ke wajahku.
Seketika pukulan itu membuatku tersungkur, dan secara refleks aku berteriak, "Apa sebenarnya masalah anda?" Tulang pipiku bergetar—sakit menyebar dengan cepat.
Sepertinya orang ini sedang dalam pengaruh alkohol.
“Dengar bocah ingusan; aku baru saja diputusin cewekku!” teriaknya lantang, memekakkan telingaku. “Jadi aku ingin melampiaskan semua ini kepadamu; tunjukkan semuanya, cepat!”
Rasa gemetar mulai menjalar ke seluruh kakiku, tetapi dia—“Tidak, tolong, jangan ....” Aku berusaha memohon saat dia melirik bungkusan ramenku.
"Wah, ini makananmu? Pasti enak sekali rasanya, ya ...." Pria itu kemudian mengangkatnya, lalu melempar ramen itu ke udara dengan gerakan kaki yang seolah-olah bersiap melakukan sesuatu.
“Makan ini, Sialan!” Ia pun menendangnya, membuat ramen itu seketika berhamburan di seberang pembatas jalan setinggi tiga kaki.
“Kenapa anda ... tidak mendengarku?”
Aku tidak bisa melawannya. Pria bertato itu pasti lebih kuat dariku, dan aku hanyalah seorang pemuda tanpa kekuatan sihir. Ini bukan dunia fantasi yang sering anak-anak itu bicarakan, melainkan kenyataan yang pahit.
“Dengar, jangan dekati aku lagi; atau kau akan mati, bocah tengik!” ancamnya, padahal sejauh ini ialah yang baru saja mengguncang kedamaianku.
Sangat bodoh.
Untuk sesaat, pria itu menyeringai dengan lebar. "Dasar lemah," gumamnya.
Setelah semua yang berlalu, akhirnya ia berjalan meninggalkanku, tanpa menoleh. Tidak lama kemudian, pria itu juga mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyalakannya.
__ADS_1
Mungkin dia berpikir jika tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi saat ini.
Kota ini benar-benar .... Makananku, baik kotak wafer atau ramennya, semua hilang tak bersisa.
Aku memegang pipiku. Denyutan itu terasa semakin kencang. Luka lebam mulai menepis semangatku, dan aku terus menatap tajam orang itu tanpa berkedip sedikit pun.
Tidak lama, dia menghilang karena berbelok.
“Maaf, tapi aku gagal menikmati ramen anda lagi.” Jika pemilik restoran itu melihat makanannya baru saja dilempar, maka aku tidak tahu lagi bagaimana perasaannya saat ini. “Tempatku bukan di sini, aku harus mencari yang lain.”
⠀
⠀
Sepertinya, perjalanan di kota ini akan segera berakhir.
Aku duduk di kursi halte yang dingin dan hening, serta menikmati pemandangan matahari yang perlahan mengintip dari balik awan.
Tak tahu kenapa, tetapi rasa lapar sontak kembali bergumam melalui perutku. Fakta itu tidak terbantahkan saat mengingat setengah porsi dari ramen dini hari sebelumnya telah masuk memenuhi nutrisi tubuhku.
“Sakitnya, orang itu kenapa, sih?” geramku karena tidak habis pikir.
Seiring waktu, luka di pipi ini terasa semakin sakit. Parahnya lagi, mataku sudah tidak kuat lagi terbuka. Hawa kantuk itu pun mencoba-coba mengirimku ke dunia lain.
Namun, aku akan tetap menahannya hingga bus datang.
Kalau tidak salah, aku bisa ..., pikirku.
Tidak hanya uang, aku ingat kala Kak Morikawa sebelumnya memberiku beberapa pegangan. “Kurasa, aku bisa membacanya.” Aku mengeluarkan gulungan koran itu dari tas, lalu perlahan-lahan merentangkannya.
Di halaman utama, terlihat judul artikel bertuliskan Invasi Alien dari 1000 Pintu yang Bermunculan di Seluruh Dunia. Itu menceritakan bagaimana monster-monster yang manusia beri nama mereka sebagai alien itu berhasil menduduki bumi dengan ribuan portal ajaibnya.
Karena ini cukup menyenangkan, maka aku membalik halaman itu lagi. "Woah, ini ...."
Sekarang ada Sekelompok Kurcaci yang Menculik Buah Labu Sang Raja. Ketika aku menghayatinya, fantasi yang dihasilkan cerita ini sangat terasa, sampai-sampai membuatku tertawa lebar.
“Ya ampun, apa ini koran? Ini sih, bukan ....” Tawaku kian tak terkendali. Namun, semua itu berhenti ketika aku melihat judul yang aneh.
Sepertinya yang satu ini terlihat seperti pengalaman nyata yang dibuat oleh penulisnya.
"Menarik." Aku mulai membacanya dengan serius, seperti terbawa suasana.
Judul itu bertuliskan Legenda Gadis Pengendali Angin dan Rahasia Mereka.
Sungguh, setiap kalimat yang terdapat di dalamnya menekankan jika cerita ini seperti sebuah realita hidup. Aku tidak tahu berapa banyak penerbit itu membayar mereka untuk mengembangkan konsepnya, tetapi ini sangat ...
“Kau sepertinya tidak terlihat baik-baik saja.” Seseorang tiba-tiba mengajakku berdialog, sangat dekat, dan suaranya selembut kain wol.
Pandanganku saat itu masih terpaku pada koran.
Akan tetapi, kala aku memutuskan untuk mendongak, cahaya mentari kemudian bersinar dan menyorot wajahnya yang tertutup oleh tudung.
Tidak disangka, tetapi sekarang ini, gadis itu berada di hadapanku.
...———...
...Bersambung...
__ADS_1