
...Bab 19...
...—Bukan Yang Aku Harapkan—...
...( Hiro Sato )...
...———...
“Hei, Sato.” Pak Fujima sontak memelankan suaranya.
“ ... “ Aku mengangkat kepalaku sambil kembali menatap sesuatu yang berada di balik pandangannya. Itu jelas bukanlah sorotan kebahagiaan. “Apa ada sesuatu yang terjadi pada keluarga anda, Pak Fujima?”
Pertanyaan itu refleks keluar dari lisanku.
Pemilik restoran itu terdiam sejenak, kemudian tertawa tipis. “Ayolah, kenapa kau seserius itu? Aku jadi ikut terbawa suasana, kan.”
“Soalnya anda ....” Mau dilihat dari mana pun, anda tidak bisa menyembunyikannya, itu mustahil, pikirku dalam-dalam.
Tidak lama Pak Fujima menghentikan tawanya. “Kau lihat itu?” Dia menunjuk sesuatu yang menempel di atas tempat pemanggang daging. Itu adalah jam dinding dengan motif kucing berwarna merah muda. “Jam itu adalah kado ulang tahun untuk kami berdua.”
“Anda berdua?”
“Ya,” katanya. Kemudian Pak Fujima berjalan menuju pemanggang tersebut, lurus ke depan dan tidak menoleh lagi padaku. “Secara kebetulan, aku dan anakku berulang tahun pada tanggal dan bulan yang sama. Istrikulah yang memberikan kami hadiah ini.”
Saat aku hendak mengangkat lisanku, pria itu kembali berkata, “Tapi, lima hari setelah ulang tahun itu ....” Meski ekspresinya tampak tak terlihat, tetapi dari belakang sini tubuh Pak Fujima terlihat bergetar. Namun, tidak lama gerak-geriknya itu kembali normal. “... sesuatu terjadi pada dirinya.”
Aku berjalan mendatangi Pak Fujima, lalu berdiri di sampingnya. Tidak ada kata-kata yang terpikir di benakku, atau semua itu seperti membeku dalam balok es yang mengapung di ujung benua tak berpenghuni.
Pak Fujima lantas meremas celemeknya. “Tidak akan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengerti, tapi yang jelas ....” Dia melihatku dari sudut matanya, sedikit tersenyum. “Aku kehilangan dirinya karena hal tersebut.”
⠀
⠀
Malam hari sedikit berhembus lebih tenang kali ini.
Kedua lenganku bertopang pada pagar pembatas kali. Dilihat dari warnanya, sepertinya mereka semua baru kembali dicat segar. Selain itu, di sini tidak terlalu dingin, tetapi pernyataan itu pasti tidak akan bertahan lama.
Lima menit lagi kami akan bertemu di Kali Akamizu, dan sekarang aku datang lebih awal.
Terlebih ini sangat membuatku senang, entah kenapa, ya?
“Duh, kau cepat sekali datangnya, Hiro.” Yuna berjalan mendatangiku dari arah timur. Saat itu juga suara desisan kereta api yang memelesat di atas jembatan—di seberang kali—ikut terdengar.
__ADS_1
“Aku menang, Yuna. Aku datang lebih awal.” Aku memasang senyum penuh kemenanganku lebar-lebar di hadapannya.
Gadis itu mengelus dadanya. “Baiklah, apa yang kau mau? Burger? Dorayaki? Kentang? Atau ....” Di samping mendengarkan aneka pilihan makanan yang dia tawarkan padaku, aku lebih tertarik melihat pakaian yang dikenakan Yuna saat ini.
Dia menggunakan sweter dengan tudung yang menutupi wajahnya, dan sepatu LED yang menyala-nyala seperti biasa. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja itu membuatnya terlihat semakin imut.
“Hiro ...,” gerutu Yuna, wajahnya berubah cemberut.
“A–apa?”
“Pandanganmu aneh sekali.” Perlahan-lahan dia bergerak mundur, menjauhiku.
Sebentar lagi sebuah kesalahpahaman akan lahir.
Aku menutup mataku kuat-kuat sambil menebar argumen, “Aku hanya memerhatikan penampilanmu, sumpah. Tidak ada yang lain lagi!” Tentu saja aku tidak akan melihat sesuatu yang lebih intens darinya, kecuali jika kesempatan itu memang datang dan mendekat.
“Oh, begitu, ya.” Yuna mengerutkan dahinya dengan tatapan tajam, seolah-olah diriku ini masih terdefinisi sebagai ancaman baginya.
“Ya, jadi, sudah kau putuskan ingin makan apa?” tambahnya.
“Aku rasa ....” Tiba-tiba hanya makanan itu yang tebersit di kepalaku. “... aku mau dorayaki,” kataku sambil tersenyum.
“Eh, hanya itu?”
“Tidak, tidak! Uangku tidak akan cukup untuk itu,” teriaknya seperti mengumbar komplain. “Maksudku, jika hanya satu dorayaki itu pasti tidak akan membuat perutmu kenyang. Mungkin seperti, ya, kau tahu? Dua atau tiga, itu bisa lebih baik.” Saat Yuna menerangkannya dengan tergesa-gesa, wajahnya mulai padam dan memerah.
Aku ingin membawamu pulang jika bisa, Yuna; kau imut sekali, pikiranku yang kotor itu hampir mengancam kesucianku.
“Hiro, akhirnya kita bertemu lagi!” teriak seorang pria, suaranya datang dari arah yang berlawanan. Meski hanya pernah mendengarnya sekali, tetapi sepertinya aku tahu siapa dia.
Aku memutar badanku, bersiap menyapanya. “Benar, Kakak itu, hmm ....” Aku tahu, tetapi belum pernah menanyakan namanya sebelumnya.
“Kau bisa memanggilku Ryuji, senang bisa berjumpa lagi denganmu!” Pria besar yang baru saja menjawab pertanyaan tidak langsungku itu dengan cepat melingkarkan tangannya di bahuku, terasa sangat erat.
“Baiklah,” kataku.
Walau demikian, siapa sangka jika Kak Aina juga turut hadir di belakangnya. Ini tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan.
Wanita itu datang dengan tampilan yang agak normal untuk saat ini. Dia mengenakan topi fedora dengan kardigan panjang yang kedua sisi lengannya digulung sampai bagian atas sikunya. Meski begitu, Kak Aina tetap tampak seperti seorang preman, walau tidak dengan seragam polisi gadungan itu.
“Sepertinya ekspresimu menunjukkan kekecewaan yang mendalam, Hiro. Apa kami mengganggumu?” Bibir Kak Aina begitu merah dan basah. Namun, daripada menunjukkan ketertarikanku sebagai seorang laki-laki atau menjawab pertanyaannya yang menjebak, aku cenderung berpikir ke arah lain.
“Yuna,” panggilku.
__ADS_1
“Ya?”
“Kenapa dua orang ini hadir di tengah-tengah kita?” tanyaku tidak habis pikir, karena orang-orang aneh ini seharusnya tidak masuk dalam agenda pertemuan kami.
Yuna mendekatkan dirinya padaku, kemudian berbisik lirih, “Sebenarnya, pertemuan malam ini terjadi karena Kak Aina. Dia juga dengan senang hati membayar tiket keretaku, jadi mana mungkin aku menolaknya.”
“Eh!” Aku berteriak dengan sangat kencang, lalu kembali menutup mulutku yang sulit dikendalikan. Aku kira ini waktu yang tepat bagiku untuk merasakan itu lagi, gumamku dalam hati.
Aku memang terkejut, tetapi sebenarnya yang paling kupikirkan adalah saat diriku berhasil berdekatan dengan Yuna kembali. Kedekatan pertama adalah saat kami berbelanja di swalayan, dan yang kedua rencananya adalah ini.
Sukses besar, hebat sekali, tetapi kenapa aku jadi suka berpikiran seperti ini, sih?
“Berisik sekali, Hiro, kenapa kau sekaget itu, sih?” Kak Aina menutup telinganya dengan kedua tangan, sedangkan Kak Ryuji terlihat menyeringai. Aku tidak mengerti dengan tatapan aneh pria besar itu kali ini, sungguh.
“Hei, Aina?” Kak Ryuji melepaskan pandangannya dariku, kemudian berganti menatap Kak Aina. “Sepertinya kita baru saja mengganggu kencan sepasang kekasih ini.”
Kak Aina lantas menaikkan alisnya, senyumnya turut berubah sinis. “Oh, jadi dugaanku benar, ya? Kalau begitu kita harus—“
“Tidak benar!”
Aku dan Yuna berteriak secara bersamaan, sangat kencang, dan wajah kami berdua seketika memerah.
Bagaimanapun juga pernyataan sembrono itu tidak bisa ditolerir, maka kami hanya berusaha melakukan pembelaan dari argumen menyesatkan tersebut.
Kak Aina dan Kak Ryuji lalu terbahak-bahak. Bahkan suara mereka jauh lebih besar dari teriakan kami sebelumnya. Oleh karena itu, sekarang aku yang sedikit malu dengan beberapa pejalan kaki yang melintas di depan kami.
Setelah puas tertawa ria, Kak Aina akhirnya menyeka air matanya yang keluar. “Jadi, siapa yang datang lebih awal?” Wanita itu akhirnya kembali normal, sedikit membuatku lega.
“Hiro. Huft, padahal aku menginginkan bonus tambahan itu ....” Yuna menghela napasnya.
“Bonus tambahan? Apa maksudnya?” tanyaku heran.
Sebelumnya Yuna tidak mengatakan hal-hal semacam itu.
“Lho, dia tidak memberitahumu, Hiro?” Kak Ryuji memasang raut heran yang sama sepertiku.
“Tidak, aku sengaja meminta Yuna untuk merahasiakannya,” ujar Kak Aina sambil menepuk bahu Yuna.
Tidak perlu waktu lama, tetapi aku bisa tahu jika Yuna yang terdiam sedang merintih kesakitan berkat tepukan itu. Aku hanya teringat dengan kejadian kepala Kak Ryuji yang dipukul oleh Kak Aina sewaktu di markas mereka, dan ekspresi dari kedua korban ini tampak sama.
...———...
...Bersambung...
__ADS_1