Our Voice

Our Voice
29. Hari Berbelanja


__ADS_3

Bab 29


Hari Berbelanja—


...*****...


...~ Hiro Sato ~...


Malam hari kembali terbit.


Sejuknya udara gelap kembali terasa, langit tidak memercikkan panas, dan turunnya intensitas dari aktivitas masyarakat yang padat. Untuk suatu hal, tetapi pembicaraan kami bertiga sepertinya akan berlanjut lebih lama. Ini semua karena Yuna.


“Ini pastinya sudah menjadi yang kedua kalinya, Hiro.” Pak Fujima menggelengkan kepalanya. Ini merujuk pada kasus pria bertato dan seorang pria yang muncul dari bak sampah secara mendadak.


Saat di mengatakannya, tulang pipiku kembali terasa sakit. Namun, ini tidak seburuk kasus yang pertama. “Ya, aku cukup kesulitan menghindari itu; jadi mau bagaimana lagi ...,” jawabku, seraya berpikir jika hal ini mungkin sudah menjadi kebiasaan.


Yuna terbelalak. “Jadi alasanmu bisa seperti itu saat di halte ....”


“Ya.”


“Itu pasti akan menjadi pengalaman yang berarti bagimu, Hiro,” tambah Pak Fujima, dia terkikik saat aku mengakuinya.


“Padahal waktu itu aku mau mengobatimu, lho, tapi kamu menolaknya.” Yuna mendekap dadanya, sambil menghembuskan napas.


“Itu karena kita baru bertemu, dan kau adalah seorang gadis. Tentu saja itu akan—“


“Bilang saja kalau kau malu bertemu dengan gadis cantik­, Hiro. Itu terlalu bertele—“


“Tidak seperti itu, Pak Fujima!” bantahku keras-keras. Hanya mendengarnya saja membuat mataku hampir berair.


“Tapi sebenarnya aku merasa lega.” Pak Fujima kemudian mengusap dadanya.


“Kenapa, Pak Fujima?”


“Eh, ada apa?”


Aku dan Yuna, kami bertanya secara bersamaan.


“Kalian berdua anak yang baik. Jadi aku bersyukur karena sesuatu yang lebih buruk tidak terjadi pada kalian,” jelas Pak Fujima.


Untuk sesaat, arus udara yang berbeda kembali terlihat di sekitar Yuna. Mereka berwarna biru, dan kehadirannya seolah-olah menunjukkan rasa senang saat pemilik restoran tersebut mengkhawatirkan gadis itu, termasuk diriku.


“Tiba-tiba udaranya berubah dingin.” Pak Fujima menyilangkan tangannya di atas bahu.


“Benar juga; aku jadi pengen pakai jaket lagi.” Aku mengikuti tindakannya; berusaha membuat drama agar tidak ada kecurigaan yang terlintas di benaknya.


Lain daripada itu, Yuna sadar akan gerak-gerikku.


“Untung sejak tadi aku sudah pakai jaket,” ujarnya, sambil tergelak manis.

__ADS_1


Kami bertiga pun tertawa di atas meja makan yang kosong. Malam hari ini sepertinya akan menjadi salah satu malam terbaik yang pernah aku alami—Ya, aku sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini; berbaur dengan orang-orang yang mau menerimaku. Ini sangat melegakan.


Sementara itu, tiba-tiba terlihat satu keluarga yang masuk melewati pintu restoran. Pak Fujima refleks berdiri dari kursi kami. “Selamat datang di restoran kami; apa ada yang bisa kami bantu?” Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari lisannya.


“Aku ingin makan yang enak!” Anak kecil itu mengayunkan tangan Ibunya secara cepat, seolah melakukan protes.


“Iya, kita sudah sampai di sini, Sayang; tenang saja.” Wanita itu menjawab dengan tenang. “Ini adalah restoran terenak yang pernah Ibu dan Ayah datangi. Benar, kan, Suamiku?”


Pria yang berdiri di sebelah anak itu kemudian membungkuk. “Ini adalah perayaan ulang tahunmu, jadi kami akan berusaha memberikanmu yang terbaik, Hina,” katanya, sambil mengelus kepala anak itu.


Setelah mengamati semuanya, pandanganku kembali tertuju pada Yuna. “Mereka pasti telah menjadi keluarga yang sangat harmonis,” gumamku.


Yuna terlihat seperti mengabaikan pendapatku. “Tapi apa kamu tidak melihatnya?” Gadis itu menuding ke arah yang tidak terpikirkan olehku. Itu adalah tempat Pak Fujima berdiri, dan dia sama sekali tidak bergerak sejak dua menit yang lalu.


Rasa penasaranku mulai mengembang. Eh, kenapa dia? pikirku dalam hati.


Untuk sesaat, tatapan pemilik restoran itu terlihat berkaca-kaca. Namun, tidak lama semua itu menghilang, dan dia mulai bergerak untuk melayani keluarga tersebut.


...*****...



Keesokan harinya, kami pergi ke swalayan untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Namun, kali ini itu tidak berhubungan dengan kebutuhan restoran. Sekarang kami semakin dekat dengan salah satu tempat perbelanjaan tersebut.


“Apa kau benar-benar tertarik dengan itu, Yuna?” Aku bertanya dengan santai, meski hatiku terus-menerus berkata, Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika nanti fokusku pecah karena terus terpaku melihatnya, oh, Tuhan— tolong aku! Batinku jelas terlihat menggerutu.


“Aku sangat tertarik ....” Yuna memperlambat ucapannya, seolah-olah kami hidup di dalam dunia matriks. “Jadi kamu mau, kan, ngajarin aku?”


“Tentu saja.” Aku mempercepat langkahku. “Mungkin, sepertinya ....”


Yuna mengikutiku, dan saat kami kembali bersebelahan, dia mengangkat alisnya. “Kamu marah ya, Hiro?” Sejauh yang aku tahu, kali ini dia terjebak dalam kesalahpahaman.


“Huh? Itu terdengar aneh.”


“Eh, kenapa?”


“Entahlah, ayo kita lupakan saja.”


Tanpa sadar kami saling mendahului. Ini terjadi beberapa kali; seakan-akan kami sedang mengejar garis finish. “Kamu nggak mau ngajarin aku, ya ....” kata Yuna, dan suaranya terdengar lemas.


Aku menelan ludahku keras-keras. “Aku sama sekali tidak keberatan, sungguh,” terangku, berusaha meyakinkan dirinya.


Sebenarnya bukan karena itu. Padahal jika dia tahu keluh kesah—gugup jika Yuna berpotensi menganggu konsentrasiku saat memasak nanti—yang aku rasakan saat ini, mungkin dia akan tertawa lebar.


“Ngomong-ngomong, maaf karena sudah merepotkanmu.” Tiba-tiba Yuna beralih topik; sangat jauh dari apa yang kami bicarakan kali ini.


“Karena apa?” tanyaku.


“Kemarin, hmm, yang itu ....” Wajah Yuna memerah. “... itu, lho, yang kemarin ....”

__ADS_1


Aku berpikir keras. Huh, ada apa dengan hari kemarin? Namun, tiba-tiba saja suara Yuna ( yang kemarin ) bergema di benakku.


“Tolong suapin aku.” Dia mengatakannya dengan manja, seolah-olah kami seperti—


“Ah— karena itu, ya,” gumamku pelan.


Yuna mengangguk. “Ya, yang itu.”


Sekarang aku bahkan lebih buruk dari Yuna. Panas mulai merayap dari ujung kaki hingga ujung kepalaku, dan ingatan itu kembali menjelaskan seberapa banyak aku menyekop bubur itu untuknya. Ini sangat memalukan, terutama saat senyumku yang tidak pernah pudar ketika membawa bekas mangkuk kotor Yuna ke dalam dapur. Beruntung saja Pak Fujima tidak melihatnya, atau jika tidak, jantungku pasti akan melompat-lompat waktu itu.


“Ka–kau tidak perlu memikirkannya, Yuna; lagi pula saat itu kau sedang sakit, bukan? Dan itu sebelumnya permintaanmu.” Aku bingung harus berkata apa lagi. “Jadi aku rasa tidak masalah.”


“Bukan itu, Hiro.” Gadis itu menghela napasnya.


Aku menghentikan langkahku, begitu juga dengannya. “Ada apa, Yuna?”


Untuk sesaat, Yuna terlihat serius. Ini berbeda dari dirinya yang periang hampir setiap waktu.


“Sebenarnya, aku tidak tahu jika situasinya akan berakhir seperti itu,” terangnya.



Yuna melompat masuk ke dalam pintu otomatis swalayan. “Ayo, Hiro, di sini aman.”


“Kau seperti anak kecil saja, Yuna,” gumamku, sambil terkikik.


Di dalam etalase kaca yang membentang jauh, terdapat banyak hal seperti sayur-mayur, berbagai varian daging, dan aneka kebutuhan pokok lainnya. Seingatku semua yang kami inginkan pasti ada di tempat ini, karena Pak Fujima sendiri yang merekomendasikannya.


“Apa kita butuh ini?” Dari luar kaca, Yuna menunjuk sekelompok tomat yang duduk berjajar di antara wortel dan timun.


Aku membuka kaca etalase tersebut. “ Sepertinya tidak, tapi aku akan mengambil yang ini.” Tanganku mengambil beberapa wortel yang dibutuhkan, kemudian memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik buah, dan tidak lupa mengikatnya.


“Ah, aku tahu! Kamu pasti butuh ini.” Yuna meraih daun selada yang terletak di tingkat tiga etalase. Selanjutnya, dia hendak mengulurkan itu kepadaku.


“Maaf, tapi bukan itu juga,” terangku.


Yuna terlihat kecewa. “Eh ... duh, ternyata salah, ya.” Dia kembali meletakkannya sambil menghela napas.


“Kalau ini, gimana?” Gadis itu dengan lihainya menunjuk beberapa daging sapi yang sedang berkumpul. Itu terlihat segar, dan mereka berada di dasar etalase. Dilihat dari segi kualitasnya, mungkin ini akan menjadi hidangan yang sempurna. Akan tetapi ...


“Bukan itu juga ...,” tuturku, sambil menunjuk setumpuk daging ayam yang persis berada di sebelahnya. “... tapi setidaknya kita akan memasaknya menggunakan dada. Jadi apa yang kau pilih tadi tidak sepenuhnya salah, Yuna.”


“Huh, aku payah sekali, ya ....” Yuna menjatuhkan matanya ke bawah, dan senyumnya perlahan memudar.


...*****...


...... Bersambung ......


...Our Voice © 1 St Original Works...

__ADS_1


__ADS_2