
...Bab 53...
...—Ingatan Tentang Kotak Wafer—...
...( Hiro Sato )...
...———...
“Oh, ya, Hiro.” Di tengah tawa Kak Aina dan Kak Ryuji yang tidak ada hentinya, Ketua Morikawa kembali memanggilku.
“Ada apa, Ketua?”
“Mau bicara di suatu tempat?”
Pandanganku membelalak setelah mendengarnya. Itu hanya sedikit mengingatkanku pada kejadian saat Ketua Morikawa juga mengajakku berbincang di kantornya, dan hampir saja aku mengira jika wanita itu hendak memalakku dengan pangkat tertinggi—pemimpin organisasi—yang dia memiliki.
“Berdua, lagi?” tanyaku dengan gemetaran.
“Tidaklah bodoh.”
“Eh?”
“Sudah, ikut saja. Ini cukup penting untuk kau ketahui, Hiro,” terang Ketua Morikawa.
Ini yang kedua kalinya dia memanggil namaku secara langsung.
⠀
⠀
“Ah, nyaman sekali, ya, di sini. Aku jadi tidak ingin pulang.” Kak Aina duduk sambil memeluk kedua lututnya di atas sofa dengan dua dudukan. Kak Ryuji turut hadir di sebelahnya sambil bermain gim di ponsel.
“Hmm, begini, Ketua Morikawa.” Aku dan pimpinan organisasi itu duduk berhadapan di atas kursi putar hitam yang empuk, dan jarak kami hanya dipisahkan oleh meja kantor lebar setinggi dua setengah kaki. Di atasnya pun tersedia banyak buku laporan keuangan yang ditumpuk, dan sampai saat ini aku tidak pernah mengetahui isinya.
“Apa?” tanya Ketua Morikawa sambil menggosok matanya.
“Ini kan bukan kantormu.”
“Lalu kenapa?”
Aku merasa bingung saat dia dengan santainya berkata seperti itu, tetapi bisa berbahaya juga kalau kami berlama-lama di tempat yang seharusnya menjadi tempat privasi yang dimiliki Pak Fujima.
“Bagaimana kalau Pak Fujima datang tiba-tiba.”
“Datang saja, aku tidak mempermasalahkan itu.” Ketua Morikawa menyeringai dengan lebar.
Senyumnya yang berbeda dari kebanyakan orang itu—membawa aura negatif—terkadang membuatku trauma bila bertemu dengannya.
“Tenang saja, aku sudah meminta izin kepadanya, kok.” Pimpinan organisasi itu menekuk jarinya beberapa kali. “Jadi jangan khawatir.”
“Eh?” Aku terkejut saat melihat wajahnya yang tenang dan tidak sama sekali gelisah.
Padahal kukira Kak Morikawa hanya melakukan kebohongan dengan lisannya, tetapi itu seolah-olah terbantahkan dengan seluruh gestur tubuhnya yang rileks dan menampakkan kejujuran yang nyata.
“Pemilik restoran ini adalah temannya Ketua Suguha, asal kau tahu,” kata Kak Aina.
__ADS_1
“Huh!”
“Siapa yang memintamu untuk mengatakannya, Aina?” Ketua Morikawa mengetuk-ngetuk meja tersebut dengan telunjuknya. Suara seperti orang yang sedang mengetuk pintu pun secara halus mulai bergema di sisi lain meja yang berhadapan denganku.
“Biar dia tidak penasaran lagi, Ketua,” tambah Kak Ryuji sambil melingkarkan tangannya di leher Kak Aina.
“Itu benar, sayang. Kau benar-benar pengertian!” Kak Aina mengatakannya dengan riang, sambil bersandar di sebelah bahu pria besar tersebut.
Momen yang paling kubenci tampaknya telah tiba.
Namun, daripada terus memerhatikan kelakuan dari pasangan tidak senonoh itu, aku kembali melirikkan pandanganku pada Ketua Morikawa.
“Jadi itu benar, Ketua?” tanyaku untuk memastikan.
Selama beberapa detik Ketua Morikawa hanya terdiam. Akan tetapi, tidak lama kemudian dia berkata, “Seperti yang sudah kau dengar.”
Karena sudah begini, maka aku tidak perlu khawatir lagi. Sekarang hatiku seperti kembali bersih tanpa sedikitpun rasa cemas.
“Baiklah, daripada berlama-lama lagi,” ujar Ketua Morikawa sambil menegakkan badannya. “Aku langsung masuk ke topik ceritanya saja.”
“Cerita?”
“Apa kau tidak merasa kehilangan sesuatu?”
“Sesuatu? Aku rasa tidak.” Aku menggaruk pelipisku, berusaha memahami maksud dari perkataannya.
“Saat kau keluar dari markas kami, apa kau tidak merasa ada yang hilang?” tanyanya lagi.
Barulah setelah dia kembali mengulangi pertanyaannya, aku teringat lagi dengan kejadian ritsleting tas yang sempat terbuka di Kantor Ketua Morikawa. Waktu itu aku kembali memeriksanya di ujung trotoar yang berjajar tanaman hias di sekitarnya, dan tahu-tahu saja kotak wafer itu menghilang tanpa berpamitan.
“Benar.”
“Apa ada hubungannya dengan itu?”
“Tentu.” Ketua Morikawa terlihat merogoh sesuatu dari balik meja tersebut, dan kemudian mengeluarkan kotak wafer bermerek Mango yang dia letakkan di tengah-tengah meja. “Ini kukembalikan. Rasanya malu saat aku pernah mengatakan jika kami tidak mengambil apa pun, ” ungkapnya.
“Wah, akhirnya kembali juga.” Aku mengambilnya kembali dengan tangan kananku, kemudian meletakkannya di atas pahaku yang sedang merapat. “Terima kasih banyak!”
“Sebenarnya itu dicuri oleh Suzuki. Itu benar-benar perbuatan tidak terpuji.”
Jadi dia yang mengambilnya, pikirku dalam hati. Namun demikian, aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi sejauh ini.
Akan tetapi, kala Ketua Morikawa mengatakan kebenarannya, Kak Aina pun sontak bereaksi keras atas perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan si behel itu.
“Suzuki yang mencuri itu, huh?” Kak Aina memelototi kami berdua dengan wajah sangar seperti preman pasar.
“Kau tidak tahu? Padahal kaulah yang sering membuatnya menangis,” kata Ketua Morikawa.
“Bocah itu ... jangan-jangan dia juga berbohong masalah ramal-meramal itu!” Kak Aina lantas berubah tegang dan berdiri dari sofa, dan nampaknya Kak Ryuji yang hampir saja berhasil membelai rambut wanita tersebut harus menemui kegagalan.
“Aku keluar sebentar untuk membunuh orang!” tegasnya sambil membenturkan kedua tinjunya. Kemudian wanita itu bergegas keluar tanpa menutup pintunya kembali.
“Ah!” Aku terkejut. “Kak Aina harus dihentikan!” Pastinya tidak ada yang mau melihat banyaknya mobil polisi yang akan memarkirkan kendaraannya secara tidak beraturan di depan restoran sebab kelakuan pacar Kak Ryuji tersebut.
“Tidak seburuk yang kau duga, Hiro,” tutur Kak Ryuji. “Dia pastinya hanya memberi wejangan supaya Suzuki tidak melakukannya lagi, itu saja, kok.”
__ADS_1
“Yah, Aina memang lebih gila dariku sih, terkadang ....” Ketua Morikawa tertawa jail.
Aku kemudian menunduk dan menghela napasku untuk membuang semua ingatan malam yang terjadi saat ini, jika bisa.
⠀
⠀
“Eh, Hiro.”
Kuangkat sedikit pandanganku dengan mata yang muram. “Ada apa lagi, Ketua?”
“Yuna belum datang?” tanyanya.
Entah kenapa saat Ketua Morikawa yang bertanya, rasanya seperti ada sesuatu di bagian kepalaku yang merasa diintimidasi, seolah-olah harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, aku berusaha untuk tetap menutupinya dengan alasan yang sama.
“... dia sakit, Ketua. Aku juga tidak menyangka kejadiannya akan berakhir seperti itu.”
“Sakit apa? Demam?”
“Kurang lebih begitu.”
“Padahal aku bawa” —Ketua Morikawa merogoh sesuatu dan mengangkat satu strip parasetamol—“obat penurun demam untuk berjaga-jaga, lho.”
“Mungkin kali ini dia harus beristirahat di rumah, kesehatannya mungkin bulan ini juga sedang tidak membaik jika dilihat-lihat.” Aku mengikuti argumen Kak Aina yang pernah dia sampaikan mengenai Yuna sebelumnya.
“Aku harap dia cepat sembuh, soalnya aku belum pernah bertemu dengannya.” Ketua Morikawa menyunggingkan senyumnya, tetapi kali ini sedikit lebih normal.
“Kuharap juga begitu.”
“Sayang sekali, ya, padahal kau tetap harus bayar biayanya.”
“Memang sayang sekali.”
“Sayang Yuna?”
“Tidak seperti itu ketua.” Aku mengernyit dan membuang tanggapan itu jauh-jauh dari kepalaku.
“Ada rencana untuk menjenguknya?” tanya Kak Ryuji, dia berjalan ke arah kami.
“Aku tidak tahu rumahnya.”
“Huh!”
Kak Ryuji dan Ketua Morikawa sama-sama berteriak, dan itu memekakkan telingaku yang kerap kali tidak tahan mendengar volume suara yang terlalu tinggi.
“Nak, kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya,” timpal Ketua Morikawa.
“Kau tidak tahu di mana dia tinggal? Omong kosong dengan hidupmu!” Kak Ryuji memutar-mutar kursiku dengan sebelah tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kali ini aku seperti berada di dalam roller coaster sungguhan. Sensasi pusingnya terasa lebih nyata jika dibandingkan dengan wahana permainan ekstrem yang dulu pernah kunaiki saat masih kecil.
...———...
...Bersambung...
__ADS_1