Our Voice

Our Voice
28. Sama Seperti Ibu


__ADS_3

...⠀...


...Diperankan Oleh...


...Hiro Sato...


... *...


“Di ... di mana, ya?” Aku ingin menjawabnya, tetapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sedang menahan lisanku. Hiro, bagaimana kalau Yuna tahu jika dirinya sedang tidur di kamar laki-laki? Apa ini akan baik-baik saja? Suara lain di dalam hatiku seolah-olah sedang melakukan aksi protesnya.


“Kamu berada di kamar Hiro, tenang saja,” tutur Pak Fujima, sambil memasukkan tangan ke dalam sakunya.


Situasi tiba-tiba berubah hening, dan tidak ada satu pun orang di sini yang kembali bersuara setelah pemilik restoran itu berkata-kata. Aku tidak tahu mengapa, tetapi tidak lama wajahku berubah pucat.


Senyum Pak Fujima berubah menyeringai. “Baiklah, aku tinggal dulu; silakan lanjutkan apa yang ingin kau lakukan, Hiro,” katanya, sambil mendorong gagang pintu itu.


Pipiku perlahan memerah. “Tidak begitu, Pak!” Ocehan yang keluar dari lisanku tidak pernah berhenti menghakiminya. Di samping apa yang Pak Fujima baru saja katakan, aku sangat tahu apa yang dia maksud—itu tidak akan pernah terjadi.


Akan tetapi, tidak lama dia menghilang. Sekarang tinggal kami yang tersisa, hanya berdua di dalam kamar. Ini membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Ya, abaikan saja perkataannya, Yuna. Pak Fujima memang agak rada-rada kalau belum dapat banyak pelanggan, haha ....”


“Tapi aku tidur di kamarmu, lho, ini sangat tidak etis.” Yuna hendak mendorong selimutnya.


“Tidak, ini tidak apa. Kau bisa berada di sini dulu sampai kondisimu kembalu pulih,” kataku, dengan tergesa-gesa. “Aku bisa berada di bawah sambil membantu Pak Fujima, ya, itu sudah menjadi kebiasaan kami beberapa hari terakhir ini.”


“Hmm, baiklah ... jika aku sudah mendapat izinmu.” Gadis itu kembali berbaring, diiringi secercah senyuman. Untuk sesaat, ini menyejukkan hatiku.


“Formal sekali.”


“Huh?”


“Ah, lupakan itu. Aku hanya mengutipnya dari seseorang.”


Yuna tampak tidak senang mendengarnya, dia terus saja memaksaku untuk memberitahunya. “Siapa?”


“Kak Morikawa,” jawabku, sambil menghela napas.


“Siapa dia?”


“Salah satu orang yang ada di organisasi aneh itu.”

__ADS_1


“Jadi apa dia di sana?”


Aku melebarkan mataku. Apa seorang gadis yang sedang sakit akan membuat rasa keingintahuannya bertambah? “Dia ketuanya.”


“Ketua apa?”


Sementara itu, aku kembali berpikir jika perbincangan ini tidak akan pernah berakhir. Karena sejauh yang aku tahu, Yuna masih harus beristirahat. Sekarang aku memutuskan untuk mengakhirinya.


“Dengar, kau belum makan, kan?”—Jariku menunjuk nampan di atas meja tersebut—“Pak Fujima sudah membuatkannya untukmu, jadi aku rasa itu masih hangat.”


Setelah lima detik penuh berjalan, pandangan Yuna tidak lepas dari bubur itu. Namun, tidak lama, sorot matanya kembali kepadaku, dengan rona merah yang perlahan timbul di kedua pipinya.


“Tolong suapin aku,” gumamnya, dengan manja.


Rasanya seperti sambaran kilat yang baru saja menembus hatiku, dan seketika perkataannya itu membuatku kehilangan kemampuan untuk membantahnya. Yuna kehilangan akalnya? Aku bergumam dalam hati, dan saat ini senyumku tidak bisa dikendalikan.


“A–apa ka–kau yakin? I–ini ...”


Yuna perlahan menempatkan dirinya di sandaran kasur, sambil menegakkan badannya. Tidak lama, gadis itu membuka mulut, seolah menungguku untuk menyekop bubur ini kepadanya.


“Baiklah, anggap saja ini seperti apa yang ibu dulu lakukan kepadaku.” Aku berdiri untuk meraih bubur itu.


“Lama sekali ....” Sambil terpejam, Yuna berkeluh kesah padaku.


“Buka mulutmu.”


“Ya.” Yuna terdengar optimis, dan apa yang dia rasakan kali ini pasti jauh berbeda dariku.


Aku mulai menyekop bubur itu ke dalam mulut Yuna.


“Hmm ....” Gadis itu mengerutkan dahinya.


Oh iya, itu kan masih panas; aku lupa, astaga! pikirku. “Apa terasa panas, Yuna?” Aku mengaduk bubur itu lagi, lebih cepat.


“Ya, tapi ini sangat enak.” Akhirnya Yuna kembali membuka mata.


Saat dia melirikku, senyuman itu seolah-olah menunjukkan jika kondisinya semakin membaik.


... *...


...⠀...

__ADS_1


“Halo lagi, Tuan Hiro, bagaimana kabar datuk hari ini?” Keira kembali melakukan percakapannya denganku. Itu terdengar menjengkelkan, seperti biasa.


Aku menahan nada suaraku agar tetap normal. ”Malam ini sangat tenang, udaranya sejuk, dan tidak ada hewan buas yang menyerang.” Padahal, diam-diam aku mengangkat jari tengahku di dalam saku, karena rasanya hawa di restoran ini semakin panas.


Jika mampu, mungkin aku harus menyeret Yuna di sebelahku. Siapa tahu permasalahan ini dapat terselesaikan dengannya.


“Jadi aku makin penasaran nih, Bos.” Tawa jahatnya telah dimulai. “Bagaimana kondisi pujaan hatimu itu?”


Dia memang sangat hebat dalam menyulut emosi, dan itu membuat kesabaranku telah berada di ujung tanduk. “Ya, dia baik-baik saja, terima kasih karena sudah meneleponku, Keira.” Aku mengakhiri panggilan maut itu, kemudian menjatuhkannya tepat di atas ember lap.


Tenang saja, aku sudah memastikannya. Tidak ada air yang terisi di dalam sana.


“Apa kalian sedang bermusuhan?” Saat dia bertanya kepadaku, Pak Fujima terlihat sedang mengepel lantai. Aku bisa melihat keringat yang sedang mengucur dan membasahi keningnya.


“Tidak, kami bersahabat satu sama lain, hanya saja terkadang dia membuatku lelah,” jawabku, sambil menggeleng.


Saat aku hendak memasukkan ponselku lagi ke dalam saku jeans, aku bisa mendengar suara getar dari tangga berputar restoran. Ternyata itu adalah Yuna; dia sudah kembali seperti sedia kala.


“Oh, apa kau sudah baikan?” Pak Fujima mendahului momenku, ini sedikit mengecewakan.


“Tentu saja, terima kasih karena sudah membiarkan saya berada di sini untuk sementara waktu.” Yuna membungkuk di depan Pak Fujima. “Dan terima kasih karena sudah melakukan hal-hal seperti itu kepadaku, Hiro.” Ketika wajahnya berubah merah, aku merasakan aura-aura suram di sekitar kami. Itu jelas datang dari pemilik restoran tersebut.


“Hiro? Aku tadi hanya bercanda, lho, kau tidak melakukannya, kan?” Pak Fujima menggoyangkan tubuhku; sekarang aku bergetar hebat.


“Tidak, tidak, sepertinya anda salah tanggap; bukan itu maksud Yuna,” jawabku, dengan sedikit senyum.


“Tapi ....” Yuna kembali menatap Pak Fujima, pandangannya sontak berbinar-binar. “... apa anda yang membuat bubur tadi?” tanyanya, dengan nada bangga.


Awalnya Pak Fujima terlihat seperti terkejut, tetapi, tidak lama, dia meresponnya dengan senyuman. “Ya, benar,” tambahnya, sambil tertawa kecil.


“Sungguh, itu enak sekali. Restoran anda memang benar-benar hebat.” Yuna kembali memujinya.


“Ada tapinya lagi, sih ....” Pak Fujima kemudian merapatkan bibirnya, lalu menudingku. “Sebenarnya, resep itu berasal darinya.”


Pandangan Yuna terbelalak, seperti tidak mempercayai kenyataan yang baru saja disampaikan kepadanya. “Eh? Apa?”


Karena tidak bisa mengelak, maka dengan terpaksa aku mengakuinya. “Iya, haha ... aku yang memberitahunya bagaimana cara membuat bubur itu.”


Sebenarnya aku ingin merahasiakan itu. Bagaimana mungkin seorang anak berumur enam belas tahun menggurui seorang koki restoran yang sudah terbiasa terbakar di dalam dapur? Itu pasti akan buruk untuk imagenya.


...⠀...

__ADS_1


...... Bersambung ......


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2