Our Voice

Our Voice
54. Tidak Nyaman Berada Di Sana


__ADS_3

...Bab 54...


...—Tidak Nyaman Berada Di Sana—...


...( Hiro Sato )...


...———...


“Aku benar-benar tidak mengetahuinya,” kataku pada Kak Ryuji sambil menghela napas lagi.


Jika dihitung-hitung, pasti itu sudah menjadi yang ke sekian kalinya aku melakukan ini.


“Tapi apa kau yakin dia benar-benar sudah sampai rumah?” Ketua Morikawa kembali mengajukan pertanyaan.


“Tidak—“


Belum selesai sepotong kalimatku keluar, ponsel pintar yang berdiam dalam saku celanaku pun mulai bergetar. Aku yakin ini datangnya bukan dari Keira, tetapi seseorang yang baru saja menyimpan nomor kontakku.


Aku menoleh pada Ketua Morikawa dan berkata, “Boleh, aku, izin—“


“Silakan. Aku yakin itu pasti dari Yuna.”


“Ah, mungkin saja, ya.”


Saat kualihkan pandanganku ke layar, benar saja. Di sana tertulis pesan dari Yuna yang berkata jika dia sudah sampai di rumah. Tidak lupa gadis itu menambahkan keterangan di akhir kalau dia ternyata baik-baik saja, dan jangan mengkhawatirkannya.


Ini, kan, baru 30 Menit setelah dia pergi? Biasanya ..., pikirku heran.


Ya, gadis itu biasanya membutuhkan perjalanan sekitar 45 Menit untuk sampai rumahnya. Apa dia menggunakan kereta express? Tidak, itu tidak masuk akal. Mungkin itu juga karena kekuatannya? Kekuatan angin yang bisa menteleportasikan seseorang dengan tekanan udara, kemudian menghilang, serta pergi ke tempat yang ia inginkan sesuka hatinya.


“Kenapa kau terdiam begitu, Hiro?” tanya Ketua Morikawa.


“Ti–tidak apa-apa, aku hanya lega karena dia sudah sampai,” kataku sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tanganku di depan dada.


Kak Ryuji melingkarkan tangannya di leherku dan bergumam, “Mungkin dia diputusin,” sambil tersenyum jail.


“Pemikiran macam apa itu, Kak?” heranku padanya.


“Syukurlah kalau dia sudah sampai, jadi bisa istirahat secepatnya agar gadis itu bisa pulih.” Ketua Morikawa mengelus-elus dadanya sambil terpejam. “Sekarang semuanya pasti akan baik-baik saja.”


“Aku juga begitu.” Aku melakukan gerakan yang sama dengannya, dan tentunya perasaanku dua kali lipat lebih lega dibanding pimpinan organisasi itu.


Sangat beruntung.


Atau lebih tepatnya, hari-hariku yang mendebarkan sepertinya sudah berakhir sebelum malam berganti terang.


Kalau saja Ketua Morikawa tahu berapa berapa lama perjalanan yang dibutuhkan Yuna kali ini untuk pulang ke rumahnya, niscaya aku akan jadi bahan interogasinya yang empuk.

__ADS_1




Beberapa waktu yang dihabiskan di dalam Kantor Pak Fujima rasanya sangat tidak nyaman.


Itu karena aku yang diberi amanah olehnya untuk menjaga restoran ini tampak tidak menjalankannya dengan baik.


Masih percaya atau tidak percaya kalau Pak Fujima benar-benar mengizinkan Ketua Morikawa untuk bertengger di kantornya walau untuk sesaat.


Namun, sekarang kami kembali berada di luar, bersama dengan hiruk pikuk sekumpulan anggota organisasi aneh yang menyebut diri mereka sebagai pembenci gadis pengendali angin.


“Kapan, ya, ini akan berakhir?” tanyaku sambil melihat ke luar.


Di luar sana, dari balik kaca jendela tebal yang menghalangi, badai angin semakin bergemuruh kencang, membuat semua pohon yang terlihat melambai-lambai dengan kuat, bahkan beberapa di antaranya ada yang tumbang dan jatuh di tepi jalan.


Beruntung saja tidak ada kendaraan yang lalu-lalang seperti waktu-waktu pada umumnya, jadi kemacetan nampaknya tidak akan terjadi kali ini.


Ketua Morikawa berada di sebelahku dengan pandangan yang sama. Kemudian dia berkata, “Mau kuceritakan sesuatu tidak?” sambil memasang raut wajah serius.


“Sesuatu tentang gadis pengendali angin?”


“Ya, seperti itu.”


Kebetulan sekali. Mungkin ini saatnya aku mengetahui lebih banyak lagi tentang Yuna. “Izinkan aku mendengarnya, Ketua,” tuturku.


“Wah, seram sekali, bukan?” Ketua Morikawa memundurkan langkahnya dengan pelan.


“Jadi, sesuatu seperti apa yang anda ingin Ketua ceritakan?” Kualihkan kembali topik itu pada sesuatu yang memang ingin aku ketahui.


Tidak lama Ketua Morikawa memautkan kedua tangannya. Wajahnya menunduk, dengan tatapan seperti sedang berpikir. “Fenomena ini, pastinya terjadi karena gadis pengendali angin.”


“Karena dia?”


“Ya, dia.”


“Bagaimana itu bisa terjadi?” Pertanyaan itu akan menjadi pembuka sekaligus penjawab rasa penasaran yang sudah melekat di hatiku.


Perlahan Ketua Morikawa terlihat mengepalkan sebelah tangannya, kemudian dia melonggarkannya kembali.


Apa itu sesuatu yang tidak dia ingin katakan? tanyaku dalam hati setelah melihatnya.


Dia lantas kembali mengangkat wajahnya, sambil tersenyum tipis. “Kenapa ya?”


“Eh?” Aku pun dibuat bingung oleh perkataannya. “Kenapa, ya? Apa maksudnya?”


“Entahlah.”

__ADS_1


“Huh?”


“Mungkin tidak sekarang,” kata Ketua Morikawa.


“Tidak jadi?” Aku mendelik, sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang signifikan.


Begitu pertanyaan tadi—yakni Bagaimana itu bisa terjadi?—terucap dari lisanku, tiba-tiba wanita itu terlihat lesu. Ekspresinya berubah jadi tidak percaya diri, dan semangatnya sebagai seorang pelopor organisasi ini pun tampak luntur seperti digerus takut.


“Kapan-kapan saja.” Ketua Morikawa kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu meja yang tak berpenghuni, lalu duduk sambil menempelkan pipinya di atas meja. “Tiba-tiba aku merasa tidak sehat,” katanya.


Pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan rasa penasaran itu semakin membludak di pikiranku, lalu memenuhinya tanpa ampun.


“Oh, hei, Hiro.” Seseorang meletakkan lengannya di pundakku. “Sejak kapan kalian keluar?” Ternyata itu Kak Aina.


“Beberapa menit yang lalu, sih.” Aku mengangkat satu demi satu jemariku untuk menghitungnya.


“Tapi, sepertinya Ketua Suguha tampak murung lagi.” Pandangan Kak Aina terfokus pada Ketua Morikawa yang masih duduk di sana, dan kedua tangannya pun tampak sedang dikepal. “Sayang sekali, ya ....”


“Kak Aina.”


“Kenapa?” Wanita itu kembali melirik padaku, sambil menguap lebar.


“Bisa ceritakan sesuatu padaku tentang gadis pengendali angin? Rasanya aku cukup penasaran.”


Kak Aina perlahan mendekatkan wajahnya di telingaku sambil berbisik, “Kau benar-benar percaya itu?”


“Eh?”—Kutinggikan nada suaraku—“Jadi sebenarnya itu—“


“Jangan berisik!” Kak Aina membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aku bisa merasakan aroma parfum yang wanita itu kenakan menguar melewati rongga-rongga hidungku. “Sekali lagi, jangan berisik!” tegasnya sambil kembali menatap Ketua Morikawa.


Orang nomor satu di organisasi itu sendiri tampak tidak menghiraukannya, atau mungkin dia memang tertidur di atas permukaan meja tersebut.


“Baiklah.” Aku menuruti permintaan Kak Aina untuk tetap menjaga suaraku. “Ternyata Kakak tidak memercayai itu?”


“Mana mungkin yang seperti itu ada, Hiro, hanya orang gila yang menganggapnya serius.” Wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Lalu, anu, apa semua orang di sini juga berpikir begitu? Apa mereka yang masuk ke dalamnya pun berpikir sama denganmu, Kak? Pastinya sama, kan? Teori untuk membenci gadis pengendali angin tentu saja hanyalah sebuah omong kosong yang tidak berdasar, jika dipikir-pikir lagi.” Kukatakan semua kebenaran itu dengan satu kali napas, saking semangatnya ingin membela Yuna dari balik layar.


Sementara itu, Kak Aina sejak tadi selalu mencuri pandangannya pada Ketua Morikawa beberapa kali, seperti menaruh perasaan khawatir.


“Sepertinya kau cukup amanah,” katanya padaku.


“Amanah?”


“Kalau kau memang ingin tahu alasan semua ini bisa terjadi ....” Kak Aina menatap kedua telapak tangannya yang dilebarkan di bawah dada, dengan tatapan berkaca-kaca. “... kurasa tidak keberatan menjelaskannya sedikit.”


...———...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2