
...Bab 60...
...—Datangnya Pemilik Restoran—...
...( Hiro Sato )...
...———...
“Aku tidak melihat Ketua,” kataku sambil mengedarkan pandangan, sekali lagi untuk memastikan eksistensinya.
“Oh, aku ....” Kak Ryuji mendongak ke atas, wajahnya seperti sedang menelaah ingatannya yang tersisa di waktu malam. “... benar juga, pasti itu dia.”
“Ketua Suguha? Di mana dia sekarang?” tanya Kak Aina, dengan rasa penasaran yang setingkat denganku.
“Sebelum tengah malam dia pergi dari tempat ini.”
“Apa dia ada sesuatu yang harus diselesaikan?”
“Ya, aku tidak terlalu ingat, sih, soalnya waktu itu aku lagi mabuk berat.” Selanjutnya pria besar itu terbahak-bahak, sambil meneguk sebotol wine yang dia pegang di tangan kanannya.
Kak Aina menggelengkan kepalanya. “Duh, bicara sama ayang ini memang kadang menyulitkan,” katanya.
“Mungkin dia ada urusan lain.” Aku mengungkapkan opiniku, setelah menyadari sesuatu.
“Eh, benar juga. Pasti ada beberapa hal lagi yang ingin dilakukan Ketua Suguha.” Kak Aina mengangguk pelan, disusul Kak Ryuji di sebelahnya. “Dia benar-benar wanita penuh kesibukan yang bisa saja membuatnya mati jika tidak tahu kapan dirinya harus beristirahat.”
Biasanya, kesibukan seseorang dengan pangkat yang lebih tinggi pastinya akan lebih padat, dan hal tersebut adalah hal yang lumrah jika sewaktu-waktu Ketua Morikawa menghilang dari peredaran anggota-anggotanya yang sedang berkumpul.
⠀
⠀
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan kurang dari dua puluh menit lagi, Pak Fujima akan kembali pulang. Hari-hari yang cerah pun bersiap menunggu di luar, tidak sabar rasanya untuk melihat rutinitas kami yang akan kembali normal, contohnya membantu pemilik restoran itu memasak atau apa pun yang berguna menurutnya.
Sekarang Kak Aina dan Kak Ryuji bersiap untuk berpamitan. Mereka berdua telah berada di depan pintu restoran dengan setelah polisi gadungan yang melekat dengan perkumpulan organisasi mereka.
“Jadi kalian akan kembali bekerja lagi?” tanyaku dengan tangan yang masih menahan gagang pintu restoran agar tidak menutup.
Kak Aina menatapku seraya mengangkat telunjuknya di sebelah dada. Tidak lama senyumnya kian melebar dan kilauan cahaya mentari yang menyorot di belakangnya pun seolah-olah terlihat seperti adegan film akhir dari perpisahan yang menyedihkan.
“Ya, mengatur lalu lintas, membantu orang yang kesulitan, atau menyelamatkan seekor kucing yang naik ke atas pohon, itulah tugas sampingan kami meski tidak sesuai visi misi organisasi yang Ketua Suguha bilang.”
“Jadi begitu, ya.”
“Benar, kami melakukan semua ini untuk membuatnya senang saja, dan semoga ... Ketua Suguha bisa kembali menjalani kehidupannya seperti dulu, dan melupakan sesuatu yang pernah menimpa ingatannya yang kelam.” Kak Ryuji menambahkannya dengan ekspresi yang tidak biasa.
Tidak ada tertawa, tidak ada guyonan, ataupun sesuatu yang bisa dianggap sebagai candaan. Pria besar itu, atau Kak Aina—mereka sama-sama berharap jika Ketua Suguha bisa cepat pulih dari kondisi mentalnya.
⠀
__ADS_1
⠀
Demi memastikan tidak ada noda membandel yang tersisa di permukaan lantai restoran, maka kuputuskan untuk kembali mengepelnya dengan segenap kekuatanku.
Ini sangat melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan.
Lebih tepatnya, hal-hal demikianlah yang bisa membuatku semakin disiplin, dan mungkin kebiasaan kecil seperti ini akan membantu di masa depan.
Sepertinya.
Pintu restoran terbuka dengan lebar, seseorang datang sambil menarik tas kopernya yang tidak terlalu besar. Ternyata itu benar-benar Pak Fujima, dan dia datang sesuai dengan jam yang sudah kuperkirakan.
Pukul 08.20.
“Apa situasi di sini baik-baik saja?” Pak Fujima menarik salah satu kursi, kemudian duduk dengan menjatuhkan bokongnya. Dia tampak sedikit lelah.
“Aman dan terkendali, kok, Pak. Serahkan padaku!” Aku menyahutnya dengan riang gembira.
Meskipun tujuan utama dari pestanya gagal, tetapi aku sangat senang karena Pak Fujima ini tidak melihat kekacauan total yang berada di balik layar restoran ini sebelumnya.
“Tapi, selamat datang kembali Pak Fujima, senang kembali berjumpa denganmu,” kataku sambil menyunggingkan senyum.
Pak Fujima mengangguk puas, tetapi tidak lama raut yang aneh terlintas di wajahnya.
“Lho, kok ....” Pak Fujima lantas mengerutkan dahinya, matanya pun melirik banyak hal. “... semuanya sudah pulang?”
“Cepat sekali.”
“Ya, mungkin mereka memang seperti itu.”
Karena Pak Fujima sudah kembali di sini, sepertinya ada satu hal yang ingin kutanyakan padanya.
“Anu, Pak Fujima?” Suaraku naik turun saat mengucapkannya, seperti seseorang yang labil.
“Ya?” Pemilik restoran itu kembali mengangkat kepalanya, kemudian dia berdiri sambil meletakkan salah satu tangannya di atas pegangan koper.
“Apa Ketua Morikawa itu ....”
“Dia, kenapa?”
“Ketua Morikawa, apa dia teman anda?” tanyaku penuh keraguan.
“Eh, dia belum memberitahumu?”
“Belum.” Kugelengkan kepalaku sambil terpejam.
“Sebenarnya kami memang saling mengenal. Tapi, aku tidak terlalu dekat dengan dia, sih.”
“Berarti dia—“
__ADS_1
“Suguha itu, dia adalah salah satu murid istriku yang paling dekat.”
Waktu Pak Fujima mengatakan itu, sesuatu yang besar, lebar dan tak terlihat seperti baru saja menamparku kuat-kuat. Kenyataan mengenai salah satu murid istrinya tersebutlah yang membuatku tersentak hebat, dan hal demikian pun mirip sekali dengan kejadian yang diceritakan Kak Aina.
“Mu–murid istri a–anda?” Struktur kalimatku mulai berantakan, sulit untuk mendefinisikan pertanyaan apa yang harus kuajukan dari benakku yang sempit ini.
“Ya.” Jawabannya yang singkat itu, seolah mengandung jutaan makna yang tersirat dan duduk berjajar di sebuah taman rahasia yang terletak di ujung angkasa.
⠀
⠀
Sekarang kami sama-sama berada di dapur. Pak Fujima menyiapkan bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk memasak besok, sedangkan aku berusaha melakukan hal lainnya yang kurasa berguna.
Di samping itu, ada beberapa hal yang juga ingin kutanyakan padanya, jika itu tidak terlalu merepotkan untuk dijawab.
“Pak Fujima.” Suaraku sepertinya tidak tersampaikan oleh angin, mengingat kami seperti sedang melakukan rutinitas khusus di tempat yang saling berseberangan.
“Aku mendengarmu, Hiro, katakan saja.”
Oh, pendengarannya ternyata masih baik-baik saja, aku meremehkannya. Demikianlah opiniku dalam hati mengenai pemilik restoran itu hari ini, cukup positif dan jarang mendekati kebalikannya.
“Jika aku bertanya sesuatu lebih banyak mengenai istrimu, apa kau akan menjawab semuanya?” tanyaku.
“Itu tergantung pertanyaanmu,” katanya dengan pola nada meyakinkan.
Lampu hijau telah dinyalakan, berarti aku berhak mengungkapkan pertanyaanku tanpa harus melewati fase gugup.
“Apa anda percaya tentang mitos gadis pengendali angin? Cerita itu cukup populer di kalangan organisasi yang Ketua Suguha bangun.”
Pak Fujima tiba-tiba menutup air keran di wastafelnya, kemudian berbalik menatapku.
“Jadi kau sudah mengetahui legenda itu, ya?” Pemilik restoran itu kembali memasukkan beberapa potongan daging ayam mentahnya kembali ke dalam bungkusan plastik.
Selanjutnya dia berjalan menuju kulkas tiga pintu yang merupakan objek tertinggi di dalam dapur, membukanya, lalu meletakkan bungkusan plastik penuh daging ayam itu di bagian tingkat teratas kulkas.
“Tidak dijawab?” Pak Fujima kembali memandangiku yang tahu-tahu sudah melamun.
“Ya, aku tahu itu informasi itu dari gulungan koran Ketua Morikawa, sih. Aku pikir itu hanya cerita buatan yang bisa menghibur masyarakat, begitu, hahaha ....”
Tiba-tiba Pak Fujima berjalan mendatangiku, lalu dia memegang kedua bahuku erat-erat seraya berkata, “Jangan pernah berkata jika itu lagi di hadapanku, kau mengerti?”
Ucapannya, nadanya, embusan napasnya yang panas dan tingkat keseriusan yang belum pernah pemilik restoran itu tunjukkan membuat seluruh tubuhku bergidik dan hampir mati rasa.
Berarti, jangan-jangan dia juga ...
...———...
...Bersambung...
__ADS_1