Our Voice

Our Voice
58. Pernyataan Seorang Junior I


__ADS_3

...Bab 58...


...—Pernyataan Seorang Junior I—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Pagi hari telah bangkit dan melenyapkan satu malam yang penuh dengan ancaman.


Angin-angin itu sepenuhnya pergi dan suasana hening tak berpenghuni mulai terasa di bagian luar restoran.


Setelah membuka mataku secara perlahan, aku terkejut karena melihat bagian utama restoran yang sudah berantakan tak bersisa.


Beberapa meja yang mengilap seperti biasanya telah berhiaskan ceceran saus tomat, beberapa lapis roti yang ditempelkan ke mesin kasir, tumpahan Wine telah menggenang di sudut-sudut ruangan ( ini terlalu bahaya bila terus dibiarkan ), serta beberapa anggota organisasi aneh yang masih terlelap di atas meja restoran.


Statusnya juga akan menjadi gawat seketika jika Pak Fujima mendadak datang dan memergoki fenomena yang disebabkan kerusakan tangan-tangan manusia berdosa ini.


Tentu saja aku harus mengambil tanggung jawab untuk membereskan semua kekacauan yang telah berlalu.


“Woi, Kak Aina, bisa kau bangun?” Aku menggoyang tubuhnya secara pelan, berharap seperti ini saja pun bisa membangunkannya.


Namun, sama saja. Aku rasa wanita ini masih terbang dalam dunia mimpi yang terkesan nyata, dan tidak akan pulang setelah puas mengucapkan perpisahan dengan Kak Ryuji yang juga berkemungkinan berada di alam sana.


Oh, ya. Teori yang paling masuk akal saat ini adalah pertemuan di antara mereka berdua lewat dunia yang tidak bisa dilihat oleh khalayak umum. Artinya, pasti akan sangat menyenangkan ketika Kak Aina dan Kak Ryuji berhasil membuat ruang privasinya sendiri. Tidak ada yang mengganggu dan tidak ada yang melarang, semuanya di bawah kendali dan larut dalam segala hal yang bisa mereka inginkan hanya dengan kata-kata dan imajinasi yang liar.


Aku harap tidak ada bayangan jorok di benak mereka berdua jika itu benar-benar terjadi.


Perang skala besar yang pernah kulihat di markas mereka pun sekarang secara tak sadar di bawa ke tempat tak bersalah ini. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertanggung jawab? Pastinya aku sendiri. Karena akulah yang mengundang mereka semua untuk merayakan pesta ulang tahun Yuna.

__ADS_1


Hanya saja semua itu gagal karena satu fenomena, yang mana fenomena tersebut ternyata berada di luar perencanaan yang sudah lama kusiapkan sejak diriku dan Yuna berjalan ke mall itu.


Benar juga, mall itu sebenarnya hanya sebuah pengalihan agar Yuna tidak berada di Restoran Pak Fujima untuk sementara waktu, bersama dengan diriku yang nantinya membelikannya suatu hadiah yang berkesan di sana.


Satu buah kotak musik balerina tidak terlalu buruk jika dipikir-pikir, bahkan itu juga pas dengan bujetku yang ngos-ngosan.


“Tidak ada harapan, deh, aku bersihkan ini saja sendiri,” kataku sambil menghela napas.


Saat aku menilik ke bagian mesin kasir, ternyata di dalam meja kasir yang melingkar tersebut ada Kak Ryuji yang tergeletak dan hanya mengenakan celana boxer berwarna biru. Mabuk, tidak salah lagi jika indikasinya adalah itu. Selain itu, aku pun sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan bawahannya di segala sisi tempat tersebut, jadi yang terpikirkan olehku adalah pria besar ini memang sama sekali tidak mengenakan bawahan sewaktu dia berpesta pora di sini.


Akan tetapi, tidak. Kak Ryuji pasti menggunakannya; aku ingat dengan jelas waktu dia keluar dari pintu restoran dan menatap wajahku yang berantakan. Saat itu, pria besar itu pun mengenakan celana jins hitam yang bagian dengkulnya telah dibolongi. Satu hal yang tersirat dan membuatku sedikit bingung adalah dirinya yang membawa gitar akustik, tetapi tidak dimainkan.


Malahan, gitar itu diletakkan di atas kulkas tiga pintu yang terletak di dalam dapur, dibiarkan kedinginan tanpa sarungnya yang seharusnya menemani.


Sama sekali tidak berguna.




Itu bukti nyatanya kalau badanku masih pegal-pegal.


Masyarakat seantero organisasi ini pun masih sama dalam posisinya, dan mungkin hanya Kak Aina sajalah yang berubah.


Wanita itu sebelumnya tidur di atas meja dengan kaki yang diselonjorkan serta keluar dari meja bundar, dan sekarang dia sudah berpindah posisi di atas permukaan lantai restoran yang penuh dengan zat-zat yang terkontaminasi.


“Hadeh, pekerjaanku hari ini bakal jadi sepuluh kali lipat,” kataku sambil mengusap keringat yang menempel di dahi.


Perlahan-perlahan keringat itu semakin tumbuh dengan segar, seiring waktu, saat aku tanpa henti-hentinya membereskan semua kekacauan yang terlihat.

__ADS_1


Mereka semua yang masih tertidur pulas dan sulit untuk dibangunkan pun terpaksa harus aku ubah gaya tidurnya. Seperti posisi orang yang sedang duduk dengan sebelah pipi menempel di atas meja.


Di samping itu, ingatan mengenai pembicaraan Kak Aina malam kemarin kembali tebersit di pikiranku. Aku sama sekali tidak membayangkan jika Ketua Morikawa ternyata memiliki masa lalu yang sedemikian begitunya.


Melansir dari wanita 22 Tahun yang menjadi juniornya itu, katanya dahulu Ketua Morikawa memiliki seorang guru. Guru itu adalah sesosok wanita yang sangat dia hormati, bahkan mereka terlihat akrab layaknya sepasang kolega.


Namun, ada sesuatu dari ucapan Kak Aina yang membuat dirinya sendiri hampir ragu memberitahukan semua kebenaran itu kepadaku.


“Ketua Suguha itu ... dia pernah berkata kalau gurunya adalah seorang gadis pengendali angin. Dari mana coba kenyataan itu bisa datang? Bukankah itu hanya legenda yang terlalu sering dibesar-besarkan oleh pemuja ilusi? Omong-omong, kita hidup di dunia nyata, lho, dan tentu saja yang begituan tidak akan pernah hadir di kehidupan ini.”


Tidak hanya itu, Kak Aina juga menambahkan suatu ungkapan yang membuatku juga hampir terlena dengan ucapannya.


“Hei, dengar. Kalau misal yang seperti itu memang ada, kenapa mereka tidak menunjukkan eksistensinya kepada kita?” Cara bicaranya pun tidak seperti biasa, waktu itu Kak Aina benar-benar bersikap seperti seorang profesor dengan segala konsep ilmiah yang sudah menempel lekat-lekat dalam dirinya. “Padahal dulu Ketua Suguha itu sangat ceria, kau bahkan mungkin masih bisa melihat sedikit jejak dari sedikit wajah periangnya yang dia pernah tunjukkan padamu.”


“Wajah periang?” Waktu itu aku bertanya, semakin penasaran dengan isi ceritanya.


“Ya, dulu itu Ketua Suguha punya banyak rekan yang bisa dipercaya. Dia itu benar-benar sesosok gadis yang disiplin, mandiri, bertalenta, berbakat, punya jiwa kepemimpinan, dan masih banyak lagi hal-hal positif lainnya pokoknya. Hanya saja ... ya, kau tahu ....” Di sini nada bicara Kak Aina mulai terbata-mata, seperti ada sesuatu yang menahannya, tetapi sesuatu itu pula yang ingin dia ungkapkan padaku secara gamblang.


Kemudian aku mendorong diriku untuk terus bertanya kepadanya, tidak peduli itu akan membuat Kak Aina marah atau tidak. Beruntung saja, tidak lama berlalu dia dengan leluasa mau mengatakannya lagi.


“Kumohon jangan bahas ini lagi di depan dia, ya ....”


Aku mengangguk, membuat janji di waktu malam saat badai topan sedang mengamuk di luar sana.


“Secara tidak sengaja, tiga tahun yang lalu, aku mendengar bahwa gurunya meninggal karena sakit yang aneh. Waktu itu Ketua Suguha juga berada di sana—kalau tidak salah dia sedang menjaga seseorang di gudang bawah tanah. Sejak kejadian itu pula Ketua Suguha mulai merasa terpukul, dan setelah beberapa tahun ini dia juga mulai membenci topik-topik yang berkaitan dengan gadis pengendali angin lagi,” kata Kak Aina sambil mengepalkan kedua tangannya di pinggang.


Kesimpulan yang bisa kuambil dari cerita pendek malamnya itu adalah: Kak Aina masih meragukan eksistensi dari gadis pengendali angin itu sendiri. Walau jika di masa depan ada seorang pengamat cuaca yang bisa melihat keajaiban-keajaiban angin itu pun menjelaskan padanya serinci atau sedetail mungkin, pasti Kak Aina masih akan teguh pada keyakinannya yang menganggap kalau itu semua adalah fenomena yang nyaris disebut takhayul, atau secara ilmiahnya tidak mungkin ada.


Andai saja dia bisa melihatnya hal yang sama sepertiku yang juga sama-sama manusia biasa ini, pasti pola pikir Kak Aina yang begitu keras tersebut akan lumer tanpa harus menunggu waktu berdetik lebih lama.

__ADS_1


...———...


...Bersambung...


__ADS_2