Our Voice

Our Voice
30. Pilihan Yang Bagus


__ADS_3

Bab 30


Pilihan Yang Bagus—


...*****...


...~ Hiro Sato ~...


“Ayo kita cari lagi, ini belum berakhir,” kataku, sambil memutar badan.


Kali ini kami masih harus menemukan sebutir telur, dua atau tiga atau lebih. Sekiranya itu bisa digunakan untuk cadangan, jika Yuna atau pun diriku tanpa sengaja memecahkannya waktu masak-memasak nanti.


Yuna mengangkat kepalanya, dan kilauan senyum itu kembali menghujani hatiku. “Bagaimana dengan telur? Kamu butuh itu?” tanyanya.


“Ya, kita perlu itu.” Mungkin itu hanya keberuntungan, tetapi Yuna seperti baru saja membaca pikiranku.


Gadis itu lantas berlari. “Ah, aku tahu itu di mana!” Auranya berubah riang. Dia sama sekali tidak melirikku; seolah-olah berharap aku ikut mengejarnya.


Akan tetapi, itu bukanlah perandaian lagi. Sekarang aku refleks berlari menggapai Yuna, mengikutinya dengan semangat yang sama.



Saat ini, sambil mencari sisa dari perlengkapan dan bahan-bahan yang kami butuhkan, kami mulai membuka pembicaraan yang ringan.


“Sejak kapan kamu belajar memasak, Hiro? Pengalamanmu sepertinya tinggi sekali, ya, bahkan saat kamu memilih bahan-bahan yang digunakan untuk memasak.” Dia memasukkan setengah kilogram telur yang sudah di bungkus itu, masuk ke dalam troli kami. Untuk sekarang, aku yang mendorongnya.


Aku tersenyum lembut, sedang tanganku sibuk mengatur ulang barang-barang yang ada pada belanjaan kami. “Anu, sebenarnya aku baru-baru saja belajar masak.”


Pandangan Yuna mendelik. “Serius, tuh?” Ekspresinya yang berubah signifikan hampir saja membuatku tertawa.


Kami bergerak menuju koridor yang menyimpan produk-produk dengan kategori bumbu masak. Itu tertulis dengan besar pada papan nama yang menggantung di atasnya.


“Karena ibuku suka memasak, sih,” jawabku tenang.


“Itu jawaban yang masuk akal.”


Di bagian rak bumbu tepat kami berdiri, Yuna kemudian menghadangku dengan kedua tangannya. Itu seakan-akan memintaku untuk diam dan memohon agar dirinya sendiri yang memilihkan kecap itu untukku.


“Jadi sekarang, kamu meninggalkan ibumu?”


Pertanyaan itu tampak berat, tetapi aku akan tetap menjawabnya dengan jelas. “... dia sudah meninggal.”

__ADS_1


Tangan Yuna terhenti saat itu juga, seperti membeku dalam bongkahan es yang mengapung di permukaan samudra. “Maaf, aku tidak tahu itu,” tuturnya, sambil tertunduk.


Aku hanya mengangguk; meluangkan senyum selagi hari-hari yang menyenangkan seperti ini masih bisa terwujud. Sebenarnya pun, aku sudah lama melupakan kejadian itu—ya, walau itu baru terjadi kira-kira setahun yang lalu. Aku hanya berpikir jika itu sudah lama berlalu, dan tidak ada kewajiban lagi untuk mengingat rasa sakit tersebut, sederhananya.


Tidak jauh dari rak sebelah, Yuna meraih satu lagi bahan makanan. Itu adalah gula dengan merek yang paling bergengsi di kota itu.


“Aku rasa kamu butuh gula.” Tanpa persetujuanku, gadis itu langsung memasukkannya ke dalam kereta dorong kami. Ini seperti skor ganda saat dia berhasil menebak lagi apa yang aku pikirkan.


“Benar lagi, Yuna,” kataku, sambil memujinya. “Kita juga butuh itu.” Aku bergerak mendorong troli itu lagi.


Di samping itu, aku melihat satu lagi sesuatu yang kami butuhkan: sebuah kaldu bubuk yang akan menambah kenikmatan pada bubur yang akan kami buat nanti. Akan tetapi, saat aku hendak mengambilnya—


“Kamu mau yang itu?” Suara Yuna—dia seperti menguasai situasinya—tampak meragukanku.


“Ya, sebenarnya kita butuh itu.”


“Tidak mungkin! Apa kamu tidak lihat sebelumnya?” protesnya.


“Apa?”


Jarinya yang rapuh menunjuk troli kami, dan aku memicing untuk memastikan apa yang baru saja aku saksikan.


“Sejak kapan, kau ....” Di dalam sana ternyata sudah ada kaldu bubuk itu, dan bahkan itu benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan. Untuk lebih jelasnya, sebenarnya aku belum pernah memberitahukan hal itu kepada Yuna. Otomatis, aku rasa ini lebih dari sekadar keberuntungan.


Kami tertawa di antara pelanggan yang berlalu-lalang melewati kami. Masing-masing dari mereka kebanyakan terfokus pada produk apa yang ingin mereka beli, tetapi aku yakin jika guyonan kami kali ini cukup meresahkan.



Selanjutnya, kami berpindah menuju satu barang lagi—berdasarkan permintaan Yuna. Entah bagaimana, tetapi tiba-tiba saja dia mengajukan itu kepadaku.


Oleh karenanya, sekarang kami berpijak di depan rak kecil berisi berbagai varian cokelat, dan itu terletak tepat di tengah-tengah antrean loket kasir yang berjajar. Selain itu, terlihat banyak anak kecil yang mengerubungi kami, seperti sepasang juri idola dalam acara program televisi terkenal.


“Yang mana, ya, hmm ....” Jari Yuna menunjuk satu demi satu batangan cokelat yang duduk dengan rapi; di setiap tingkatan rak hingga mencapai puncaknya.


“Kenapa bingung?” tanyaku.


“Soalnya ini sulit.”


“Jadi kau tidak tahu mau beli apa?”


“Tidak, aku tahu; aku hanya bingung saat ini.”

__ADS_1


Sambil menghela napas, aku mendorong diriku untuk membantunya. “Yang satu ini terlihat bagus.”


Di lapisan ke empat rak tersebut, terdapat sederet batangan cokelat yang disusun rapi hingga ke belakang. Aku tidak tahu mengapa, tetapi cokelat dengan merek silverking itu memiliki daya tarik tersendiri, setidaknya bagiku.


“Pilihan yang bagus!” Yuna menelan bulat-bulat pilihanku. Dia mengambilnya, lalu memutuskan untuk menggenggam cokelat itu sendiri di tangannya. Hanya saja, tidak lama gadis itu mengambilnya lagi, dan sekarang aku teringat oleh satu hal yang pernah dia katakan.


”Jadi ini untukmu.” Saat itu, di halte yang tenang pada pagi yang cemerlang, Yuna mengulurkan dorayakinya kepadaku.


Apa hal yang sama dengan konsep yang berbeda akan terjadi?


Tidak, Hiro— bagaimana kau bisa sepercaya diri itu? Tidak mungkin kau lapar lagi; sampai-sampai bisa kepikiran tentang itu, seruku kencang-kencang dalam hati, sambil kembali melirik Yuna. Atau, aku mungkin memang menginginkannya lagi? Maksudku ... apa pun boleh; asal itu darinya.


Akan tetapi, anak-anak yang berada di dekat Yuna kerap kali mendorongnya. Hampir saja itu membuat dirinya terjatuh.


“Eh, tolong jangan dorong-dorong, nanti cokelatku jatuh,” tegur Yuna, berusaha mengingatkan mereka semua. Namun, gadis itu selalu berhasil menyeimbangkan dirinya, tidak lupa dengan senyumnya yang selalu terlukis dengan sempurna.


“Tapi aku suka Kakak; jaketmu itu sangat keren, lho ...”


“Aku setuju, Marin, Kakak yang satu ini jauh lebih keren daripada guru kita di sekolah.”


“Kak, boleh aku minta tanda tanganmu? Sepertinya Kakak di masa depan akan menjadi artis.”


Dari semua tanggapan itu, Yuna menjawab pernyataan terakhir dari salah satu anak tersebut.


“Sepertinya itu akan bagus, tetapi aku tidak terlalu mengharapkannya,” katanya, sambil mengelus anak tersebut. “Tapi saat ini, aku ingin hidup damai, bermain bebas di luar sana; sama seperti kalian.”


“Otakku kok nge-hang, ya?” Anak itu terlihat menyesal, dia seharusnya mengurungkan pertanyaannya barusan.


Tidak lama Yuna berjongkok dan memandang wajah anak tersebut. Tindakannya tersebut pun turut membuat anak-anak yang berada di sekitarnya menjauh, seolah-seolah membuat ruang khusus untuk dialog mereka.


“Jangan terlalu dipikirkan, itu akan berat bagimu saat ini.” Yuna tergelak manis. Tangannya kembali sibuk mengusap kepala anak tersebut, dan anak itu terlihat puas dengannya.


Maka dari itu, aku perlahan berjalan mundur, mencoba keluar dari sekelompok anak yang juga mulai ikut mendorongku. Dari sini aku bisa melihat perbedaan yang belum pernah aku rasakan sejak berkelana mengarungi puluhan kota di negara ini.


Ya, aku ingat. Aku masih akan mengejar tujuan utamaku, mengenai arti dari hidup yang pernah ibu katakan kepadaku. Namun, sepertinya, perlahan-lahan aku sudah menemukannya. Hanya saja aku tidak boleh gegabah. Ini hanyalah awal, dan aku tidak ingin mendapat akhir yang buruk hanya karena tergesa-gesa memutuskannya.


Melihat dari semua kenyataan yang telah bergerak, atau dari hal-hal yang kami alami saat ini.


Sepertinya, aku baru saja melihat Yuna dari sudut pandang yang berbeda.


...*****...

__ADS_1


...... Bersambung ......


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2