
Episode 43
Mesin Capit Boneka—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
Hiro, Hiro!
Seseorang memanggilku. Suaranya lembut, terasa nyata, dan sepertinya itu memang datang dari dunia nyata. Perlahan-lahan aku kembali membuka mata.
“Yuna?” Aku sedikit terkejut setelah wajahku dan wajah Yuna benar-benar sangat dekat.
Karena dia merasa kesadaranku sudah kembali, gadis itu perlahan menarik dirinya ke belakang.
“Apa kamu sedang ada masalah?” tanyanya.
“Tidak terlalu buruk.” Meski kenyataan yang baru saja terlintas di pikiranku itu terlalu berat.
Yuna menghela napas. “Huft, aku pikir, kenapa ...,” ungkapnya, sambil meletakkan telapak tangannya di dada. “Kalau begitu, yuk, kita ke sana.” Gadis itu mengulurkan tangannya pada mesin capit boneka yang berkelap-kelip di sisi barat dari tempat kami berdiri.
⠀
Sesuai yang petugas wanita itu katakan, nama permainan dari mesin capit boneka itu sendiri adalah Minnie.
Mesin itu dibalut dengan warna pink. Di bagian tiap-tiap sisi atapnya yang menjorok ke depan, kami bisa melihat beberapa boneka—dengan berbagai ukuran dan model—menggemaskan yang digantung dalam bungkusan plastik. Pemilik tempat ini sepertinya sedang menjadikan hal demikian sebagai promosi yang terkesan dramatis kala angin datang berembus dan menggoyang-goyangkan boneka tersebut.
Sebagai catatan, aku harap Yuna tidak benar-benar melakukan itu dengan kemampuannya, walau ini jelas sama sekali tidak penting baginya.
“Berapa koin lagi yang kita punya?” Aku melirik dompet kecil berwarna ungu yang selalu dia pegang, karena semua koin-koin itu tersimpan di dalamnya.
“Sebentar, biar kuperiksa.” Yuna membuka ritsleting dompet tersebut, lalu mendekatkannya ke atas wajah. “Hmm, kayaknya, sih ....”
“Kayaknya?” Cukup aneh. Kok dia ragu, gitu? pikirku. Padahal, kan, gadis itu bisa menghitungnya.
Lagi pula kami sudah memainkan banyak hal di sini, dan koin yang tersisa pasti akan lebih sedikit dari yang dia pikirkan.
“Sisa empat, kurasa.” Wajahnya berubah muram, itu membuatku terheran-heran.
“Ke–kenapa kau murung, Yuna?”
“Masih mau main lagi.”
“Siapa?” tanyaku.
“Ya, aku.”
“Tenang saja. Kau masih punya empat kesempatan lagi, kan”
__ADS_1
“Lagi.”
“Maksudmu lebih dari empat?”
Perlahan-lahan Yuna tersipu, seolah-olah perasaannya yang terdalam mengatakan jika bermain lebih lama di tempat ini pasti akan sangat menyenangkan. “Y–ya ...,” tuturnya pelan.
Untuk itu aku menatap arloji yang terpasang di pergelangan tanganku, kemudian melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.39. Setahuku, mall akan tutup pada jam delapan malam, dan mungkin masih ada banyak kesempatan baginya untuk bermain-main di tempat ini. Selain itu aku juga bisa bersantai-santai, mengingat Pak Fujima sedang berada di tempat anaknya hingga esok hari.
Aku bisa menganggap ini sebagai liburan pertamaku di kota ini.
"Mall masih lama tutupnya, jadi tenang saja,” kataku.
“Maksudnya?”
“Nanti kita beli lagi koinnya, ya?” Aku menyunggingkan senyum, sangat lebar.
“Tapi kali ini pakai uangku.” Yuna mengepalkan kedua tangannya, kemudian dia mengangkatnya ke atas dada, dengan wajah cemberut. Aku bisa melihat rona merah yang timbul dari pipinya yang menggelembung.
“Baiklah, terserahmu,” jawabku sambil terkikik. “Aku mau coba duluan, boleh?” Mungkin jika aku mendapatkan boneka yang menggemaskan dari mesin ini, aku bisa memberinya hadiah ganda ( yang utama dari penukaran tiket tersebut ).
Dia pasti akan sangat senang, pikirku.
⠀
Rasa optimismeku seperti dibuang begitu saja. Ini sangat melelahkan, membosankan, dan mengerikan, setelah mengetahui bahwa tidak ada satu pun dari capit itu yang berhasil menangkap satu di antara sekian banyak boneka yang duduk di dalamnya.
Padahal Yuna sudah menambah empat puluh koin lagi ( ini membuatku sedikit curiga. Apa dia membeli sebanyak itu setelah melihat jumlah koin terakhir yang dia katakan padaku? Jadi dia hanya perlu menambah satu digit nol lagi di belakangnya agar terlihat banyak, atau mungkin ini hanya perasaanku saja ), tetapi aku sudah menghabiskan setengah daripadanya.
“Santai saja, Hiro, tidak perlu terburu-buru.” Yuna merendahkan kepalanya di sampingku, mendongak dengan tatapan dan senyum seperti memberi semangat.
Aku mengangguk, kemudian kembali mengalihkan pandangan pada benda terkutuk tersebut.
Kutarik napasku pelan-pelan, lalu memainkan tombol kendali mesin yang bisa diputar ke segala sisi ( pastinya untuk mengendalikan laju gerak capitnya ).
Saat aku berpikir dengan tenang, tanpa sadar aku mengingat lagi hal-hal yang pernah aku pikirkan beberapa waktu yang lalu.
Hari itu sudah lama berlalu, cukup jauh, atau tepatnya ini adalah kejadian saat kami berada di dalam gang, dan pencuri tas itu menyergap kami dari bak sampah yang menjijikan.
Aku merasa sebenarnya Yunalah yang menyelamatkan kami. Jika gadis itu tidak menggunakan angin-nya, kemungkinan terbesar dan risiko terkuat yang harus aku alami saat itu adalah ditikam oleh pencuri tersebut. Namun, kenapa jadi dia yang berterima kasih kepadaku? Bahkan memberi hadiah yang sama sekali tidak pernah kuharapkan. Rasanya sulit untuk dimengerti.
Aku masih fokus pada calon boneka yang hendak kucapit lagi. “Hei, Yuna,” panggilku.
“Ya?”
“Kenapa kau berterima kasih kepadaku?”
“Huh?”
“Waktu itu.” Aku memperjelasnya, siapa tahu dia lupa.
__ADS_1
“Tentang pencuri di gang itu?” Yuna langsung peka setelah aku mengatakannya.
“Ya, pencuri itu,” jawabku.
“Kenapa?”
“Padahal, kaulah yang menyelamatkan kita di akhir, dan aku hanya membuatnya semakin berantakan.”
Yuna tiba-tiba mengerutkan dahinya sambil berkata, “Jangan begitu.”
“Huh?”
“Kita berdualah yang menyelamatkan hidup kita masing-masing waktu itu, Hiro, jadi itu termasuk dirimu.”
“Huh?” Aku terus berpikir jika Yuna yang tetap saja pada akhirnya menyelamatkan kami. Fakta itu tidak terelakkan, walau hanya sejengkal.
“Karena awalnya aku yang sebenarnya ingin menolong kita berdua.” Yuna ikut fokus melihat mesin capitku yang sedang bergerak maju-mundur tidak keruan. “Tapi ternyata, kamu duluan yang berusaha melakukannya, kan?”
“Lalu?” Itu masih terdengar membingungkan bagiku.
“Aku menganggapnya itu sebagai usaha; aku melihat perlawananmu dengan jelas.”
“Usaha?”
“Tidak perlu aku katakan lagi, kan, ya?” Yuna lantas tergelak sambil menutup mulutnya. Tidak lama dia kembali melirikku dan berkata, “Kamu berusaha keras menyelamatkan kita, karena kamu takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Itu adalah hal yang bagus, dan karena aku adalah salah satu orang yang kamu tolong, jadi aku berhak untuk mengatakannya.”
“Jadi begitu, ya.”
“Aku jujur, lho.” Yuna menempelkan telunjuknya di kaca mesin capit boneka yang berembun tersebut, seperti hendak menuliskan sesuatu. Namun, tiba-tiba saja dia mengurungkannya. “Boleh aku mengatakannya lagi, Hiro? Mungkin ini akan terdengar sedikit aneh.”
“Apa?” Tiba-tiba pandanganku refleks menghadap ke matanya lagi. Kali ini benar-benar seperti ditarik.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkanku saat itu.” Kami saling bertatap-tatapan, beberapa detik, dan karena ini tidak akan menjadi baik, maka aku memutuskan untuk kembali menatap boneka yang sedang kuincar.
Aku sedikit senang setelah mengetahui kenyataannya. Ternyata dia menghargai usahaku, dan guyonan menyakitkan yang pernah dia sampaikan kala kami berada di dapur nampaknya sekarang hilang tak bersisa dari hatiku.
Aku bersyukur, aku senang, aku bangga pada diriku sendiri karena sudah bisa menyelamatkannya dengan semua yang kumiliki. Andai saja waktu itu aku hanya diam melongo dan tidak berbuat apa-apa ( menunggu Yuna untuk menyelesaikannya ), mau ditaruh di mana mukaku? Pasti akan sangat memalukan.
Akan tetapi, satu arti hidup yang kudapatkan hari ini adalah: kerendahan hati adalah kunci utama dari hubungan yang harmonis, baik itu dari segi kekeluargaan, pertemanan, atau hal-hal lainnya yang berkaitan.
Masih banyak lagi yang harus aku cari, dan itu tidak hanya selesai sampai saat ini.
Aku tidak berharap hari itu datang, tetapi, jika ada kesempatan bagiku menyelamatkannya di masa depan, maka aku pasti akan melakukannya.
Tidak peduli seberapa beratnya rintangan yang menghalangi, seberapa mengerikannya ujian yang datang, atau siapa pun orangnya; aku akan tetap membulatkan tekad untuk membuat gadis itu tetap tersenyum.
Namun, sekali lagi.
Tolong jangan datangkan hari itu, Tuhan.
__ADS_1
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...