
Bab 36
Game Station—
...*****...
...~ Hiro Sato ~...
“Hehe ...,” gumamku dengan balutan tawa kecil.
“Kenapa ekspresimu jadi aneh begitu?” Suara gadis itu terdengar seperti rintihan anak-anak yang sedang menahan tangis.
“Ayo ikut aku!” teriakku dengan berlari.
“Hei, lari lagi— tu–tunggu!”
Meski Yuna terus saja melakukan aksi protesnya, tetapi aku bisa mendengar derap langkah sepatu ketsnya yang menyala-nyala sedang berusaha mengejarku.
⠀
Setelah menaiki elevator yang membawa kami ke lantai lima mall, Yuna jatuh tertelungkup dengan kondisi memilukan.
“Aku kehabisan tenaga, huft, huft ....” Walau Yuna sedang mengatur napasnya dan terlihat kelelahan, tetapi tidak ada satu pun keringat yang terukir di wajahnya. Andai saja angin-angin itu juga hidup di dalam tubuhku, tentu saja ini akan membuatku bahagia selamanya.
“Jangan begitu,” tuturku sambil menarik tangannya untuk berdiri. “Tapi kita sudah sampai, kok. Ini dia tempatnya.” Pandanganku menuding game station yang membentang dari tempat naiknya elevator kami hingga deretan ujung mall.
“Ternyata kita ke sini, toh.” Yuna mendelik. Aku rasa sekarang perasaan kagumnya kembali naik satu gelombang, setelah semua yang dia lihat di beberapa lantai sebelumnya.
Ini adalah tempat yang penuh dengan paduan lampu tujuh warna yang berkelap-kelip sejauh mata memandang. Suara bunyi-bunyian dari aksi peperangan atau tembak-tembakan, dan musik yang menggelegar pun turut terdengar dan memenuhi gendang telinga. Aku melihat beberapa masyarakat dari kalangan muda yang masuk dan keluar secara bergantian, serta di dalamnya terdapat puluhan anak-anak berbagai usia yang menempati beberapa mesin gim sesuai dengan permainan apa yang mereka ingin mainkan. Ya, sebenarnya aku sama sekali tidak menyukai hal-hal seperti ini, tetapi aku hanya ingin mewujudkan tujuan Yuna yang sempat tertunda dulu.
“Waktu itu kau ingin ke tempat seperti ini, bukan?”
“Iya, sih, tapi ....” Ekspresi Yuna menunjukkan keraguan. “Kamu tidak suka tempat ini, jadi tidak perlu repot-repot untuk membawaku ke sini.”
Aku berniat membalas perkataan Yuna tempo dulu. “Hmm ... tapi sepertinya, sekali atau dua kali tidak masalah.” Itu adalah ucapannya ketika aku memberikannya sekotak es krim, tetapi ternyata itu bukanlah sesuatu yang gadis itu sukai.
__ADS_1
Yuna lantas mencondongkan badannya padaku. “Jadi kamu benar-benar ingin bermain, ya, Hiro?” tanyanya dengan menyeringai.
Aku segera menelan ludahku. “Ya, seperti yang tadi kubilang.”
Gadis itu menarik tanganku kencang-kencang—“Ayo masuk!” Saking semangatnya, tanpa ragu dia menyeretku masuk ke dalam game station tersebut.
Kami bahkan belum membeli tiket, dan kami pun belum berunding mengenai siapa yang akan merogoh kocek untuk pengeluaran hiburan jangka pendek ini.
...*****...
⠀
Rupanya, Yunalah yang berniat mentraktirku untuk main di gelanggang permainan ini. Namun, aku bersikeras menolaknya dan langsung menyodorkan sebagian besar uangku kepada pelayan yang bertugas menangani pembelian tiket di loket antrian yang tidak terlalu padat. Sepertinya saat ini dia juga tidak terlalu mementingkan itu, dan sekarang aku juga telah dibawa olehnya ke sebuah wahana gim yang aneh.
Jariku refleks menunjuk mesin gim yang mengeluarkan suara-suara musik yang tidak asing di telingaku. “Apa ini?” Jika dilihat dari judulnya, itu tertulis Dance Dance Revolution dengan fon tulisan yang tidak beraturan, tetapi sepertinya bergaya modern untuk kalangan pemuda zaman kini.
Yuna seketika mendorongku, dan sekarang aku berdiri di atas panggung wahana permainan tersebut. “Eh, tunggu—“ Di bawahku terlihat beberapa simbol anak panah dalam ruang segi enam yang tidak beraturan, dan masing-masing dari mereka berkedip-kedip secara acak.
Tidak ada hal lain yang terdengar selain tawa Yuna yang semakin lebar, bersatu padu dengan ritmis musik yang sepertinya menguasai seisi game station ini.
“Lalu ...?” Gara-gara hal ini rasa penasaranku kembali bangkit.
“Seperti yang kamu lihat, nama permainan ini adalah Dance Dance Revolution, dan biasanya ini disukai oleh orang-orang yang menyukai musik.”
“Ya, aku suka, sih. Kalau sedang senggang biasanya aku suka mendengarkannya,” tuturku sambil mendongak ke panel layar yang berdiri di hadapanku. Di sana ada tulisan Insert Your Coin yang dipasang jelas-jelas, seperti memberi peringatan yang jelas.
“Nah, dan yang kamu lihat di bawah tadi adalah injakan-injakan panah yang harus kamu mainkan. Tidak lupa juga, Hiro harus memilih lagu yang diinginkan sebelum bermain.”
“Bagaimana cara memainkannya?” tanyaku kembali.
Tiba-tiba Yuna mengerutkan dahinya sambil berkata, “Diinjak.” Raut wajahnya yang cemberut seolah-olah menuturkan jika aku termasuk dalam bagian injakan-injakan panah yang akan turut dia mainkan ke depannya.
“Baiklah aku mengerti, tapi masih ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“Apa?”
__ADS_1
“Setelah selesai dengan ini apa yang akan kita dapatkan?”
“Boneka.”
Jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang. Jika aku berhasil menyelesaikan permainannya, itu artinya sama saja dengan memberinya hadiah ulang tahun langsung dengan jerih payahku. Baiklah, aku tidak akan kalah! semangatku bergelora hebat dalam hati. Tidak boleh ada kegagalan dalam misi ini.
“Sekarang kita akan memainkannya secara multiplayer.” Yuna mulai memasukkan koinnya. Tidak lama terdengar suara yang menggebu-gebu dari dalam mesin tersebut, seolah-olah seperti intro saat pentas utama akan segera berlangsung.
"Artinya kita akan memainkan ini bersama?" tanyaku untuk memastikan.
"Benar, seperti itu."
Karena sudah paham dengan beberapa mekanisme permainannya, maka rasanya tidak ada lagi sesuatu yang harus kutanyakan. “Oke, jadi kita akan mulai sekarang, ya?”
“Ya, lihat panah-panah yang akan bermunculan di panel monitor itu, sesuaikan dengan pijakan kakimu untuk setiap injakan-injakan panah yang sedang menyala, oke?” jelasnya dengan semangat.
“Aku mengerti.” Dengan percaya diri aku fokus menatap monitor tersebut. Dari sini aku bisa melihat tulisan score yang menunjukkan angka nol, dan sepertinya jika itu semakin bertambah banyak, maka ini akan lebih baik.
Suara Ready, Set, Go dan visualisasi teksnya di dalam monitor pun tampil secara bersamaan. Oleh karenanya aku segera bersiap.
“Eh?” gumamku setelah melihat Yuna membuka tudung jaketnya. Tangannya pun berpegang pada tiang hitam yang bersanding di belakang punggungnya. Apa itu sangat diperlukan? tanyaku dalam hati, karena Yuna sama sekali tidak memberitahukan itu.
Saat sebelum aku kembali menatap monitor itu, pandanganku yang tanpa sengaja terarah pada Yuna pun seketika terbelalak setelah melihat apa yang gadis itu lakukan.
“Huh?” kejutku.
Dengan gesit Yuna menginjak satu demi satu panah yang menyala-nyala secara berurutan, seperti mengikuti arahan dari panah yang tampil satu per satu di depan layar monitor yang berwarna.
“Hebat sekali ....” Sekarang aku berusaha mengikutinya; aku kembali terfokus pada bagian yang harus kumainkan. Aku tidak boleh kalah darinya, meski kata pemula dengan jelas adalah gelar yang tepat bagi pemuda yang tidak suka wahana gim sepertiku.
Panah-panah dengan beragam arah yang muncul di monitor ternyata membuat kepalaku pusing. Mereka seolah-olah tampil beruntun tanpa ampun dan memenuhi memori otakku secara cepat. Namun, berbeda signifikan dengan Yuna; gadis itu sepertinya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Bahkan musik yang bergema dengan indah sepertinya turut membuat dia bersemangat menyelesaikan ronde ini. Aku juga bisa merasakan gema nada yang elok turut menyahut di pendengaranku, tetapi bagaimanapun juga, sangat sulit untuk menandingi langkah Yuna.
...*****...
...... Bersambung ......
__ADS_1
...Our Voice © 1 St Original Works...