Our Voice

Our Voice
42. Kedua Anak Yang Baru Akur


__ADS_3

Episode 42


Kedua Anak Yang Baru Akur—


...💨💨💨...


...~ Hiro Sato ~...


Setelah urusan petugas wanita itu selesai dengan urusannya, ia kembali berbalik padaku.


“Terima kasih karena sudah menunggu. Jadi, apa ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.


“Apa di sini ada permainan mesin capit boneka?”


“Tentu saja ada.” Ia meletakkan telapak tangannya di dadanya. “Jika saya boleh tahu, apa anda ingin memainkan permainan itu?”


Aku tersenyum lebar seraya berkata, “Ya, bisa tolong beritahu di mana mesin permainan itu?”


Petugas wanita itu mengulurkan sebelah tangannya, lurus ke depan. “Dari tempat ini, anda bisa lurus, kemudian lihat mesin gim balap itu?”


“Ya.” Aku sangat tahu permainan itu, karena sebelumnya, ada konflik yang cukup menegangkan yang telah terjadi di sana beberapa waktu silam.


Sekarang ia membelokkan telapak tangannya. “Nah, di sana anda bisa berbelok dan berjalan hingga anda bisa menemukan mesin gim Time Crisis dan Tekken Tag Tournament,” jelasnya. “Dan jika anda melirik ke kiri sedikit saja, anda pasti bisa langsung menemukan permainan yang anda inginkan; nama permainan dari mesin capit boneka itu sebenarnya adalah Minnie, sebagai informasi tambahan.”


Petugas ini rinci sekali menjelaskannya. Aku terkesima dalam hati.


Sebenarnya berapa orang-orang seperti mereka ini dibayar dalam pekerjaannya? Apakah cukup besar? Atau hanya cukup untuk kebutuhan pribadi saja? Entah kenapa pertanyaan ini terlintas di benakku, dan itu juga sedikit membuatku penasaran.


“Terima kasih banyak,” ucapku sambil mengunggah senyum.


Yuna tiba-tiba lewat di depanku, kemudian memutar badannya. Sekarang kami saling bertatapan lagi satu sama lain. “Kenapa kamu begitu yakin kalau aku memang ingin menanyakan itu padanya sejak tadi?”


“Saat tadi aku bilang sedang mencari sesuatu padamu, lalu kau menjawab ya.”


“Benar juga, aku lupa,” katanya.


Aku baru tahu kalau orang yang sedang marah itu hasil akhirnya seperti ini. Mereka kemungkinan besar lupa dengan percakapan yang baru saja mereka alami bersama lawan bicaranya beberapa waktu lalu.


“Tapi ... apa kau sudah baikan?”

__ADS_1


“Baikan, gimana?”


“Maksudku—“


“Ayo kita pergi ke sana sekarang.” Yuna memotong pembicaraanku tanpa ragu. Sepertinya dia benar-benar ingin pergi ke mesin capit boneka itu. Namun, hal terpenting yang aku harus pastikan adalah: Semoga dia kali ini sudah baikan, jadi tolong jangan marah lagi, Yuna, harapku dalam hati.



Kami sudah tiga per empat jalan, dan sudah hampir tiba di mesin capit boneka itu. Hanya saja pandangan Yuna teralihkan pada sesuatu. Itu membuatku juga secara refleks mengikuti arah gerak matanya.


“Aku baru tahu kalau arena mandi bola juga ada di tempat ini.” Yuna memicingkan mata, seperti ingin memastikan bahwa apa yang gadis itu lihat benar.


“Memang sebelumnya belum pernah ada?”


Di sana terdapat prototipe bangunan yang terbuat dari plastik dengan paduan warna ( merah, kuning, biru ); lubang-lubang yang membentuk berbagai macam bangun ruang; pintu tak bergagang, dan tidak lupa juga bola-bola yang memenuhi permukaan kolam di tengah-tengah bangunan tersebut.


Sebuah jaring hitam yang menjulang hingga langit-langit game station ini juga mengitar di sekitarnya, dan juga ada banyak anak-anak yang sedang bermain dan hinggap hampir di seluruh bagian arena mandi bola tersebut. Seingatku, ya, itulah nama dari permainan yang Yuna katakan sebelumnya.


Yuna kembali melirikku. “Mana ada. Ini, sih, seharusnya sudah beda ranah, ya.” Reaksinya seolah-olah membantah pertanyaan yang baru saja kusampaikan.


“Oh, jadi emang seharusnya belum ada, ya.”


“Bagus?” gumamku.


“Hei, lihat!” Yuna tersenyum sambil menunjuk sesuatu yang berada di dalam arena bola tersebut.


“Itu, kan ....”


Raku dan miro—kedua anak yang baru akur sebelumnya tersebut berada di dalam gelanggang permainan ini. Raku terlihat berenang di antara jutaan bola yang hampir-hampir menenggelamkannya, sedangkan Miro berdiri tangguh di balkon atap bangunan tersebut.


Jarak dan ketinggian yang memisahkan mereka tidak terlalu jauh, tetapi keduanya tampak saling melempar bola—untuk menyerang—dengan sekumpulan bola yang mereka bopong di depan dada.


Yuna merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian ia tempelkan itu di bawah rahang kanannya sambil tersenyum lega. “Senang sekali melihat mereka damai lagi, ya, kan, Hiro?”


“Tentu saja, siapa pun pasti senang melihatnya.” Aku bersejajar dengan Yuna, dan pandangan kami berdua fokus menatap keakraban yang kembali terjalin pada kedua anak tersebut.


Namun, kenapa, ya? Pemandangan ini seperti menjerumuskanku kembali pada hal-hal yang sebenarnya sudah ingin kulupakan.


Waktu itu, tepat setelah perbincanganku dengan Ibu dan Ayah di ruang tamu beserta cahaya mentari yang menyorot damai, keesokan harinya aku mengajak Keira untuk bolos sekolah dan pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


“Kau mau ke mana, sih, Hiro?” Keira bersikeras melepaskan tangannya dariku, tetapi aku tetap menahannya.


“Sudah, ikut aku sekarang!” tegasku.


“Kenapa kita harus ke sini lagi? Ini sudah yang keempat kalinya dalam seminggu.” Keira menggelengkan kepalanya. Namun, tujuan aku membawa dia ke sini karena—


“Aku ingin meminta bantuanmu, Keira.” Kuucapkan itu dengan lesu, sambil terus mengingat keadaan orang tuaku yang semakin memburuk.


Waktu itu mereka memang mengatakan hal-hal seperti Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kami atau Tenang saja. Akan tetapi, apa mereka berpikir jika aku tidak mengetahuinya? Maksudku, mereka semua menyembunyikan sesuatu yang besar; yang memungkinkan diriku stres jika ikut terpikirkan olehnya.


Hanya saja mereka benar-benar salah—amat sangat salah. Itu bahkan membuatku lebih dari sekadar stres belaka.


“Apa yang kau inginkan?” Dengan mudah Keira mengatakan itu, pasalnya temanku yang satu ini memang bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.


Saat itu bintang telah menghiasi angkasa, dan situasi langit kali ini lebih kelam dari malam-malam biasanya. Ini pasti pertanda hujan.


Namun demikian, aku tidak peduli dengan seluruh petugas keamanan kota yang sedang berjaga dan memerhatikan kami dari kejauhan. Tanpa ragu aku mengangkat jariku ke atas sambil mendongak.


Di depan kami terdapat sebuah tembok beton raksasa yang menjulang tinggi—hampir saja itu menyentuh angkasa. Dinding pembatas itu dibuat khusus—seperti sangkar burung tak berpori—untuk mengelilingi kota, dan siapa pun yang mencoba nekat untuk memanjatnya pasti akan tersetrum hingga tewas.


“Apa aku dan keluargaku bisa keluar dari sini?” Hampir saja aku menangis. Aku terlalu memikirkan masa depan keluarga kami yang tengah berada di ambang keputusasaan.


“Sudah kuduga, ternyata tentang itu, ya.” Keira tersenyum ringan, kemudian dia menepuk bahuku sambil berkata, “Aku punya ide tentang ini.”


Kalimat yang terngiang darinya, meski ini hanyalah secercah kesempatan yang Keira tawarkan ( mungkin saja rencananya akan gagal ), tetap saja itu seolah-olah membuat ruang baru di hatiku; membuat perasaanku lega.


“Bagaimana caranya?” tanyaku sambil memegang kedua pundaknya, erat-erat.


“Oke, Sobat.” Keira menyeringai dengan lebar. “Dengarkan aku baik-baik.”


Begitulah cara Keira membantuku keluar dan lari dari kota tersebut, dengan membuatkanku identitas palsu, serta meretas informasi kartu keluarga kami yang telah terdata di balai pusat pemerintahan Kota Narumi—tempat kelahiranku.


Namun, hanya saja itu rasanya seperti sia-sia.


Yang berhasil keluar dari kota tersebut hanya diriku seorang.


Sedangkan keluargaku, mereka ...


...💨💨💨...

__ADS_1


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...


__ADS_2