Our Voice

Our Voice
55. Anak Laki dan Anak Perempuanku


__ADS_3

...Bab 55...


...—Anak Laki dan Anak Perempuanku—...


...( Aoba Fujima )...


...———...


Bagiku, malam penuh badai topan ini adalah salah satu hari yang mengingatkanku kembali kepadanya.


“Papa, Papa! Arata berbuat jahat lagi padaku!”


Saat gadis kecil itu datang dan menerjangku dengan pelukan, aku mengusap air matanya sambil bertanya, “Kenapa wajahmu sedih begitu, Arumi?”


“Arata, dia menyembunyikan boneka pemberian Mama lagi.” Tangisnya semakin menjadi.


“Kau sudah menguasainya selama lima jam, Arumi, berbagilah sedikit-sedikit,” kata Arata. Kebetulan sekali pria kecil itu datang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Jadi, kau baru saja mau meminjamnya, Arata?” Aku berusaha memastikan keadaannya pada anak laki-lakiku yang satu ini.


“Benar, Ayah, aku juga ingin bermain dengan boneka itu,” katanya.


“Kau, kan, laki-laki, Kak. Mainlah dengan permainan seperti balapan atau semacamnya.” Arumi mengumbar protes tanpa henti, membuatku menutup telinga karena ocehannya yang terus saja bergulir.


“Tidak, aku juga mau main!”


“Aku belum puas mainnya, Kakak!”


“Berbagilah, Arumi.”


“Nanti saja, nanti ....”


Pada akhirnya, kedua anak kita kembali bertikai karena dirimu lagi, Mirai. Andai kata kau masih hidup, mungkin kau akan tertawa bersama denganku, dan aku hanya akan mengiakan semua hal-hal yang dirimu ucapkan seperti, “Mereka lucu sekali, ya, sayang,” atau “Menggemaskan sekali anak-anak kita ini.”


Ketika aku hendak menghentikannya, rupanya Ibu melihat kejadian itu. Kemudian wanita tua itu berjalan dengan tongkat besinya, secara perlahan ke arah kami.


Sedangkan suasana ribut di sini masih belum berakhir, malah semakin tidak kondusif adalah jawaban yang terbaik untuk mendeskripsikannya.


“Hei, ada apa ini? Kenapa kalian berdua ini berantem lagi?” tanya Ibu dengan suara lembut, dengan suara napas yang terengah-engah.


Kali ini selendang kain yang berwarna-warni itu melingkar di lehernya. Ibu juga mengenakan kacamata berbentuk bintang ( aku tidak tahu kenapa dia mengkustomisasinya seperti itu di tukang kacamata ), dan sandal flip-flop merah yang berbahan tipis.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, selendang itu pun pemberian Mirai—istriku sangat pandai menjahit dan suka memberi banyak hal pada siapa saja yang sudah sangat dia sayangi.


“Itu, Nek, anu ... Arata berbuat—“


Belum selesai anak gadisku menjelaskan situasinya, Ibu sudah bisa memahami semua kronologi yang terjadi di lapangan. “Boneka lagi, ya?”


“Benar!” sahutnya tanpa terisak, tetapi suara Arumi nampaknya berubah sengau karena tersumbat.


Perlahan-lahan Ibu berjongkok, kemudian dia berkata, “Kau itu kebanyakan menangis karena hal sepele, Arumi,” sambil mengusap air matanya kembali.


Melihatnya membuatku yang seharusnya berperan sebagai ayah ini merasa malu sendiri karena tidak becus menenangkan kedua buah hatinya.


“Jadilah kuat dan adil, sama seperti Mama kalian, ya?” Ibuku menatap Arumi dan Arata secara bergantian.


“Ya, Nek. Aku mau jadi seperti Mama,” gumam Arumi. Namun, sepertinya hatinya masih menyimpan secuil kegelisahan, karena sebentar lagi inilah yang akan Ibu katakan.


“Sekarang, kau harus meminjamkannya pada Arata, Arumi. Itu adalah salah satu sifat Mama kalian.”


“Tuh, denger, kan, Arumi? Jadi bagaimana?” Senyum Arata—anak laki-lakiku kembali melebar. Dia mengusap keringatnya yang hinggap di sekitar rambutnya yang menempel karena basah di bagian dahi.


Kelihatannya, dari gerak-gerik tangannya yang tidak bisa diam, Arumi masih menyimpan secuil kegelisahan.


Itulah gadis kebanggaanku.


Pas sekali, ternyata pertunjukan anime movie yang biasa dia nanti-nantikan datang di waktu yang tepat. Ini pun pastinya akan segera mengembalikan suasana hatinya yang berantakan secepat kilat.


“Kalau begitu, terima kasih, Nek. Arata mau main dulu!” Pria kecil itu lantas berlari menaiki anak tangga yang mengarah ke dalam kamarnya. “Oh iya, Ayah!” Arata kembali menoleh padaku, tetapi karena setengah wajahnya sudah menghilang karena tertutupi dinding langit, maka dia pun kembali berjalan mundur, selangkah atau dua langkah.


“Arata main dulu, ya, Yah,” tambahnya sambil tersenyum lebar.


“Ingat waktu tidur, oke?”


Kemudian, tidak ada sahutan yang terdengar, hanya derap langkah kaki yang dipercepat.


Bagaimanapun juga ini sudah sering terjadi. Aku tahu anak laki-lakiku pasti akan panas setelah mendengar kalimat penuh pertentangan dalam masa kanak-kanak seperti itu.


“Kedua anakku memang sangat lucu. Sulit untuk dipercaya.” Aku tertawa geli sambil menyugar rambutku.


“Memang benar, karena itu datangnya dari Istrimu, Mirai.” Ibu merapikan selendangnya yang hampir terjatuh karena embusan angin dari luar jendela yang terbuka. “Wah, sepertinya hari ini badai akan semakin memburuk,” katanya.


Aku mengangguk sambil berjalan menuju kaca jendela yang terbuka, kemudian menutup dan menguncinya dengan rapat. “Pastinya akan semakin buruk.”

__ADS_1


Wanita tua itu lalu menunjuk sepasang sofa dengan sandaran tinggi yang saling berhadapan di depan perapian dengan punggung yang menempel ke dinding.


“Ada yang ingin aku bicarakan, Aoba. Ayo duduk di sana.”




Cuara ekstrem yang menebar dingin seperti ini memang cocok digunakan untuk menyalakan perapian, tidak ada keraguan.


Saat aku selesai menyalakan perapian yang membutuhkan waktu beberapa menit, Ibu terlihat membaca sebuah buku yang amat tebal dan besar.


“Apa yang sedang Ibu baca? Tanyaku sambil menggosok kedua tanganku, lalu beranjak kembali menuju sofa. “Sepertinya sangat seru.”


“Oh, ini buku yang dibaca Mirai. Kau tidak ingat?”


“Wah, aku tidak pernah melihatnya membaca yang seperti itu.”


Ibu tiba-tiba mengernyit, seolah-olah memastikan apakah sebenarnya diriku ini memang istrinya atau bukan. “Ya, sih, dia hanya membaca satu per dua belas bagian yang ada di buku ini. Bagaimanapun juga, ini adalah buku sejarah super membosankan yang pastinya tidak akan pernah disentuh anak-anak jaman sekarang lagi.”


“Aku yakin begitu,” jawabku.


“Termasuk kedua anakmu itu.”


“Itu semakin meyakinkanku.”


Kami pun tertawa bersama di depan kobaran api hangat yang terkendali, dan pemandangan demikian pun menghasilkan kenyamanan setiap kali diriku menatap warna merah dan kuning yang berpadu dalam panas yang suhunya berubah-ubah setiap saat.


“Tapi, sepertinya kau masih mencintai, Mirai, kan, Aoba?” Ibu kemudian menyematkan tali pembatas buku tersebut tepat di tengah-tengah halamannya, kemudian menutupnya dengan suara seperti memukul shuttlecock.


Untuk sesaat aku terdiam sejenak, sedikit bingung untuk mengatakan apa saja yang sebenarnya sejak kurasakan sejak kembali datang mengunjungi rumah ini.


Ya, jika harus dikatakan secara terang-terangan—setelah istriku meninggal—aku malah semakin merindukannya.


“Aku ... tentu saja tidak akan pernah melupakan seseorang yang sudah melahirkan kedua anakku ke dunia ini,” kataku sambil menjatuhkan pandanganku. Namun, sebelum aku melakukannya, Ibu juga turut bangun dari sandarannya, dan duduknya pun berubah tegap. “Wanita itu adalah suatu bagian yang tak akan pernah terpisahkan dari keluarga kecil kami, dan itu adalah realita yang akan selalu kusimpan di dalam hati, hingga kelak diriku bertemu dengannya lagi di masa depan.”


Masa depan yang kumaksud itu adalah sesuatu yang melebihi dunia ini, bahkan tidak akan pernah bisa ditemukan di semua bagian walau harus berjalan berjuta-juta kilometer sekalipun.


Itu adalah akhirat yang kekal dan abadi, sebuah irama baru yang akan terlahir kembali saat seseorang mendapat sambutan yang tak akan pernah mereka pikirkan di dunia lainnya.


...———...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2