
Bab 35
Rencana Yang Tidak Terduga—
...*****...
...~ Hiro Sato ~...
“Dan kita akan melihat satu keajaiban lagi,” terang Yuna sedang pandangannya tetap mendongak ke langit-langit restoran.
Perlahan-lahan angin yang—muncul dari tangan Yuna—berhembus di atas sana terlihat seolah-olah menyatu dengan atap restoran. Angin-angin itu seperti meresap ke dalamnya, dan hal-hal seperti itu lantas kembali mengaburkan akal sehatku.
“Kok bisa, ya?” gumamku sambil melongo.
Bagian tengah atap restoran yang menyatu dengan angin sebelumnya seiring waktu berubah transparan, tetapi tidak ada satu pun kerusakan yang terjadi, seolah-olah angin itu sedang berkamuflase untuk mengganti warna atapnya. Sorot sinar matahari yang berkilauan dari angkasa pun mulai turut menembus mataku.
“Silau sekali.”
“Ini keren banget, keereen baangeet!” Teriakan Yuna seperti sedang membanggakan dirinya sendiri. Mungkin saja, atau bisa jadi, ini salah satu kemampuan yang baru gadis itu pelajari di dalam buku cerita tersebut.
“Inikah yang kau dapat dari buku itu, Yuna?” tanyaku seraya mengagumi apa yang netraku lihat. Ini benar-benar nyata dan fantastis.
“Ya, benar!”
“Wah, gila ….”
Di atas sana ada dinding angkasa yang terang benderang; sekumpulan awan yang bergerak dan maju sesuai ritmenya; beberapa burung elang yang terbang menghiasi angkasa, bahkan untuk sesaat aku bisa mendengar suara teriakan mereka yang samar-samar. Bias cahaya yang menembus langit-langit restoran membuat kami terlihat seperti berada di dalam kapal selam transparan. ‘Itu mengaburkan dan juga hebat’, pikirku.
“Bagaimana, kamu suka?” Yuna tiba-tiba berdiri di depanku dengan penuh kegembiraan.
“Tentu saja!” sahutku tanpa berpikir panjang. “Mungkin kalau kau mempelajari lebih banyak dari buku aslinya, mungkin saja kau bisa berguna, Yuna!”
“Berguna?” Alis Yuna kemudian menyatu setelah aku mengatakan argument ini.
“Ya, maksudku, kau bisa mengatasi pemanasan global yang sedang berlangsung di dunia kita; seperti kayak perubahan iklim yang mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam rentang jangka waktu yang panjang. Ini bisa terjadi secara alami, tetapi sejak periode 1800-an, aktivitas manusialah yang menjadi pendorong utama perubahan iklim tersebut, terutama dengan pembakaran bahan bakar fos—“
“Cukup, Hiro, cukup.” Yuna menyumbat telinganya dengan sepasang telunjuk, seolah-olah kepanasan dengan penjelasanku sebelumnya.
Benar juga. Jika diingat-ingat kembali, ini jelas lebih buruk dari penjelasanku mengenai bagaimana caranya menemukan buku dengan cepat menggunakan monitor pencari buku yang disediakan perpustakaan tersebut.
“Maaf, aku hanya terlalu bersemangat.” Aku memelankan suaraku.
“Tapi, Hiro …,” Yuna menunjuk langit atap transparan itu menggunakan telunjuknya. Terkadang langit-langit yang terlihat tersebut berubah rabun, tetapi terkadang kembali jelas untuk beberapa saat. “… aku tidak ingin menjadi alat.”
__ADS_1
“Eh, apa maksudmu? Aku tidak berkata begitu.”
“Saat kamu bilang kalau aku bisa saja berguna, kalimat itu sama saja mengatakan jika aku itu seperti alat, bukan?”
Ketika Yuna mengatakan itu, rasanya seperti ada orang yang baru saja melambungkan tendangan bolanya ke gawang, dan kebetulan akulah yang menjadi kiper di sana. “Itu benar.” Suaraku turun lagi.
Waktu aku menunduk, Yuna mencoba mengintipku dan berkata, “Tapi hari ini adalah hari ulang tahunku, lho.”
“Huh?” Aku kembali menarik kepalaku, lurus ke depan. “Sekarang?”
“Ya!” Tiba-tiba garis cahaya matahari yang lebih banyak mulai bermunculan dan menyorot wajah gadis tersebut.
...*****...
⠀
Setelah mengetahui itu, aku berniat mengajak Yuna ke suatu tempat. Mungkin sebenarnya tidak begitu. Kali ini aku ingin membelikannya—barang yang paling dia sukai—sesuatu yang menarik.
“Hiro, mau kemana kita?” tanya Yuna.
“Rahasia.” Saat aku melihat bus itu berhenti di depan halte, aku mempercepat langkahku. “Cepat, cepat. Nanti kita ketinggalan.” Karena tidak sabar, tanpa sadar aku berlari.
“Ih, tunggu ...!” Aku bisa mendengar suara lelahnya Yuna yang sedang mengejarku di belakang. Anggap saja ini ‘olahraga’ di tengah siang yang menyengat tajam.
⠀
“Kenapa buru-buru, sih? Aku cape banget!” protes Yuna. “Kita juga belum makan bubur tadi, nanti kalau dingin bagaimana?”
“Tinggal dipanaskan. Tidak perlu susah-susah, kan?”
“Semua makanan harus dimakan saat mereka benar-benar masih panas, agar cita rasanya tidak hilang.” Ucapan Yuna mengingatkanku pada perkataan Pak Fujima; tentang ramen dini hari yang dulu tidak sempat kuhabiskan karena berusaha mengejar gadis ini.
“Kalau begitu nanti kita buat lagi.”
“Sungguh?”
“Ya.”
Yuna mengangkat kedua tangannya setinggi dada, seperti meminta penjelasan. “Tapi bagaimana dengan yang sudah kita buat?”
“Aku bisa mengatasinya,” jawabku sambil mendongak keluar kaca.
“Caranya?”
__ADS_1
Karena gadis itu terus berbicara dan tidak pernah berhenti, maka aku perlahan-lahan menarik napasku. Ini adalah waktu yang tepat untuk meyakinkannya.
“Nanti kau akan tahu, kok, jadi bersabarlah.” Aku menjulurkan lidahku ke depan untuk menggodanya.
⠀
Untuk yang ke-lima kalinya, bus telah melakukan pemberhentian di sebuah halte, tepatnya di tengah-tengah pertigaan lalu lintas yang padat. Sekarang aku turun lebih dulu, disusul dengan Yuna yang bergerak lamban.
Saat diriku berdiri di sebelah pintu keluar bus, aku berlagak seperti pangeran yang hendak mempersilakan pasangannya ketika keluar dari kereta kuda. “Kita sudah sampai tuan puteri!” sahutku seraya menggodanya.
Aku bisa mendengar suara langkah Yuna yang perlahan-lahan menuruni tangga pintu bus yang pendek, hingga pada akhirnya dia kembali menginjak tanah.
“Akhir-akhir ini kamu seringkali membuatku kesal, Hiro. Aku harap kamu punya alasan yang bagus untuk ini,” ancamnya, meski dengan tatapan lesu. “Eh, tunggu, di sini?” Gadis itu kemudian tersentak, setelah melihat bangunan yang berdiri di belakang halte tempat kami berdiri.
Itu adalah Mall Takeshi delapan lantai yang berdiri kokoh. Di sebelahnya, terdapat pintu gardu otomatis tempat lajur kendaraan seperti motor dan mobil hendak masuk dan keluar mall, tidak lupa dengan jalan khusus pejalan kaki yang disediakan di tengah-tengahnya. Aku bisa melihat banyak orang-orang telah melangkahkan kakinya masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut, walau ini adalah hari kerja.
“Jangan bilang kita akan masuk?” Yuna melirikku, kemudian mall tersebut, lagi dan lagi secara bergantian.
...*****...
⠀
“Apa kau tidak pernah ke mall sebelumnya, Yuna?” Saat aku menanyakan ini, Yuna tidak berhenti menatap sekitarnya dengan pandangan berbinar-binar. Bahkan sejak kami masuk ke dalam, dia hampir saja berjalan sendiri meninggalkanku, seolah-olah aku ini adalah prasasti kuno yang telah diabaikan seutuhnya. “Hei, Yuna!” Meski terpaksa, tetapi aku baru saja menepuk bahunya. Namun, itu berhasil.
“Hiro? Ada apa?” Gadis itu kembali berbalik padaku.
‘Ternyata sejak tadi dia sama sekali tidak mendengarku,’ geramku dalam hati. “Apa kau belum pernah pergi ke tempat ini sebelumnya?” Aku mengulang pertanyaanku, untuk yang kesekian kalinya.
“Belum pernah.” Yuna tertawa kecil.
“Pantas saja.”
“Kenapa?”
“Sepertinya kau senang berada di sini, sampai-sampai ucapanku sama sekali tidak ada yang terdengar olehmu.” Walau diriku tersenyum, tetapi sebenarnya aku baru saja menyampaikan protes kepadanya.
“Maafkan aku kalau begitu, Hiro.” Yuna mendekap dadanya sambil menghela napas. “Soalnya, ini memang pertama kalinya bagiku ke sini.”
...*****...
...... Bersambung ......
...Our Voice © 1 St Original Works...
__ADS_1