Our Voice

Our Voice
37. Ternyata Aku Salah Tangkap


__ADS_3

Bab 37


Ternyata Aku Salah Tangkap—


...*****...


...~ Hiro Sato ~...


Merasa sudah pasrah dan takut mengganggu skor yang telah Yuna hasilkan dengan sungguh-sungguh, aku turun dari panggung gim dansa tersebut serta lebih memilih untuk memerhatikannya dengan baik. Siapa tahu setelah ini aku juga bisa menjadi seperti dirinya, bahkan melebihi kemampuan yang gadis itu tunjukkan. Namun, tentu saja itu hanyalah senda gurau; tidak mungkin pencapaian seperti demikian bisa diraih dengan keberuntungan dan kerja keras yang singkat.


Setiap waktu yang berlalu, pikiranku cenderung teringat dengan seekor gurita imut yang pernah aku temukan di buku hewan bergambar saat masih kecil. Bagaimanapun ini sangat berhubungan. “Apa gadis ini punya delapan kaki?” gumamku dengan terheran-heran.


Setiap injakan panah yang gadis itu pijaki selalu akurat dan tidak pernah salah. Secepat apa pun lampu-lampu itu berubah dan bertransisi; secepat apa pun rentetan panah di monitor itu bergerak secara vertikal ke bawah, bahkan hal demikian sama sekali tidak dapat menghentikannya. Gadis itu terlihat seperti dewi-nya permainan tersebut.


“Permisi, anak muda, kau tidak bermain, kan?”


“Jangan menghalangi. Cari permainan lain saja sana jika tidak mau mengantri.”


“Gila, gila— siapa dia sebenarnya?”


Beberapa orang turut menyikut dan mendorongku ke belakang secara perlahan. Sorak-sorai dari mereka terdengar seperti sedang mendukung performa Yuna. Aku tidak tahu mengapa, tetapi saat mereka tiba-tiba meramaikan wahana permainan yang sedang kami mainkan bersama ( meski sepertinya sekarang itu hanya resmi dimainkan oleh pemain tunggal, yakni Yuna sendiri ), aku merasa seperti terasingkan serta diusir dari dunia ini. Pemikiranku memang seringkali melukai hatiku sendiri.


“Wah hebat sekali dia.”


“Lihat-lihat di sana, ayo coba datangi dia.”


“Tentu saja; ini pemandangan yang langka. Jarang sekali ada gadis yang hebat memainkan permainan ini. Setahuku energi dan konsentrasi adalah prinsip yang diperlukan untuk menaklukkan permainan tersebut.”


Di tempat mesin gim tembak-tembakkan yang cukup memekakkan telinga, aku melihat perbincangan lain dari sekelompok pemain basket ( aku bisa mengetahuinya karena mereka masih mengenakan jersey tak berlengan ) yang salah satu di antaranya masih memegang bola basket. Mereka semua tinggi-tinggi, seperti segerombol tiang listrik berjalan. Tidak lama para pemuda energik itu berkumpul dalam keramaian dadakan yang dibuat Yuna.


__ADS_1


“Sudah selesai?” tanyaku pada Yuna. Entah kenapa aku sedikit kesal dengan orang-orang yang mengusirku tadi.


“Ya, tapi kenapa kamu murung gitu?” Yuna sesekali menepuk-nepuk bagian belakang roknya.


“Ah, tidak kok. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”


“Kamu lapar?”


“Kenapa tiba-tiba kepikiran ke sana?”


Yuna mendorong badannya kepadaku, senyumnya pun ikut melebar. “Mau do–ra–ya–ki lagi?” godanya sambil mendongak padaku.


“Tidak, bukan apa-apa.” Aku kembali menjadi diriku sendiri; sekilas melupakan kejadian-kejadian yang telah berlalu. “Lalu, bagaimana dengan bonekanya?” Suaraku kian melempem karena gagal mendapatkan hadiah tersebut untuk Yuna.


Yuna menggaruk tudungnya, seperti keheranan. “Apa maksudmu?”


“Lho, bukannya itu yang tadi kau katakan?”


“Tiket? Menukarnya?” Sekarang aku yang merasa seperti pemuda yang telah lama mengendap dalam gua yang suram.


Yuna menuding petugas tempat saat kami membeli koin sebelumnya. “Lihat hadiah-hadiah itu?” Di sana terdapat banyak barang unik seperti suvenir dan beberapa hal lainnya yang berjajar rapi di dalam etalase yang lebar. Tidak lupa juga berbagai aneka macam boneka dengan pilihan warna yang bervariatif turut menghiasi ruang hadiah tersebut.


“Dengan menggunakan tiket yang didapatkan sebagai hadiah karena sudah memenangkan satu atau beberapa permainan yang kita mainkan, kita bisa mengumpulkan tiket itu untuk menukarkannya pada petugas yang berjaga tersebut.” Sekarang jari Yuna benar-benar spesifik menunjuk boneka yang dia inginkan. “Namun, kita butuh sekitar 1900 Tiket lagi untuk mendapatkannya!” Walau ucapan Yuna terdengar membentak, tetapi aku merasa jika dia benar-benar ingin mendapatkan boneka tersebut—tanpa terkecuali.


“Tapi jangan khawatir!” Semangat Yuna seketika kembali menggebu-gebu. “Karena aku ada di sini, jadi kita akan mendapat ribuan tiket itu dengan mudah!”


“Dengan mudah?” tanyaku sambil menyeringai. “Kau percaya diri sekali—“


“Hei, Kakak, itu kau, bukan?” Tiba-tiba seseorang menarik celanaku dari belakang. Dari suaranya yang belum puber, aku bisa berasumsi jika ia masih tergolong anak-anak.


Aku menoleh, dan sontak pandanganku dibuat terkejut. “Kau, bukannya ....” Tidak salah lagi. Ia adalah anak yang dulu persia-nya hinggap di puncak pohon, dan akulah satu-satunya orang di sana yang bersimpati untuk membantu bocah cilik ini menurunkan peliharaannya tersebut.

__ADS_1


“Tidak kusangka jika kita akan bertemu lagi,” tuturku dengan ramah.


“Mungkin ini karena doa Richa”—Anak itu lantas berbalik—“karena Kakak pernah menyelamatkannya, sekarang dia terus merindukanmu, lho, Kak.”


“I–itu ....” Tidak ada ekspresi lain yang bisa kuungkapkan selain melongo. Yuna juga menampakkan reaksi yang sama denganku, atau lebih tepatnya pikiran kami seperti terjungkal bersama karena rasa kejut yang meluap-luap.


Ternyata ia tidak hanya memamerkan tas ransel model kapsul terbaru yang baru saja ngetren belakangan ini, tetapi di dalamnya—bagian depan tas tersebut transparan dan menampilkan seluruh isi barang yang termuat seperti alat tulis dan manik-manik kriya seni setengah gagal—juga ada kucing persia tersebut. Ia sedang tidur meringkuk, dan mungkin saja dengkurannya akan terdengar sangat kencang bila ritsleting tas itu sedikit saja terbuka.


“Aku juga bersyukur bisa bertemu dengannya lagi,” kataku.


“Benar, kan?”


“Lagi pula apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukannya belajar itu lebih penting?” Aku baru sadar jika diriku berlagak seperti seorang ayah. Padahal menikah saja belum pernah.


“Ya, kami juga harus bersenang-senang, kalian juga begitu, kan?” Tatapan anak itu menyorot tajam kami berdua. “Jadi itu sepertinya tidak masalah.”


“Itu benar, Hiro, kamu ayah yang buruk!” gerutu Yuna.


Hei, asal kau tahu, Yuna; aku ini masih muda sepertimu, tahu! batinku hendak menghujat, tetapi aku masih bisa menahannya untuk sesaat. “Kenapa kamu benar-benar menganggapku seperti itu, Yuna?” Aku menghela napas, meratapi fitnah konyol yang sedang membelengguku saat ini.


“Tidak apa-apa, sih, aku hanya ingin menjahilimu.” Yuna terbahak-bahak bersama dengan bocah cilik itu. Sekarang merekalah yang benar-benar seperti sepasang ibu dan anak yang saling mengasihi, atau bisa dibilang mirip sang penebar fitnah terkuat yang nyata. Aku seperti pernah membaca cerita yang identik dengannya, dan ini akan berlangsung saat kiamat—hari akhir itu tiba, kira-kira begitu.


Aku menarik tangan Yuna, berusaha membawanya ke tempat lain dan hendak mengucapkan perpisahan dengan si kecil itu. “Baiklah, kalau begitu selamat bermain. Kami juga ada urusan untuk—“


“Tu–tunggu dulu! Kita belum selesai berbicara, Kak!”


Saat suaranya menggelegar di telingaku, aku refleks memutar leher, dan pandanganku kembali tertuju pada anak itu.


...*****...


...... Bersambung ......

__ADS_1


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2