
Episode 47
25 Menit Atau Lebih—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
“Oh, aku tahu!” Kak Aina melingkarkan tangannya di leherku, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, “Ha–di–ah bu–at Yu–na, kan?” Suaranya sangat menggoda, tetapi itulah realitanya.
“Kok bisa tahu?” Aku menunduk, pasalnya wajahku mulai memerah.
“Ini hari ulang tahunnya, dan kau mengajaknya ke mall hari ini.” Dia memutar-mutar tangannya, seolah-olah ingin menjelaskan lebih banyak lagi. “Lalu kau meminta kami untuk mengejutkannya, kemudian seenaknya bermesraan bersama dirinya di tempat yang gadis itu sukai.”
Aku pasti salah dengar. Bahkan sebelum aku memberitahu alasan utamanya, wanita itu sudah berpikiran yang macam-macam padaku.
“Jadi, aku yakin saat ini kau sedang meninggalkan Yuna diam-diam untuk membelikannya sesuatu yang berkenang baginya, bukan?” Saat itu juga dia memukul bahuku.
“Aku tidak diam-diam, Kak.” Tenaganya kuat sekali. Bahuku sampai dibuat nyeri kali ini.
“Kau memberitahu alasan kepergianmu sebelumnya?”
“Tidak, sih.”
“Duh, cowok pemalu kayak begini memang sulit buat diulik, ya?”
“Aku tidak pemalu!” bantahku.
“Kenyataannya begitu.”
“Kan, eh, ah, bodo amat, deh.” Aku terpejam keras kala meneriakinya.
“Hei, mau kubantu?” Wanita ini suka sekali menarik ulur perasaanku. Entah kenapa aku merasa sedikit terbantu dengan tawarannya kali ini, sangat menggiurkan.
“Ma–mau, dong,” pintaku lirih dengan pandangan yang tetap kujatuhkan pada ubin toko. “Punya ide buat itu?”
Tiba-tiba, muncul seberkas senyum manis di wajah Kak Aina. “Kira-kira dia suka apa?” tanyanya sambil mengintipku.
Aku kembali mengangkat wajahku dan berkata, “Hal-hal tentang musik, kurasa.”
“Musik, ya?”
“I–ya”
“Kebetulan banget aku berhenti di sini.” Kak Aina mendongak ke langit-langit toko. Dirinya seperti sedang memikirkan sesuatu saat kilauan lampu berwarna oranye bertransisi menjadi lebih terang, kemudian sedikit buram lagi.
Apa ini memang pengaturan lampu dari tokonya? Atau mungkin dayanya memang sudah berada di penghujung tahun? Padahal ini baru saja memasuki pertengahan musim panas.
“Apa?”
Sebagai informasi, aku sudah meninggalkan Yuna selama 25 Menit.
__ADS_1
“Nih.” Kak Aina mengambil sesuatu dari rak setinggi dua meter.
Yang dia genggam saat ini adalah kotak musik balerina putar yang berbentuk hati.
Setahuku, salah satu fungsi dari benda ini adalah sebagai pengantar tidur. Caranya pun sangat mudah. Hanya dengan memutar tombol yang berada di bagian bawah kotak tersebut, lalu letakkan itu di atas meja di sebelah tempat tidur. Maka sebentar lagi, pasti akan terdengar lantunan musik indah ( tergantung pilihan ) yang diputar dari kotak tersebut. Kualitas tidur pun akan semakin nyenyak karenanya.
Aku belum pernah mencobanya, tetapi itulah testimoni yang sering kudengar dari beberapa kalangan yang pernah membeli kotak musik tersebut
Kak Aina mengulurkannya padaku, seperti meminta tanggapan. “Mau yang ini?” tanyanya. “Menurutku ini cukup bagus.”
“Kira-kira dia suka enggak, ya?” Aku sedikit khawatir dengan apa yang ingin kuputuskan. Biasanya, itu tidak berakhir dengan baik.
Tidak lama Kak Aina mendekap kotak musik itu di dadanya, dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya yang tenang. Tidak kusangka dia bisa menampakkan kesan lugu seperti ini.
“Andai saja itu diberikan kepadaku; aku pasti tidak akan ragu menerimanya,”
“Eh, kenapa?” Aku bertanya lagi.
Mungkin, bisa saja dengan mendengar alasannya, itu akan membuatku mengerti. Siapa tahu di masa depan nanti, ada seseorang yang juga menanyakan hal ini kepadaku.
Huh–uh, percaya diri sekali.
“Karena ....” Kak Aina sekarang benar-benar meletakkan kotak musik itu di telapak tanganku.
Entah kenapa telapak tangan wanita itu terasa hangat. Ini sepertinya membuktikan jika apa yang dia katakan itu memang keluar dari lubuk hati terdalamnya.
“... aku yakin orang itu sudah berusaha keras untuk mencarikan sesuatu yang aku sukai. Dalam hal ini, aku tidak peduli hadiah itu akan cocok denganku atau tidak, tapi setidaknya orang itu sudah mengeluarkan semua tekad yang dia miliki, kan? Itu pendapatku.”
Gadis itu juga pernah berbicara mengenai usaha dan kerja keras. Sepertinya, itulah yang seharusnya kupikirkan.
...💨💨💨...
⠀
Setelah pelayan kasir memindai kode batang pada kotak musik tersebut, ia memasukkannya ke dalam tote bag miniberlogo gitar merah dengan bingkai emas lengkung yang membungkusnya.
Tidak lupa kusampaikan rasa terima kasih kepada Kak Aina, karena dialah yang memberiku saran tentang ini. Sekarang, setelah melakukan transaksi pembayaran, aku menenteng hadiah itu di tanganku dengan penuh bangga, dan tidak lupa pelayan kasir itu berkata, “Terima kasih karena sudah berbelanja di toko kami. Datang lagi, ya, jika berkenan.”
Selain itu, ini saatnya Kak Aina berpisah denganku. Dia berniat untuk segera kembali ke tempat di mana kami semua akan berkumpul nantinya ( ya, walau kabar terbaru mengenai kehadiran Ketua Morikawa ini turut membuat jantungku melompat-lompat ).
Sebenarnya ini sedikit membuatku murung, karena tentu saja ini bukan pilihanku sendiri. Lain kali, aku akan memutuskannya sendiri, mengenai hadiah ulang tahun Yuna di tahun-tahun berikutnya, yang akan membuat gadis itu jauh lebih senang dibandingkan dengan yang satu ini.
Hebatnya aku baru berteman dengan Yuna, dan aku sudah menebar banyak janji yang kuat pada diriku sendiri.
Aku segera kembali naik ke lantai teratas dengan eskalator yang bergerak cukup lamban dari lantai dasar mall.
Kenapa, ya? Sekarang aku jadi lebih pengin naik tangga darurat saja.
“Hmm, Yuna sudah selesai?”
Di tengah eskalator yang melaju pada lantai empat mall, aku mengintip Yuna yang tengah bergelayut di atas patung macan di depan pintu masuk Game Station tersebut.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan, Yuna?” Gadis itu tampak seperti anak kecil yang sedang tersesat.
“Menunggumu.” Saat Yuna berbicara, dia sama sekali tidak menoleh padaku.
Wah, perempuan tampaknya sangat sensitif ya. Mungkin dia masih memendam kesal padaku.
“Masih marah? Aku agak-agak ngeri mengatakan ini, jika harus berterus terang.
“Sudah tidak lagi,” jawabnya acuh tak acuh.
“Eh?”
“Berapa lama kamu pergi, Hiro?”
“Tiga puluh lima menit, kurasa?” Firasatku mengatakan hal-hal seperti pertikaian dalam rumah tangga akan terjadi. Mirisnya, kami bahkan bukan termasuk dari sosok suami-istri tersebut.
“Oh, ya?” Akhirnya Yuna melirikku, meski dengan tatapan berapi-api.
“Ya.”
“Apa yang kamu beli?”
“Sesuatu.”
“Katakan.”
“Aku ....” Tidak mungkin aku memberitahunya sekarang. Ini, kan, kejutan. “... rahasia.” Tidak ada kata yang lebih masuk akal untuk Yuna telan selain itu.
Sekarang kecurigaannya pasti akan berubah sepenuhnya kepadaku.
Yuna lantas berdiri dari patung macan tersebut, tetapi tidak berpindah darinya. “Aku temanmu, kan? Kenapa masih ada rahasia di antara kita?”
“Bagaimana menjelaskannya, ya ....”
“Apa itu tampak sulit?” Setiap pertanyaan yang dia ajukan, itu terasa seperti puluhan jarum akupuntur yang ditusukkan ke seluruh badanku dalam-dalam, dan karena itu dilakukan tergesa-gesa, efek sampingnya adalah rasa nyeri yang berkelanjutan.
“Sedikit, sih.”
“Kenapa sulit?”
“Karena—“
“Mau bagaimana lagi ....” Yuna memunggungiku. Itu adalah kata-kata terakhir yang dia katakan sebelum berjalan pergi.
Gadis itu serius meninggalkanku.
Bagaimana ini? Kenapa kesalahpahaman ini jadi terus berlanjut?
Padahal aku ingin memberinya kejutan, dan rencananya tidak seharusnya berjalan seperti ini.
...💨💨💨...
__ADS_1
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...