Our Voice

Our Voice
41. Perkataan Teman Lamaku Dulu


__ADS_3

Episode 41


Perkataan Teman Lamaku Dulu—


...💨💨💨...


...~ Hiro Sato ~...


“Huh, kamu ini.” Yuna berjongkok, kemudian membalik isi tas belanjaan tersebut hingga semua gulungan tiket yang telah kami kumpulkan tercerai-berai. “Kenapa kamu tidak merapikannya lagi, Hiro?”


Umm, gimana, ya? Mungkin males kali? Aku mendebat diriku sendiri dalam hati.


“Nanti kalau kita main lagi tolong dirapikan dulu sebelum dimasukkan ke dalam, ya, Hiro?” Yuna mengernyit padaku.


“Ba–baiklah, maafkan aku.”


“Seperti biasa, permintaan maafmu diterima.”


“Padahal baru sekali,” gumamku.


“Apa katamu?” Yuna mendongak padaku. Wajahnya terlihat semakin muram.


Mungkin, aku tidak sadar kalau diriku baru saja mengatakan hal yang salah? Oh, benar; betapa pikunnya aku. Gumaman kecil itu tentu saja yang memicunya sampai seperti demikian.


“Tidak ada apa-apa.”


Yuna mengabaikan perkataanku dan kembali melipat satu demi satu sisa dari gulungan tiket yang masih tercecer. Aku tidak bohong. Saat melihatnya, gadis itu menyusun semuanya dengan sangat rapi.


Apa semua perempuan seperti ini? tanyaku dalam hati.


Setelah semua gulungan tiket itu ditata ulang dengan baik, gadis itu kembali memasukannya secara perlahan ke dalam tas belanja kami. Butuh waktu sekitar tiga menit, hingga pada akhirnya dia kembali berdiri sambil menenteng tas tersebut.


“Bisa tolong aku lagi?”


Aku menjawab, “Ya?” Sangat singkat, tetapi itulah respons singkat yang bisa kuberikan untuknya.


Yuna melebarkan matanya sambil berdesis kesal. “Hmph!”


“Ke–kenapa, sih?” tanyaku.


Tidak ada tanggapan, gadis itu hanya mengulurkan tas belanjanya lagi kepadaku. Ini, toh, ternyata. Bilang dong daritadi. Aku melakukan aksi protes dalam hati, berharap gadis itu bisa menebak kalimat yang tersirat di benakku, kali ini saja.


“Ok kemarikan ...,” jawabku dengan ramah.

__ADS_1


Setelah tas belanjaan itu kembali pada genggamanku, Yuna langsung berjalan pergi. Kemudian, aku bisa mendengar sedikit dari sepotong kalimatnya yang bergumam, “Dasar laki-laki tidak peka.”


Karena dia sudah sedikit jauh dariku, lisanku secara refleks berkata, “Dia masih marah? Kan aku sudah minta maaf.”


Hal-hal kecil seperti ini lantas memaksaku untuk membenarkan pernyataan yang pernah aku dengar dari seorang teman ( bukan Keira ) sewaktu kecil. Ia berkata jika wanita sudah marah, itu pasti akan berangsur lama, bahkan jika kematianmu sudah tiba di depan mata.


Sekarang aku sadar kalau perkataannya itu benar, miris sekali.


...💨💨💨...



Yuna berjalan cepat, seperti berniat meninggalkanku.


Tiga puluh menit berlalu, dan dia sudah memainkan tiga atau empat permainan lagi yang tersedia di game station ini. Aku heran kenapa dia masih marah kepadaku, mengingat selama ini kami tidak pernah berbicara lagi. Baiklah, di masa depan, aku pasti akan merapikan sesuatu ( apa pun barangnya ), sebelum itu masuk ke dalam tas atau semacamnya.


“Yuna, kau masih marah?” Kumulai pembicaraan itu lagi, berusaha memecah keheningan yang menguat di antara kami, seiring waktu.


“Siapa bilang aku marah?” Gadis itu memang membalasnya, tetapi sama sekali tidak menoleh, serta pandangannya secara penuh terpaku pada mesin gim yang berjudulkan Animal Kaiser.


Itu adalah gim dengan tampilan mencolok, beragam monster yang memiliki semacam power level ( aku sama sekali tidak mengerti dengan keterangan yang satu ini ), dan yang terpenting, mereka ditugaskan untuk menyerang satu sama lain. Saat ini Yuna sedang menggunakan karakter singa emas yang memiliki surai atau rambut tebal di sekitar leher dan kepala mereka, melawan seekor kalejengking raksasa yang memiliki dua ekor beracun yang mengerikan.


Secara logika, hewan seperti kalejengking pasti akan kalah jika lawannya adalah seekor singa. Singa itu pasti akan mengoyaknya terlebih dahulu, sebelum hewan berbisa itu menyuntikkan bisa yang dapat menimbulkan rasa nyeri, kesemutan, bahkan juga bengkak. Namun demikian, kalau kalejengkingnya berukuran sebesar itu, maka tidak ada satu pun hewan normal di dunia ini yang sanggup melawannya.


Sekarang Yuna semakin asyik dengan permainannya, seolah-olah hanyut dalam kebahagiaan dunia yang hanya tersisa untuk sementara waktu.


“Diam, kamu!” Suara bentakan Yuna terdengar suram, alih-alih saat menyadari jika dirinya akan kalah dari kalejengking tersebut.


“Yah, ternyata beneran kalah.” Aku menggodanya sambil terbahak-bahak.


Yuna yang sebelumnya duduk tenang sambil mengendalikan beberapa tombol rumit di permukaan panel yang menjorok ke depan tersebut pun seketika berdiri, lalu memutar badannya padaku.


“Ya, aku beneran kalah, nih. Sudah puas ketawanya?”


“Tidak, aku tidak bermaksud ....”


Mungkin ini yang kedua kalinya bagi Yuna karena kalah dalam permainannya sendiri, setelah beberapa waktu yang lalu dia berkata jika dirinya belum pernah kalah.


Namun, sebelum aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu kembali pergi dan berbelok. Dia benar-benar mengabaikanku tanpa pandang bulu.


Aku memang menginginkan pembicaraan ini kembali berlanjut, tetapi tidak harus berakhir seperti ini, bukan?


__ADS_1


Cewek kalau udah marah benar-benar mengerikan, ya? terangku dalam hati.


Aku berusaha mencari Yuna di sekeliling game station. Banyak sekali orang-orang yang sebaya denganku berjalan dan beralih pada satu mesin gim ke mesin gim lainnya dengan tenggat waktu yang sangat cepat. Mereka semua terlihat sangat optimis dan giat mengumpulkan rentetan tiket-tiket itu dengan bermain habis-habisan. Wajar saja, karena dengan itu pula mereka bisa mendapatkan hadiah, seperti apa yang sedang kami lakukan di tempat ini.


“Itu dia!” sahutku setelah melihat titik terang.


Gadis itu terlihat berjalan sambil mencari sesuatu di dekat petugas yang bertugas melayani penukaran hadiah. Aku rasa dia ingin bertanya mengenai sesuatu, tetapi malu untuk mengatakannya.


“Yuna?”


“Ya?” Dia menjawabku dengan santai, seperti tidak ada apa-apa sebelumnya.


“Sedang mencari sesuatu?”


“Ya.”


“Apa yang kau cari?”


Yuna melebarkan mulutnya dan membentuk huruf O, pandangannya mendongak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Mesin ....”


“Mesin?” tanyaku.


“... capit ....”


“Capit?” Tunggu dulu. Kenapa aku jadi mengeja perkataannya? heranku dalam hati.


“... boneka.” Rangkaian dari tiga kata yang keluar dari lisannya itu membentuk kalimat yang tak terduga: Mesin capit boneka.


“Kau ingin main itu?”


“Aku sudah mengatakannya, kenapa harus kuulang?” Gadis itu ternyata masih dalam keadaan sensitif. Aku salah kaprah.


“Oke, tunggu sebentar,” kataku.


“Untuk apa?” Aku mengabaikan perkataannya dan mendekati petugas yang berjaga di belakang etalase.


Perlu diingat kembali, aku pasti akan gugup jika memulai pembicaraan lebih awal terhadap lawan bicaraku. Namun, kali ini berbeda, seolah-olah ada kekuatan yang sedang menepis rasa takutku jauh-jauh ke luar angkasa. Apa mungkin ini perbuatan Tuhan karena sudah kasihan denganku yang bisa saja ditertawakan lagi oleh Yuna karena kelemahan yang sudah mendarah daging ini? Aku rasa memang begitu.


Aku memanggilnya dan berkata, “Permisi, Mbak.” Petugas itu adalah seorang wanita. Ia menggunakan topi cap dengan logo stik ps dan remot kontrol yang dibungkus dengan lingkaran emas yang mengilat, serta menggunakan setelan kemeja oblong biru yang di bagian sakunya juga terdapat logo topi tersebut.


“Ada yang bisa saya bantu?” Mbak-mbak muda itu kemudian beralih padaku, setelah menghitung beberapa koin yang sepertinya akan dia berikan pada seorang anak yang baru saja melakukan pembayaran. “Tapi mohon tunggu sebentar, ya,” tuturnya.


“Baiklah.”

__ADS_1


...💨💨💨...


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...


__ADS_2