Our Voice

Our Voice
31. Dan Itu Terjadi Lagi


__ADS_3

Bab 31


Dan Itu Terjadi Lagi—


...*****...


...~ Hiro Sato ~...


Di sana terdapat selusin loket kasir swalayan yang berjajar rapi. Sekarang aku berada di bagian luarnya, sambil menunggu Yuna selesai dengan antrian belanjanya.


Pendengaranku pun tampaknya masih baik. Meski samar-samar, tetapi aku bisa mendengar suara beberapa pemindai barcode saat produk-produk swalayan itu didekatkan padanya. Kasir-kasir yang bertugas di sana juga terlihat sangat ramah; mereka setia memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggannya yang datang. Lagi pula, itu memang aturan yang ada pada semua perusahaan retail, jadi wajar saja.


“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Yuna datang, sambil mendorong kereta belanja kami.


Saat Yuna berkata-kata, anak-anak yang mengganggu di rak cokelat sebelumnya menyusul dan keluar dari salah satu loket kasir. Itu tidak terlalu jauh dari tempat Yuna mengantri.


“Terima kasih atas tanda tangannya, Kakak!”


“Semoga harimu menyenangkan, Kak.”


“Kakak benar-benar sangat cantik; pasti teman Kakak yang di sebelahnya itu lagi naksir sama Kakak!” Salah satu dari bocah tersebut mengedipkan sebelah matanya padaku.


Wajahku berubah merah, seketika tanpa hambatan. Anak ini ... ucapannya seperti orang dewasa saja, pikirku dengan heran.


“Ya ampun, padahal mereka masih kecil, tapi sudah mengerti hal-hal kayak gitu.” Yuna menggelengkan kepalanya, sambil terkikik.


Tensiku kembali tenang. “Apa sudah tidak ada yang ketinggalan?” tanyaku, seraya tersenyum tipis.


“Tidak ada lagi.”


“Kalau begitu kita bisa mulai masak nanti,” kataku.


Gadis itu kemudian hendak mengangkat beberapa barang belanjaan kami yang sudah dikemas rapi. Itu terletak di dalam troli, dan kelima kantong tersebut sedang terduduk manis. Aku sudah siap bertindak sebagai seorang pria.


Yuna mengangkat dua di antaranya. Wajah gadis itu pun sontak berubah biru, seolah-olah tangannya berusaha menolak untuk memikul beban berat tersebut.


“Hmm, Yuna?” tuturku, sedikit cemas.


“Apa?” Tangan Yuna bergetar hebat, tetapi aku masih bisa melihat sisa senyumnya.


“Sepertinya kau cukup bawa satu saja,” kataku, sambil meraih sekantong plastik yang berada di sebelah tangannya. “Ini aku yang bawa saja.”

__ADS_1


Setengah dari keceriaan itu kembali terukir di wajahnya. “... te–terima kasih, Hiro. Ternyata ka–kamu laki-laki yang cukup perhatian juga, ya, he-he ....” Meskipun gadis itu sendiri masih terlihat lesu.


Tangannya yang berkemul dalam lengan jaket itu pastilah sangat lemah. Dari sini aku yakin jika Yuna tidak suka makan banyak.


...*****...



Saat kami keluar, terdengar suara Terima kasih karena sudah berbelanja di tempat kami, semoga pagi anda menyenangkan dari pengeras suara yang menggantung di atas pintu masuk swalayan. Situasi disekitarnya tidak jauh berbeda sejak awal pagi tadi, dan sekarang kami berniat untuk kembali menuju restoran.


“Udaranya sangat panas.” Aku melirik jam tanganku. “Padahal ini baru jam sepuluh, yang benar saja.”


“Aku tidak kepanasan, lho, Hiro,” terangnya, sambil melompat-lompat tidak keruan.


“Kau tidak perlu mengatakannya lagi, Yuna.” Aku menatapnya dengan sengit.


Yuna jelas sangat beruntung. Pasalnya, gadis itu—angin dingin yang ada pada dirinya—pasti jarang sekali merasakan hawa-hawa neraka yang seringkali membakar dunia ini. Aku rasa ini karena pemanasan global yang terus-menerus memburuk. Keselamatan dunia nampaknya sedang dipertaruhkan oleh takdir. Entah kenapa pemikiranku terbawa hingga sejauh itu.


Tidak lama, deru angin terdengar senyap. Udara yang berlalu-lalang di sekitar kami seolah tertarik ke atas, seperti penyedot debu raksasa yang tersimpan di balik lapisan langit. Anehnya kami bisa bernapas.


Yang terjadi kemudian, begitu aku mendongak ke langit—pemandangan di luar batas itu kembali terlihat.


Bahkan untuk kali ini, sesuatu yang nampak dari langit itu jauh di luar nalar, lebih dari apa yang pernah aku lihat di atas atap gedung sebelumnya, bersama dengan Yuna.


Di atas sana terdapat banyak pusaran angin—berwarna biru—tak berdasar yang sedang berkerumun. Mereka datang dari berbagai arah dan sekarang telah memenuhi langit kota. Perlahan, masing-masing dari pusaran itu seolah-olah membuat kelompoknya sendiri, menyatu, dan saling bertarikan, seperti berusaha membentuk sesuatu. Tidak lama terlihat makhluk hidup yang kasat mata, dan ini sangat sulit untuk dipercaya. Itu adalah seekor penyu angin transparan dengan tubuh biru samar. Mereka sangat banyak dan berkeliaran secara bebas, seolah-olah menganggap jika kota ini adalah bak air yang tak terlihat. Hal yang membuatku terkejut selanjutnya adalah saat satu per satu dari penyu angin tersebut mulai menuruni angkasa, secara halus.


Ketika aku mengalihkan pandanganku pada Yuna, dia hanya tersenyum, sambil mengintip langit dari balik tudungnya.


Aku kembali memerhatikan apa yang sedang hidup atau bergerak di atas sana.


Tiba-tiba sesuatu telah terjadi. “Huh? Apa itu?” Rasa dingin seketika melewati tubuhku. Itu hanya untuk sesaat, begitu juga dengan Yuna.


“Itu ....” Saat ingin menjawabnya, Yuna seperti ragu-ragu.


Perlahan-lahan makhluk yang menusuk kami dari belakang mulai terlihat. Itu adalah sesosok elang transparan, berwarna biru—sama seperti penyu tersebut.


“Eh, dia mau apa?” tanyaku, sedikit heran.


“Jangan tanya aku, Hiro.”


Setelah elang itu terbang menunggangi angin, ia kembali perputar ke arah kami.

__ADS_1


“Tunggu, sepertinya kita harus lari, Yuna!” desakku.


Yuna menempelkan jarinya di mulut, wajahnya sangat dekat denganku. “Perhatikan di sekitarmu, Hiro!” Suaranya sangat dingin. Sepertinya gadis itu sangat takut bila ada seseorang yang mencurigai kami, mengingat sesuatu yang tidak masuk akal sedang terjadi di depan mata.


Aku menaungi wajahku dengan kedua tangan, tepat saat elang itu hendak kembali menyundulku, meski kali ini akan berlangsung dari depan. Namun, karena makhluk itu transparan, tentu saja hal yang demikian tidak akan berpengaruh pada fisikku. Sekarang aku lebih khawatir dengan ekspresi Yuna.


Yuna lantas berubah cemberut. “Aku sudah bilang, Hiro, santai saja.” Bersamaan dengannya, elang angin itu kembali terbang tinggi, dan ia menghilang di tengah-tengah awan yang bergerak maju.


“Maaf, aku belum terbiasa,” tuturku lemas.


Penyu dan elang itu hanyalah pembukaan. Selain itu, terdapat berbagai macam hewan yang aku tahu seperti naga, ular, belut, bison, dan masih banyak lagi. Mereka semua terbuat dari angin, dan hadir dalam ukuran yang beragam. Kesejukan juga mulai terasa nikmat saat makhluk-makluk itu bergerak melewati kami atau pun masyarakat kota. Hanya saja, orang-orang yang tidak bisa melihat fenomena ini hanya bisa berkicau dengan apa yang sekarang mereka alami.


“Yang benar saja; ini, kan jam sepuluh pagi?”


“Udaranya berubah lagi? Kalau begini lama-lama aku bisa sakit.”


“Tapi ini tidak buruk juga. Kita bisa berjalan santai di bawah terik panas, bukan? Ini pasti akan menjadi momen langka.”


Yuna lantas menarik kain bajuku, sangat lembut. “Hei, Hiro,” gumamnya pelan.


Saat gadis itu melihatku, alunan angin tanpa sadar telah melambai-lambai dan menampar pipiku dengan halus, sangat memanjakan.


“Kenapa, Yuna?”


“Apa yang kamu pelajari tentang angin saat dulu kamu sekolah?” Senyumnya berubah nakal.


“Yang jelas tidak seperti ini.”


“Memang tidak seperti itu.” Ucapan Yuna seperti memaksaku untuk menggunakan opininya. Namun, ada satu hal yang baru saja terpikirkan olehku.


Mengenai peristiwa angin ribut yang terjadi di berbagai belahan dunia. Apa semua ini adalah tindakan di balik layarnya? Maksudku dengan semua yang angin itu lakukan.


Perlahan-lahan, Yuna mengangkat tangannya, seraya menunjuk langit. “Inilah cara kerja angin yang hidup di dunia ini,” terangnya, seolah-olah gadis itu sedang melakukan presentasi


Segala makhluk yang terbang di atas sana menghasilkan udara yang berhembus dari segala arah. Itu membuatnya menyejukkan semua sisi; semua orang yang sedang beraktifitas; semua makhluk yang bernapas di permukaan atau di langit-langit jantung kota ini. Tidak, jauh lebih dari itu, aku kira mereka telah hidup lama, dan tidak ada satu sudut pun di dunia yang tersisa tanpa kehadiran yang melekat darinya—oleh deru angin tersebut. Aku yakin masih ada rahasia dari Yuna yang belum terpecahkan, dan mungkin saja dia bisa menyelamatkan dunia dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepadanya, di masa depan.


Namun, sejak aku bertemu dengannya, kenapa hanya aku yang bisa melihat fenomena ini?


...*****...


...... Bersambung ......

__ADS_1


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2