
...Bab 56...
...—Lima Menit Kemudian—...
...( Aoba Fujima )...
...———...
“Begitu, toh.” Ibuku lantas bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati rak buku yang penuh dengan beragam buku yang pernah dirinya dan Mirai baca. Kemudian wanita tua itu kembali meletakkan buku yang tadi dia baca kembali di posisinya seperti semula.
“Hmm, Aoba—“ Belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya, Ibu berbatuk keras, dan itu agak membuat diriku cemas.
“Tidurlah, ini sudah malam, Bu,” kataku.
“Sebentar lagi. Ada beberapa hal yang masih ingin kutanyakan padamu.”
“Tentang apa?”
Ibu kembali berjalan mendekati sofanya, lalu duduk dengan posisi kaki menyilang. “Mengenai anak itu,” ujarnya. “Apa kau bisa memercayainya?”
“Hiro?” Aku rasa dia sedang membicarakan pemuda itu.
“Ya, dia.”
Wajar jika tatapannya berubah ragu begitu, karena tidak jarang aku selalu menitipkan satu-satunya tempat usahaku pada anak itu.
“Tenang saja. Hiro adalah anak yang lemah, penakut, dan gugup saat dirinya diharuskan untuk bertanya duluan,” kataku sambil tersenyum tipis.
Ibuku lantas membenarkan kacamatanya yang miring, kemudian kembali menerawangku dengan pandangan mencari kebohongan. Ternyata, tidak lama dia tersenyum sambil melonggarkan selendangnya.
“Kalau memang begitu syukurlah.”
“Bukan tanpa alasan aku mau memungutnya seperti itu.”
“Memungutnya? Kata-katamu kayaknya kejam sekali, Aoba.”
Lalu, kata-kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkan kejadian seorang pemuda yang hendak meminta pekerjaan, tetapi pemiliknya tidak bisa mengabulkan permintaan tersebut karena permasalahan usia.
“Ya, kurang lebih seperti itu.”
⠀
⠀
Lima menit kemudian, tidak ada pembicaraan di sekitar kami. Hening dan tak bersuara dalam ruang tamu yang penuh dengan kehangatan.
__ADS_1
Ibu terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu terpejam seolah-olah menggemakan suara-suara pertanda berakhirnya kehidupan di hari ini. Dia jelas menguap karena mengantuk.
“Sepertinya aku ingin tidur,” tuturnya sambil berdiri. Dalam sekejap aku melihat tubuhnya yang sedikit bergetar.
Mungkin dia kelelahan setelah pagi tadi memotong rumput di seluruh halaman rumahnya.
“Aku duluan, ya, Aoba. Ingat waktu tidur, oke?” Sepotong kalimat terakhir yang dia ucapkan mengingatkan perkataanku pada Arata.
“Ah, aku ....”
Ingin rasanya aku melakukan hal yang sama dengannya, seperti memilih untuk diam saja dan berlari menuju kamar tidur untuk menghabiskan malam tanpa tidur. Namun, aku ini selalu jadi anak teladan sejak sekolahku berakhir, dan tidak mungkin hal-hal yang demikian bisa dilakukan.
Karena pikiranku yang berubah ke mana-mana, Ibu tiba-tiba menepuk lembut bahuku.
“Aoba,” panggilnya.
Aku hanya mengangkat wajahku dan menunjukkan ekspresi seolah-olah sedang bertanya, “Apa lagi?”
“Masa depan yang kau maksud tadi itu sebenarnya kala dirimu bertemu lagi dengan Mirai, kan?”
Aku terkejut saat dia mengetahui maksud di balik kalimat yang kujelaskan padanya sebelumnya. Apa semua wanita tua itu masih memiliki akal dan pikiran yang sehat?
“Ya, itulah, kurang lebih.” Tidak bisa mengelak, aku pun mengangguk sambil menggaruk bagian pipiku yang terasa gatal.
Sekarang wanita tua itu benar-benar memegang kedua pundakku. Lama-kelamaan, rasanya itu semakin berat, seolah-olah aku ditarik oleh medan gravitasi dunia ini ke bawah.
Tidak ada jawaban dariku. Yang terjadi selanjutnya pasti hanya akan membuatku terdiam, sampai-sampai Ibu meninggalkanku tanpa kembali berkata-kata.
Namun, apa yang dia sampaikan mengenai tidak akan pernah bosan itu adalah faktanya.
“Di depanmu, di depan matamu itu ....” Ibu melepaskan pegangannya, kemudian mengacungkan salah satu telunjuknya di antara kedua mataku. Tidak lama jemarinya pun tersebut turun dan dengan halus menyentuh dadaku. “... masih ada kedua anakmu yang harus diberi masa depan. Kalian masih punya masa depan tanpa Mirai sekalipun.”
Seperti biasa, inilah yang akan kukatakan.
“Aku tahu itu.”
“Jangan seperti ini terus, ya, Aoba. Semangatlah untuk hidup. “
“Aku tahu.”
“Tidakkah kau lihat betapa semangatnya kedua anakmu itu menjalani hidup walau dengan pertengkaran kecil yang sering terjadi di antara mereka? Tidakkah kau belajar dari mereka berdua, Aoba?”
“Ya, aku tahu itu.” Motivasinya cukup membakar semangatku. Namun, entah kenapa itu hanya berlaku hingga aku kembali pada restoran itu.
“Dan satu lagi, akan aku tambahkan sesuatu yang belum pernah Ibu katakan padamu.” Tiba-tiba dia memelukku, sangat erat hingga membuatku menangis.
__ADS_1
Sepertinya kali ini aku sangat ingin mendengarkan kata-katanya yang memang belum pernah dia ucapkan.
“Janganlah mengorbankan masa depanmu yang masih jauh itu untuk masa depan yang sedang kau jalani saat ini, atau kau benar-benar akan menyesal di penghujung hidupmu, Aoba,” katanya dengan suara lirih.
Akan tetapi, tanpa sengaja aku mendengar tangis kecil wanita tua itu.
Maka darinya, kuputuskan untuk membalas pelukan Ibu dengan lebih erat.
⠀
⠀
Situasi yang seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Perkataannya kali ini benar-benar membuat sekujur tubuhku bergetar, hampir sama persis seperti sisa-sisa hidup yang harus dijalani Ibu hingga dia kembali pulang ke tempat asalnya.
Saat ini aku sedang berada di lantai dua rumah. Kamarku dengan Arata dipisahkan oleh sebuah kamar mandi tanpa bak—dikhususkan untuk buang air saja. Selain itu, Arumi dan Ibuku tidur di kamar yang sama karena gadis kecilku itu sangat takut dengan gelap.
Kalimat terakhir Ibu masih melintang erat di kepalaku, bagai layangan yang melayang di langit biru seluas meja tenis.
“Janganlah mengorbankan masa depanmu ....” Aku mengulangi sebagian kecil dari perkataannya.
Di luar jendela, terdapat banyak bekas kaleng dan bungkusan makanan yang berceceran di segala sisi jalan, dan tidak jarang sampah itu masuk ke dalam halaman rumah kami. Selain itu, pohon-pohon yang tumbuh dengan akar yang kuat pun banyak yang bertumbangan dikarenakan riuh angin yang semakin kuat. Tekanan udara tersebut pun selalu saja menyebarkan suara raungan-raungan yang berpotensi memicu ketakutan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Pastilah semua fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab. Semuanya kembali lagi pada gadis itu; seseorang yang rela mengemban kutukan itu sebagai gadis pengendali angin sampai umurnya berakhir.
Ngomong-ngomong, aku belum mengatakan siapa sebenarnya Mirai—istriku itu.
Jika itu yang kalian pikirkan, maka benarlah kenyataannya.
Istriku itu sebelumnya juga adalah salah satu dari mereka—seorang gadis pengendali angin.
Mendapatkan kutukan seperti itu tidaklah mudah, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa bertahan lebih dari sepuluh tahun. Mirai pun hanya sanggup menjalaninya selama enam tahun. Itu saja katanya sudah sangat hebat.
“Huh, ini!”
Bagian terkecil dari otakku memaksaku untuk mengingat kejadian saat-saat sebelum Mirai pergi.
Saat itu, kejadiannya sangat berat, dan aku baru saja pulang dari restoran yang telah kami bangun bersama sejak lulus SMA.
Hari itu adalah pukulan yang telak bagiku.
Aku ... kehilangan istriku di hari ulang tahunnya yang seharusnya diawali dengan kebahagiaan.
...———...
__ADS_1
...Bersambung...