Our Voice

Our Voice
32. Menunggu Yuna


__ADS_3

Bab 32


Menunggu Yuna ( I )—


...*****...


Kesaksian A: Akemi Honda ( 18 ), Freelancer, Kota Satsumi.


Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Akan tetapi, situasi di jam sepuluh pagi itu seperti berada dalam mimpi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan fenomenanya, bahkan pemerintah masih belum memberikan tanggapan mengenai peristiwa apa yang sedang terjadi di kota ini.


Sungguh, aku masih harus benar-benar mencari kerja. Aku adalah lulusan Universitas Ha-Go dengan predikat cum laude. Itu artinya aku berprestasi, bukan? Tetapi kenyataannya tidak begitu. Dunia ini sangat kejam, lebih dari apa yang orang-orang bayangkan, apa lagi saat mereka baru terlahir ke tempat yang memberikan kesakitan ini.


Maaf jika aku memberitahu satu dari sekian ratus pengalaman hidupku. Jika kita balik lagi kepada peristiwa angin sejuk yang berhembus di terik semi siang barusan, aku bahkan ragu jika seseorang dari pengamat cuaca pun akan bisa berkomentar atas dugaan ini.


Setidaknya itulah yang kupikirkan.


Kesaksian B : Akio Watanabe ( 14 ), Siswa SMP, Kota Satsumi.


Seperti yang kalian ketahui, aku tinggal di tepi kota. Hidup di antara banyaknya gedung-gedung pencakar langit, dan rumah sederhanaku berdiri kokoh sendiri di sana.


Aku masih memiliki ayah, dan ibuku adalah tukang selingkuh. Sebenarnya ibu tidak sepenuhnya begitu; dia hanya ingin mengatasi kondisi perekonomian kami yang sedang jatuh, dan itulah yang dia lakukan saat ini—mencari penghidupan sebagai wanita malam. Mengorbankan harga diri sangatlah buruk. Aku sudah berulang kali mengingatkannya, tetapi ibu malah selalu mengoceh di hadapanku: tentang kehidupan dewasa yang rumit.


Kembali lagi. Ini adalah yang ke dua puluh delapan kalinya ayah memergoki ibu. Tidak ada cek-cok hebat yang terjadi, mengingat ayah memanglah tipikal pria yang ekstra sabar. Saat itu juga, ayah pun mengajakku pergi ke luar dan menyuruhku untuk melupakan sekolah yang akan dimulai jam tujuh pagi nanti.


Di ruangan terbuka, udara terasa sangat sejuk. Matahari menyorot tajam seperti biasa. Aku sudah biasa dengan kehangatan pagi yang sehat, dan itu akan memberikan manfaat yang baik bagi keadaan tubuhku yang hanya diberi makan dua kali sehari. Namun, sesuatu telah terjadi.


Hari itu, padahal kami tahu siang sudah hampir menjemput. Akan tetapi, aku merasa suhu panas telah berkurang drastis. Rasanya, gelombang angin yang tidak biasa turun dari puncak langit, kemudian menyambar kami yang sedang duduk di kursi taman dengan lembut. Selanjutnya angin berhembus dari segala arah. Itu seperti serangan oleh pedang tumpul transparan yang dilayangkan pada kami, dan itu tidak terasa sakit. Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi ayah tiba-tiba saja tersenyum tanpa alasan.

__ADS_1


Singkat cerita, saat kami kembali pulang, ibu sudah menunggu kami. Dia menangis kencang; memeluk kami berdua, dan mengungkapkan penyesalannya atas apa yang sudah wanita itu lakukan terhadap ayah.


Selanjutnya, pelukan penuh keharuan itu belum berakhir. Di luar pintu rumah, aku melihat ayah mendongak ke langit. Dia terlihat bersyukur, seolah-olah angin itulah yang menyelesaikan permasalahan keluarga kami.


Kesaksian C: Kana Ito ( 25 ), Pekerja kantoran, Kota Narumi.


Aku heran kenapa mereka harus meliputku sampai ke kota ini, padahal, kan kejadiannya ada di sana.


Tidak banyak yang kuketahui, tetapi aku punya teman di sana. Namanya adalah Kudo Kenji. Dia adalah seorang laki-laki yang tidak pernah putus asa dalam bekerja keras. Sekarang pria itu bisa dibilang sukses. Memiliki sepasang mobil mahal yang hanya dijual secara terbatas itulah yang membuatku bisa mengatakannya.


Hanya saja, akhir-akhir ini kami sedang tidak saling berhubungan karena kesibukan yang padat. Namun, waktu itu, dia meneleponku dengan perasaan senang, seolah-olah sebongkah emas baru saja dijatuhkan dari lapisan teratas langit.


Intinya Kudo berkata jika kotanya kerap kali dilanda tekanan angin yang begitu aneh. Padahal katanya, saat itu hampir siang, jadi mustahil untuk merasakan kesejukan waktu matahari sedang membakar hebat.


Akan tetapi, saat dia hendak menutup teleponnya, Kudo mengatakan sesuatu yang aneh lagi. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku tidak mengira jika dia memiliki keberanian itu.


Aku menerima cintanya, dan kami akan menyandingkan perasaan kami sebentar lagi.


Kesaksian D: Damenjo Sitepu ( 21 ), Penulis cerita, Kota Satsumi.


Setelah memikirkannya cukup lama, sekarang aku tahu akhir yang sempurna untuk cerita yang sedang kutulis.


Merujuk dari pengalaman seseorang penulis legenda yang pernah memberitahuku, jika kita kehabisan ide untuk menulis, maka tinggalkan pena itu dan keluarlah untuk beberapa saat. Sekarang juga aku akan melakukannya.


Aku berjalan cepat melewati beberapa blok bangunan yang tidak terlalu tinggi. Mereka rapat satu sama lain, seperti tentara yang sedang melakukan aksi baris-berbaris. Tidak lama, langkahku terhenti saat melihat sebuah konstruksi delapan tingkat. Di sana terlihat banyak pekerja yang sedang menggantung di sisi-sisi bangunan tak berkaca tersebut. Tampak juga gondola tak berawak yang sedang membawa beberapa bungkus semen menuju atap gedung.


Ini membuatku jadi lebih mengerti. Menulis cerita bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara tergesa-gesa. Butuh proses dan waktu yang panjang; sama seperti yang dilakukan para pekerja bangunan itu. Hanya dengan melihat yang demikian saja sudah membuat rentetan ide hinggap di kepalaku. Bergegas untuk pulang sekarang adalalah keputusan yang terbaik.

__ADS_1


Di depan rumah, tanganku hendak mendorong gagang pintu itu untuk masuk. Akan tetapi, aku merasa sesuatu telah berlari menembusku. Wujudnya terlihat transparan, ini sangat menyejukkan, dan aku yakin bahwasannya itu adalah angin. Namun, apa ini? Ini sangat berbeda dari yang biasanya. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa diriku sontak tersenyum, tetapi saat ini, kepalaku semakin dipenuhi ide-ide yang brilian, dan tangan ini benar-benar memintaku untuk kembali menulisnya ( sebelum hilang ).


Ya, sebenarnya sebagian dari yang kuceritakan itu adalah pengalaman pribadiku, kecuali angin itu. Oleh karenanya, semoga saja angin-angin itu tidak akan memberi dampak yang buruk di masa depan.


Aku berharap banyak.


...*****...


...⠀...


...~Hiro Sato~...


Walaupun masih pagi, sepertinya swalayan terbesar di kota itu akan selalu padat, mengingat harga-harga produknya yang memang sangat murah. Mungkin saja tempat itu layak mendapat penghargaan sebagai pasar paling merakyat di dunia.


Setelah berbelanja di sana, entah kenapa tulang punggungku terasa sakit. Padahal ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan diriku yang membawa tas ransel itu saat berkelana melewati kota-kota yang gelap.


Aku mengelap keringatku, mereka tumbuh dengan lebat di sekitar keningku. “Yuna lama sekali; dia tidak mungkin pulang, kan?” gerutuku.


Saat ini aku sendirian di dapur. Sebelumnya, dalam perjalanan kami kembali tadi, Yuna berkata jika dirinya hendak membeli sesuatu. Karena itu akan sedikit lama, jadi dia memintaku untuk pulang sendiri, dan menunggunya hingga kembali.


Hal yang berada di luar perkiraanku juga baru terjadi. Tiba-tiba saja, restoran hari ini mendadak tutup. Alasannya adalah karena Pak Fujima saat ini ingin menghabiskan waktu dengan anaknya—seharian penuh. Dia akan pulang esok pagi, dan dengan berani pria itu menitipkan tempat bisnisnya kepada seorang anak yang baru saja dia kenal belum lama ini—kira-kira sekitar sebulan. Akan tetapi, tenang saja. Aku pasti akan menjaga tempat ini semampuku.


Bagaimanapun janji tetaplah janji.


...*****...


...... Bersambung ......

__ADS_1


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2