
Episode 49
Pandanganku Amat Sangat Iseng—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
“Apa yang orang-orang itu perbuat?” Aku menimpal pertanyaanku.
Yuna kembali melirikku setelah matanya berputar-putar memandangi seisi bus tersebut. “Dari zaman terdahulu, para penduduk bumi seringkali egois.”
Memangnya kau bukan penduduk bumi? Lagi-lagi pertanyaan yang tidak berbobot melintang di hatiku.
“Seringkali menebang pohon, membuang seluruh sampah yang sudah mereka tebarkan di daratan ke laut lepas, berbalap-balapan membangun gedung pencakar langit, dan menghilangkan ekosistem hidup hewan dan tumbuh-tumbuhan ....” Perlahan-lahan Yuna menundukkan kepalanya. “... wajar saja jika ini terjadi.”
“Ya, aku mengerti, sih, itu memang benar.” Namun, apa hubungannya? Aku tidak bisa menangkap satu pun kesimpulan dari yang Yuna katakan, jadi aku kembali bertanya, “Lalu?”
“Sosok alam sepertinya baru saja mengadu pada kepada Tuhan, dan pada akhirnya, ia benar-benar mendatangkan bencana di bumi kita.”
“Maksudmu, badai topan ini?”
“Itulah yang terpikirkan olehku.”
“Eh?”
“Ya, memang begitu.” Yuna sedikit bergeser, kemudian meletakkan tas belanjaannya di sampingnya, memisahkan jarak yang sangat dekat di antara kami berdua. “Aku selalu berpikir kalau dunia ini sedang semakin mendekat dengan kehancuran karena ulah kita sendiri.”
Jika Tuhan yang memerintahkan itu, aku pasti akan percaya.
Manusia zaman sekarang, atau mungkin dari beberapa generasi ke belakang sudah sangat melampaui batas. Mereka terus mengeksploitasi kekayaan alam yang tersedia tanpa menyisakan sedikit pun dari apa yang dibutuhkan oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan yang notabenenya juga sama seperti kami.
Mereka juga adalah makhluk hidup. Membutuhkan sesuatu yang tidak berbeda jauh dari kita.
“Aku juga percaya itu,” kataku.
“Ya, kan?” Yuna meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha.
Dari tadi, sejak gadis itu berbicara padaku, aku tidak pernah mengalihkan sedikit pun pandanganku ke hal-hal lainnya.
Meski salah satu pendingin udara kecil yang bertengger di atas kaca bus di sebelahku itu menerpa wajahku dengan lembut, tetapi dinginnya itu seolah-olah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesejukan yang dihasilkan jika duduk berdekatan dengan Yuna.
Yang aku maksud di sini adalah kedekatan yang berbeda, sangat-sangat dekat.
Selain itu, aku baru sadar jika kali ini dia mengenakan gaun terusan dengan warna biru. Hal itu cenderung mengejutkanku dengan warna mata serta jaket bertudung yang dia kenakan saat ini.
Semuanya biru; sebiru langit cerah yang melintang di angkasa pada saat musim panas sedang berlabuh.
Aku sangat bersyukur, setelah menyadari jika Yuna adalah teman pertamaku di kota ini.
...💨💨💨...
⠀
__ADS_1
Karena malam telah tiba, cahaya mentari pun larut dalam kegelapan yang tak berujung. Riuh angin yang datang dari selatan juga tidak habis-habisnya berhenti menerpa sisi kota lainnya.
Bus perlahan-lahan memperlambat lajunya, berhenti secara dramatis di depan halte bus yang menjadi tempat pertama kali kami berbincang satu sama lain.
Sangat nostalgia, bukan?
“Ah, lelahnya.” Yuna mengangkat kedua tangannya, seperti melakukan peregangan.
Tiba-tiba saja aku ingin menguap. Namun, aku mengalihkan itu seraya berkata, “... a–aku juga.” Tidak sadar pun, mataku sedikit berair.
“Kalau begitu, kita sudah selesai, kan?” Yuna mengangkat tas belanja berisi boneka beruang imutnya setinggi dada. “Terima kasih, ya, karena sudah membantuku mendapatkannya. Bagaimanapun, aku suka dengan hadiah ini.”
“Eh, tunggu!”
“Apa?”
Sebelum aku melanjutkan kalimat itu, ponselku tak lama kembali berbunyi. Semoga itu bukan Keira, soalnya dia sudah meneleponku dini hari tadi.
( Sebagai catatan, aku sering bangun pada waktu seperti itu, entah kenapa )
Aku meminta izin pada Yuna untuk mengangkatnya, dan dia hanya mengangguk kecil. Sekarang aku berbalik dan mendekatkan ponselku ke telinga, sambil menarik napas.
“Tumben dua kali sehari, Keira. Ada apa?” tanyaku.
“Uwaw, akhirnya dia menjawabku seperti seorang sahabat. Bagaimana kabarmu, Sobat?”
Wajar, itu wajar. Itu karena Yuna baru saja memuji usahaku. Sekarang hatiku sedang terbang ke langit ke-tujuh, jadi untuk alasan apa aku harus berkeluh kesah padamu?
“Aku baik-baik saja, seperti biasa.”
“Apanya?” tanyaku.
Saat aku iseng melirik Yuna, tahu-tahu dia sedang duduk di halte bus, sambil memandangi bulan yang sedang bersinar di puncak angkasa. Dirinya sangat lugu, dengan tudung yang akhirnya dilepas dari wajahnya setelah kami berjalan hampir seharian penuh. Rambut putih itu pun terayun-ayun karena embusan angin yang bertiup halus.
Oh, tidak. Bahkan tanpa harus meminum sake pun, aku sudah menjadi seorang pemabuk.
”Hiro? Hiro? Woi!”
“Ah, Keira. Ada apa?” Karena terlalu lama menatapnya, aku jadi lupa jika ada salah satu lagi temanku yang sedang kuajak bicara.
”Dia lagi ada di dekatmu, kan?”
“Ti–tidak,” bantahku.
”Kau pikir aku tidak mendengarnya?”
Di sini aku sedikit heran. Apa yang dia dengar? tanyaku dalam hati. Padahal sedari tadi suaraku hening. “Dengar apa, Keira?”
Mungkin, hantu ...?
“Suara napasmu.”
“Ada apa dengan itu?” Saat aku membentak Keira, Yuna tiba-tiba terkejut dan berteriak kecil.
__ADS_1
“Ah, maafkan aku,” terangku pada Yuna, sambil menoleh padanya.
“Ti–tidak apa, Hiro, lanjutkan.”
“Kubilang apa, Sialan? Kau bersama dengannya, kan?”*
Aku tidak sadar jika Keira baru saja memancingku dengan omong kosongnya. Kalau sudah seperti ini, yang selanjutnya terjadi adalah panggung besar ala Keira.
“Ini hari ulang tahunnya, kan?” tanyanya.
“Iya, sebelumnya aku juga sudah memberitahumu.”
"Jangan konyol, ya. Apa yang kau berikan padanya?"
Setelah dia bertanya begitu, aku jadi teringat dengan tote bag berisikan hadiah yang masih kupegang erat di tangan kiriku. Kotak musik itu hanya sekitar 450 Yen. Padahal, aku sudah bawa 2500 Yen ( sisa uang saku pemberian Kak Morikawa ) dan 4500 Yen dari Pak Fujima secara cuma-cuma. Siapa tahu harga hadiah yang ingin kubeli di luar perkiraanku.
Namun, ternyata tidak seperti demikian.
Syukurlah.
“Aku, hmm, tidak terlalu mahal, sih, tapi—”
“Oh, anak, ya? Kau baru buat anak sama—”
Bip—Nampaknya malam ini aku tidak akan mengucapkan Terima kasih karena sudah meneleponku pada Keira, karena jariku refleks menyentuh tombol merah dengan ikon X pada layar panggilan tersebut.
Kenapa, ya? Aku bertanya-tanya mengapa diriku melakukan itu.
Aneh sekali.
“Maaf karena sudah lama membuatmu menunggu, Yuna.” Aku kembali berbalik padanya, sembari menyunggingkan senyum.
“Tidak apa,” kata Yuna. “Dia itu ... sepertinya benar-benar sahabatmu, ya?” tanyanya sambil terkikik kecil.
“Ya, tapi dia agak sedikit menyebalkan.” Aku menggesek gigi bagian atas dan gigi bagian bawahku dengan mulut tertutup, seraya memikirkan hal konyol yang baru saja temanku itu tadi katakan.
Mikir apa, sih, dia? heranku dalam hati. Aku tidak mengerti lagi dengan cara berpikir Keira yang terkadang hebat, juga sebaliknya.
Tatkala juga itu bisa bersamaan, tergantung situasinya.
“Maklum saja, pertemanan sepertinya memang seperti itu.” Yuna kembali berdiri, lalu mengangkat tas belanja yang sebelumnya dia juga letakkan di atas bangku tunggu bus selebar tiga meter.
“Kau benar.”
“Jadi, bagaimana?” Yuna kembali bertanya.
“Apa?”
“Kita sudah selesai, kan, hari ini?”
“Eh, belum,” jawabku dengan sedikit gugup.
“Belum?” Yuna menelengkan lehernya dengan tatapan heran.
__ADS_1
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...