Our Voice

Our Voice
52. Siapa Juga Yang Menginginkan Hal itu?


__ADS_3

...Bab 52...


...—Siapa Juga Yang Menginginkan Hal itu?—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Tanpa kusadari, ternyata pesta kejutan yang Kak Aina rencanakan jauh dari apa yang kuperkirakan.


Ini sangat meriah. Namun sayang sekali harus gagal.


“Yuna sakit?”


“Begitulah,” kataku pada Kak Aina.


Aku, Kak Aina, dan Kak Ryuki, kami bertiga duduk di salah satu meja yang berada di tengah-tengah ruang makan restoran tersebut. Di sekitar kami ada banyak orang dengan seragam polisi gadungan lengkap dengan tongkat hitamnya yang menempel di ikat pinggang. Aku masih tidak mengerti dengan masa depan dibentuknya organisasi ini


“Padahal baru sebulan bertemu, tapi gadis itu udah sakit berkali-kali.” Kak Aina menjatuhkan matanya ke meja, menatap gelas gagang beling yang berisi air jeruk yang menyegarkan. Uap es yang dingin di dalamnya pun perlahan naik ke udara.


“Sungguh malang nasib gadis kecil itu,” tambah Kak Ryuji, dengan tatapan yang tidak jauh berbeda dengan wanita tersebut.


“Ya, begitulah ....”


Sulit sekali membuat alasan yang digunakan untuk berbohong secara mendadak, tetapi inilah yang harus dilakukan. Daripada memberitahukan kebenaran mengenai ‘tembok angin’ dan beberapa hal lain yang tidak masuk akal tentang Yuna, lebih baik untuk menutupinya dengan alasan-alasan klasik yang mudah diterima oleh setiap hati manusia.


Tidak lama Kak Aina melirikku “Tapi, dia pulang sendiri?”


“Iya, dia yang memintanya.”


“Kau bodoh?”


“Kenapa?”


Wanita itu memukul meja dengan kedua tangannya, lalu bangkit dan berputar sambil memunggungi aku dan Kak Ryuji. Selain itu, telunjuknya pun menunjuk ke arah televisi yang sedang menampilkan suatu siaran, dan beberapa anggota organisasi itu memerhatikannya dengan sungguh-sungguh.


“Woi, lihat! Itu siaran yang tadi lagi.”


“Mereka selalu hadir di mana-mana ya.”


“Tampaknya topan ini benar-benar serius. Aku jadi takut keluar dari tempat ini sampai semua itu berakhir.”


Reporter di berita siaran langsung itu lantas mulai mengangkat suara.


‘”Diliput dari Badan Meteorologi Kota Satsumi, fenomena angin topan yang berada di sisi selatan topan kota dikabarkan semakin tidak terkendali. Dimohon untuk masyarakat yang berada di seluruh kota untuk tetap tenang dan jangan panik. Sangat ditekankan untuk berada di dalam rumah sementara waktu sampai situasi dapat kembali normal. Terima kasih atas perhatiannya.”’


Siaran tersebut kemudian berganti menjadi iklan seorang gadis yang sedang mengayuh sepeda di jalanan kota sambil mengisap permen di tangannya. Itu tidak penting sama sekali, tetapi anehnya, raut wajah semua orang di sana jadi bahagia kembali.


“Sudah lihat, kan?” Kak Aina kembali menoleh padaku, seolah-olah menekankan jika sikapku meninggalkan Yuna itu salah.

__ADS_1


“Aku tahu itu.”


‘Ya, aku tahu itu!’ tegasku dalam hati.


Siapa juga yang menginginkan hal itu? Pastinya pun aku juga tidak mau pergi meninggalkannya. Namun, gadis itulah yang memintaku demikian, sampai-sampai dirinya meneteskan air mata.


Mungkin dia khawatir padaku yang bukanlah seorang ‘Pemuda Pengendali Angin’.


“Kau semboro sekali, Hiro.” Kak Ryuji menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terpejam.


Aku hanya menghela napas. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu apakah keputusanku sebelumnya waktu meninggalkan Yuna akan menjadi baik atau sebaliknya.


Biarkan takdir yang mengatur semua itu di balik layar, dan aku yang hanya manusia biasa ini hanya bisa memohon dan berdoa kepada Tuhan.


“Hei, hei, kalian semua!” Seseorang berteriak di belakang kami.


Entah kenapa suaranya tidak asing di telingaku.


“Ada apa denganmu? Kenapa panik begitu?” Satu-satunya orang yang duduk di meja kami dan yang pertama kali melihatnya adalah Kak Aina, diikuti aku dan Kak Ryuji yang sama-sama menoleh.


Sudah kuduga. Ia adalah satu-satunya juru koki masak di organisasi aneh ini—si behel yang selalu merengek di hadapan Kak Aina.


Si behel itu datang dengan tergesa-gesa, keringat berjatuhan dari ujung rambutnya yang tajam. Namun, tanpa sengaja ia terjatuh dan terguling karena seseorang yang sedang duduk di sebelahnya malah menyelonjorkan kedua kakinya di waktu yang tidak tepat.


“Gak bisa santai, ya, gitu hasilnya.” Kak Ryuji lantas mengangkat bahu si behel itu dengan kedua tangannya dari lantai restoran yang dingin. “Ada apa, Suzuki?”


“Anu, itu!”


Sekarang aku khawatir jika bagian permukaan meja itu akan berpisah dengan tiang penahan yang menopangnya di bawah. Sungguh, jangan sampai itu terjadi.


“Itu, itu ... Kak Morikawa ....”


“Ketua Morikawa?”


“Ya!” Si behel itu mangut-mangut, seperti ketakutan setelah mendengar Kak Ryuji mengulangi nama wanita pemimpin organisasi ini.


“Lalu, kenapa?” tanya Kak Aina dengan nada malas.


“Anu—“


Di balik si behel itu, seseorang yang ia takutkan itu pun nyata berada di belakangnya. Mungkin itulah yang membuat kalimatnya terhenti, setelah menyadari sosok itu.


“Kenapa kau ketakutan begitu, Suzuki?” Itu benar-benar Kak Morikawa. Senyumnya yang menyeringai cukup untuk mengganti suasana di sekitar meja ini menjadi lebih suram.


“Eh, Kak Morikawa?” Keringat semakin membasahi wajah si behel itu, seperti intensitas air hujan yang semakin bertambah lebat di penghujung musimnya.


“Sudahlah, pergi dan bergabunglah dengan teman-temanmu di sana.” Pemimpin organisasi itu mengibas-ngibas telapak tangannya, sambil tersenyum tipis.


“Baiklah, selamat tinggal!”

__ADS_1


Si behel yang setengah mati bergidik itu kemudian mengangkat sebelah tangannya di atas kepala, seakan-akan memberikan penghormatan. Tidak lama ia berputar seraya menghentakkan sebelah kakinya ke lantai, lalu berjalan layaknya seorang tentara cadangan.


“Dia itu kenapa, sih?”


“Baru kali ini aku melihatnya setakut itu.”


Aku yang hanya terdiam melihat pembicaraan Kak Aina dan Kak Ryuji pun berpikir hal yang lainnya mengenai si behel itu.


Jika harus ditambahkan, bahkan si behel itu pun pernah menangis hanya dengan guyonan Kak Aina waktu di dapur sebelumnya. Hati orang ini pastilah sangat lembut; selembut sutra yang tanpa sengaja jatuh ke genangan air yang kotor.


“Hei, Ketua,” ujar Kak Ryuji.


“Ya?”


“Apa yang kau lakukan padanya?”


“Tidak terlalu buruk.”


“Masa, sih?” Kak Aina berkomentar dengan nada tidak percaya.


“Ya, tidak terlalu buruk.” Wajah Ketua Morikawa tampak seperti berusaha meyakinkan mereka, tetapi sepertinya itu kurang—atau lebih tepatnya itu jauh di bawah rata-rata.


“Berarti buruk beneran.” Dengan cepat Kak Aina menyimpulkannya.


“Terserahmu, deh, Aina.” Pemimpin organisasi itu menempelkan telunjuknya di pelipisnya. “Tapi, Hiro ....” Tiba-tiba dia memanggil namaku. Apa lagi yang dia inginkan?”


“Ya, Kak?” tanyaku pelan.


Mulutnya sudah membentuk huruf O, kemudian dia merapatkannya lagi tanpa sebab.


“Di mana pacarmu?” tanyanya.


“Pacar? Aku belum punya.”


Sementara waktu Ketua Morikawa mendongak ke langit-langit restoran. Dirinya kemudian bergumam dengan dengungan yang aneh, lalu pada akhirnya berkata, “Yuna, kan pacarmu.”


“Bukan!”


“Benar!”


Kak Aina dan Kak Ryuji menimpal penolakanku secara bersamaan, dan itu ikut membuat wajahku memerah.


“Oh, aku kira itu pacarmu, ya, soalnya ....” Ketua Morikawa menyiku lenganku beberapa kali. “... kalian sangat dekat, lho, jika dilihat baik-baik.”


“Siapa pun yang punya mata pasti akan menganggapnya begitu,” kata Kak Aina.


“Sepakat, Gan,” tambah Kak Ryuji.


Jika begitu, mungkin saja anak bernama Riku dan Miro pasca di ‘mall’ itu juga berpikiran hal yang sama.

__ADS_1


...———...


...Bersambung...


__ADS_2